Senin, 25 September 2017

Nanny 911



Nanny 911, tahukan acara yang satu ini? Hmmm, aku sangat suka menonton acara itu. Banyak pelajaran yang diambil, terutama bagaimana cara menghadapi anak-anak yang bermasalah.
Dulu, tidak pernah terpikir olehku untuk menjadi guru, apalagi guru private. Setiap hari mendatangi siswa, dari satu rumah ke rumah yang lain. Meskipun aku pun sudah memiliki tempat sendiri saat itu, tapi tetap saja permintaan untuk menjadi guru private masih aku terima.
Sebenarnya bukan karena uang yang aku dapat. Ya, jika boleh jujur memang kadang bayaran yang aku terima itu lebih besar. Tapi, bukan itu. Profesi yang awalnya aku benci ini, kini menjadi sesuatu yang sangat menarik. Apapun yang berhubungan dengan mengajar, pasti aku akan menerimanya, termasuk menjadi guru private.
Ada sensasi yang luar biasa, ketika aku harus mendatangi rumah-rumah muridku. Aku tidak hanya mengajar, tapi sebenarnya aku belajar. Aku sering mengamati bagaimana pola didikan di setiap keluarga. Dan memang benar, pola didikan itu mempengaruhi sifat dan sikap anak.
Menjadi guru private sejak tahun 2003 sampai 2015. Banyak anak yang aku dampingi, mulai dari usia 2 tahun hingga mahasiswa. Bahkan, sebenarnya, aku juga mengajar yang sudah punya anak alias bapak-bapak dan ibu-ibu hehe...
Selain itu, aku juga tak jarang mendapatkan anak didik yang ‘luar biasa’. Sebagian murid private-ku memiliki masalah di sekolahnya. Ada yang dicap sebagai ‘anak nakal’, ‘bodoh’, ‘broken home’, berkebutuhan khusus (ABK) dan penilaian-penilaian negatif lainnya.
Meski aku bukan lulusan psikologi, tapi setidaknya aku pernah belajar sedikit tentang psikologi. Dan, yang terpenting pengalamanku dalam mengajar berbagai macam karakter anak, membuatku tidak terlalu stres dalam menangani murid-muridku. Aku berpikir mereka bukan muridku, mereka adalah adik, teman dan juga partner belajarku.
Sebenarnya yang membuat mereka akhirnya memahami apa yang aku ajar bukan karena aku guru yang hebat. Tapi, karena mereka yakin bisa. Jika mereka tidak memiliki keinginan yang kuat untuk berubah, aku yakin mereka akan tetap seperti sebelum bertemu denganku.
Sebenarnya akulah yang banyak belajar dari mereka. Aku belajar tentang kesabaran, kerja keras dan cinta dari mereka. Cinta? Ya, mereka ajarkan cinta kepadaku. Karena cintanya kepada diri mereka sendiri dan orang-orang tersayang, mereka selalu ingin belajar banyak dariku.
Setiap hal mereka pelajari. Dan yang membuatku senang, mereka selalu antusias dalam belajar. Mereka juga menganggapku tidak hanya sebagai guru. Mereka memposisikanku sebagai teman, kakak dan bahkan ibu mereka. Apapun yang mereka alami dan rasakan, selalu dibagi denganku.Tak jarang aku lebih tahu apa yang mereka rasakan dan alami daripada kedua orangtua mereka.
Karena profesiku ini, sebagian orang memanggilku dengan sebutan ‘Nanny’, mungkin karena apa yang aku lakukan itu hampir mirip dengan orang yang ada di acara Nanny 911. Aku kadang suka senyum-senyum sendiri, karena dulu ketika aku menonton acara itu, aku selalu bermimpi andai aku ini berprofesi seperti itu. Ternyata aku sudah merasakan hal itu. Menyenangkan, banyak ilmu yang didapat, unforgettable. Ah pokoknya menjadi Intan 911 itu luar biasa. 
Dan, sekarang, aku tidak menerima lagi tawaran untuk mengajar private. Karena saat ini, aku sedang fokus menjadi guru private untuk anak paling hebat yang pernah aku temui. Ia adalah murid favoritku. Anak hebat itu, Azka Muhammad Hafidz Al-Farizy Abidin, buah hatiku. 


1 komentar:

  1. Hmmm, Nanny yg sdh pecahkan kebiasaan parenting tradisional.., hehe

    BalasHapus