Selasa, 04 Maret 2014

Review "Ayah"



Judul              : Ayah
Penulis           : Irfan Hamka
Penerbit         : Republika Penerbit
Cetakan ke-1: Mei 2013
Tebal              : 324 halaman

Siapa yang tak kenal Tafsir Al-Azhar, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan masih karya fenomenal yang menginspirasi? Ya, siapa lagi kalau bukan Buya Hamka, seorang pejuang, mubaligh, sastrawan, politisi dan tentunya saja seorang Ayah yang inspiratif.
Sebuah memoar Buya Hamka yang ditulis langsung oleh Irfan Hamka, putra kelima dari Prof. Dr. Buya Hamka. Rangkaian cerita yang begitu memukau. Banyak hal yang disajikan yang selama ini tidak pernah diketahui publik.
Sosok Buya Hamka diceritakan dari mulai perannya sebagai ayah yang sangat mencintai keluarganya. Beliau mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai keislaman yang kental. Keteladanan adalah cara beliau mengajarkan sesuatu.
Jabatannya sebagai pegawai di Departemen Agama tidak membuatnya tinggi hati. Kasih sayang terhadap sesama selalu menghiasi setiap perilakunya. Penulis menuturkan Buya Hamka hampir tidak pernah marah. Jiwa pemaafnya begitu luas kepada siapapun, termasuk orang-orang yang telah menyakitinya. Hal itu sangat terlihat ketika Ir. Soekarno wafat, beliau mau mengabulkan permintaan terakhirnya untuk menyolatkan. Padahal, Buya Hamka pernah dijebloskan ke dalam penjara pada masa pemerintakan Soekarno. Buya dituduh melanggar Undang-Undang Subversif Pempres No. 11. Pada saat itu seluruh karya-karya beliau pun dilarang terbit dan beredar.
Tidak hanya dengan Soekarno, Moh. Yamin dan Pramoedya Ananta Toer pun pernah membencinya. Moh. Yamin pernah berselisih soal Dasar Negara. Buya Hamka tidak setuju jika Dasar Negara ialah Pancasila bukan Islam. Moh. Yamin, tokoh PNI,  marah dan membenci Buya Hamka. Namun, menjelang ajalnya, Moh. Yamin meminta Buya datang dan mendampinginya.
Sedangkan Pramoedya Ananta Toer menuduh Buya Hamka telah mencuri karangan Alvonso Care. Pramoedya tidak pernah berhenti menhujar setiap karya Buya. Namun, suatu hari datanglah seorang pemuda dan pemudi. Mereka meminta kepada Buya untuk diajarkan mengaji. Ternyata pemuda tadi akan menikahi putri dari Promoedya. Dan ia menyuruh calon mantunya itu untuk belajar agama kepada Buya Hamka.
Kisah demi kisah dituturkan dengan sangat runut dan jelas. Penulis yang mengalami langsung kebersamaan dengan Buya, tentunya dengan mudah menceritakan kembali apa yang ia alami dan rasakan.
Membaca buku ini, layaknya mempelajari sejarah namun dikemas dengan sangat menarik. Ada banyak ilmu dan pengetahuan baru setelah membacanya, terutama pesan keteladanan dari seorang Buya Hamka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar