Kamis, 25 Oktober 2012

Karedok, Makanan Khas Tanah Pasundan

19.43 0 Comments

Bandung terkenal dengan surga makanan. Yap, betul sekali. Setiap mata memandang, pasti makanan enak akan melambaikan tangan tiada henti. Selain varian makanan yang sulit dihitung dengan jari, harganya pun masih terjangkau oleh semua kalangan.
Makanan khas Tanah Pasundan diantaranya, batagor (baso tahu goreng), nasi timbel, nasi tutug oncom, soto Bandung, brownies, colenak, keripik setan dan masih banyak lagi makanan khas tanah priangan.
Salah satu makanan yang sejak dulu sampai sekarang masih digandrungi oleh semua orang, karedok. Karedok terbuat dari kacang panjang mentah yang diiris kecil-kecil, lalu dicampur dengan racikan bumbu yang sudah diulek.
Dari racikan bumbunya, karedok agak mirip dengan rujak. Tapi yang membedakannya, karedok memakai kencur, bawang putih dan juga daun kemangi yang membuat rasanya semakin segar. Rasa gurih, pedas dan juga segarnya campuran kencur dan kemangi bercampur menjadi satu.
Tidak ada bahan pengawet satupun yang bisa membuat tubuh kita tidak sehat. Makanan yang oleh sebagian orang sering dikatakan makanan kampungan, sebenarnya jauh lebih sehat dibandingkan dengan makanan impor. Selain itu, makanan ini bebas kolesterol, karena memang hanya menjadikan sayuran (kacang panjang) sebagai bahan utamanya.
Karedok sangat cocok disajikan dengan nasi putih yang masih hangat.  Sedikir taburan bawang goreng dan juga kerupuk, menjadikan sensasi makan yang luar biasa. Makanan yang memiliki banyak manfaat ini sangat murah meriah.
Meski berasal dari kampung, tapi rasanya tidak kampungan. Sensasi rasanya membuat setiap orang yang mencoba akan ketagihan. Karedok, makanan peninggalan nenek moyang yang selalu membuat lidah ini tak henti bergoyang.


Kamis, 18 Oktober 2012

PLN, Sahabat Setia Kemajuan Bangsa

21.55 0 Comments

PLN sebagai perusahaan listrik negara, sudahkah menjalani tugas dan fungsinya dengan baik? Apakah penerangan itu sudah menyeluruh ke setiap pelosok negeri ini? Apakah
Betapa tidak, kadang banyak orang yang lupa akan tugasnya. Apalagi yang berhubungan dengan lembaga pemerintahan. Sebagian dari kita sudah mengetahui, jika para abdi negara sering lupa kalau mereka digaji oleh rakyat.
Begitu pun dengan PLN, yang memang salah satu Badan Usaha Milik Negara. Lembaga ini sering dinilai tempat yang ‘basah’. Tapi itu semua bisa ditepis, jika ada keinginan untuk menghapus pandangan miring tersebut.
Kasus-kasus yang terjadi selama ini sebenarnya boleh dibilang tidak terlalu berbarti bagi penduduk yang tinggal di Indonesia bagian barat. Tapi bagaimana dengan sahabat-sahabat yang tinggal di Indonesia timur? Apakah mereka juga merasakan pemerataan penerangan sama dengan di daerah barat?
Saya pernah mendengar dari seorang kawan, kalau di daerah Indonesia timur, akronim dari PLN itu berubah menjadi Perusahaan Lilin Negara. Saya tidak mau mempermasalahkan akronim itu. Tapi ada hal yang lucu dari ‘kekreatifan’ warga di daerah sana.
Mungkin mereka memiliki alasan yang kuat untuk membuat akronim seperti itu. Tapi yang menjadi masalah disini bukan akronimnya, melainkan makna dibalik itu semua. Salah itu manusiawi. Tapi jika salah terus, apakah itu juga manusiawi?
Tentunya kita harus mengharapkan sesuatu yang sesuai dengan harapan kita. PLN yang sejatinya harus menjadi lembaga negara yang bisa membangkitkan semangat untuk menjadi lebih baik. Karena yang terjadi sekarang ialah PLN lebih kepada lembaga negara yang selalu menjadi bahan konotasi yang negative.
Untuk itu, saya pribadi ingin sekali menyampaikan harapan dari rakyat yang kadang tidak pernah diacuhkan. Jangankan ditanggapi, didengar saja mungkin hanya mimpi di siang bolong.
PLN bisa menjadi sahabat setia masyarakat. Kita sebagai masyarakat umum akan senantiasa merindukan keberdaan PLN yang bersih dan ramah. Bersih dari tangan-tangan yang hanya mencari keuntungan. Ramah kepada semua pelanggan PLN.  PLN bisa menjadi sahabat yang menemani kemajuan bangsa.

Selasa, 16 Oktober 2012

Do you speak English?

19.55 0 Comments
Hari ini sesuatu banget hehe....
Di tengah aktivitas yang padat, ternyata masih terselip senyum bahkan tawa. Bukan artinya aku bertemu dengan para talent Standing Comedy ataupun para wayang OVJ. Tapi, aku bertemu dengan orang-orang yang biasa aku temui.

Satu hal yang aku perhatikan dari sejak pagi, bahasa. Yap... Aku mendengar dan membaca kata-kata Bahasa Inggris. Memangnya aneh? Bagiku tidak ada yang aneh, karena aku sendiri guru Bahasa Inggris.

Tapi satu hal yang bikin mata dan telinga ini gatal. Apa? Hmmm... Cara penulisan dan cara baca yang nggak banget. Memang tidak haram. There's no police in language :). Jadi masalahnya apa? Masalahnya kita tidak mau memperbaiki kesalahan tersebut. Dengan dalih sudah terbiasa dan semua orang pun akan memahaminya.

Bahasa adalah rasa. Bahasa juga mencerminkan karakter seseorang. Jadi, bersikap cerdas dalam berbahasa itu cermin intelektualitas seseorang.

#Ini hanyalah sekedar coretan, jangan dimasukkan ke hati ya :)#

Rabu, 10 Oktober 2012

Pendidikan di Tepi Zaman

20.04 0 Comments

Guru, digugu dan ditiru, sebuah slogan yang mungkin semua orang sudah hafal. Tapi, slogan itu kini tinggal sebuah kata yang kehilangan makna. Seakan hambar untuk dirasa dan asing untuk didengar. Kata yang terasa usang ditelan zaman.

Digugu, artinya dipercaya atau diikui. Sedangkan ditiru juga memiliki makna yang sama. Jadi seorang guru itu layaknya menjadi sosok yang patut untuk diikuti. Tapi kenyataanya pada masa sekarang, hal semacam itu, jauh panggang dari api.

Sosok guru yang ramah dan mengajar dengan hati, sangatlah sulit untuk ditemui. Bukan artinya tidak ada. Tentu saja sosok mulia itu masih ada, tapi tersembunyi di tengah zaman yang sudah semakin hedonis ini.
Mengajar, sejatinya harus dari hati. Bukan mengejar simpat atau empati. Bukan pula karena lembaran rupiah. Meskipun kenyataannya sekarang ini, sebagian guru hanya mengejar sertifikasi dan juga kenaikan golongan saja. Makna pahlawan tanpa tanda jasa itu telah luntur terbawa arus modernisasi.

Guru juga manusia. Ya, kita semua tahu, manusiawi sekali jika setiap orang mengharapkan perubahan kualitas dan taraf hidupnya. Tapi, ketika seseorang sudah meniatkan dirinya menjadi seorang guru, maka jangan pernah ia terlalu berharap menjadi kaya.

Bukan artinya seorang guru itu harus miskin. Tapi, tentunya sudah bukan rahasia lagi, jika gaji guru itu tidak lebih besar dari gaji seorang pegawai swasta. Jadi kita semua tahu, jika ingin kaya harta, jangan pernah mengambil guru sebagai pilihan profesi kita.

Namun, tentu saja hidup tidak selamanya hanya membutuhkan materi. Sebagai manusia yang memiliki hati, kadang kebahagiaan tidak selalu diukur dengan materi. Begitupun kebahagiaan bagi seorang guru, ialah ketika melihat anak didiknya menjadi pribadi yang sukses.

Kita semua rindu sosok guru yang mengajar dengan hati. Guru yang kreatif dan inspiratif. Karena guru bukanlah robot pemerintah, yang disiapkan untuk mencetak generasi yang hanya bisa membaca, menulis dan menghitung saja.

Sekarang bukan lagi zaman batu, jika hanya tiga itu saja, tidak perlu ada sekolah. Karena dunia IT sudah memberikan solusi yang jauh lebih baik. Namun, fungsi dan tujuan pendidikan bukan sebatas itu.

Jika kita mengutip kata-kata seorang tokoh terkenal dunia, Plato. Plato sangat menekankan pendidikan untuk mewujudkan negara idealnya. Ia mengatakan bahwa tugas pendidikan adalah membebaskan dan memperbaharui; lepas dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran.

Ada satu hal yang menarik disini, lepas dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Sekarang, coba kita melirik sejenak kepada proses pendidikan di negara ini. Kadang, kita tidak bisa menutup mata ketika Ujian Nasional berlangsung, banyak terjadi ketidakbenaran. Kita semua tahu, tapi pura-pura tidak tahu dengan proses pembodohan dan kebohongan berjamaah.

Padahal, jika kita melihat dan mempelajari tujuan dari pendidikan sesuai dengan UUD 1945, Pasal 31 ayat 1. Disana disebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”.

Sedangkan dalam Pasal 31 ayat 5, menyebutkan, “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia”.

Disana terdapat kata-kata, meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Sudah sangat jelas sekali, jika pendidikan yang baik itu berlandaskan nilai-nilai keimanan. Tapi yang terjadi sekarang, nilai-nilai itu telah bias tak terlihat. Tujuan pendidikan sudah jauh dari yang diharapkan.

Miris rasanya, ketika ujian nasional hanya dijadikan alat untuk menghabiskan uang negara. Kita tidak pernah tahu manfaat pasti dari hal tersebut. Karena memang terlalu banyak kebohongan pendidikan disana.

Guru yang seharusnya menjadi pendamping tumbuhnya pribadi-pribadi yang berakhlaqul karimah, malah menjadi orang pertama yang menyuruh anak didiknya berbuat curang. Mau dibawa kemana dunia pendidikan kita, jika mental gurunya seperti itu.

Guru selayaknya menjadi fasilitator generasi muda yang cerdas hati, pikir dan perilaku. Segores ilmu kehidupan akan jauh lebih bermakna dibanding dengan serentetan rangkuman rumus njelimet. Karena pendidikan di tepi zaman tidak hanya butuh teori tapi juga aplikasi.