Jumat, 05 Februari 2016

Arti Sebuah Harapan


I Am Hope, sebuah film yang sarat akan pesan moral. Memang  bukan hal yang baru dengan film yang mengangkat ide cerita tentang penderita kanker. Tapi, tentunya pasti ada hal yang membuat film ini wajib ditonton.
I Am Hope, sebuah film produksi Alkimia Production ini disutradarai oleh Adilla Dimitri. Sedangkan skenarionya sendiri ditulis langsung oleh sang sutradara bersama Renaldo Samsara. Selain itu film ini dibintangi oleh para pemain yang memang jago berakting, seperti Tatjana Saphira, Fachry Albar, Tio Pakusadewo dan Fauzi Baadila serta masih banyak pemain-pemain hebat lainnya.
I Am Hope, bercerita tentang Mia, gadis berusia 23 tahun yang divonis menderita kanker. Penyakit yang juga diderita ibunya dan merenggut nyawa orang tersayangnya ini. Mia memiliki mimpi besar untuk membuat sebuah pertunjukkan teater. Namun, mimpinya seakan karam ketika ia divonis dengan penyakit yang mematikan.
Mia berpikir mimpinya itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Namun, wanita bernuansa pelangi, yang menjadi sahabat Mia itu terus saja memberikan dukungan. Ia terus mengingatkan kalau mimpi Mia pasti akan terwujud.
Di tengah jadwal kemoterapi, Mia memberanikan diri untuk memberikan naskah kepada seorang produser. Tapi, Mia kecewa, karena ia tidak bisa bertemu dengan si produser itu. Mia putus asa. Ia kembali berpikir kalau ia tidak mungkin bisa mewujudkan impiannya.
Namun, jalan Tuhan berkata lain. Ketika dalam perjalanan pulang, Mia melihat ada sebuah poster yang memberitahukan sebuah pertunjukkan menarik. Hati Mia tergerak untuk melihatnya. Ia pun memasuki sebuah gedung untuk menyaksikan pertunjukkan tersebut.
Di sepanjang pertunjukkan tatapan mata Mia tidak lepas dari seorang pemain. Mia merasa ada getaran yang berbeda ketika menatap ke arah aktor itu. Dan, ketika pertunjukkan selesai, tanpa sengaja Mia bertemu dengan aktor tampan itu. David, nama aktor yang menarik perhatian Mia. Tanpa diduga, ternyata David pun menyimpan rasa suka kepada Mia. David merasakan getaran yang sama dengan apa yang dirasakan Mia.
Seiring berjalannya waktu, Mia dan David semakin dekat. Hingga suatu hari, Mia menceritakan impian terbesar dalam hidupnya. David pun tergerak hatinya untuk mewujudkan mimpi orang yang ia sayangi. David meminta Mia untuk menawarkan naskahnya kepada produsernya. Atas pertolongan David, akhirnya naskah Mia pun diterima oleh sang produser.
Mia merasa bahagia karena impiannya sebentar lagi akan terwujud. Meskipun ia harus terus menjalani kemoterapi, tapi ada semangat yang mulai terpercik dalam dirinya. Ia merasa kalaupun waktunya di dunia tidak akan lama lagi, ia sudah merasa puas karena impiannya sudah tercapai.
Menghadapi pementasan dari naskah miliknya, Mia begitu bersemangat. Ia tak peduli harus bolak-balik melihat semua persiapannya. David tidak pernah lelah menemani Mia mewujudkan impiannya. Namun, suatu hari, semingu sebelum hari H pementasan pertunjukkan, Mia mendapat kabar yang membuat dirinya begitu terpukul. David dikabarkan meninggal dalam kecelakaan ketika akan menjemput Mia.
Mia teringat ucapan David yang sampai sekarang sering terngiang di telinganya, “Hidup itu bukan masalah seberapa lama kita hidup, tapi seberapa cerdas kita mengisi waktu yang telah diberikan Tuhan. Bukan hak kita untuk tahu kapan kita dipanggil Tuhan. Kita hanya berkewajiban meninggalkan pelangi yang indah di hati orang-orang yang ditinggalkan.” Kata-kata yang sering dikatakan David setiap kali ia akan melakukan kemoterapi ini benar-benar terpatri dalam hati Mia. Mia merasa Davidlah dewa penolong dari pencapaiannya hingga saat ini.
Dari kematian David Mia mendapat pelajaran yang luar biasa. Mia berpikir, ternyata memang benar usia itu tidak ada yang tahu. David yang terlihat sehat, ternyata dipanggil Tuhan lebih dulu dari dirinya. Kematian memang rahasia Tuhan yang tidak ada yang sanggup untuk mengetahuinya.
Pada hari H pementasan, Mia sangat bersemangat melihat hasil akhir dari kerja keras dirinya dan David selama ini. Ia tersenyum bahagia karena akhirnya impian terbesar dalam hidupnya bisa tercapai. Meskipun di sisi lain ia sedih, karena orang yang paling berjasa dalam mewujudkan impiannya telah berpulang lebih dulu.
Mia menyaksikan pementasan itu dari awal sampai akhir. Di sepanjang pementasan, senyum dan tangis bahagia bercampur. Mia teringat akan perjuangannya selama ini. Segala sesuatu yang awalnya ia pikir tidak mungkin, ternyata bisa menjadi kenyataan, jika seseorang itu masih memiliki harapan untuk mewujudkannya.
Pementasan berakhir dengan sukses. Tapi, tiba-tiba Mia terjatuh. Waktu Mia benar-benar sudah habis. Tuhan telah memanggil gadis yang telah berhasil meraih impian besarnya. Mia menghembuskan napas terakhir dalam ketenangan pencapaian impian dari sebuah harapan. Ia telah memberikan banyak pelajaran bagi orang-orang di sekitarnya. Setiap ada kemauan pasti ada harapan, dan setiap harapan pasti membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang akan berakhir dengan pencapaian yang diimpikan.



Itu ending cerita I Am Hope versiku lho. Buat kamu yang penasaran dengan film yang luar biasa ini, saksikan langsung di bioskop-bioskop kesayangan kamu ya. Ingat lho tangal 18 Februari 2016. I Am Hope The Movie is the best recommended film. Oya, jangan lupa dapatkan GelangHarapan. Pengen tahu juga semua hal yang berhubungan dengan I Am Hope The Movie, pantengin terus Uplek.com

PRE SALE @IAmHopeTheMovie yang akan tayang di bioskop mulai 18 februari 2016. Dapatkan @GelangHarapan special edition #IAmHope hanya dengan membeli pre sale ini seharga Rp.150.000,- (untuk 1 gelang & 1 tiket menonton) di http://bit.ly/iamhoperk Dari #BraceletOfHope 100% & sebagian dari profit film akan disumbangkan untuk yayasan & penderita kanker sekaligus membantu kami membangun rumah singgah .
Follow Twitter @Gelangharapan dan @Iamhopethemovie
Follow Instagram @Gelangharapan dan @iamhopethemovie
Follow Twitter @infouplek dan Instagram @Uplekpedia
#GelangHarapan #IamHOPETheMovie #BraceletofHOPE #WarriorOfHOPE #OneMillionHOPE #SpreadHope


Tidak ada komentar:

Posting Komentar