Senin, 02 Oktober 2017

Menyapih dengan Cinta


Sebenarnya sudah 3 minggu yang lalu ingin menuliskan ini. Bagiku, ini adalah sebuah pencapaian kami bertiga (aku, suami dan tentu saja buah hati kami). Kerja sama tim yang luar biasa, itu yang sering kami katakan.
Beberapa bulan sebelum anakku berusia tepat 2 tahun, aku dan suami sudah mendiskusikan kapan dan bagaimana proses menyapih untuk Azka. Kami mulai mencari referensi yang menurut kami paling tepat. Bagi orangtua baru seperti kami, proses menyapih tentu merupakan hal yang harus kami pelajari dan pahami betul.
Aku dan suami tidak ingin mengikuti kebiasaan yang menurut kami sangat tidak pas. Kami akui ada yang memberikan saran untuk mengolesi (maaf) payudara dengan bratawali/brotowali. Bahkan ada yang mengatakan untuk mengoleskan kopi atau garam. Tidak hanya itu, ada juga yang menyarankan untuk dibawa ke orang pintar (baca: dukun). Waduh... untuk yang satu ini nggak deh.
Sempat stress juga sih karena H-1 anakku mau umur 2 tahun, ia masih kuat banget minum ASI. Bahkan di malam harinya, ia tidak mau melepasnya sama sekali. Tapi, aku dan suami tetap yakin bisa menyapihnya dengan penuh cinta, tanpa menakut-nakuti ataupun jampi-jampi.
Tepat di hari miladnya, aku terus berdoa agar proses menyapihnya berhasil. Pagi hari hingga sore ia benar-benar lupa, karena aku ajak main sepuasnya hingga lelah. Tapi, aku masih mengkhatirkan malam harinya. Sudah menjadi kebiasaan Azka untuk minum ASI sebelum tidur. Tidak hanya itu, aku juga merasakan habit tersebut. Dengan refleks aku memposisikan menyusui. Namun, aku ingat kalau proses ini harus kami lalui. Berhasilkah?
Malam pertama, alhamdulillah berhasil. Aku menghela napas panjang, ternyata ia bisa dengan mudah tertidur tanpa minum ASI. Tapi, apakah proses weanning with love itu semudah membalikkan telapak tangan?
Hmmm.... Sama sekali tidak. Hari kedua dan ketiga adalah drama yang luar biasa. Azka kembali ingat kebiasaannya minum ASI. Dua malam ia menangis memaksa meminta ASI. Akhirnya aku memberikannya karena tidak tega melihatnya menangis terus. Saat itu, aku merasa gagal untuk bisa menyapihnya. Bahkan, aku dan suami sempat berpikir untuk mengikuti cara tradisional saja.
Semuanya butuh proses. Yap, itulah yang kami rasakan. Meskipun di hari ketiga setelah miladnya, Azka tetap meminta ASI. Tapi, tepat di hari keempat, Azka bisa lupa sama sekali. Ia pun bisa tidur tanpa minum ASI terlebih dahulu. Malam itu, malahan aku yang merasakan kehilangan. Aku menatap wajahnya dan terus mencium sambil meminta maaf. Ada rasa bersalah karena menghentikan kebiasaan yang telah ia lalui selama 2 tahun ini. Tidak hanya sisi psikologisku yang kena, aku juga merasakan demam semalaman.
Mungkin ada yang bertanya, cara apa yang aku gunakan? Sejak disapih hingga sekarang, kami bertiga memiliki kebiasaan baru. Ya, sekarang, setiap sebelum tidur, aku dan suami selalu membacakan surat-surat pendek di juz 30 hingga Azka bisa tertidur. Dan, dengan cara ini, Azka bisa tertidur dan bangun di jam yang sama ketika ia masih menyusui. Oya, kebiasaan Azka tidur paling telat pukul 19.30 malam dan bangun pukul 4 pagi. Alhamdulillah kebiasaan itu masih tetap terjaga hingga sekarang.
Proses menyapih dengan cinta benar-benar memberikan pelajaran yang luar biasa bagi kami orangtua baru. Atas izin-Nya, aku dan suami bisa melakukan proses menyapih tanpa menyakiti perasaannya. Hingga saat ini, Azka sudah benar-benar lupa dan menikmati kebiasaan baru untuk makan dan minum apapun asalkan sehat dan halal.
Aku dan suami juga memutuskan untuk tidak memberinya susu formula. Kami sepakat untuk memberikannya susu murni, bukan susu formula. Kami yakin gizinya akan tercukupi dari makanan alami yang aku buat sendiri. Kami belajar dari pengalaman saudara ataupun orang-orang yang kami kenal. Seringkali mereka mengeluh anak-anaknya tidak mau makan dan hanya minta susu saja.
Intinya, setiap orangtua punya keyakinan sendiri-sendiri dalam menemani tumbuh kembang anak-anaknya. Bagiku dan suami, apapun yang kami lakukan, harus menjadi kesepakatan bersama. Karena, bagi kami, tak perlu meniru, jika itu tak patut ikuti. Tak usah ragu untuk mencoba hal baru, karena sejatinya kita semua tak ada yang lebih tahu. 

2 komentar: