Jumat, 05 Agustus 2016

Semua Karena ASI


Menjadi ibu dari satu anak tentunya mengalami banyak cerita seru dalam mengurus si kecil. Kehadiran si kecil di tahun pertama pernikahanku membuat semua rasa bercampur menjadi satu. Tidak hanya itu, kelahiran si kecil yang masih berusia 8 bulan di kandungan pun menjadi kisah tersendiri yang sulit terlupakan.
Ya, ketika usia kehamilanku menginjak 8 bulan, aku mengalami pecah ketuban selama 2 hari. Awalnya, Dokter memberiku suntikan penguat paru-paru agar bayi bisa bertahan sampai 9 bulan dalam kandungan. Tapi, karena kondisi psikologisku sangat tertekan, bayi dalam kandungan beberapa kali tidak terdengar detak jantungnya, namun aku belum mengalami pembukaan sama sekali. Dan saat itu, aku mengalami sakit luar biasa di bagian perut. 
Tepat 2 jam setelah kejadian itu, aku langsung mengalami pembukaan sepuluh. Tiga orang dokter dan empat bidan langsung menanganiku saat itu juga. Ada banyak perkiraan para dokter. Mulai dari aku hanya bisa melahirkan dengan jalan operasi caesar. Selain itu, ada dua kemungkinan, ibu dan anak tidak akan selamat atau salah satu dari kami yang bisa bertahan. Tidak hanya itu, prediksi lainnya pun, kalaupun si bayi lahir, ia akan terlahir prematur dan perlu diinkubator. Aku dan suami hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Allah Swt.

Tapi, syukur alhamdulillah, tepat tanggal 7 September 2015 pukul 21.55 terdengar tangis nyaring malaikat kecilku. Ia lahir dengan selamat dan normal. Semua perkiraan dokter sama sekali tidak terbukti. Aku dan suami menangis bahagia penuh syukur.
Namun, ujian cinta tidak berakhir sampai disitu. Tepat ketika ia berusia 3 hari, kadar bilirubin berada dalam batas yang tidak seharusnya. Kami diberikan pilihan oleh dokter, apa mau diberikan tindakan dengan disinar atau diberikan terapi ASI dan berjemur. Akhirnya, aku dan suami memilih untuk mengambil pilihan kedua.
Sejak saat itu, aku dan suami mulai mengajak bicara si kecil. Setiap kali kami bisikkan agar si kecil mau menyusui setiap 1 jam sekali. Bahkan seringkali aku menyusui saat sedang mengajar les. Itu semua kami lakukan agar kadar bilirubinnya bisa normal.
Setelah 2 minggu, kami pun mengecek kembali kondisi si kecil. Alhamdulillah, kadar bilirubinnya sudah normal. Aku dan suami pun bisa bernapas lega. Sejak saat itu, aku pun benar-benar menjaga makanan agar ASI-ku bisa berlimpah, dan si kecil bisa mendapatkan ASI yang berkualitas.
Dari hari ke hari, pertumbuhan si kecil sangat luar biasa. Mulai dari fisik yang sehat. Di usianya yang mau menginjak 11 bulan, berat badannya mencapai 10,9 kg. Padahal berat badan lahirnya hanya 2,5 kg. Selain itu juga, kecerdasan si kecil pun sering kali membuat kami takjub. Ia sudah bisa mengingat beberapa kata dalam bahasa Inggris. Ketika aku menyebutkan nama benda dalam Bahasa Inggris, matanya langsung mencari benda yang aku sebutkan itu.

Hal lain yang patut kamu syukuri juga ialah setiap kali kami ajak untuk travelling, baik jarak dekat maupun jauh, ia sama sekali tidak pernah rewel. Malah sebaliknya, ia sangat menikmatinya. Terakhir, kami mengajaknya mudik dari Jember ke Bandung, alhamdulillah ia sehat dan tetap ceria di sepanjang perjalanan hingga sampai ke tempat tujuan dan kembali ke rumah.

Dengan hasil yang luar biasa itu, aku dan suami sepakat untuk tetap memberikan ASI tanpa bantuan susu formula hingga usianya genap 2 tahun. Apalagi aku bukanlah seorang ibu bekerja, jadi aku bisa lebih fokus untuk mencurahkan rasa cinta lewat aktivitas menyusui. Aku pun bersyukur, karena suamiku sangat memberikan perhatian penuh, sehingga aku merasa nyaman dan tenang saat memberikan ASI kepada si kecil. 
Bagiku, ASI adalah hadiah terindah untuk si kecil. Aku berharap semoga setiap tetesan ASI yang diminum menjadi syariat ia tumbuh menjadi anak yang sholeh, sehat, cerdas dan senantiasa menjadi penyejuk hati perekat cinta. Inilah caraku untuk bersyukur karena Allah Swt sudah memilihku untuk dititipi amanah terindah. 


Oya, di akhir tulisanku ini, aku ingin mengajak semua sahabat wanita yang memiliki bayi, jangan takut untuk menyusi. Di Pekan ASI Dunia yang jatuh pada tanggal 1 - 7 Agustus, kita sama-sama mengingatkan untuk kembali melihat fitrah kita sebagai seorang ibu. ASI bukan hanya sekedar tetesan air susu, tapi ada pesan cinta yang akan kita berikan untuk si kecil. Aktivitas menyusui bukan hanya pemenuhan kewajiban semata, tapi merupakan tanda cinta seorang ibu kepada anaknya. 

2 komentar:

  1. wuihh... 11 bulan dan berat badannya mencapai 10,9 kg. ASI dan MPASInya kuat banget dong ya mba... terimaksih berkenan berbagi cerita tentang ASI ya mba

    BalasHapus
  2. Saya juga pejuang ASI mba intan. makanya jadi IRT hehehehe

    *tossdulu

    BalasHapus