Rabu, 24 Februari 2016

Kota Sejuta Kerinduan

 
The Unforgettable Bandung 
Lahir dan besar di bumi pasundan. Menghabiskan setiap detik, menjemput rezeki di tanah parahyangan. Bersyukur bisa terlahir dan menikmati kota yang penuh dengan cinta dan cerita. Bandung, kota sejarah yang tak pernah mati.
Bandung, siapapun orangnya pastilah akan jatuh cinta pada kota yang memiliki julukan kota kembang ini. Kota yang bersejarah yang sekarang semakin bergairah. Setiap sudut kota seakan berkata, lihatlah aku dan nikmati setiap keindahan kotaku.
Sebagai urang Bandung asli yang sekarang ber-KTP luar Bandung tentunya memiliki banyak cerita yang sulit terhapus. Perlu aku akui, tidak semua sudut kota Bandung pernah aku datangi. Tapi, setidaknya aku pernah mengunjungi beberapa tempat yang memiliki ruh perjuangan dan cinta.
The Unforgettable Bandung 

Titik 0 Km. Sebuah tugu kecil sebagai tanda titik tengah Kota Bandung. Masih ingatkah kita dengan sejarah pembuatan jalan dari Anyer – Panarukan? Inilah jalur yang dilalui proyek pengerjaan jalan pada masa penjajahan Belanda tersebut. Dan disinilah Daendels menancapkan tongkatnya dan mengatakan kalau disitulah titik tengah kota Bandung. Grote Postweg (1808 – 1809), jalan sepanjang 1000km dari Anyer-Panarukan dikerjakan atas perintah Gubernur Jendral Hindia Belanda W. H. Daendels (1762-1818). Tercatat selama pengerjaannya menelan korban jiwa sebanyak 30.000 meninggal.
Sekarang, kita bergeser ke sebelah kiri titik 0 Km. Siapa sangka hotel yang berdiri dengan gagahnya di tengah pusat kota ini dulunya merupakan sebuah toko roti. Berawal dari sebuah herberg pada tahun 1825, lalu pada tahun 1897 digabungkan dengan Hotel Thiem dan toko roti, lalu berubahlah menjadi Hotel Preanger. Bangunan ini direnovasi total pada tahun 1929 dengan sentuhan kreatif dari perancang C.P. Shoemaker dan juru gambarnya ialah Presiden pertama kita, Ir. Soekarno.
Masih di Jalan Asia Afrika, ada satu hotel yang menjadi saksi sejarah beberapa tahun yang lalu. Hotel Savoy Homman, bangunan megah ini dulunya ialah sebuah rumah panggung berdinding gedeg dan beratap rumbia milik keluarga Homman. Pada tahun 1876, dindingnya berubah menjadi dinding kayu , kemudian pada tahun 1880 menjadi gedung tembok dan diberi nama Hotel Post Road. Lalu, pada tahun 1939 dibangun kembali dengan menggunakan perancang A.F. Aalbers dengan juru gambar R. A. dee Waal.

Berada tidak jauh dari Hotel Homman, terdapat sebuah gedung Sosieteit Concordia. Gedung ini didirikan atas prakarsa para elit Belanda terutama tuan kebun. Gedung ini berfungsi untuk kegiatan sosial. Terdapat satu slogan yang khas pada zaman itu, “verbodden voor honden en Inlanders”, yang artinya anjing dan pribumi dilarang masuk. Pernyataan tersebut sebenarnya merupakan penghinaan terhadap pribumi. Bagaimana tidak, pribumi disamakan dengan anjing.

The Unforgettable Bandung 
Gedung ini dibangun kembali oleh Van Gallen Last dan C.P. Wolf Schoemaker.  Pada tahun 1955, Sosieteit Concordia diganti menjadi Gedung Merdeka oleh Presiden Soekarno. Gedung ini merupakan saksi sejarah dilangsungkannya Konferensi Asia Afrika, yang dihadiri beberapa negara yang sudah merdeka pada waktu itu. Dan gedung ini kembali menjadi saksi sejarah yang tak terlupakan pada perhelatan Konferensi Asia Afrika ke-60 pada tahun 2015 kemarin.

Bandung juga tidak terlepas dari kawasan wisata alam yang menggoda hati. Keindahan alam yang masih asri membuat Bandung masih tetap terasa sejuk dan nyaman untuk melepas penat. Meskipun perlu diakui, pembangunan beberapa gedung bertingkat sedikitnya menyumbang pengikisan lapisan ozon. Tapi untungnya masih ada beberapa kawasan yang tetap terjaga dari tangan-tangan pengusaha yang tidak peduli lingkungan.
The Unforgettable Bandung 
Di kota ini, kita masih bisa menikmati hijaunya sawah dan sejuknya udara pegunungan. Pohon-pohon tinggi masih menghiasi beberapa bagian dari kota ini. Beberapa tempat masih saja seperti dulu. Kalaupun ada perubahan, tapi nuansa alamnya tidak akan pernah berubah. Contohnya saja, Gunung Tangkuban Parahu yang tidak pernah berhenti menyebar virus eksotik alam pegunungan berbalut cerita rakyat yang sangat terkenal. Kisah seorang anak yang mencintai ibunya sendiri, Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

The Unforgettable Bandung 
Banyaknya pegunungan menjadikan Bandung juga kaya dengan air terjunnya. Di kota Paris van Java dan sekitarnya ini, air terjun menambah cantik dan sejuk kota kembang. Tidak lengkap rasanya kalau kita tidak menyapa beberapa air terjun yang berada di tatar sunda ini. Meskipun untuk mendapatkan keindahan air terjun tersebut kita harus melakukan pendakian dengan jalur yang lumayan menantang. Tapi, itu semua terbayar ketika kita mulai melihat rintik air yang terjatuh dari balik batu-batu besar. Kejernihan dan kebeningan air mengajarkan kita arti sebuah ketenangan lahir dan bathin.
Rasanya tidak akan cukup waktu sehari atau mungkin seminggu untuk menyelami setiap sisi keindahan tatar sunda. Butuh waktu berhari-hari untuk menikmati dan mengamati setiap sudut kota si Kabayan ini.
Karena selain tempat-tempat yang membuat mata kita takjub. Bandung juga terkenal dengan wisata kulinernya. Banyak orang yang mengatakan kalau Bandung itu surganya bagi lidah yang tak tahan untuk mengecap dan perut yang keroncongan. Makanan dan minuman khas Bandung berhasil membuat lidah setiap yang merasakannya bergoyang dan tak berhenti untuk mencicipinya. Sebut saja batagor (basa tahu goreng), peuyeum (tape singkong), cireng (aci/tepung kanji digoreng), cimol (aci digemol), keripik pedas, es cendol, soto Bandung dan masih banyak lagi yang lainnya.
Tidak hanya sampai di situ, Bandung pun memiliki sesuatu yang berbeda dengan kota lain. Bandung terkenal dengan orang-orangnya yang kreatif (seharusnya kreatip, pake ‘P’ J ). Sudah tidak diragukan lagi kekreatifan anak-anak muda Bandung.
The Unforgettable Bandung 
Meskipun mereka terbilang aktif dan kreatif dalam hal berkesenian. Tapi, Bandung pun tidak pernah melupakan asal-usul budanya. Orang-orang Bandung yakin, kesenian sunda (asli Jawa Barat) tidak kalah menarik dengan kesenian dari daerah lain, bahkan jika dibandingkan dengan luar negeri pun, seni sunda mendapat tempat tersendiri di hati setiap orang yang pernah melihatnya.
Tentunya bukan hal yang asing di telinga setiap orang, angklung, alat musik yang terbuat dari bambu ini sudah bisa go international. Bahkan orang-orang dari luar negeri sudah sangat familiar dengan alat musik ini.
Bandung saat ini semakin jauh lebih menarik. Bandung tidak pernah lelah menebar daya tarik. Apalagi sekarang dengan dipimpin oleh walikota yang sangat cerdas, Bandung terus berbenah diri. Kota destinasi wisata ini tak pernah berhenti memikat hati.
The Unforgettable Bandung 

Alun-alun kota yang semakin cantik, taman yang bertebaran dimana-mana, jalur pedestrian yang tertata rapih dan fasilitas publik yang semakin dibenahi. Bandung semakin menggoda untuk dikunjungi bahkan ditinggali. Di tengah keramaian dan segala fasilitas modernisasi, udara yang masih segar dengan pemandangan pegunungan yang masih jelas terlihat, membuat Bandung tidak kehilangan ruh kedamaian.
Ketika Bandung terus mempercantik diri, aku harus meninggalkan kota ini. Aku harus melangkah merantau ke salah satu kota paling timur di Pulau Jawa. Ada sesuatu yang hilang ketika kaki ini meninggalkan kota cantik nan memesona.
The Unforgettable Bandung 
Bagiku, Bandung bukan hanya sekedar menyimpan banyak keindahan, tapi juga kenangan. Lahir dan besar di kota ini, menjadikanku memiliki banyak goresan kisah yang sulit untuk terlupakan. Aku boleh saja sekarang berada di kota lain, tapi terkadang hati ini masih saja sulit untuk melupakan kota yang penuh cerita.
Bandung ialah kota sejuta kerinduan. Ketika fisik telah menyapa kota ini, maka hati dan pikir akan sulit untuk beranjak pergi. Ada rasa yang terus mengusik untuk sekedar menyapa lagi atau bahkan bercengkerama lama. Tidak berlebihan kalau ada ungkapan, “Bumi Pasundan diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum.”



Tulisan ini diikutkan dalam niaharyanto1stgiveaway : The Unforgettable Bandung


2 komentar:

  1. Baru tahu kalo Intan udah gak tinggal di Bandung. Bandung emang sulit dilupakan, ya. Makasih sudah ikutan GA saya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Saya udah 4 bulan ini tinggal di Jember. Kangen berat nih mbak sama Bandung :)

      Hapus