Minggu, 28 Februari 2016

These Are My Reasons

 
Dengan Menulis, Aku Ada
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Pramoedya Ananta Toer

Bagiku kata-kata di atas adalah penyemangat menjemput impian. Sejak kecil aku memang memiliki impian untuk menjadi seorang penulis. Menurutku, penulis itu keren. Ia bisa menyapa orang lain yang tidak bisa ia jangkau. Ia bisa berbagi ilmu kepada siapapun. Dan, alasan yang paling membuat impianku terus terpatri ialah tulisan dari seorang penulis itu tidak akan mati. Orangnya mungkin boleh saja berumur pendek, tapi sebuah tulisan akan tetap hidup dan diingat oleh orang lain.
 Impian menjadi seorang penulis, menerbitkan banyak buku yang bisa menginspirasi, ada ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Impian itu muncul karena memang aku dibiasakan untuk membaca. Dan, aku memiliki kebiasaan yang kata orang-orang terdekatku terbilang aneh. Ketika mendapatkan buku, aku pastilah akan melihat halaman profil penulis. Aku selalu bermimpi, suatu saat foto dan biodataku akan terpampang dalam karya-karyaku yang menginspirasi. 
Menurutku, dengan menulis kita bisa banyak berbuat. Kita bisa menyampai apa yang sulit disampaikan lewat kata yang terucap. Dengan menulis, aku bisa menyapa siapapun yang sulit terjangkau.
Promo Buku Retweet
Awalnya impianku ialah menulis satu buku sebelum waktuku habis di dunia ini. Tapi, setelah aku menerbitkan buku solo pertamaku, impian yang lain muncul. Kalau hanya satu buku, apa aku bisa menjemput impianku yang lainnya? Bukankah aku ingin memiliki tabungan kebaikan sebagai bekal di kehidupan yang kekal kelak?
Maka, aku pun bertekad untuk menerbitkan lebih banyak lagi buku. Tidak hanya sekedar tekad dan niat belaka. Aku sudah berusaha untuk mengirimkan beberapa tulisan ke beberapa penerbit. Tapi, dewi fortuna belum berpihak kepadaku. Aku masih harus menerima ‘surat cinta’ dari penerbit. Kadang email penolakan dari penerbit itu membuat aku terpuruk. Tidak jarang aku berpikir, apa tulisanku sebegitu jeleknya hingga harus ditolak beberapa penerbit. Namun, aku bersyukur karena suamiku selalu menyemangatiku untuk terus menulis. Jangan pernah menyerah hanya karena penolakan dari penerbit, itulah yang selalu dikatakannya ketika aku mulai patah arang.
Dan, ketika aku melihat info giveaway dari penulis keren Mbak Leyla Hana dan Riawani Elyta, semangat itu kembali hadir. Aku ingin mendapat pelajaran yang berharga dari kedua penulis ini. Aku ingin sehebat mereka yang bisa menerbitkan banyak buku.

Aku memang harus banyak belajar. Tapi, kondisiku sekarang yang harus menemani tumbuh kembang si kecil yang masih berusia 6 bulan kurang, tentunya berbeda dengan dulu. Kalau dulu, aku bisa saja ikut pelatihan A, seminar B dan coaching dengan penulis C setiap minggu. Sekarang aku harus lebih cerdas dalam memilih tempat dan juga waktu untuk belajar. Ya, belajar menulis itu penting. Tapi, tentunya bagiku, mengurus anak jauh lebih penting. Namun, aku yakin keduanya bisa saling bersinergi. Karena alasan itulah, aku pikir belajar kursus menulis online di Smart Writer ialah pilihan yang paling tepat bagiku saat ini. 

2 komentar:

  1. menerbitkan buku menjadi ketagihan ya mba.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, Mbak. Doain mudah2an bisa menerbitkan buku lagi dalam waktu dekat ini :)

      Hapus