Selasa, 26 September 2017

Hijrah Itu Proses Belajar Tanpa Jeda

Sumber:www.duniajilbab.co.id

“Aduh ribet banget sih pake kaos kaki segala, kan cuman ke warung doang.”
“Apa nggak panas pake kerudung melulu.”
“Nggak ribet tuh pake motor tapi harus pake rok atau gamis?”

Ucapan-ucapan yang terlihat seperti sederhana, namun sering membuat bimbang untuk tetap istiqomah. Ya, mungkin untuk sebagaian orang mendengar komentar seperti itu diangap biasa saja. Tapi, bagiku, yang memiliki sifat ‘nggak enakan’ sama orang, bukan hal yang mudah untuk menanggapinya.
Awal-awal ingin belajar menjadi pribadi yang lebih baik, memang butuh perjuangan. Ketika ingin hijrah, godaan untuk kembali selalu ada. Komentar sana-sini membuat keyakinan goyah.
Dulu, ketika belum paham, seringkali berpikir sama dengan mereka. Dengan dalih kalau ‘Allah Maha Tahu’, aku memiliki seribu alasan untuk tidak melaksanakan perintah sebagai seorang muslimah. Meniru kebanyakan orang tanpa melihat pantas dan tak pantas.
Ya, dulu, aku kadang berpikir ribet juga kalau harus menggunakan gamis atau rok padahal masih menggunakan motor kemana-mana. Belum lagi, kaos kaki juga harus selalu dipakai ketika keluar rumah, meskipun hanya pergi ke warung atau pasar. Terus, jika ada tamu yang bukan muhrim, harus memakai hijab padahal di rumah sendiri dan siang hari pula. Pokoknya yang ada dalam pikirku hanya satu kata, ribet.
Memang terkadang belajar taat itu nggak mudah. Menjadi wanita saliha itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibilang sok suci, nggak asyik, nggak seru, ribet, sudah menjadi santapan sehari-hari. Bahkan bukan dari orang-orang yang hanya kenal sekilas saja, tak jarang keluarga dekat pun melakukan hal yang sama.
Sekali lagi, hijrah itu memang tak mudah. Tapi, terkadang kejadian demi kejadian membuat kita tersadar. Belajar menjadi muslimah saliha itu jauh lebih menenangkan. Karena bukankah perintah Allah itu ada karena Dia Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita?  Tapi, memang seringkali kita tidak bisa atau tidak mau memahaminya. Kita sering lupa bahwa nikmat-Nya jauh lebih tak terkira dibandingkan perintahNya?
Bagiku, hidup ini adalah perjalanan panjang. Perjalanan yang pada akhirnya berhenti pada satu titik kembali. Kembali kepada Dzat Yang Maha Segalanya. Kita hanya tinggal memilih, mau menjalani perjalanan menjadi pribadi saliha atau tidak. Pribadi yang senantiasa menebar kebaikan dan menjadi sosok inspiratif yang bisa menjadi jalan orang lain untuk berhijrah pula. Bukankah sejatinya setiap makhluk itu ingin timbangan amal kebaikannya jauh lebih berat dibanding keburukannya?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar