Sabtu, 26 Agustus 2017

Jogja, Simbol Kebersamaan dalam Keramahan


Bagiku, Jogja bukan hanya kota pelajar. Jogja itu kota penuh cerita. Kota sejarah yang selalu menyebarkan pesona tersendiri kepada siapapun yang menyapanya. Kota para raja yang selalu terjaga. Hampir setiap sudut kota memiliki daya tarik yang tak terelakkan. Dari mulai keramaian pusat kota hingga keindahan alamnya yang eksotik.
Siapa yang tak mengenal Jogja. Meskipun terbilang kota kecil, tapi tak ada batas cerita untuk mengisahkannya. Sesuai dengan namanya, Daerah Istimewa, Jogja memang teristimewa dari segala sisi. Tak pernah ada rasa bosan untuk terus berkunjung ke kota ini.
Aku merasa beruntung karena bisa mengunjungi kota ini beberapa kali. Tapi, yang paling berkesan ialah di tahun 2012. Kedatangan ke kota ini untuk betemu 29 teman penulis dari 29 kota. Atmosfer Jogja sangat terasa saat itu. Ya, aku merasa Jogja adalah kota ramah bagi siapapun, tak mengenal darimana ia berasal. Napas kebersamaan dalam keberagaman merupakan ciri khas yang tak bisa lepas dari Daerah Istimewa ini.

Sebelum aku menelusuri alam indah kota Jogja, aku dan kedua teman baruku mengisi waktu mengunjungi mall yang sangat dikenal di kota ini. Ambarukmo Plaza. Sekadar ingin melepas penat menunggu acara, kami menikmati pusat kota yang masih memiliki udara bersih dan sejuk ini.
Perjalananku dilanjutkan menuju daerah yang menjadi pusat berita di tahun 2006. Menulusi jejak peristiwa yang menggemparkan, tidak hanya di tanah air, tapi juga mendunia. Goncangan hebat yang telah memporak-porandakan impian orang-orang di kaki Gunung Merapi.
Bagiku, bisa merasakan suasana Gunung Merapi dengan sepenggal kisah tentang peristiwa tak terlupakan itu, menjadikan kesan tersendiri. Lava tour dengan menggunakan kendaraan off-road yang membuat adrenalin terpacu, benar-benar menjadi pengalaman pertama yang mengasyikkan. Sesaat berhenti menyaksikan sisa-sisa pemukiman yang rata dengan tanah. Padahal, beberapa tahun yang lalu, ada canda-tawa, senda-gurau dan saling sapa di tempat ini. Ah, memang kita tak pernah tahu alur cerita hidup ini.
Kembali kepada kekaguman tentang indahnya kota Jogja. Ber-off-road ria di pagi buta karena ingin mengejar sunrise. Udara dingin menusuk tulang menambah perjalanan semakin seru. Iring-iringan mobil off-road memecah keheningan pagi buta. Dan, ada yang menarik ketika berpapasan dengan beberapa warga yang hendak ke ladang, sapaan mereka. Ya, keramahan yang tidak bisa disembunyikan dari penduduk membuat kita, para tamu dari luar kota, merasa disapa dengan penuh kehangatan.  

Setelah puas menjejaki jejak peristiwa di Gunung Merapi, saatnya kembali ke pusat kota. Malioboro. Ah, siapa yang tak mengenal daerah satu ini. Pusat penjualan batik dan kerajinan tangan khas Jogja berjajar di sepanjang jalan ini. Tempatnya yang tidak jauh dari Stasiun Tugu, menjadi salah satu tempat pilihan yang tepat sambil menunggu jadwal kereta pulang. Oya, harga barang-barang di sini pun sangat bersahabat.
Tidak jauh dari situ, ada pusat oleh-oleh makanan khas Jogja. Bakpia dan wingko. Yap, rasanya tidak dipercaya sudah ke Jogja kalau pulang tidak membawa buah tangan ini. Tapi, ada satu lagi yang paling khas dan identik dengan Jogja, gudeg. Makanan yang menjadi ikon kota Jogja ini memang tidak boleh dilupakan. Makanan ini pun sudah banyak yang dikemas dengan cara modern dan bisa tahan untuk dibawa dalam perjalanan jauh.
Satu hal yang perlu digarisbawahi, Jogja itu terkenal dengan sebutan kota pelajar, karena memang banyak sekali mahasiswa yang berdatangan dari daerah lain untuk mengenyam ilmu di tanah para raja ini. Mungkin karena alasan itu pula, kita tidak perlu takut dengan bekal perjalanan. Karena harga-harga di kota ini tidak membuat rekening menipis.
Jogja memang kota unik dengan seribu cerita. Daya pikatnya yang luar biasa telah membius siapapun untuk enggan beranjak dari kota ini. Tidak pernah ada kata bosan untuk mengunjunginya. Jogja memiliki keramahan, Jogja punya cara tersendiri untuk menghargai perbedaan. Tidak ada kata pendatang dan pribumi, karena semuanya akan melebur dalam keramahan tersebut. Dan, bukankah itu merupakan ciri khas bangsa ini? Jadi, tidak berlebihan kalau mengatakan, menjadi Jogja itu artinya menjadi Indonesia.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar