Rabu, 17 September 2014

Teruntuk Bapak Presiden Terpilih

Assalamu’alaikumu wr.wb.
Sebelumnya saya ucapkan selamat atas terpilihnya Bapak menjadi Presiden Indonesia yang ke-7. Pemilihan kali ini memang agak sedikit berbeda. Saya, sebagai masyarakat biasa yang buta politik kadang tidak mengerti apa yang terjadi. Pemberitaan seakan membuat telinga ini jenuh mendengar ejekan, umpatan, obral janji, fitnahan dan hal-hal negatif lainnya menjadi menu utama harian selama kampanye sampai dengan sekarang. Karena alasan itu, tidak jarang saya jadi mati rasa dengan semua pemberitaan yang berbau politik negeri ini. Semuanya semu, semuanya menjadi tidak menarik untuk diperbincangkan.
Tapi, bagaimanapun, saya hidup bermasyarakat. Saya tidak mungkin terus-terusan menutup telinga. Dan tentu saja, saya pun tidak mungkin tidak berbuat sesuatu untuk negeri ini. Meskipun politik itu kadang melelahkan untuk disimak, tapi sebagai manusia bernegara, kita tidak mungkin lari dari politik.
Bapak Presiden yang terpilih,  
Pemilu kali ini memang terasa sangat komplek dengan setumpuk permasalahan. Sepertinya, belum usai masalah di Pileg, sekarang ditambah masalah Pilpres yang tak pernah ada ujungnya. Dari mulai money politic sampai black campaign, semuanya menjadi bumbu perpolitikan bangsa ini. Rasanya untuk merasakan Pemilu bersih itu bagaikan meraih bintang di langit.
Mungkin bangsa kita masih belum cerdas berpolitik (maaf, menurut pendapat saya lho). Politik masih identik dengan sesuatu yang bisa menjadi penyulut kebencian dan amarah. Pemilu seakan menjadi saat yang paling menegangkan dan jauh dari kata kesenangan. Padahal bukankah Pemilu itu sebuah pesta demokrasi bangsa ini? Seharusnya yang namanya pesta haruslah membuat semua orang merasa bahagia.
Sebenarnya ajang empat tahunan ini bisa dijadikan sarana untuk lebih mencintai negeri ini. Bukan malah sebaliknya. Dari mulai Pileg sampai Pilpres, sebagian anak muda malah belajar untuk menjadi generasi pembenci, generasi penuh dengan fitnah, dan generasi pecundang.
Bapak Presiden yang terpilih,
Impian saya, ketika negeri ini dipimpin oleh Bapak, sedikit demi sedikit, generasi kami kembali menjadi generasi yang cerdas dan sadar politik. Sebenarnya kami tidak ingin menjadi generasi yang apatis. Besar harapan kami, Pemilu berikutnya akan menjadi Pemilu yang bersih.
Mungkin ada yang bilang sulit untuk menjadikan Pemilu di negeri ini bersih. Memang benar, terlalu banyak yang harus diperbaiki. Tapi, lupakah kita, kalau tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini?
Aturan yang ada dibuat haruslah sangat jelas dan mudah dipahami dan diaplikasikan. Baik pemilihan anggota legislatif maupun Presiden, tetaplah rakyat yang memilih. Biarkan rakyat yang menentukan siapa wakil rakyat yang mampu dan pantas. Meskipun ada ketakutan rakyat memilih tanpa mengenal jauh siapa yang dipilihnya. Untuk itulah, proses kampanye inilah yang seharusnya dijadikan sarana untuk pembelajaran politik kepada rakyat. Kami akan belajar banyak tentang arti sebuah konsekuensi dari apa yang kami lakukan. Dan itu merupakan proses bagi kita semua untuk cerdas politik juga. Tapi, ketika pemilihan hanya ditentukan oleh segolongan orang, maka apa kita yakin segolongan itu akan mewakili suara setiap hati rakyat Indonesia?
Bapak Presiden terpilih,
Tidak hanya itu sebenarnya untuk menjadikan Pemilu bersih. Karena sebenarnya para elit politik pun harus mampu mencerminkan sosok yang memang pantas dipilih. Dan disinilah peran pembuat kebijakan. Ketika kebijakan yang ada dibuat sesuai dengan tujuan dan cita-cita bangsa, maka sudah bisa dipastikan, pemimpin yang terpilih pun akan pantas dan mampu memimpin bangsa ini.
Bapak Presiden terpilih,
Semoga di masa kepemimpinan Bapak, akan banyak perubahan positif yang terjadi. Negeri ini rindu kedamaian. Negeri ini rindu pemimpin yang mampu membuat kami para rakyatnya bangga dengan pemimpin kami sendiri. Negeri ini rindu dengan persatuan sejati bukan sekedar tulisan atau ucapan dan janji manis.
Bapak Presiden terpilih,
Terima kasih sudah mau membaca coretan saya ini. Mohon maaf jika tidak berkenan. Saya menulis ini karena saya peduli dengan tanah tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Saya menyusun kata karena rasa cinta saya kepada Indonesia. Semoga Bapak bisa senantiasa bekerja dengan ikhlas dan cerdas untuk kemajuan negeri ini. Kami semua akan mendukung Bapak, jika memang apa yang Bapak lakukan sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin yang amanah.


Wassalamu’alaikum,


Intan Daswan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar