Senin, 14 April 2014

Inspirasi Kesetiaan Bersama Cap Kaki Tiga




Setia itu...
Jika banyak orang mencari arti kata setia. Aku sudah menemukan arti kata itu. Bukan, maksudku bukan arti tapi makna. Ya, ibuku, yang lebih senang kupanggil mamah, sudah mengajarkan bagaimana mengeja setiap makna kata ‘setia’ itu. Mamah mungkin tidak pernah merasa, tapi aku selalu belajar banyak darinya tentang apa itu setia.
Menentukan pilihan menikah dengan ayah dan menjalani hidup bersama kurang lebih 37 tahun, tentunya bukan waktu yang sebentar. Senang dan susah dijalani bersama dalam satu jalur kehidupan berumah tangga. Melangkah bersama untuk menggapai tujuan yang sama. Mungkin kadang harus terjatuh, tapi dirinya mampu untuk bangkit mengulurkan tangan untuk orang-orang yang ada di sampingnya.
Seperti halnya larutan penyegar Cap Kaki Tiga, kesetiaan Mamah sudah sangat teruji. Tidak hanya sekedar slogan, namun sudah sangat terasa oleh setiap insan yang mengenalnya. Karena memang baginya, kesetiaan itu bukan hanya sekedar berurusan dengan kata namun juga rasa.
Mamah sudah mengajarkanku banyak hal tentang apa itu setia. Bukan mengajarkan lewat ucap yang mungkin akan membuatku bosan. Tapi, ia ajarkan lewat perilaku yang selalu membuatku kagum sekaligus malu. Kagum, ya aku kagum dengan segala hal yang ia lakukan. Mamah ialah guru kehidupan yang mengajariku tanpa pernah aku merasa digurui. Mamah bagai mata air yang terus memberikan manfaat bagi setiap orang. Mamah juga bagai telaga tak bertepi yang selalu membuatku ingin selalu di dekatnya.
Namun, selain itu, aku juga malu, karena aku belum bisa membalas semua kebaikannya. Sedikit saja, aku masih belum bisa membuatnya kagum dengan diriku. Terlalu sulit untuk menyamai kesetiaannya.
Aku mungkin tidak akan tahu dan mengingat semua perjuangan dan pengorbanan Mamah untuk orang-orang yang dicintai. Tapi, aku sering memerhatikan bagaimana Mamah mengurusi suami dan kami anak-anaknya. Bagaimana ketika Mamah merawat Bapak yang sedang sakit hingga sekarang. Kesabaran dan ketulusan terlihat dari bagaimana Mamah begitu telaten mengurusi Bapak sekaligus kelima anaknya. Kelelahannya ia sembunyikan di balik senyum dan semangat hidup.
Aku tidak tahu bagaimana dulu Mamah dan Bapak bertemu. Aku juga tidak pernah tahu seberapa besar rasa cinta keduanya di awal bertemu. Namun, saat ini, ketika usia telah semakin senja dan pernikahan pun bukan berdasar lagi atas dasar cinta, kesetiaan itu semakin begitu jelas terlihat. Dalam sorot mata yang semakin redup, aku menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Ya, aku belajar banyak tentang makna setia dari sosok yang telah kupinjami rahimnya itu. Tepatnya ketika keberlimpahan berubah menjadi kekurangan. Wanita tegar itu tak pernah mengeluh dengan segala keadaan yang ada.
Cintanya sudah teruji. Ia tidak hanya bisa mencintai ketika semuanya ada, namun ketika semuanya tiada, ia masih tetap untuk tetap tersenyum berada di samping orang-orang yang ia cintai.
Kesetian Mamah memang tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Senyum dan doa tulus selalu terukir indah di bibirnya. Dorongan untuk selalu memberikan yang terbaik, tidak pernah hilang dari kamus kehidupannya.
Baginya mencintai itu bukanlah menerima, tapi mencintai itu memberi. Baginya tak peduli dirinya menderita, asalkan orang-orang di sekelilingnya bahagia. Setia memang tidak selamanya bisa terukur, tapi bisa dirasakan. Setia memang tidak mudah untuk dilakukan, namun juga tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Setia itu seperti mentari, selalu ingin menyinari tanpa pernah letih. Setia itu seperti larutan penyegar Cap Kaki Tiga, terus mengabdi dan berarti untuk negeri bukan hanya untuk pribadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar