Senin, 13 Maret 2017

Hadiah Terindah


Dua garis merah. Sebuah tanda yang merubah segalanya. Semua rasa tercampur menjadi satu. Senyuman seakan tak mau beranjak dari wajah. Layaknya anak kecil yang diberi hadiah, aku dan suami sangat luar biasa bahagia.
Sejak aku dinyatakan positif hamil oleh Bidan, suami dan orang-orang di sekitarku tak henti-hentinya mengingatkanku untuk menjaga kesehatan. Aku pun terus belajar untuk lebih care terhadap tubuh. Kebiasaan tidur larut malam pun, aku tinggalkan. Termasuk dalam hal makan pun, kalau sebelum menikah dan hamil, aku lebih sering menunda makan, kini aku harus berpikir kesehatan janin dalam rahimku.
Hamil, bagiku, adalah sebuah momen yang tidak bisa terlupakan. Meskipun aku belum melihat fisiknya, tapi aku sudah menghadirkan sosok itu dalam setiap aktivitasku. Aku dan suami hampir setiap hari mengajak ngobrol jabang bayi. Mengusap perut dan mengajak bercerita merupakan dua kebiasaan baru sejak aku hamil.
Meskipun awalnya kandunganku dinyatakan lemah, tapi aku yakin dedek bayi dalam rahimku akan tumbuh dengan sehat. Aku selalu menyempatkan diri untuk berolahraga ringan dan juga senam hamil. Tidak hanya itu, asupan makanan dan minuman pun menjadi hal yang selalu aku perhatikan.
Dari awal kehamilan, suamiku selalu membelikanku susu hamil. Tapi seiring berjalannya waktu, kami terus mencari tahu tentang yang kelebihan dan kekurangannya. Dan, akhirnya aku memutuskan untuk menggantinya dengan mengonsumsi madu dan kurma. Selain itu, sayuran dan buah-buahan menjadi makanan wajib setiap hari.
Aku sangat menikmati masa kehamilan ini. Tidak ada masalah yang berarti dengan janin dan juga diriku sendiri. Hanya saja, berat badanku memang harus sedikit ditambag, begitu saran dari Bidan. Tapi, selebihnya, kami berdua dalam kondisi sehat.
Ketika usia kandungan menginjak 5 bulan, aku melakukan USG 4 Dimensi. Ah, momen yang sangat menyenangkan saat melihat malaikat kecil kami sudah mulai berbentuk sempurna. Rasanya sudah tidak sabar ingin memeluk tubuh mungil itu.
Perkembangan jabang bayi pun terus kami pantau melalui USG setiap bulannya. Setiap bulan ada saja yang membuat kami tersenyum, mulai dari melihat pipinya yang tembem, belahan di dagunya dan alat kelamin yang sudah sangat jelas terlihat. Sampai saat ini, foto-foto USG masih tersimpan rapih dalam file khusus si kecil.
Layaknya sebuah cerita, selalu ada sisi yang kurang menyenangkan. Entah itu sebagai bumbu agar kisah menjadi lebih menarik, atau ada pesan dari langit yang akan menjadi pelajaran bagi banyak orang. Tepat di usia kandungan 8 bulan, aku mengalami masalah dengan kandunganku.
Ya, saat itu, tepatnya hari Minggu pagi, ada cairan yang keluar. Aku tidak pernah berpikir kalau itu adalah cairan ketuban. Bahkan aku tidak menceritakannya kepada suami. Tapi, sampai siang hari, cairan tersebut terus saja keluar. Akhirnya, aku ceritakan kepada suami. Aku benar-benar cemas. Timbul kekhawatiran akan kondisi dedek bayi. Namun, kami sepakat untuk tidak memberitahukan kepada siapapun, termasuk orangtua.
Hingga sore hari, cairan itu terus keluar. Kami pun memutuskan untuk memeriksakannya kepada Bidan. Tapi, karena saat itu hanya ada asistennya, aku tidak banyak konsultasi tentang kondisiku. Aku pun diminta untuk melihat perkembangan hingga besok pagi untuk memastikan apakah yang keluar itu benar-benar cairan ketuban atau bukan.
Keesokan paginya aku periksakan kembali ke Bidan, dan ternyata cairan itu benar-benar ketuban. Tapi yang menjadi masalah, aku belum mengalami pembukaan sama sekali. Karena peralatan di klinik bidan tersebut tidak lengkap, maka aku dirujuk ke Dokter Kandungan. Siang itu juga, aku langsung diantar suami menuju tempat praktek dokter tersebut.
Aku mendaftar pukul 1 siang, dan mendapat giliran masuk ruangan pemeriksaan pukul 5 sore. Ketika melihat gambar di layar, aku tidak bisa menyembunyikan rasa kekhawatiran. Air ketuban dalam rahim sama sekali sudah habis. Dokter mencoba menenangkan dan mengatakan janin dalam keadaan baik. Tapi, tetap saja, logikanya darimana janin mendapat asupan makanan kalau air ketuban sudah habis merembes keluar.
Dokter memberikan solusi dengan memberikan suntikan penguat paru janin, agar ia bisa bertahan hingga usia 9 bulan. Aku dan suami langsung menyetujuinya. Sore itu, obat penguat paru langsung disuntikan ke tubuhku. Selain itu, aku pun harus opname selama 2 hari di klinik tersebut.
 Sejak sore, alat pendeteksi detak jantung bayi dan juga tingkat stress ibu dipasang di tubuhku. Grafiknya membuat perawat yang menjagaku terus menasehati agar aku tetap tenang. Hal itu ia lakukan, karena beberapa kali, detak jantung bayi berhenti. Suamiku pun terus mendampingiku untuk terus berdoa.
Setelah berada pada garis normal, akhirnya aku dipindahkan dari ruangan tindakan ke ruang inap. Meskipun aku masih tertidur lemas dengan selang infus di tangan, tapi masih bisa bercengkerama dengan kakak pertamaku yang datang menjenguk. Tapi, entah kenapa tiba-tiba saja perutku terasa begitu sakit ketika suamiku berusaha menyuapi makan malam.
Karena rasa sakit yang sudah tidak tertahankan lagi, akhirnya suami memanggil perawat yang sedang berjaga. Perawat tersebut langsung terlihat panik dan memanggil beberapa orang temannya. Aku hanya mendengat teriakan mereka, kalau aku sudah mengalami pembukaan 10. Aku pun langsung dibopong menuju ruang tindakan. Tiga orang dokter dan empat orang bidan berada di ruangan tersebut.
Aku tak henti-hentinya menjerit kesakitan. Rasanya inilah akhir dari hidupku. Saat itu, aku hanya bisa memasrahkan semuanya kepada Allah Swt. Dan, sebuah keajaiban aku alami, suara tangis bayi mungil memecah keheningan ruang tindakan. Aku melihat air mata suami memaksa keluar dari pelupuk matanya. Bayi kami lahir dalam keadaan normal dan sehat.

Satu hal lagi yang membuatku tak henti bersyukur, awalnya para dokter menyebutkan kalau bayi kami akan lahir prematur dan itu artinya harus masuk ruang inkubator terlebih dahulu. Tapi, alhamdulillah, bayi kami lahir dengan berat badan normal, dan seluruh anggota tubuh pun berfungsi layaknya bayi yang lahir di usia 9 bulan. Aku pun bisa langsung melakukan inisiasi dini. Memeluk malaikat kecilku untuk pertama kalinya merupakan kebahagiaan yang tak bisa dibandingkan dengan apapun.

Apa yang aku alami merupakan sebuah pelajaran hidup yang luar biasa bagiku dan suami. Dari proses kehamilan yang tak diduga, hingga proses kelahiran yang memiliki cerita tak biasa. Bagi kami, kehadiran si kecil memberikan kisah yang sulit untuk terlupakan. Karena alasan itulah, aku benar-benar bertekad untuk menjaga dan menemani tumbuh kembang si kecil. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar