Rabu, 20 Juni 2012

Spiderman dari Tanah Priangan


Pernah lihat orang yang memanjat tiang atau bambu puluhan meter, tanpa alat bantu apapun? Tapi ini bukan di film atau TV lho. Ini di alam nyata, bukan alam imajinasi.

Spiderman? Superman? Atau sederet nama superhero dari negeri Paman Sam? Jawabannya seratus persen salah.

Tidak perlu jauh-jauh ke Eropa untuk melihat langsung orang yang bisa memanjat tiang puluhan meter tanpa tali atau alat bantu apapun. Pengen tahu darimana superhero itu berasal? Dari Amerika? Inggris? Belanda?

No, bukan dari Inggris atau Amerika. Superhero itu ada di alam nyata, bukan khayalan atau trik kamera. Superhero itu berasal dari tanah kelahiran Si Kabayan. Dia berasal dari tatar sunda, tepatnya Jawa Barat.

Yupp... Yang kita bicarakan memang bukan superhero khayalan. Kita sedang membicarakan kesenian yang berasal dari negeri kita tercinta, Indonesia. Ternyata negeri ini hebat sekali. Jika negara-negara maju masih menggunakan imajinasi mereka untuk bisa melakukan hal yang tidak mungkin. Atau mereka gunakan tipuan kamera untuk sebuah adegan berbahaya. Tapi, kita sudah selangkah lebih maju.

Kita memiliki seni lais. Apa itu seni lais? Lais merupakan suatu jenis pertunjukan rakyat di Jawa Barat yang mirip akrobat  Tetapi, karena kegiatan apa pun dalam masyarakat Sunda tradisional ini selalu tidak lepas dari kepercayaan penduduknya, maka keterampilan akrobatik yang dilakukan oleh pemain-pemain lais itu pun dipercaya mendapat bantuan gaib. Selain itu, tentu saja lais juga diberi nafas seni dengan dimasukkannya tetabuhan dan dilantunkannya lagu-lagu selama pertunjukan.

Pertunjukan lais terutama mempertontonkan keterampilan satu atau dua orang pemain lais yang berjalan atau duduk di atas tali tambang yang direntangkan di antara dua ujung bambu. Tali tambang tersebut selalu bergoyang dan bambunya pun bergerak-gerak selagi menyangga beban dan gerakan pemain lais tersebut.

Lais terdapat di Kabupaten Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Cirebon dan Bandung. Lais dapat disaksikan pada acara-acara kenegaraan, hajatan, pernikahan ataupun khitanan.

Cara penyajian pertunjukan lais dilakukan dengan terlebih dahulu memancangkan dua leunjeur (batang) awi gombong (bambu berbumbung besar) di tanah serta merentangkan tali tambang pada kedua ujung bambu tersebut. Tali tambang  kemudian diikatkan pada kedua ujung bambu yang dipancangkan tersebut lalu tetabuhan pun dibunyikan sebagai pembukaan juga sebagai pemberitahuan bahwa permainan akan segera dimulai. Hal ini dilakukan untuk mengundang penonton dan sebagai pemanasan suasana.

Ketika permainan dimulai, sang dukun (pawang) lais pun siap dengan perlengkapan upacaranya, yaitu sesajen (sesajian) dan pedupaan (kukusan). Bersamaan dengan bunyi tetabuhan, dibakarlah kemenyan dalam pedupaan tadi serta mantera-mantera pun dibacakan. Upacara ini dimaksudkan agar si pemain lais  diberi kekuatan, kelincahan, keterampilan serta keselamatan di dalam permainannya.

Itulah seni lais yang tak kalah hebatnya dengan pertunjukkan spiderman atau superhero. Tapi sayang banyak orang yang tidak mengenal kesenian ini.

Ya, termasuk saya pribadi pun baru mengenal seni lais ketika mengunjungi West Java Festival 2011. Di situ banyak sekali kesenian tradisional yang sudah mulai punah dimakan zaman.

Mungkin untuk anak-anak muda seumuran saya, banyak sekali yang tidak tahu kesenian apa saja yang dipentaskan. Jangankan paham atau mengenal lebih dekat, tahu namanya saja sudah sangat beruntung.


Padahal sebenarnya jika kita gali kesenian yang ada di negeri ini begitu banyak dan menarik. Kadang kita malu ketika banyak sekali pengunjung asing yang datang ke negara kita dan mempelajari seni dan budaya bangsa kita.

Tak jarang banyak turis asing yang jatuh cinta dengan kebudayaan dan kesenian negeri ini. Sedangkan kita? Kita malah asyik dengan sajian boyband dan musik barat. Tak lupa pula budaya yang jeleknya saja yang kita tiru.

Lantas, ketika budaya kita diakui oleh negara lain, barulah kita protes. Kita lebih cepat terpancing emosi dengan mengadakan demo dan pemboikota produk negara tersebut. Salah?

Mungkin yang harus disalahkan ialah diri kita sendiri. Kita terkadang malu untuk mengakui kehebatan bangsa sendiri. Kita sudah cenderung apatis dengan bangsa ini. Jangankan untuk menjaga keutuhan bangsa, untuk mengatakan aku cinta Indonesia pun, mungkin sudah terlalu sungkan untuk diucapkan.

Jangan salahkan bangsa lain karena sudah mengakui beberapa kebudayaan, dan kesenian Indonesia sebagai milik mereka. Karena kita sendiri memang malu untuk mempelajarinya. Kita kadang pura-pura tidak tahu apa saja kesenian bangsa ini.

Kadang kita kita menganggap kuno, nggak up to date, nggak gaul, jika kita mempelajari kesenian dan kebudayaan Indonesia. Padahal kesenian dan kebudayaan bangsa ini menyimpan filosofi yang tinggi. Ada makna di setiap gerakan yang tampilkan, syair yang dinyanyikan dan pakaian yang digunakan.

Untuk momen-momen seperti West Java Festival bisa membantu kita untuk me-recharge kecintaan kita kepada bangsa ini. Kita jadi tahu, kalau bangsa ini memiliki kekayaan seni yang luar biasa banyak.

Sudah saatnya kita buka mata dan telinga untuk mulai mencintai kebudayaan bangsa sendiri. Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menjadi pewaris kekayaan bangsa yang tidak terkira ini?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar