Sabtu, 24 Agustus 2013

Melankolis Sejati

10.11 0 Comments

Memiliki seorang ayah yang berprofesi seorang guru itu ada enak dan nggak enaknya. Enaknya, aku bisa belajar di rumah dengan bimbingannya. Nggak enaknya (tapi sekarang aku berpikir itu semua positive), aku dididik dengan sangat disiplin. Bapakku memang ingin sebelum mengajari orang lain, anak-anaknya dulu yang diajarkan.

Karena alasan itulah, semua anak-anaknya dituntut untuk memiliki keahlian, salah satunya adalah beladiri. Bapak sengaja meminta pelatih Pencak Silat untuk melatih kami berlima. Keempat kakakku begitu bersemangat jika saatnya latihan.

Tapi, aku berbeda. Aku selalu mencari-cari alasan jika disuruh latihan. Bahkan aku harus dibujuk dan diiming-imingi dengan sesuatu sebelum berlatih. Tidak hanya itu, akulah satu-satunya yang paling takut ketika disuruh sparring. Kalaupun aku ikut berlatih, aku hanya ikut berlatih seninya saja.


Awalnya Bapak dan keempat kakakku selalu memaksa. Tapi, akhirnya mereka mengerti juga. Hatiku memang terlalu lembut, nggak suka kekerasan. Maklum aku kan melankolis sejati J.

Jumat, 23 Agustus 2013

Positive Thinking

12.48 0 Comments

Kemarin, aku mencoba untuk menuliskan hal-hal yang pernah atau masih membuatku marah dan kecewa. Tapi, tak satu pun memori negative itu yang terpanggil. Aku mencoba menutup mata, berharap siapa tahu dengan menutup mata bisa membantuku.

Tapi, tetap saja tidak bisa. Aku terus berusaha untuk mengingatnya lagi. Barulah aku bisa menuliskan kalimat yang pertama hingga kelima. Meskipun sebenarnya kelima hal tersebut sudah tidak membuatku kecewa.  

Tapi, ketika diminta menuliskan hal-hal yang membahagiakan, aku bisa menuliskannya dengan lancar, no buffering J. Dan tanpa aku sadari aku sudah menulis 25 hal yang membuatku bahagia. Itu artinya jika hal yang membuat kecewa dibandingkan dengan yang membahagiakan, 5:25.


Bukan sebuah kebetulan. Semua itu sebenarnya mengalami proses yang cukup panjang. Manusiawi, jika aku pernah merasakan sakit hati, kecewa, putus asa. Tapi, bukankah hidup itu bagaikan kendaraan, dan kita adalah pengemudinya? Jika kita ingin menjalankan kendaraan itu ke suatu tempat yang indah, ya itu terserah kita. Dan apa kita mau menikmati perjalanan itu dengan bahagia atau penuh dengan keluh kesah?


Kamis, 22 Agustus 2013

The Debate Among The Five Fingers

05.08 0 Comments

“Oh, dear brothers,” says the thumb to the other four fingers.  “I am glad that I have been chosen to be the most important and necessary among us.  Whenever something is said to be number one I am the one that is often used, don’t I?

“Pooh, you have misunderstood it, brother,” says the first finger.  “Have you ever been used to point out anything?” “Certainly, not.” I am the most used whatever to be pointed out in speaking I cannot be not is used.”

“You are both blind,” says the middle finger.  “You see, I am the tallest, the strongest and is placed in the middle between all of you to avoid your quarrel.  So, I am the most trustworthy, of course.”

The ring finger proudly speaks: “You have been talking nonsense altogether.  How can you be the most petted and liked, every one of you has to work or to do something.  But, I do nothing all the time and when the diamond ring comes, I am to use it.  Can you deny that I am superior to you all?”

The little finger mockingly says: “It has been usual that the big proud of their bigness for they supposed that the small will always respect them.”

But they forget that the people will only respect to those who are gentle and good hearted even though they are poor and humble.  You all say that every one of you is superior to one another, alright.  Let me see whether you can do any better thing without me, this poor small? Try to eat rice by you four without me, or try to beat anything with you four without me, can you do it?”

The four fingers try to take rice by themselves, but they can’t.  They try to grasp something, still they can’t.  At last, they confess that without uniting with the small finger, they cannot do anything.

So is also the people in the world, when one supposes to be more superior to the others nothing can be succeed.  When a man despises he will be despised too.  Keep in your mind this proverb: UNION IS STRENGTH.  Do you believe it?

Selasa, 20 Agustus 2013

English Is As Easy As Bahasa

11.35 0 Comments

Seorang Ibu mengadukan kurikulum baru di sekolah anaknya. Beliau mengatakan kalau sekarang di sekolah anaknya, tidak ada mata pelajaran Bahasa Inggris. Katanya, banyak orangtua yang protes karena Bahasa Inggris itu terlalu sulit untuk anak SD. Si Ibu itu sangat tidak setuju, dan meminta pendapatku tentang hal tersebut.

Aku tersenyum mendengar curhatan ibu muda tadi. Kalau boleh jujur, aku sangat tidak setuju jika Bahasa Inggris dihapuskan dari mata pelajaran di sekolah. Alasannya bukan karena aku ini guru Bahasa Inggris. Tapi, karena menurutku jika kita sudah menanamkan pemahaman kalau Bahasa Inggris itu sulit, maka sampai tua pun tetaplah sulit.

Pengalamanku ketika mengajar Bahasa Inggris di SD dulu, aku melihat murid-murid begitu menikmati pelajaran Bahasa Inggris. Bahkan, ketika aku baru tiba di depan gerbang sekolah pun, mereka langsung menyerbuku dan menagih kapan belajar Bahasa Inggris. Ketika di kelas pun, jika jam pelajarannya sudah habis, mereka selalu mengatakan ‘sebentar lagi aja, Miss. Tanggung lagi seru’.

Bahkan aku pernah mengajar private Bahasa Inggris anak usia 4 dan 5 tahun. Aku pernah mencoba untuk tidak datang, bukan karena sakit atau ada halangan. Aku hanya ingin tahu, apa si anak senang aku kalau aku tidak datang. Ternyata mereka marah gara-gara aku tidak datang. Terus, aku tanya, ‘kenapa mesti marah?’ dan jawaban mereka membuatku terdiam. Mereka menjawab, ‘kalau Miss nggak datang, berarti kita cuman belajar sekali dong minggu ini’.


Jadi, sebenarnya, bukan mempermasalahkan sulit atau tidak. Tapi, bagaimana cara yang terbaik untuk memperkenalkan Bahasa Inggris kepada siswa. Dalam hal ini, guru dituntut untuk lebih kreatif. Aku mengatakan seperti ini, bukan karena aku lebih hebat dari yang lain. Aku pun sama, masih terus belajar. Materi Bahasa Inggrisnya mungkin sama dari dulu sampai sekarang, tapi cara mengajarnya tidak mungkin sama. Karena memang sudah berbeda zaman dan kebiasaan. Dan yang harus ditanamkan dalam pikiran anak didik kita ialah ENGLISH IS AS EASY AS BAHASA.


Minggu, 18 Agustus 2013

Kucing Itu Lucu (Katanya) :)

18.21 1 Comments

Hampir semua orang bilang kalau kucing itu lucu. Dan katanya kucing itu juga hewan kesayangan Rasulullah SAW. Jadi alasan beberapa orang begitu menyayangi kucing karena ingin mengikuti apa yang Rasul lakukan.

Kadang aku berpikir dan bertanya kepada diriku sendiri, kenapa aku tidak suka kucing? Kenapa aku begitu takut dengan kucing? Kenapa sampai sekarang aku tidak berani menyentuh dan bahkan melihat kucing dari arah dekat?

Sebenarnya aku sendiri kadang tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan diriku. Tapi, setiap kali aku mendengar suara kucing atau seekor kucing (apalagi kalau lebih dari satu) mendekat ke arahku, aku akan merasa ketakutan. Dulu, bahkan, aku bisa sampai menjerit dan lompat ke atas kursi atau meja. Untungnya sekarang, tidak separah itu. Tapi, tetap saja, rasa takutnya betah banget menyapaku.

Aku terus berusaha agar rasa takutku bisa hilang. Namun, entah usahanya yang kurang keras, atau karena orang-orang di sekitarku begitu ‘setia’ membantuku untuk tidak dekat dengan kucing. Keempat kakakku akan berusaha untuk menjauhkan kucing dariku. Meskipun dulu, merekalah yang paling jail menakut-nakutiku.

Bahkan ibuku selalu menghiburku, kalau dulu juga Ibu sangat takut dengan kucing. Tapi, katanya setelah menikah, jadi tidak takut dengan kucing. Ya, aku berharap suatu saat nanti, aku pun bisa bersahabat dengan kucing. Karena, kucing itu lucu (katanya) :) .

Jumat, 16 Agustus 2013

Cinta Itu...

12.51 2 Comments

“Cinta adalah sebuah kata bercahaya, ditulis oleh tangan cahaya, pada halaman cahaya.” (Kahlil Gibran)

Cinta, satu kata yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Tak akan pernah cukup waktu untuk membahas tentang cinta. Cinta itu bisa seluas samudera, setinggi langit, sedalam lautan. Namun, cinta juga bisa sesempit telapak tangan, serendah tanah, dan sedangkal kolam. Semuanya tergantung dari sisi mana kita melihat dan memaknainya.

Semua orang sudah tahu, jika cinta yang paling luhur adalah cinta kepada Allah SWT. Sebagai makhluk sudah sepantasnya kita menempatkan cinta kepada yang Maha Pencipta ini di urutan terawal dari yang pertama. Setelah itu, barulah kita menempatkan cinta kepada kedua orangtua. Lalu, barulah yang lainnya.

Tapi, mari kita lihat apa yang terjadi sekarang. Banyak orang yang sudah mendewakan cinta terhadap sesama makhluk. Kita ambil contoh, bagi yang belum menikah, mereka menganggap calonnya adalah seseorang yang terbaik bagi dirinya. Mereka akan berbuat apapun untuk bisa mendapatkannya. Bahkan ada kata ‘memaksa’ dalam setiap doa yang mereka panjatkan. Apa mereka bisa menjamin, kalau dia itu memang yang terbaik bagi mereka?

Memang masa penantian itu bagaikan dua sisi mata uang. Untuk sebagian orang, masa penantian bukanlah masa yang menyenangkan. Setiap detik, menit, jam, hari bagaikan bom waktu baginya, semuanya terlihat horor. Setiap bertemu orang, pastilah yang ditanyakan adalah masalah kapan menikah. Beban, jika kita melihat semua itu sebagai masalah.

Tapi, untuk sebagian orang, masa penantian ialah masa yang paling menyenangkan. Kenapa? Ya, ketika seseorang sedang dalam masa penantian, ia akan lebih dekat dengan Allah SWT. Ia akan mengisi dengan hal-hal yang positif. Dalam benaknya, ia akan berpikir bagaimana untuk memantaskan diri sebelum melangkah ke gerbang pernikahan.

Orang yang selalu melihat sisi positif dalam setiap hal akan berpikir mungkin Allah SWT senang dengan doa-doanya di sepertiga malam. Bukankah Allah SWT itu Maha Pencemburu? Mungkin Allah SWT senang melihat kita mengadu meneteskan air mata memohon rahmatNya. Dalam kesendirian dan ketenangan ia mencurahkan segala isi hati dan keinginannya. Hanya ada dirinya dan Sang Pencipta. Sebuah penghambaan dengan penuh rasa cinta kepada yang Maha Mencintai.

Jadi, sebenarnya semua hal itu tergantung dari sisi mana kita melihat. Bukan masalah cepat atau lambat. Tapi, yang terpenting siap atau tidak siap. Siap tidak harus dilihat dari sisi materi, tapi yang terpenting adalah kesiapan mental untuk menjalani sunnah Rasul. Ingatlah, tidak ada cinta yang salah, yang ada hanyalah kita terlalu egois memaknai cinta itu sendiri.


“Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.” (Hamka)