Senin, 29 Februari 2016

Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh


Sebuah filsafat hidup orang Sunda yang mengandung makna begitu dalam. Silih asah, yang berarti saling menajamkan pikiran dan saling mengingatkan. Budaya ini sekarang sudah semakin hilang tergerus zaman. Tidak banyak orang yang mau berbagi ilmu dan saling mengingatkan. Sebagian orang hanya memikirkan bagaimana dirinya menjadi cerdas, tanpa mau mencerdaskan orang lain. Kalaupun mereka mau berbagi ilmu, mereka selalu mengatakan “there’s no free lunch”. Semuanya harus dihargai dengan materi.
Silih asih, artinya ialah saling mengasihi dan mencintai. Kita mungkin berpikir kalau rasa cinta itu masih ada di sekitar kita. Ya, masih ada. Namun rasa itu sudah kian memudar. Sikap tidak acuh kepada sesama menjadikan kita pribadi yang individualistik. Coba kita perhatikan, di zaman sekarang sudah sering kita dengar anak membunuh orangtuanya, orangtua menganiaya anaknya, perkelahian, bentrok, tawuran dan perselisihan marak terjadi. Rasa kasih sayang dan cinta damai menjadi hal yang mahal dan sulit didapatkan.
Silih asuh, maksudnya saling membimbing. Orang yang sudah tua, baik itu usia ataupun ilmunya, mau membimbing yang muda, dan yang muda juga mau dibimbing yang tua. Orang yang sudah mengerti dan paham bersedia menjelaskan kepada yang belum tahu, dan tentu saja yang belum tahu juga tidak sungkan untuk bertanya kepada yang sudah paham. Saling melengkapi dan saling bersinergi.
Ketiga filosofi kehidupan orang Sunda ini sebenarnya bila diterapkan dalam kehidupan modern masih sangat relevan. Ketika seluruh masyarakat mau saling asah, saling asuh, dan saling asih, maka akan tercipta kehidupan yang aman dan tenteram. Tidak akan lagi saling hina, ejek, sikut satu sama lain.

Sebenarnya semua budaya bangsa ini mengajarkan keluhuran budi pekerti. Jika kita kembali menelaah setiap budaya yang ada, meskipun beragam, tapi intinya bermuara pada titik yang sama, ketentraman. Jadi sudah sepantasnya kita kembali kepada budaya luhur bangsa ini, agar kita tetap berada dalam jalur yang seharusnya.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar