Rabu, 12 Desember 2018

Kalau Boleh Saya Menyesal




Menyesal. Satu kata yang sebenarnya saya paling tidak suka. Bagi saya sih, let bygones be bygones. Nggak perlu riweuh juga harus kembali masa lalu. Seburuk apapun masa lalu, bukan untuk disesalkan tapi dijadikan bahan pembelajaran saja. So wise banget ya hahaha…

Tapi, serius nih, saya bilang, apa yang saya tulis itu memang nggak semudah melakukannya juga. Semuanya butuh proses. Saya juga pernah mengalami masa-masa dimana saya menyesali apa yang sudah saya perbuat. Namun, kejadian demi kejadian membuat saya mulai belajar sedikti demi sedikit untuk lebih berdamai dengan diri sendiri, sampai sekarang.

Ya, sampai detik ini pun saya masih terus belajar ikhlas. Ikhlas dengan apa yang sudah terjadi. Ehmm… Tapi, kalau ada yang memaksa bertanya, apa sih sebenarnya yang saya pernah sesalkan sebelum saya berdamai dengan diri sendiri?

Ehmm… kalau boleh saya membahas, saya dulu sempat menyesal karena saya tidak memanfaatkan kesempatan untuk mengambil kuliah dengan jalur tanpa tes. Saat itu, saya terlalu tidak percaya diri dengan kemampuan diri sendiri.

Ya, dulu, saya itu sangat takut mencoba, menilai bahwa saya tidak memiliki kemampuan seperti teman-teman yang lain. Padahal banyak orang menyadarkan kalau saya mampu. Mulai dari orang tua, guru, kakak-kakak, termasuk teman-teman semua mengatakan kalau saya bisa. Tapi, kembali lagi, saya terlalu takut untuk mengakui kalau saya bisa.

Karena tertalu penakut dan pemalu, akhirnya saya kehilangan kesempatan emas untuk kuliah di kampus idaman saya. Saya baru tersadar ketika tahu banyak teman-teman dengan kemampuan di bawah saya. Saat itu, saya hanya bisa menangisi apa yang terjadi.

Sejak kejadian itu, saya seperti tertampar. Saya mulai berani untuk mengangkat wajah. Saya mulai berbenah diri. Saya belajar untuk memahami apa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Dan, yang terpenting saya terus belajar untuk berdamai dengan diri sendiri.

Ya, kegagalan melanjutkan kuliah di universitas impian, membuat saya terbangun dari tidur panjang. Kejadian itu memang sangat mengena di hati saya, apalagi ketika melihat dan mendengar teman-teman yang kuliah di sana. Ah, rasanya pengen nyungsepin kepala di bawah bantal dan nangis di kamar seharian

Tapi, itu awalnya saja, karena hidup itu berproses juga, kan? Saat ini, malah saya bersyukur dengan alur cerita hidup saya. Ada banyak kisah menyenangkan dan tak terlupakan yang saya alami. Kegagalan yang dulu pernah saya rasakan hanyalah satu kalimat dari ratusan halaman kisah hidup. So, I don’t like to say ‘if’. Karena ketika sesuatu itu sudah terjadi, akan ada hikmah yang pasti bisa kita ambil. Life is a process to understand life itself.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar