Selasa, 14 Agustus 2018

Menjadi Orang Tua Zaman Now




“Aduh, anak zaman sekarang tuh beda banget dengan anak zaman dulu ya.”
“Anak zaman sekarang tuh ya mainannya HP, laptop. Pokoknya gadget aja terus.”
“Anak sekarang tuh lebih percaya sama google daripada sama orang tua atau guru.”

Pernah nggak sih kita mendengar curhatan atau mungkin boleh dikatakan ocehan seperti di atas? Atau jangan-jangan kita sendiri yang sering mengucapkannya?

Hmmm… Kalau saya boleh berpendapat sih, rasanya kasihan sekali kalau anak zaman sekarang tuh selalu saja dibandingkan dengan anak zaman dulu. Menurut saya sih nggak apple to apple. Please dong, kita itu hidup di tahun sekarang, di zaman ini, bukan zaman nenek moyang.

Terkadang kita tidak sadar sudah melukai perasaan anak-anak kita dengan mengatakan kalau anak zaman sekarang itu susah diatur. Kita juga seringkali membandingkan kalau dulu saat kita masih anak-anak, jauh lebih nurut sama orang tua dan guru. Tidak jarang kita katakan kalau zaman kita, orang tua dan guru itu bagaikan raja yang tidak boleh ditentang.

Kalau saya biasanya tanya balik ke diri sendiri, mau nggak sih kita dibandingkan dengan orang lain. Nih, contohnya saja suami atau istri membandingkan kita dengan pasangan orang lain atau dengan saudaranya. Enak nggak? Mau nggak kita digitukan?

Pastinya dan yakin seratus persen, nggak mau. Nah, begitu juga anak-anak. Mereka juga manusia, punya rasa, punya hati (ini bukan mau ngajak nyanyi lho hehe…). Okelah mungkin untuk sebagian anak-anak akan memilih diam ketika membandingkannya dengan orang lain. Tapi, mereka akan tetap merekam apa yang telah kita lakukan.

Lantas, apa yang seharusnya kita lakukan? Apa kita bisa lari dari perkembangan zaman? Apa kita mau tetap bertahan dengan parenting zaman old dalam mendidik putra-putri kita? Apa kita hanya akan memberikan tanggungjawab penuh kepada pihak sekolah dan guru karena merasa sudah membayar mahal?

Mari kita berhenti sejenak dari segala rutinitas obsesi karir dan keegoaan kita. Cobalah berpikir dan mendengarkan apa kata hati kecil kita masing-masing. Ingatlah kembali ketika pertama kali kita berdoa meminta keturunan. Renungkan, siapa sebenarnya yang lebih berhak untuk bertanggung jawab membersamai anak-anak? Siapa kelak yang akan ditanya ketika Yang Maha Memiliki mengambil kembali makhluk titipan-Nya dari kita?

Yap. Ayah dan Ibu. Kitalah yang punya peran paling besar dalam membentuk dan mendidik anak-anak. Bukankah seorang ibu itu madrasah pertama bagi anak-anaknya dan ayah juga memiliki tugas sebagai kepala sekolahnya?


Ibu Sebagai Madrasah Pertama





Menjadi ibu zaman sekarang itu memang butuh banyak belajar. Perubahan dan perkembangan zaman membuat pola pikir anak pun sangat jauh berbeda dengan zaman kita dulu. Anak-anak sekarang jauh lebih kritis dengan apa yang mereka lihat. Disinilah ibu punya tugas yang luar biasa untuk membersamai anak-anak zaman now yang semakin cerdas.

Sejatinya memang seorang ibu adalah madrasah pertama. Sebuah ungkapan yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tapi, memang amanah dan tugas mulia itu sudah diemban bahkan ketika anak belum terlahir ke dunia ini.

Ya, menjadi seorang ibu itu tidak dimulai ketika anak lahir ke dunia. Sejatinya persiapan menjadi seorang ibu itu dimulai jauh saat masih sendiri (single). Kejauhan? Kelamaan?

Tidak sama sekali. Memang untuk membentuk generasi yang luar biasa, maka ibunya pun harus jauh luar biasa. Seorang ibu yang cerdas. Tidak hanya cerdas pikir, tapi juga cerdas hati dan perilaku.

Seorang ibu yang cerdas hati, pikir dan perilaku akan mampu mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang cerdas pula. Ibu yang bisa menjadi guru sekaligus sahabat bagi anak-anak. Ibu yang mampu menjadi motivator, fasilitator, dan juga supporter bagi anak-anaknya.

Anak-anak yang terlahir dari ibu yang cerdas akan jauh lebih bahagia. Mereka akan menemukan apa yang mereka inginkan di rumah. Mereka akan menemukan sosok ibu yang bisa mengantarkan mereka menjadi pribadi yang sukses.

Kita tidak bisa menutup mata dari fenomena yang terjadi sekarang. Banyak anak yang kehilangan sosok ibu. Secara fisik mungkin ibunya masih ada, tapi secara emosional mereka tidak merasakan keberadaan ibu sepenuhnya.

Mau diakui atau tidak, ada beberapa ibu yang hanya punya sisa waktu untuk anak-anaknya. Kesibukan, baik itu wanita karier maupun yang hanya berada di rumah, menjadikan anak-anak hanya mendapat waktu sisa untuk ditemani. Ya, pernahkah kita bertanya kepada anak-anak kita, apa sebenarnya yang mereka inginkan?

Kita tidak sedang membandingkan antara ibu rumah tangga dan juga ibu bekerja. Karena pastilah ada alasan kuat seseorang mengambil keputusan untuk memilih salah satu darinya. Namun, yang perlu digarisbawahi di sini, tugas utama seorang ibu adalah sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Seorang anak akan belajar banyak hal untuk pertama kalinya kepada ibu. Nah, pertanyaannya, apakah kita sebagai seorang ibu sudah bisa menjadi madrasah ternyaman bagi anak-anak?



Jangan Lupakan Vitamin A(yah)




Ibu memang madrasah pertama bagi anak-anaknya. Terus mungkin ada yang bertanya, kalau peran seorang ayah apa? Apa ayah itu hanya bertugas mencari nafkah saja? Artinya seorang ayah hanya perlu memiliki kemampuan untuk mencari rezeki saja?

Kalau kita masih berpikiran seorang ayah itu hanya memiliki peran untuk menjemput rezeki, maka ada pemahaman yang salah selama ini. Ada konsep keluarga yang keliru ketika ada pembagian seoarang ayah hanya fokus bekerja, dan anak-anak sepenuhnya tanggung jawab seorang ibu. Padahal, harus disadari dan dipahami seorang ayah, mendidik anak itu harus ada sentuhan seorang ayah juga.  

Jika seorang ibu itu madrasah pertama bagi anak-anak, maka ayahlah yang berperan sebagai kepala sekolahnya. Sejatinya seorang kepala sekolah memiliki wewenang dan tugas untuk membuat pola serta visi dan misi sebuah madrasah atau sekolah. Ketika seorang kepala sekolah mampu menyajikan pola yang menarik, maka sebuah madrasah pun akan tempat yang nyaman untuk mendapatkan ilmu.

Ketika seorang kepala bisa mendesain madrasah agar selalu terlihat nyaman, maka anak-anak akan merasa betah berlama-lama di madrasah tersebut. Artinya apa? Seorang ayah memiliki tugas untuk selalu menjaga psikologis istrinya. Karena seorang ibu yang psikologisnya terjaga, ia akan jauh lebih bahagia. Kembali lagi, ibu yang bahagia akan membersamai anak-anaknya dengan senang, maka anak-anak pun akan merasa bahagia pula.

Tapi, sebaliknya, ketika seorang ibu merasa tertekan. Ia tidak mendapatkan perhatian penuh dari pasangannya. Maka, kita sudah sering mendengar banyak kasus yang akhirnya anak menjadi korban kekerasan seorang ibu. Anak menjadi pelampiasan dari ketidakpuasannya akan sikap suami.

Itu mungkin kasus yang sangat ekstrim. Kasus yang mungkin sering kita temui bahkan kita sendiri rasakan, sikap kita yang sering keluar dari pola pengasuhan. Kita tak jarang membentak, memarahi dan bahkan memukul anak. Padahal sebenarnya kita marah dan kesal kepada pasangan bukan anak. Tapi, karena kita tidak bisa melampiaskannya langsung, maka anaklah yang menjadi korban.

Kehadiran ayah yang benar-benar hadir memang sangat memberikan efek yang luar biasa. Seperti yang telah dikatakan di awal, peran ayah bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi. Ada peran yang luar lebih penting, membersamai dan menemani tumbuh kembang anak-anak.

Ya, keberadaan ayah di samping anak tidak kalah penting dalam tumbuh kembang mereka. Kehadiran ayah ditengah-tengah keluarga yang benar-benar hadir jauh lebih penting daripada materi yang diberikan. Pengaruh dari kedekatakan ayah dan anak begitu luar biasa. Tidak hanya secara emosional, namun ada pengaruh positif bagi kecerdasan intelektualnya juga.

Pernahkah kita mendengar kalau Negara Indonesia itu termasuk kedalam fatherless country? Bahkan berada di urutan ketiga. Ya, kita tinggal di negeri tanpa ayah.

Sebuah kondisi yang seharusnya menjadi perenungan bagi kita semua. Jangan pernah menganggap enteng keadaan ini. Kita bahan patut berpikir, kondisi negeri yang semakin carut marut ini pastilah ada kaitan erat dengan pola pendidikan, khususnya di dalam keluarga.

Jika kita melihat fenomena yang ada, terutama di kota-kota besar, secara status anak-anak itu memiliki ayah. Bahkan memiliki keluarga inti yang lengkap. Tapi, apa yang terjadi? Mereka haus akan kasih sayang seorang ayah.

Ayah mereka sudah tidak memiliki waktu untu bermain dengan anak-anaknya, bahkan hanya sekadar untuk bercengkerama saja tidak ada. Para ayah beranggapan mereka sudah menjadi ayah yang baik ketika semua kebutuhan materi anaknya terpenuhi. Padahal mereka lupa anak-anak pun membutuhkan waktu sejenak bersama ayahnya.

Miris memang ketika kondisi seperti ini sudah dianggap biasa dan lumrah. Atas nama perkembangan zaman, kita merasa ini bukan sebah kesalahan. Komunikasi antara anak dan orang tua merasa sudah sangat cukup ketika bisa menyapa lewat media sosial.

Padahal ketika kita ada di dekat anak, bermain, bercerita dan bahkan memeluk serta mencium dengan penuh kasih sayang, aka nada efek positif yang bisa kita dapatkan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Office on Child Abuse and Neglect, anak yang dekat dengan sosok ayah dan sering menghabiskan waktu bersama dengan durasi cukup cenderung memiliki tingkat kecerdasan IQ di atas rata-rata.

Tidak hanya itu, menurut penelitian dari Father Involvement Research Alliance, anak yang dekat dengan ayahnya sejak dini akan memiliki tingkat emosi yang stabil. Sehingga ia dapat tumbuh menjadi pribadi yang memiliki rasa percaya diri tinggi, mudah bersosialisasi, dan terbuka pada lingkungan sosial di sekitarnya.


Menjadi Orang Tua Zaman Now



Menjadi orang tua bukanlah sebuah warisan. Jangan pernah berpikiran kalau mendidik anak itu sama dari dulu sampai sekarang. Manusia itu berkembang sesuai dengan perubahan zaman.

Karena alasan inilah mengapa menjadi orang tua itu butuh belajar. Meskipun tidak ada sekolahnya untuk menjadi ayah dan ibu, tapi setidaknya ada banyak cara untuk menjadi orang tua zaman now. Perkembangan zaman sekaligus juga perkembangan teknologi sejatinya bisa menjadi jalan agar kita bisa memahami dan selaras dengan anak-anak.

Satu hal yang perlu digarisbawahi di sini, anak-anak zaman sekarang itu sangat jauh berbeda dengan zaman kita. Mereka tumbuh di zaman serba digital. Karena itulah kita pun harus mau mengikuti dan melebur dengan pola pikir mereka. Parenting yang diterapkan pun harus benar-benar sesuai dengan cara berpikir mereka.

Mendidik anak di zaman digital itu memanglah tidak mudah. Tapi, bukan artinya juga sulit, karena pasti selalu ada pola atau cara yang sesuai. Kembali lagi, mendidik anak bukanlah tugas guru atau sekolah semata. Ada peran yang jauh lebih penting dari ayah dan ibu. Pertanyaannya, bagaimana agar kita bisa menjadi orang tua yang cerdas dalam mendidik anak-anak zaman now?

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar dapat menjadi orang tua zaman now yang cerdas, diantaranya:
- Tanamkan pendidikan agama sejak dini.

-  Hadirkan fisik dan juga pikiran serta hati ketika membersamai anak.

- Mengenal dan memahami dunia digital agar nyambung ketika berkomunikasi dengan anak.

- Memberi teladan bukan suruhan.

- Jangan pernah membandingkan anak.

- Posisikan sebagai sahabat yang bisa diajak curhat.

- Aturan yang ditentukan harus dari hasil kesepakatan bersama antara orang tua dan anak.

- Adanya reward dan juga punishment dari aturan yang telah dibuat, tidak hanya untuk anak tapi juga untuk orang tuanya.

Itulah beberapa poin yang harus kita perhatikan. Terasa sederhana tapi memang ketika diterapkan tentunya tidak bisa dianggap enteng. Pastilah akan ada banyak tantangan. Namun, disitulah seni dalam dunia parenting, apalagi di zaman now. Dan, ketika kita mampu untuk menerapkannya, lihatlah apa yang terjadi dengan anak-anak kita di kemudian hari.

Intinya, keluarga haruslah menjadi pondasi yang kuat bagi anak-anak. Ibu harus tetap menjadi madrasah ternyaman bagi anak-anak, dan ayah bisa menjadi kepala sekolah yang hebat. Jadi, keluarga bukan sekadar status semata. Keluarga adalah muara cinta yang tak pernah ada jeda mengalirkan rasa dan asa.

#sahabatkeluarga

2 komentar:

  1. Salam kenal. Fungsi seorang ayah bukan hanya sebagai kepala madrasah saja ya, bahkan lebih dari itu, bisa juga sebagai keamanan madrasah, hehehe... Saya follow ya blognya , boleh??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe...bisa...bisa... Ok...terima kasih sudah berkenan mampir dan follow ya :)

      Hapus