Selasa, 31 Mei 2016

Bahagia di Rumah


Menjadi wanita memang sejatinya berfitrah untuk menjadi istri dan ibu. Seorang istri memiliki hak dan kewajiban menjadi partner bagi suami. Sedangkan seorang ibu, sudah menjadi tugasnya menjadi baby sitter bagi amanah yang dititipkan oleh Sang Penggenggam Jiwa.
Aku, yang dulu sebelum menikah sangat workaholic, kini harus mengerem sekuat tenaga kebiasaanku itu. Memang tidak ada tuntutan apapun dari suami. Namun, aku sudah bertekad, jika pilihan terbaik dari hasil keputusan bersama, aku harus fokus untuk mengatur keseharian di rumah tangga, maka akan aku jalani dengan senang hati.
Selain karena hasil keputusan aku dan suami, aku juga memang memiliki impian terbesar dalam hidupku. Ya, impian terbesar, yang bahkan muncul jauh sebelum aku menikah. Aku ingin menjadi bagian dari tumbuh kembang anak-anakku. Aku sangat tidak rela jika anak-anakku lebih dekat dengan pengasuh atau orang lain. Aku berpikir karena aku telah dipercaya untuk mengandung dan melahirkan, maka aku pun tidak akan menyia-nyiakan hadiah terindah ini.

Melihat senyuman manis, mendengar ocehan yang menggemaskan dan juga tingkah yang lucu, merupakan suntikan vitamin kebahagiaan setiap hari. Memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan si kecil yang begitu pesat, membuatku tak berhenti bersyukur. Aku akan sangat menyesal jika aku melewatkan momen-momen berharga yang tidak akan bisa terulang ini.

Sekarang, aku sedang menjalani episode menjadi seorang istri dan ibu dari satu putra. Prioritasku ialah menjadi bagian cerita indah dalam lembaran-lembaran kisah kehidupan suami dan anakku. Aku tidak ingin terlewatkan satu bagian dari penggalan cerita itu.
Bagiku, berdiam di rumah itu bukan berarti tidak bisa mengekspresikan diri. Di tengah waktuku yang tersita bahagia dengan menjalani keseharian menjadi ibu rumah tangga, aku masih bisa memiliki waktu untuk menulis sebagai hobiku. Ya, aku masih bisa merasakan me time dengan menulis dan membaca.
Awalnya aku berpikir untuk meninggalkan sama sekali hobiku ini. Tapi, atas masukan dan juga izin dari suami, aku akhirnya memutuskan untuk tetap menjalani kebiasaan yang sudah aku lakukan sejak kecil. Aku dan suami sepakat untuk mengenalkan si kecil dengan habits menulis dan membaca. Menurut kami, tidak ada salahnya ketika aku melibatkan si kecil ketika membaca dan menulis.
Ada kebahagiaan tersendiri ketika aku bisa menyelesaikan sebuah tulisan dengan ditemani si kecil. Terkadang lucu, saat tangan kiri menggendong dan tangan kanan mengetik dengan fokus yang terkadang harus terpotong tiap 10 menit. Tidak hanya itu, jika si kecil sedang tidak ingin diduakan perhatiaanya, maka aku harus menunggu hingga ia tertidur pulas. Tapi, saat-saat seperti itulah yang menjadi penggalan kisah yang menjadikan cerita semakin berwarna.

Berada di rumah juga, bukanlah menjadi halangan untuk terus berkarya. Memang benar, sebagai seorang istri dan ibu, aku harus fokus kepada keluarga. Tapi, aku yakin apa yang aku lakukan ini tidak bertentangan dengan kewajibanku sebagai seorang istri dan ibu.
Bagiku, bahagia itu sederhana. Saat aku bisa menemani si kecil belajar banyak tentang apapun dan aku juga bisa menjadi guru pertama baginya. Karena menurutku, sejatinya tempat yang paling berharga bagi seorang ibu dan istri ialah rumah. Dari rumahlah, akan muncul generasi-generasi yang dicetak oleh kehalusan dan kasih sayang kita sebagai seorang ibu.
Betapa bahagianya, ketika anak-anak kita dewasa, mereka tumbuh menjadi orang-orang yang penuh dengan cinta. Itu semua karena kita tak pernah lelah menambah deposit cinta dan perhatian kepada mereka. Seperti halnya Tabloid Nova, yang hingga perayaan novaversary, tidak pernah berhenti memberikan inspirasi dan motivasi kepada semua wanita.
              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar