Jumat, 07 April 2017

Memesona Itu


Memesona. Setiap orang pastilah memiliki pemahaman dan pengertian tentang satu kata ini. Semuanya tergantung dari sudut mana ia melihat. Meskipun pada akhirnya akan tertuju pada satu titik makna yang sama.
Bagiku, memesona itu kembali kepada fitrahnya. Sejatinya setiap perempuan pastilah akan terlihat memesona ketika ia berlaku dan berpikir selayaknya kaum hawa. Kita terlahir dengan sejuta kelebihan dan kasih sayang dari Ilahi.
Dengan segala kelebihan yang dimiliki, sudah sepantasnya kita sadar akan hal tersebut. Fitrah kita adalah menjadi perantara terciptanya peradaban baru. Atas izin-Nya, kita dititipi penerus kehidupan. Baik buruknya generasi yang akan datang, ada di tangan kita.
Mengapa wanita dititipi makhluk dalam raganya? Karena kita makhluk istimewa. Kita begitu dipercaya sebagai perantara lahirnya ciptaan-Nya. Tapi, kembali lagi, bukan hanya itu. Apalah artinya kita melahirkan, jika kita tak pernah ikut andil dalam menanamkan pesan cinta kepada buah hati kita.
Jika kita mampu menerima amanah yang luar biasa itu dengan sangat baik, maka tak perlu merisaukan masa depan. Tapi, sebaliknya, ketika kita menganggap sepele titipan Ilahi tersebut, maka jangan harap kita bisa merasakan indahnya mentari kehidupan. Yang perlu diingat di sini, tugas kita bukan hanya sekedar melahirkan dan menyusui. Namun ada tugas yang lebih memesona, yaitu menemani tumbuh kembang anak-anak kita, buah hati kita, titipan cinta dari yang Maha Mencintai.

Kita akan terlihat lebih memesona ketika sadar akan hak dan kewajiban sebagai seorang wanita. Tak perlu tergoda untuk salah memaknai emansipasi. Karena bagaimanapun juga kaum adam dan kaum hawa itu berbeda. Kita dicipta bukan untuk sama atau menyaingi lelaki. Tapi, kita dilahirkan untuk dan melengkapi dan menjadikan hidup lebih indah dan bermakna. Memahami keseimbangan antara laki-laki dan wanita, jauh lebih penting daripada mencari celah untuk mengungguli mereka.
Pesona wanita akan terpancar ketika ia bisa menjadi wanita seutuhnya. Wanita yang bisa senantiasa menebar cinta dari hati. Wanita yang bisa memposisikan dirinya sebagai seorang makhluk yang dianugerahi rasa cinta yang lebih besar dari makhluk lainnya.
Ya, kita harus sadar jika kita dianugerahi rasa cinta yang lebih besar daripada mahkluknya. Buktinya, ada rahim dalam tubuh kita. Bukankah rahim itu berarti cinta atau kasih sayang? Sadarkah kita?
Namun, seringkali kita lupa kalau kita itu begitu istimewa dan memesona. Tidak jarang kita keliru memaknai keberadaan kita di dunia ini. Perkembangan zaman dan pengaruh budaya negara lain, menjadikan kita lebih mengejar kesetaraan daripada mempertahankan fitrah sebagai seorang makhluk yang teristimewa.
Memesonakan diri kita dengan hal yang sebenarnya tidaklah sulit. Lihatlah kedalam diri kita masing-masing, dan dengarkan bisikan hati yang sesungguhnya. Tak perlu lelah mencari cara agar terlihat lebih memesona dan menarik dengan mengeluarkan rupiah tak terkira. Karena jawaban dan rahasianya ada dalam diri kita sendiri.
Memang bukan hal yang mudah untuk mendengarkan suara hati di tengah kebisingan dunia modern. Terkadang kita lebih memilih mendengar apa kata orang kebanyakan daripada menjadi diri sendiri. Meskipun ego kita terlalu dominan dalam menjalani hidup ini. Ego untuk saling mengungguli, ego untuk setara dengan kaum adam.

Kini, saatnya kita sadar, memesona itu menjadi wanita seutuhnya. Wanita yang menyadari fitrahnya. Wanita yang memahami makna dan tujuan mengapa ia dicipta. Wanita yang bisa menjadi tempat terindah bagi pasangan dan keluarganya. Karena, sejatinya setiap wanita itu memesona. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar