Rabu, 07 Desember 2016

Menginspirasi Buah Hati

Membaca dan menulis adalah hobi yang sejak kecil sudah aku lakukan. Berawal dari melihat kebiasaan Bapak yang sangat addict dengan buku. Selain itu, suara mesin tik yang hampir setiap hari aku dengar menjadi pemantik semangat yang luar biasa.

Sejak aku masih balita, Bapak memang sudah memperkenalkanku dengan buku dan cerita. Setiap hari sebelum tidur, aku selalu dibacakan cerita. Tidak hanya itu, buah tangan yang paling sering dibawa ketika Bapak bepergian, pastilah buku cerita atau majalah. Di rumah pun, hanya ada pajangan buku tertata rapi di rak. Jangan pernah mencari hiasan ataupun barang pecah belah di rumahku. Pokoknya setiap sudut, yang ada hanya buku dan buku.
Childern see, children do. Ya, itulah yang aku alami. Tidak ada perintah dari kedua orang tuaku untuk membaca. Tapi, keinginan tersebut muncul dengan sendirinya. Melihat Bapak dan keempat kakakku begitu asyik dengan bacaannya, aku sebagai anak bungsu merasa ingin sekali melakukan hal yang sama. Dan, kebiasaan itulah yang terpatri sampai sekarang.
Ya, kebiasaan Bapak sangat menempel erat dalam diriku. Bahkan tidak hanya membaca, menulis pun menjadi hobi yang sangat aku gandrungi. Karena kecintaanku kepada dunia baca dan menulis, sejak aku duduk di bangku SD, aku sudah mewakili sekolahku untuk lomba mengarang dan juga membaca cepat.
Bagiku, membaca dan menulis bukan hanya untuk sekadar pemenuhan kepuasaan diri. Tapi, ada niat yang jauh lebih penting dari itu. Aku ingin bisa menebar virus positif kepada sekelilingku. Aku ingin membaca dan menulis menjadi sesuatu yang disukai, menjadi sebuah budaya.
Aku tak akan berpikir terlalu jauh dahulu. Mungkin, ketika aku belum menikah dan memiliki anak, aku bergabung dengan beberapa komunitas untuk menyebar virus positif ini. Aku juga selalu mengingatkan dan mengajak anak didikku untuk mencintai buku. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa, ketika mendengar kabar ada anak didikku yang menjuarai kompetisi menulis.
Tidak hanya itu, ketika ada orang yang merasa terbangkitkan semangatnya atau berubah menjadi lebih baik setelah membaca tulisanku, itu pun merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Sebuah tulisan sederhana yang aku tuangkan, namun bisa menyentuh hati seseorang, tentu saja membuatku banyak bersyukur. Ya, aku bersyukur karena apa yang aku lakukan bisa menjadi jalan kebaikan bagi diriku dan orang-orang di sekitarku.  
Dan, saat ini, ketika ada malaikat kecil hadir dalam hidupku, maka sosok inilah yang harus menjadi prioritas. Dulu, boleh saja aku fokus kepada orang lain. Tapi, sekarang, jangan sampai buah hati sendiri tak pernah merasa terinspirasi dari ibunya. Aku ingin ia bisa mencintai ilmu tanpa harus ada paksaan. Aku berusaha untuk  memberi teladan bukan hanya suruhan semata.
Kembali lagi, sebuah ungkapan yang benar-benar terbukti. Children see, children do. Sejak usianya 6 bulan, yang dicari oleh si kecil adalah buku. Tak jarang, ia merebut buku yang sedang aku baca. Ia paling senang kalau sudah diberi buku, kertas atau alat tulis. Tangannya seolah-olah mengikuti bagaiamana ketika aku menulis. Bahkan, ketika aku harus menyelesaikan tulisan di depan laptop, jari tangannya akan langsung ikut memencet keyboard.  Bahkan karena sekarang sudah bisa berjalan, tangannya selalu berusah menekan-nekan laptop yang selalu terbuka di meja kerja.

Kalau dipikir dengan emosi, tentu saja akan merasa tertekan karena tak jarang karena kreativitasnya, naskah yang sudah aku ketik, hilang begitu saja. Tapi, ada sisi kebersyukuran karena kecerdasan si kecil yang luar biasa. Aku pun berusaha untuk mengarahkannya sejak dini.

Saat ini, aku hanya bisa terus berdoa, semoga kecintaan akan membaca dan ketertarikan akan dunia menulis akan terus berlanjut hingga ia dewasa. Aku tak perlu harus berteriak dan menasehati agar ia senang membaca. Aku ingin ia bisa tumbuh menjadi pribadi pecinta ilmu dengan membaca. Aku juga ingin ia pandai mengungkap apa yang ia rasa lewat kata yang tertuang dalam tulisan. Aku ingin ia bisa menginspirasi lewat untaian kata yang tersusun dalam keelokan bahasa dan kesantunan intelektual.

Dan, saat ini, aku sedang mempersiapkan sebuah generasi yang akan menginspirasi semesta. Oleh karena itu, aku, sebagai guru pertama bagi si kecil, akan terus memantik diri untuk tetap menjadi pribadi pecinta ilmu dengan membaca dan menulis. Semoga dengan hobiku ini, aku bisa senantiasa menjadi inspirasi bagi buah hati. Karena, bagiku, keberhasilan tertinggi seorang ibu, ialah ketika ia bisa mengantarkan buah hatinya menjadi inspirasi bagi sekelilingnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar