Rabu, 08 Februari 2017

Jejak Sejarah yang Terlupakan (Review Buku)


Judul                          : Journey to Andalusia: Jelajah Tiga Daulah
Penulis                       : Marfuah Panji Astuti
Penerbit                     : BIP Kelompok Gramedia
Tebal Halaman          : 190 Halaman
Tahun Terbit              : 2017
ISBN                         : 978-602-394-391-3

Andalusia, negeri sejuta cahaya, tempat segala hal hebat berawal. Islam pernah hadir dan menyinari negeri ini dengan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan selama 800 tahun. 2/3 lebih sejarah Islam ada di sana.
Sebuah catatan perjalanan untuk menapaki sejarah Islam yang kini terlupakan. Penulis begitu detail menceritakan dari mulai Maroko hingga ke Andulusia. Penulis ingin menapaktilasi jejak perjuangan Musa bin Nushair dan panglimanya Thariq ibn Ziyad saat menaklukkan semenanjung Iberia.
Andalusia adalah sejarah yang terampas. Tidak banyak yang tahu tentang peran penting Islam dalam memajukan peradaban saat itu. Mungkin sebagian orang ketika mendengar Eropa, pastilah yang terbersit ialah segala kemegahan, kehebatan pengetahuan dan juga kemajuan teknologi.  
Berbicara tentang sejarah Islam di Eropa, kita tidak bisa melupakan kota sejuta cahaya, Cordoba. Cordoba adalah sebuah nama, namun bagi bangsa Eropa, Cordoba bagaikan alunan nada-nada indah. Dari sinilah kebangkitan peradaban bermula. Dari rahim Cordoba lahir para pemikir yang belum tertandingi hingga kini, sebut saja Ibn Rusyd atau di Barat dikenal sebagai Aviroes. (hal.105-106)
Mengunjungi Cordoba, tak lengkap rasanya jika tidak menjejaki mezquita. Mezquita yang awalnya adalah bangunan sebuah masjid. Masjid ini dibagun oleh Abdurrahman Ad Dakhil (786 M). Sejarah mencatat, masjid ini merupakan mesjid terbesar, tercanggih, dengan ornamen bercita rasa seni tinggi yang nyaris tanpa cela di zamannya. Panjang mesjid ini 180depa, terdapat 14 lengkungan yang disangga 1.000 pilar. Penerangannya terdiri dari 13 lentera, yang setiap lentera memuat 1.000 lampu. Di mesjid ini pula tersimpan mushaf Ustman bin Affan yang ditulis dengan tangannya sendiri. (Hal. 115)
Sama halnya dalam buku lain yang menceritakan tentang perjalanan Islam di Eropa, dalam buku inipun, penulis mengisahkan perasaan sedihnya ketika melihat mezquito saat ini. Tempat yang sudah beralih fungsi menjadi sebuah gereja ini memang membuat kaum muslim yang berkunjung merasa terluka hatinya. Meskipun kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa kejayaan Islam di sana, tapi rasanya tidak tega menyaksikan masjid Cordoba yang megah itu berubah menjadi sebuah gereja.
Islam yang pernah menerangi Andalusia lebih dari 800 tahun seakan tak berbekas. Kini jumlah penduduk Muslim di Spanyol dan Portugal tercatat hanya seratus ribu, lebih sedikit dari jumlah Muslim di kota Dallas, Amerika yang tidak pernah dikuasai daulah Islam. (Hal.145)
Membaca buku ini benar-benar mengajak kita berpikir. Islam pernah berjaya di bumi Eropa. Meskipun sejarah seakan-akan membuatnya pudar. Tentu saja hal itu tidak boleh dibiarkan begitu saja, semangat kejayaan itu harus terus digaungkan.
Journey to Andalusia memang bukan buku pertama yang membahas tentang jejak sejarah Islam di Eropa. Tapi, tetap saja, esensi dari sejarah yang terlupakan itu begitu terasa. Pembaca seakan-akan benar-benar menginjakkan kaki di bumi Andalusia. Kita sebagai pembaca digiring untuk merasakan apa yang penulis rasakan, mulai dari rasa ingin tahu penulis, senang ketika pertama kali melihat tempat-tempat bersejarah, kesal ketika tour guide bercerita tidak sesuai dengan sejarah yang sebenarnya dan sedih ketika menyaksikan masjid yang berubah menjadi gereja.
Ada yang menarik dari buku ini di bagian awal bila dibandingkan dengan buku lain yang menceritakan jejak sejarah Islam di Eropa. Di lembaran awal, penulis menuturkan alasan mengapa begitu tertarik dengan Andulusia. Hal yang mungkin bisa menjadi pelajaran penting bagi pembaca, efek sebuah dongeng di masa kecil dari orang tua, ternyata menjadi terpatri dalam alam bawah sadar, dan menjadikan penulis memiliki impian untuk mengunjungi negeri-negeri yang diceritakan tersebut. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar