Minggu, 12 Februari 2017

Smart City, Smart People, and Smart Civilization

Sumber: www.financialtribune.com 

Membangun sebuah kota sejatinya ialah membangun sebuah peradaban. Memang tidaklah mudah untuk mengatur banyak kepala dengan beragam karakter dan juga latar belakang. Tak jarang niat baik tidak bisa diterima hanya karena sebuah kebiasaan yang sudah terpatri. Perubahan ke arah yang lebih maju terkadang dipahami sebagai ketidaknyamanan yang tidak boleh terjadi.
Kalau boleh kita mengambil benang merah, semuanya ada pada satu kata, mental. Ya, ketika orang-orang sudah memiliki mental pemenang, maka perubahan positif yang terjadi akan ditanggai dengan semangat positif. Tapi, ketika mentalnya ialah mental pecundang, maka sebuah perubahan akan membuatnya merasa tidak nyaman dan terusik.
Begitu pun yang terjadi di beberapa kota di Indonesia. Bukan lagi sebuah rahasia ketika pemimpinnya sudah sangat luar biasa, tapi kota itu seakan jalan di tempat. Dan, kalau kita perhatikan masalahnya ialah ada pada para staf atau anak buahnya sendiri. Mereka merasa sudah enak karena berada di zona nyaman. Ketika sang pemimpin mengeluarkan sebuah kebijakan atau peraturan baru untuk merubah daerahnya agar lebih maju, mereka enggan untuk mengikuti pola kerja pemimpinnya.
Lucu memang kalau kita perhatikan. Tidak jarang banyak orang yang berkoar-koar ingin negeri ini maju, tapi melakukan perubahan dalam lingkup yang lebih kecil saja, ogah-ogahan. Tidak sedikit kepala daerah hanya sibuk memperkaya diri sendiri, bahkan terjerat kasus yang tidak seharusnya. Perubahan yang digaung-gaungkan hanyalah sebuah angan-angan yang sulit diraih.
Tapi, tentu saja kita tidak harus berkecil hati. Diantara kasus-kasus daerah yang bermasalah, masih ada beberapa kepala daerah yang cerdas dalam memimpin. Mereka tak pernah lelah dalam memikirkan cara terbaik untuk membangun daerahnya. Ketika cara konvensional tidak bisa merubah secara signifikan, maka harus ada cara cerdas untuk mengatasinya.
Berhadapan dengan orang memang tidak semudah ketika berhadapan dengan benda. Karena alasan itulah, ketika seorang kepala daerah memiliki keinginan untuk dapat mengatur daerahnya dengan baik, maka ia harus masuk ke berbagai karakter dan juga kebiasaan yang sudah terbentuk pada kepemimpinan sebelumnya.
Sistem. Ya, kuncinya ada di situ. Ketika kita membuat sebuah sistem yang saling berintegrasi dengan memaksimalkan perkembangan teknologi informasi, maka orang-orang pun mau tidak akan mengikuti sistem itu dengan sendirinya. Dan, itulah kunci dari smart city.
Di era digital sekarang ini, orang-orang sudah mencari sesuatu yang lebih praktis, begitu pun dalam hal pelayanan publik. Kita semua harus menyadari kalau saat ini, hampir semua orang sudah gadget minded. Tidak hanya itu para generasi millenial yang jumlahnya luar biasa banyak harus menjadi perhatian lebih. Jangan sampai warga akan berpikiran apatis dengan cara kerja para punggawa pemerintahan.
Kita bisa mengambil contoh Kota Bandung. Dengan kecerdasan wali kotanya, kota ini bisa merubah paradigma masyarakat kepada pegawai pemerintahan. Warga semakin mudah untuk berkomunikasi dengan pemimpin. Dan, begitu pun kepala daerah bisa dengan mudah mengontrol kinerja bawahannya, serta perkembangan yang terjadi di masyarakat dengan memanfaatkan sistem IT yang saling berintegrasi.

Intinya, semua kota bisa menjadi smart city, asalkan ada kemauan keras dari kepala daerahnya untuk memimpin dengan cerdas. Semua hal harus sudah bisa diakses dengan cara online. Teknologi informasi benar-benar dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dengan cara seperti itu, Smart City Indonesia bukan lagi hanya impian belaka. Kota yang cerdas dengan penduduk yang cerdas, dan akhirnya akan tercipta peradaban yang cerdas pula. Smart City, Smart People, and Smart Civilization.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar