Senin, 30 Juli 2012

Menjadi Pendidik

19.55 2 Comments


Mendidik bukan sekedar mentransfer ilmu. Mendidik juga bukan berarti mendikte kata dan kalimat. Mendidik itu bermakna luhur. Menjadikan pribadi yang tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, itulah mendidik. Makna yang tidak sesederhana kata-katanya.
Dulu, aku tak paham semua itu. Tidak ada sedikit pun keinginan untuk menjadi guru. Pikirku mungkin belum mengerti arti ketulusan dan pengorbanan. Aku berpikir, menjadi guru itu tidak sekeren profesi lain.
Tapi ternyata, darah guru telah mengalir dalam tubuhku. Ketika aku masih duduk di kelas 3 SMA, aku diminta untuk menggantikan kakakku mengajar les Bahasa Inggris.
Dilema. Ya, aku paling tidak bisa mengajar. Aku ingin sekali lari dari perintah ini. Tapi, Ayah mengatakan kalau aku harus belajar menjadi guru. Kalaupun aku kelak tidak memilih profesi ini, tapi setidaknya aku akan menjadi guru bagi anak-anakku. Karena alasan inilah, akhirnya aku mencoba untuk mengajar.
Dari situ, aku mulai jatuh cinta dengan dunia mengajar. Aku selalu senang kalau harus menggantikan kakak. Selain bisa belajar, alasan lainnya karena aku bisa mendapat uang dari mengajar itu.
Selangkah demi selangkah, akhirnya aku memutuskan untuk menjadi seorang guru. Aku tidak lagi mengejar bayaran untuk profesi ini. Suara dan panggilan hati membuatku tak ingin melepas pekerjaan ini.
Dari mulai mengajar di tempat les hingga menjadi guru di sebuah sekolah menengah atas, aku jalani. Penuh suka dan duka. Namun, rasa sukanya melebihi semua duka yang aku alami.
Ya, sebagai seorang manusia biasa, aku pun pernah merasakan sakit hati ketika menjalani profesi ini. Aku pernah diminta berhenti mengajar, hanya karena aku kuliah di universitas swasta. Namun, aku buktikan lewat sikap bukan dengan kata. Aku sadar tidak ada yang hebat di dunia, jika kita tak pernah mau berlajar. Bukan tempat yang membuat sesuatu itu berarti, tapi isi yang penuh dengan makna. Dan ternyata, waktu pula yang menjawab semua hinaan itu.
Banyak kisah seru dan menyenangkan menjadi seorang pendidik. Anak didik yang sangat perhatian merupakan sumber belajar yang tidak terkira. Aku kadang berpikir, ilmu yang aku dapatkan lebih banyak daripada yang aku berikan kepada mereka.
Aku memang selalu belajar untuk senantiasa mengajar dengan hati. Aku yakin jika hati yang kita sentuh, maka semua akan lebih mudah. Aku bukanlah seseorang yang sempurna. Bukan aku yang menjadikan mereka cerdas. Aku hanyalah sebagai pendamping mereka untuk memahami sesuatu yang belum diketahui.
Aku ingin merubah image seorang pendidik itu tidak pernah salah. Guru bukan malaikat yang tidak pernah salah. Tapi, guru juga bukan setan yang selalu berbuat salah. Guru hanyalah manusia biasa.
Sebagai seorang pendidik, aku berlajar untuk mengerti sebelum dimengerti. Aku merasakan kilas balik dari hidupku selama ini. Ketika aku sekolah, aku seringsekali menyangka kalau menjadi guru itu mudah. Tapi ternyata, guru itu profesi yang tidak bisa dianggap enteng.
Seorang pendidik itu haruslah bersahabat. Ia harus memposisikan diri sebagai seorang sahabat yang mau mendengar semua cerita anak didiknya. Ia juga harus bisa bersikap layaknya orangtua yang senantiasa melindungi anak didiknya.
Menjadi guru itu sebuah kemuliaan. Aku tidak menyalahkan kedua orangtuaku yang mendidikku untuk menjadi seorang pendidik. Aku juga tidak menyalahkan keadaan yang membuatku memilih profesi ini. Tidak pernah ada kata penyeselan atas pilihan hidupku. Aku berharap ilmu yang aku berikan ini bisa menjadi tabungan amalku kelak. Aku bersyukur bisa menjadi seorang pendidik.

Jumat, 13 Juli 2012

Unforgettable Moment

11.54 2 Comments


7 hari yang lalu, kaki ini menginjak bumi para raja.
7 hari yang lalu, mulut ini menyapa kawan baru.
7 hari yang lalu, pikir ini bertemu dengan inspirasi tak bertepi.
7 hari yang lalu, rasa ini menyimpan seribu asa.

Meski awalnya aku sempat dilema dengan kesempatan yang diberikan oleh Penerbit Diva Press. Bukan karena acarnya atau orang-orangnya. Tapi, karena aku tidak terbiasa pergi jauh sendiri. Ah, dasar anak bungsu... (skip...^o^)
Pertama menginjakkan kaki di stasiun Tugu di pagi buta. Bersyukur, karena panitia menyediakan jemputan. Ah, begitu baiknya panitia ini. Padahal awalnya aku akan dijemput pukul 9. Tapi, mungkin panitia tidak tega aku menggelandang di kota yang asing bagiku.
Ternyata service yang aku dapatkan belum selesai. Baru saja aku sampai di tempat kost salah seorang editor Diva Press, aku sudah disambut dengan keramahan mereka. Tidak cukup sampai disitu, malah mereka menyediakan sarapan untukku. Jadi malu... tapi menyenangkan juga :D.
Selang beberapa jam, aku dan kawan baruku dijemput. Kami diajak ke asrama putra. Dan, ternyata, sudah ada kawan baru menanti di mobil. Canggung. Ya, awalnya aku canggung menyapa teman baruku itu.
Tapi, memang bahasa adalah rasa, kata ialah mantra. Aku yakin, meski kami berasal dari kota yang berbeda dengan bahasa berbeda, tapi kami bisa menyapa dengan rasa yang sama.
Kami bertiga ternyata memiliki kesamaan, sama-sama tidak betah diam. Dan, yang terpenting, sama-sama suka di foto. Untunglah, panitia sangat perhatian. Mereka mengizinkan dan mengantarkan kami ke Ambarukmo Plaza. Belanja? Tepatnya, tidak. Ya, just window shopping J.

Setelah puas foto-foto plus makan sepiring bertiga, kami pun segera beranjak ke tempat acara. Welcome to Quack-quack Cafe. Wah... Ternyata sudah banyak orang.
“Hai, Charlies Angels,” sapa salah seorang panitia.
Sapaan yang sekaligus juga sindiran (meski kami tidak merasa tersindir :D).
The show begins... Akhirnya acara inti pun tiba. Kami diberangkatkan ke Hotel Kana. Seru...naik bus bareng-bareng dengan peserta dan sebagian panitia.
Wouw... Ternyata ada yang dari Aceh, Makasar, Palangkaraya, dan daerah-daerah lainnya. Jadi malu sendiri nih. Aku yang dari Bandung saja, penuh pertimbangan untuk memutuskan ikut.
Materi demi materi, kami terima. Benar-benar nggak nyesel deh, ikutan 'Just Write'. Aku, yang masih mentah dalam menulis, seperti diberikan suntikan motivasi untuk terus berkarya. Pengetahuanku tentang dunia menulis semakin tercerahkan.
Off Road...That’s the interesting time. Kapan lagi bisa naik jeep... J. Senang, takut, tegang, dingin... Ah, pokoknya kayak es campur gitu deh. Menjemput inspirasi sampai ke Merapi.
Ah, rasanya baru satu jam kami saling menyapa. Berat hati ini untuk mengucapkan kata perpisahan. Meski hanya tiga hari, tapi waktu itu sangat berarti. Aku merasa seperti di rumahku sendiri. Penuh dengan kata dan sapa, ceria oleh canda dan tawa. Yogya menyapaku dengan ramah. Yogya tersenyum kepadaku.
I always miss the moment. Love and miss you all ^o^.