Jumat, 30 November 2018

Apa Barang Koleksi Pribadi Itu Abadi?




Barang koleksi? Kadang suka bingung kalau ditanya apa barang koleksi pribadi saya. Saya tuh bukan tipe orang yang kerajinan ngumpulin sesuatu. Dulu waktu masih pakai putih merah dan putih biru, suka banget ngumpulin aksesoris rambut. Tapi itu pun nggak bertahan lama, karena tiap ada yang minta langsung dikasih atau biasanya berdalih pinjam namun nggak pernah kembali.

Koleksi benda lain? Hmmm… Memang saya tuh nggak ada bakat suka shopping atau pun sekadar window shopping merhatiin barang-barang yang lucu atau lagi ngetrend. Kalau pun saya harus ke tempat perbelanjaan, ya ada yang dibutuhkan, setelah itu pulang. Saya juga nggak bisa investasiin waktu buat menjaga atau merawat benda, seandainya saya mengoleksi barang.


Sekarang pun setelah menikah, ternyata saya dan suami punya kebiasaan yang sama, paling nggak suka numpuk barang. Apalagi ada dua krucil yang membutuhkan space bermain yang lebih luas. Kita tuh lebih nyaman kalau rumah itu nggak sumpek dengan barang-barang.

Jangankan barang-barang unik atau lucu, mau itu pakaian, sepatu atau tas, kalau dirasa sudah penuh di lemari, ya lebih baik diberikan ke orang lain. Kadang saya juga berpikir, kok saya nggak seperti kebanyakan emak-emak lain yang suka mengoleksi tas, sepatu, scarf, atau peralatan makan dari plastik yang bermerek terkenal itu? Ah, tapi sudahlah. Setiap orang kan punya jalan hidup masing-masing. #Apasih J

Terus, apa saya nih tipe orang yang flat tanpa kesukaan dan hobi apapun? Ehm… Nggak segitunya juga kali.  Tapi, masalahnya bagi saya, barang yang pantas dikoleksi itu harus abadi. Pertanyaannya, emangnya ada ya? Bukankah yang namanya barang, pasti ada batas waktu? Pastilah suatu saat akan mengalami kerusakan dimakan waktu.

Ehmm… seiring berjalannya waktu, saya pun menemukan apa yang seharusnya saya koleksi. Benda yang tidak hanya membuat saya senang, tapi juga akan membuat saya lebih berkembang. Benda ini pun akan bisa saya wariskan kepada anak cucu. Mungkin bukan fisiknya, tapi makna yang tersimpan dalam benda tersebut.

Buku. Ya, barang satu ini merupakan benda wajib ada di rumah, sejak saya kecil. Pendidikan keluarga pun membuat saya terbiasa bercengkerama dengan buku. Rasanya ada yang kurang kalau sehari tidak menyapanya.



Ya, kalau kebiasaan membeli buku sih sudah terpatri sejak dulu. Sejak saya sudah bisa menjemput rezeki dengan kaki sendiri, saya selalu investasikan sebagian uang untuk beli 1 sampai 2 buku setiap bulannya. Membeli buku menjadi hal yang wajib, apalagi kalau ada penulis favorit mengeluarkan karya baru.

Dan, ternyata setelah menikah kebiasaan itu masih bisa tetap terjaga. Saya bersyukur karena punya suami yang memiliki kebiasaan yang sama. Lucunya lagi, kita baru ngeh kalau banyak koleksi buku yang sama. Bahkan belum lama ini, kami sortir ternyata hampir 1 kardus buku dengan judul yang sama.



Nah, jadi kalau ditanya, apa saya punya barang koleksi? Ya, bagi saya buku-buku itu koleksi pribadi saya. Apa itu bisa dibilang koleksi yang abadi? Mungkin ya. Abadi di sini bukan fisiknya, tapi ilmu dan pengetahuan yang sudah saya dapatkan dari buku bisa terus membersamai kita, bahkan bisa kita tularkan kepada anak cucu. Artinya, akan ada efek positif yang panjang ketika saya memutuskan untuk mengoleksi buku, dan tentu saja membaca dan memahaminya. Karena bagi saya, mengoleksi buku sama dengan menginvestasikan dan mempersiapkan masa depan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar