Selasa, 15 Maret 2016

Aku dan Buku


Buku adalah teman yang tidak pernah mengkhianatiku. Buku adalah sahabat yang selalu menemani tanpa banyak bertanya dan menuntut. Buku telah menjadi guru kehidupan bagiku, tanpa aku merasa digurui. Buku telah mengajakku menjelajah tanpa membuat lelah fisik. Mengenal sesuatu yang awalnya sama sekali tidak aku tahu. Memahami banyak hal yang tadinya sulit aku mengerti.
Berawal dari seringnya mendengarkan cerita dari bapakku. Hampir setiap hari, pastilah ada sebuah cerita sebagai pengantar tidurku. Rasanya ada yang hilang jika satu hari saja tidak meminta Bapak untuk bercerita. Hingga akhirnya, ketika aku melihat keempat kakakku begitu asyik membaca buku sendiri, aku pun meminta untuk mengikuti apa yang mereka lakukan. Aku lebih memilih untuk memegang buku atau majalah sendiri, meskipun saat itu aku belum mengenal huruf sama sekali.
Ya, ketika usiaku masih 4 tahun, aku sama sekali belum bisa membaca langsung dari buku atau majalah. Tapi, aku senang jika sudah memegang buku. Aku mencoba memahami cerita dari gambar yang membuat mataku enggan untuk beralih. Aku paling suka ketika melihat gambar-gambar di majalah anak yang sampai sekarang masih menjadi bacaan favorit anak Indonesia.

Di keluargaku, buku adalah barang wajib untuk dimiliki. Bapak begitu senang menghadiahkan buku kepada anak-anaknya. Padahal, saat itu, keadaan ekonomi keluarga kami bisa dibilang kekurangan. Tapi, Bapak berusaha sekuat tenaga untuk bisa memberikan buku bacaan untuk kami. Beliau bahkan sering membeli buku cerita atau majalah bekas untuk kami baca. Menurut beliau, buku itu tidak ada istilah  kadaluarsa. Ketika kita ingin membacanya berulang-ulang pun, tidak akan membuat kita rugi, malah sebaliknya.
Kebiasaan membaca buku itu terus melekat didiriku. Aku tidak pernah absen membawa buku di tas setiap kali bepergian. Bahkan menurut beberapa teman dan muridku, aku memiliki kebiasaan yang aneh sebelum menikah. Ketika ada waktu kosong di sela-sela jam ngajar, aku akan mengunjungi toko buku atau pameran buku.
Aku pun tidak akan berpikir lama ketika melihat buku yang bagus di toko buku atau pameran buku. Meskipun aku harus ‘berpuasa’ untuk membeli barang yang lain, atau berpuasa dalam arti yang sesungguhnya. Ketika uang sedang menipis dan perut pun menagih untuk diberi amunisi. Tapi, aku akan lebih memilih membeli buku. Menurutku, lapar perut masih bisa ditunda, tapi lapar otak tidak ada kata menunda.
Kebiasaan aneh lainnya ialah setiap kali aku membaca buku, pastilah hal pertama yang aku lakukan ialah membaca halaman profil penulisnya. Ya, itu sudah aku lakukan sejak kecil. Waktu itu, aku selalu bermimpi, suatu saat akan ada nama dan fotoku terpampang di berbagai buku yang dibaca banyak orang dan juga menginspirasi.
Dan, impian itu pun menjadi suntikan semangat. Aku benar-benar ingin menjadi seorang penulis. Bagiku, penulis itu ialah sosok yang luar biasa. Ia bisa menjadi sahabat bagi semua orang tanpa harus ia berada dekat dengan orang. Ia juga bisa terus hidup, meski fisik sudah tiada.
Impian itu pun mulai menyapaku. Berawal dari buku antologi hingga akhirnya aku bisa menerbitkan buku solo pertamaku. Ada banyak cerita dari buku solo pertamaku ini. Mulai dari diundang jadi pemateri seminar, talkshow di radio dan yang paling berkesan ialah aku dipertemukan jodoh lewat buku ini.

Awalnya aku tidak pernah menyangka kalau lewat tulisan, seseorang bisa yakin untuk menjadikanku bagian dari hidupnya. Tapi, itulah yang terjadi kepadaku. Ia, yang sekarang menjadi suamiku ialah seseorang yang sama sekali tidak aku kenal. Namun, ia begitu yakin datang ke rumah dan meminta izin kepada bapakku untuk mengenalku lebih jauh. Sebelumnya, ia hanya mengenalku dari tulisan yang aku torehkan di buku dan juga blog pribadiku.
Ketika ingat bagaimana cara kami dipersatukan, kadang kami masih tidak percaya. Tapi, kami sadar mungkin karena aku dan dia memiliki hobi yang sama. Aku dan suamiku sangat gila buku. Tempat nongkrong kami bukan di restoran, cafe atau mall, tapi toko buku dan pameran buku. Hadiah yang sering suamiku berikan pastilah buku yang sedang aku idam-idamkan untuk membacanya. Dan, sekarang aku dan suami sedang menularkan virus cinta buku kepada anak kami yang baru berusia 6 bulan.

Bagiku, buku lebih dari sekedar memberikan ilmu. Buku telah menjadi jalan bagiku menjemput setiap impian dan pencapaian indah selama ini. There are many magical things happen in my life because of loving book. Aku dan buku menyatu menorehkan kisah baru yang selalu seru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar