Kamis, 23 April 2015

Aku, Kau dan Buku

11.49 0 Comments

Mungkin terdengar lebay atau aneh, tapi itulah yang terjadi. Siapa sangka kami berdua bisa dipertemukan lewat sebuah buku. Aku sendiri tak pernah mengira kalau buku yang aku tulis bisa mengantarkanku bertemu dengan imamku.
Ya, aku dan dia tidak pernah bertemu sebelumnya. Bahkan tidak pernah terbersit dalam benakku untuk menikah dengan orang yang tinggal jauh di sana. Beda suku dan beda pekerjaan. Tapi, kami berdua memiliki hobi yang sama, membaca buku.
Suamiku selalu menilai kalau profesi penulis itu luar biasa. Dan, aku sendiri tidak pernah berpikir sejauh ini, kalau seseorang bisa yakin untuk meminangku hanya melihat karakter tulisanku.
Aku selalu tersenyum ketika mengingat bagaimana proses aku dan suamiku saling mengenal. Ternyata kami bisa saling menyapa lewat kata. Cinta akan kata yang tertuang dalam bahasa yang penuh rasa menyatukan asa kami berdua.
Bagi kami, buku itu bagaikan jembatan, menghubungkan sesuatu yang jauh. Buku juga bagaikan sahabat sejati yang bisa membuat kita berubah tanpa merasa digurui. Buku juga investasi seumur hidup. Buku bisa menjadikan seseorang yang biasa menjadi luar biasa.
Selamat Hari Buku Sedunia.




Senin, 20 April 2015

Terima Kasih Yaa Allah

07.27 0 Comments


Kebanyakan orang menyebutnya bertambah usia. Sebagian orang menilainya berkurangnya jatah hidup di dunia. Tak peduli apapun itu sebutannya, karena yang terpenting bagaimana aku memaknai semua ini.
Tak terasa perjalanan ini sudah begitu panjang. Ada banyak kisah yang mewarnai setiap langkah. Ada tawa berbalut tangis bahagia, ada juga tangis berakhir rasa syukur. Semuanya adalah proses pendewasaan akal, jiwa dan hati.
Aku merasa tidak ada celah untuk berhenti bersyukur. Usia dan tubuh ini menjadi modal luar biasa yang membuatku menjadi seperti sekarang. Setiap episode begitu berharga untuk lebih memahami mengapa aku dilahirkan ke dunia ini.
Rasa sykur tak henti aku panjatkan atas semua yang Allah Swt berikan. NikmatNya sangat tak terhitung. Hadiah dari-Nya selalu membuatku malu dengan kealfaan diri selama ini. Setiap detik, Dia tidak pernah lelah untuk memberikan yang terbaik untukku.
Ya, memang sepantasnya aku bersyukur. Di tahun ini, Allah Swt pertemukan aku dengan seseorang yang menjadi pendampingku untuk melangkah menuju Jannah-Nya. Tidak hanya itu, saat ini ada amanah terindah yang Allah Swt titipkan dalam rahimku.
Tidak ada kata yang lebih pantas dari kata syukur atas semua yang telah Allah Swt berikan. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan terus berusaha untuk menjadi “A Valuable Diamond”. Aku ingin keberadaanku di dunia bisa menjadi penyebab bagi setiap senyuman kebahagiaan orang-orang di sekitarku. Semoga sisa umur ini dapat aku manfaatkan dengan baik. Suatu saat ketika jatah usia ini telah habis, aku bisa meninggalkan jejak indah di hati setiap orang yang pernah mengenalku.
Terima kasih Yaa Allah. Bimbing aku untuk senantiasa bersyukur atas semua karunia-Mu.

*
Thanks to my husband for your gift. It will be the best friend for me. I really like it.

Bandung, 20 April 2015

Minggu, 19 April 2015

An-Nisaa, An-Nuur, dan Ar-Ruum

15.11 0 Comments
Sumber: iffahamaliakushidayati.wordpress.com 

Kejadian ini aku alami 5 tahun yang lalu. Bagiku ini bisa dibilang aib. Namun, di sisi lain, aku jadikan ini sebagai titik awal untuk berubah. Rasa malu telah membuatku banyak belajar.
Waktu itu, salah seorang tetangga yang juga teman baik Ayah, memintaku dan kakak untuk mengaji di acara syukuran pernikahan. Sebenarnya bagiku tidaklah terlalu sulit, karena hanya membacakan artinya saja.
Meskipun sudah terbiasa di depan banyak orang, entah kenapa malam itu aku merasa agak kurang tenang. Dan aku melihat kakak pun sepertinya merasakan hal yang sama. Namun, aku tidak mau mempermasalahkan ini. Aku berusaha untuk terus berpikiran positif.
Dan ternyata, segala ketidak tenangan ini pun menyebabkan semuanya berantakan. Dimulai dari posisi kami yang berjauhan. Biasanya orang yang menjadi saritilawah akan duduk atau berdiri di samping orang yang membaca Al Quran. Tapi, ini berbeda. Aku harus duduk agak jauh dari kakakku.
Masalahpun datang ketika kakakku mulai membaca Al Quran. Ada yang aneh dengan yang ia baca. Dari arti yang sudah ia ketik, seharusnya yang pertama kali dibaca itu surat An-Nuur, lalu Ar-Ruum. Tapi, ketika aku perhatikan, kenapa Kakakku membaca Ar-Ruum lebih dulu. Aku mencoba untuk mencocokkan arti sebisaku. Untunglah itu surat yang sangat familiar di telingaku, jadi aku bisa mengetahui artinya.
Setelah selesai membaca surat Ar-Ruum, aku pikir Kakak akan membaca surat An-Nuur. Tapi ternyata tidak sama sekali. Surat yang ia baca tidak sesuai dengan arti yang ada dalam kertas yang aku pegang.
Meskipun aku tahu itu surat An Nisaa, tapi aku tidak tahu artinya. Sedangkan aku tidak membawa Al Quran. Posisi duduk yang jauh dengan Kakak juga membuat aku semakin bimbang. Muncul seribu pertanyaan, apa aku tetap membaca arti dari surat An-Nuur saja.
Ingin rasanya ini hanya sekedar mimpi buruk. Tapi, akhirnya aku putuskan untuk membaca semua arti yang ada dalam kertas itu. Aku pun membalik posisi artinya. Karena aku yakin yang pertama dibaca itu Ar-Ruum bukan An-Nuur. Dengan percaya diri plus percaya malu, aku pun langsung membaca artinya tersebut.
Setelah selesai, kami berdua kembali ke tempat duduk semula. Aku langsung memastikan kalau yang dibaca tadi tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Kakakku pun tersenyum mengiyakan.
Aku langsung mengajak Kakak untuk pulang. Perasaan malu membuatku semakin tidak nyaman. Aku pun mengajak Kakak untuk pamit pulang. Rasanya aku ingin menutup wajah ini. Dengan setengah berlari aku meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di rumah, aku ceritakan kepada Ibu semua keteledoranku. Ibu mencoba menenangkanku. Tapi, tetap saja, rasa bersalah ini masih menghantui. Aku langsung mengurung diri di kamar. Aku takut akan kena marah Ayah.
Tapi ternyata, keesokan harinya, aku mendapat kabar yang sedikit membuatku tertawa dan penuh tanda tanya. Ternyata, ada salah seorang yang tadi malam hadir, meminta kami untuk mengisi di acara pengajian keluarganya. Aku sama sekali tidak percaya mendengarnya.
Tapi sejak kejadian itu, aku bertekad untuk mengenal Al Quran lebih dekat. Tidak hanya membaca tulisan Arabnya saja, tapi aku mencoba memahami artinya. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi.
Bahkan sekarang aku bergabung dengan komunitas yang membantuku untuk tetap istiqomah membaca satu juz sehari. Selain itu, aku juga bergabung dengan satu komunitas membaca Al Quran satu hari satu halaman beserta artinya. Segala usaha aku aku lakukan agar aku bisa lebih dekat dengan Al Quran. Aku berharap tidak akan ada An-Nisaa, An-Nuur dan Ar-Ruum Part 2.


Jumat, 10 April 2015

Episode Kehidupan

11.27 0 Comments

Patut kita akui kalau hidup ini memang panggung sandiwara. Sejatinya setiap panggung sandiwara itu ada peran dan alur cerita yang harus diperankan. Alur cerita akan menarik ketika ada berbagai rasa yang diracik secara seimbang. Sang pemeran pun tidak bisa memilih untuk menjadi peran yang lain, atau misalnya merubah isi cerita. Kalau pun mau ‘improvisasi’ tetap harus berada di alur yang tidak terlalu melenceng.
Ya, mungkin itulah yang sedang aku rasakan akhir-akhir ini. Setelah beberapa bulan fokus ke persiapan pernikahan dan ngunduh mantu, aku sedikit ‘melupakan’ hobi menulisku. Dan ketika sekarang aku ingin kembali menyapanya, terasa sulit sekali. Beberapa kali aku coba kirimkan naskah ke media dan panitia lomba, tapi hasilnya membuatku harus mengelus dada.
Aku kehilangan semangat untuk menulis. Aku merasa semua yang aku tuliskan jelek, tidak berbobot, dan tidak menarik untuk dibaca. Perasaan serba salah sering menyapaku. Apa yang salah denganku? Itulah pertanyaan yang sering aku lontarkan.
“Neng pasti bisa berkarya lagi. Sekarang Allah sedang memberikan nikmat yang luar biasa. Janin yang Allah titipkan di rahim Neng itu jauh lebih berharga dibanding segalanya.”
Itulah kalimat penguat yang suamiku ucapkan. Ya, aku sadar, semua pasti ada saatnya. Aku harus mencoba memahami itu. Kini yang terpenting bukan mempermasalahkan hasil, tapi seberapa besar usahaku untuk menyapa kembali kata yang penuh makna. Biarkan tangan Allah yang bekerja untuk memberikan hasil yang terbaik untukku.
Aku bersyukur karena sekarang ada seseorang yang selalu menguatkan ketika aku lemah. Dan tidak hanya itu, sebentar lagi akan ada malaikat kecil yang bangga karena ibunya tidak pernah lelah menjemput setiap impian.
“Aku akan tetap menulis, karena Allah memberikan jalan kita bertemu lewat buku yang aku tulis, suamiku,” janjiku dalam hati.
Aku yakin semua pasti ada waktunya. Kini, aku sedang menjalani episode menjadi wanita yang paling bahagia dengan titipan janin dalam rahimku. Semoga aku bisa melalui setiap episode kehidupan dengan baik, hingga Sang Sutradara Kehidupan bangga dengan caraku memerankan peran yang telah ditentukan.