Sabtu, 11 Mei 2019

5 Tips Menyiasati Promo Belanja Online

19.53 0 Comments

5 Tips Menyiasati Promo Belanja Online
Intan Daswan

Promo? Diskon? Ah, dua kata itu sepertinya favorit emak-emak ya hehehe… Mata dan telinga bakalan terbuka lebar ketika mendengar dua kata itu. Lupain deh nabung, apa kata besok, yang terpenting bisa dapatin barang bagus dengan harga miring. Ah, itu sih auto bahagia bagi kita kaum hawa.

Tapi, kita sadar nggak sih kalau pas ada promo belanja online, kadang kita suka kalap. Tidak jarang jari kita dengan mudah meng-klik barang yang menurut kita bagus, padahal budget untuk berbelanja sudah tidak ada. Akhir-akhirnya kita nyesel dan barang numpuk nggak jelas juntrungannya.

Nah, sebagai sesama emak-emak, saya akan bagi-bagi tips supaya kita bisa menyiasati dan nggak kalap saat ada promo belanja online. Ini dia 5 tips cerdas menyiasati promo belanja online:
Benar-benar mencari barang yang kita butuhkan
Ini penting lho. Pokoknya nomor wahid yang kita kudu sadar kalau kita beli itu karena kita butuh bukan karena suka dengan warna, model atau karena harganya terjangkau. Karena biasanya kalau hanya karena kesengsem promo sih, bakalan nyesel deh kalau tuh barang udah nyampe dan kita bingung mau diapakan.

Sesuaikan dengan budget yang ada
Nah, ini nomor dua. Kenapa? Biasanya nih kita memang butuh dengan barang yang sedang dipromoin. Terus pas cek toko sebelah juga harga tetap lebih murah, tapi kita masih nggak punya budget, ya tetap saja nggak usah maksain, sis. Tenang, yang namanya promo tuh nggak bakalan cuman sekali. Yakin deh, setiap ada momen penting, pasti bakalan ada promo lagi. Woles aja, sis.

Bandingkan harga dari beberapa toko
Jangan langsung yakin akan beli pas lihat harga sudah ok menurut kita. Cek toko sebelah itu hukumnya wajib lho dalam urusan shopping. Nggak perlu buru-buru pengen klik ok aja. Coba cari banyak harga pembanding, biar kita nggak nyesel kemudian.

Cek kembali ongkir
Nah, terkadang kita udah keburu senang dengan promo. Eh, pas dilihat ongkirnya malah lebih mahal. Kita harus lebih teliti, dari mana pengirimannya. Sekali lagi teliti itu penting ya, sis.

Lihat review yang sudah membeli di toko tersebut
Nah, ini juga nggak kalah penting. Lihat tuh berapa bintang yang dikasih customer. Jangan sampai tokonya nggak recommended banget. Pokoknya intinya teliti dan harus sabar kalau belanja online itu ya, sis.

Itu dia 5 tips menyiasati promo belanja online. Senang boleh kalau pas ada promo, tapi tetap ya kita harus jaga kewarasan, biar nggak kebablasan belanja barang yang nggak jelas. Belilah sesuai dengan kebutuhan dan budget yang ada ya, sis. Happy shopping!


Jumat, 10 Mei 2019

Nasi Goreng, Menu Sejuta Umat

21.25 0 Comments



Nasi goreng. Ah, masakan satu ini benar-benar akan menjadi dewa penyelamat ketika tak ada lauk atau sedang bingung mau masak apa. Ya, bagi saya ketika di persediaan bahan masakan menipis di dalam kulkas, pasti pilihan terakhir akan masak nasi goreng. Atau kalau sudah bosan dengan menu itu-itu saja, nasi goreng akan menjadi pilihan untuk dimasak.

Oya, sedikit cerita nih… Kalau dulu sebelum menikah atau dari mulai kecil hingga dewasa, saya tuh lebih sering memilih sarapan dengan nasi goreng. Sangat jarang bahkan bisa dihitung jari makan nasi goreng di waktu makan malam apalagi makan siang, nggak ada di kamus kehidupan sehari-hari Intan Daswan hehehe…

Tapi, saudara-saudara… setelah menikah semuanya berubah. Saya bahkan hampir tidak pernah makan nasi goreng untuk sarapan. Sebaliknya, saya sering memasak nasi goreng untuk makan malam. Kalau sudah bosan dengan menu yang lain, pasti Pak Suami minta dibikinin nasi goreng pedas dicampur telur dan pete. Oya pedasnya harus level maksimal, lho. Maklum kita kan penggiat dan aktivis kuliner pedas.

Ok, saya kasih nih bahan dan cara membuat nasi goreng ala Intan Daswan…

Bahan-bahan:
Nasi
Telur
Pete
Kacang tanah
Timun
Ikan Asin
Minyak goreng

Bumbu-bumbu:
Bawang Merah
Bawang Putih
Cabai rawit
Terasi
Kecap
Saos
Garam
Penyedap (Sesuai selera)

Cara membuat:
Bawang merah, bawang merah, dan cabai rawit dirajang kecil-kecil.
Siapkan wajan, lalu tuangkan minyak secukupnya.
Masukkan bumbu yang sudah dirajang lalu goreng setengah matang, lalu beri terasi secukupnya.
Tambahkan pete, tunggu sampai pete layu. Setelah itu masukkan telur dan beri saos.
Masukkan nasi, lalu aduk-aduk sampai tercampur rata. Kemudia beri kecap. Aduk-aduk kembali.
Tambahkan garam dan penyedap. Aduk-aduk sampai tercampur dan jangan lupa tes rasa.
Setelah nasi tercampur, tuangkan ke dalam piring.
Tambahkan ikan asin, kacang tanah goreng dan timun. Nasi goreng siap dihidangkan.

Itu dia resep nasi goreng, menu sejuta umat. Nggap pake repot, nggak pake bahan ribet juga. Tapi, yakin deh kalau disajikan dengan penuh cinta, makan hanya dengan nasi goreng pun akan terasa nikmat.

Kamis, 09 Mei 2019

Sayur Lodeh, Rasanya Tak Sesederhana Cara Membuatnya

20.03 0 Comments



Sayur lodeh. Pasti semua orang sangat familiar dengan sayur satu ini. Hampir setiap daerah pasti memiliki resep sendiri-sendiri untuk membuat sayur lodeh. Kalau dulu ketika tinggal di Bandung, yang namanya sayur lodeh itu sayur isiannya hampir sama dengan sayur asem, hanya berbeda di kuah dan bumbunya saja. Tapi, ketika pindah ke Jawa Timur, ternyata yang namanya sayur lodeh itu terlihat lebih simple.

Ya, pertama kali melihat penampilan sayur lodeh di keluarga suami, saya merasa memang isiannya lebih sederhana. Pengen tahu apa saja bahan dan cara membuatnya?



Bahan-bahan:
Tempe
Tahu
Terong
Santan

Bumbu-bumbu:
Bawang putih
Bawang merah
Kemiri
Kunyit
Cabai merah
Lengkuas
Daun salam
Daun jeruk
Gula
Garam

Cara Membuat:
Tempe dipotong-potong kecil, lalu dikukus. Tahu dipotong-potong kecil, lalu digoreng. Terong dikupas lalu dipotong-potong.
Ulek semua bumbu kecuali kecuali daun salam, daun jeruk dan lengkuas. Lengkuas cukup digeprek saja. Setelah itu, goreng bumbu yang sudah dihaluskan beserta daun salam, daun jeruk dan lengkuas.
Masukkan tempe, tahu dan terong. Tuangkan santan encer lalu aduk-aduk perlahan sampai mendidih. Tambahkan gula, garam dan penyedap (sesuai selera)
Setelah mendidih, tambahkan santan kental. Aduk perlahan sampai tercampur dan mendidih. Jangan lupa cek rasa.
Setelah matang, angkat sayur lalu tuang ke dalam wadah. Sayur lodeh siap dihidangkan.

Itu dia resep sayur lodeh yang sangat sederhana. Rasanya setiap orang pasti bisa membuatnya. Oya, kalau di Jawa Timur, makan sayur lodeh itu akan jauh lebih nikmat dengan nasi jagung dan juga ikan asin. Meskipun makanan ini terlihat sederhana, tapi yakin deh bikin lidah bergoyang dan timbangan bergerak ke sebelah kanan. Moto hidup bakal berubah jadi diet dimulai besok hehehe….

Ok, buncan alias bunda-bunda cantik, kalau mau dicoba, silakan dicoba resepnya. It’s so simple. Apalagi di bulan puasa ini, biasanya kan bingung mau makan apa biar makan tetap enak tapi bikinnya nggak pake ribet. Ya, ini dia, sayur lodeh. Rasanya tidak sesederhana cara membuatnya.


Rabu, 08 Mei 2019

Skippy ASI Booster, Amunisi Puasa untuk Ibu Menyusui

20.02 0 Comments



Puasa kali ini memiliki tantangan tersendiri bagi saya. Yap, selain harus menyusui, saya juga harus membersamai anak pertama yang usianya masih 3,5 tahun. Kedua anak saya ini aktifnya luar biasa. Tidak hanya fisik, tapi kecerdasan katanya juga luar biasa. Ya, setiap hari saya harus ikut bermain dan membacakan beberapa buku untuk mereka.

Selain itu, anak kedua saya yang masih berumur 11 bulan pun masih minum ASI. Meskipun sudah MPasi, tapi minum ASI-nya pun luar biasa. Saya bersyukur karena ASI saya pun melimpah. Namun, sejak dibawa puasa terkadang karena asupan yang masuk pun berkurang, jadi jumlah ASI pun berbeda dengan sebelum puasa.

Tapi, saya tidak ingin menyerah atau memutuskan untuk tidak berpuasa. Saya pun mencoba mengkonsumsi beberapa makanan dan minuman yang bisa memperbanyak dan juga membuat ASI lebih berkualitas. Tentu saja saya memilih makanan yang dibuat sendiri. Saya tidak ingin termakan iklan dengan mengkonsumsi makanan atau minuman instan bahkan obat sekalipun untuk ASI booster.

Taraaa… Setelah mencoba beberapa makanan, akhirnya saya pun dapat ide untuk membuat Skippy ASI Booster. Pasti semua setuju kalau Skippy itu memang juaranya selai deh. Mau dimakan sama apa aja, rasanya tetap enak. Serius nih... cuman diolesin di roti aja, euhhh... rasa Skippy Peanut Butter-nya udah bikin lidah bergoyang deh.

Nah, asli pertama coba Skippy ASI Booster ini, langsung suka deh. Makanan ini bisa dijadikan menu buka puasa atau makan sahur. Kalau saya sih biasanya dimakan setelah sholat tarawih. Pengen tahu apa saja bahan-bahan dan cara membuatnya?

Skippy ASI Booster



Bahan-bahan:
Skippy Peanut Butter
Jagung manis
Kacang tanah
Kecambah

Cara membuatnya:
Semua bahan  sayur direbus. Sambil menunggu matang, ambil Skippy Peanut Butter secukupnya lalu beri air hangat untuk mengencerkan. Setelah sayurannya matang, tuang ke dalam piring lalu taburi dengan Skippy Peanut Butter. Skippy ASI Booster sudah siap disantap.

Gimana nih? Mudah banget kan membuatnya? Kayaknya nggak sampai 10 menit, sudah siap disantap dan efeknya luar biasa lho.

Ya, sebagai penggemar sayuran sekaligus kacang-kacangan, saya merasa efek positif setelah mengkonsumsi makanan tersebut. Beruntung saya tidak punya alergi terhadap kacang-kacangan.

Mungkin ada sebagian ibu menyusui yang merasa ketakutan untuk mengkonsumsi kacang-kacangan. Ya, untuk sebagian bayi biasanya akan menyebabkan kolik ketika ibunya mengkonsumsi kacang-kacangan. Tapi, saya punya tipsnya nih, sebaiknya kacang-kacangan direbus terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Insya Allah nggak akan memberikan efek negatif.

Ok, buntik aliasa bunda-bunda cantik yang sedang meng-ASI-hi dan pengen tetap seterongg di bulan puasa ini, boleh kalau mau dicoba resep Skippy ASI Booster-nya ya. Tapi, ingat lho, untuk yang punya alergi kacang-kacangan, it’s not recommended ya…



Selasa, 07 Mei 2019

Warunk Upnormal, Tempat Cozy BukBer

21.46 2 Comments



BukBer? Ah, rasanya hampir setiap bulan puasa pasti ada agenda buka bareng, baik itu bareng pasangan, keluarga, atau teman-teman. Nah, terkadang kita bingung juga pilih tempat yang nyaman buat buka puasa barenga.

Eits, tapi nggak perlu bingung-bingung. Kalau menurut saya sih sejak ada Warung Upnormal, nongki-nongki jadi lebih asyik nih di sini. Tempatnya nyaman, harga bersahabt dan yang penting waifi kenceng bin gratis hehehe…

Warunk Upnormal. Siapa sih yang nggak kenal dengan café satu ini. Dari namanya saja bikin orang penasaran. Ditambah lagi menu yang ditawarkannya juga lebih bikin penasaran.

Café yang dibikin cozy plus homey ini memang unik.  Mulai dari tempat yang instagramable, pelayan yang ramah, disediakan permainan pula dan yang terpenting menunya nggak kalah unik.

Warunk Upnormal ini bukan berarti nggak normal lho artinya, tapi maksudnya café ini menyajikan konsep di atas normal. Setuju banget sih, karena pertama kali masuk saja, ini café memang beda banget deh. Dan, yang terpenting ini café cocok banget nongkrong-nongkrong cantik bareng pasangan, teman bahkan ngajak keluarga juga asyik lho.

Oya, warunk upnormal sekarang hadir di Jember lho, tepatnya di Jalan R.A. Kartini No. 31, di dekat Polres Jember. Kalau kamu

Apa aja sih yang jadi menu andalan di warunk upnormal?
Ada menu serba indomie. Yap, ada indomie goreng dan juga rebus. Jangan berpikir kalau yang dihidangkan cuman mie instan alakadarnya lho, tapi topping-nya yang bikin sensasi berbeda menikmati mie instan legendaris ini.

Nggak hanya berbagai kreasi indomie lho, ada juga nasi ayam dan kulit goreng special, nasi special upnormal, nasi bakso pentol special ala upnormal, makanan ringan buat sharing, nasi daging wagyu special upnormal, roti toast ala Prancis, dan pisang bakar. Oya, kita juga bisa memilih topping untuk setiap makanan yang kita pesan. Pokoknya tinggal pilih sesuai selera deh.

Ada makanan, pastinya ada pula minuman dong. Seret kan kalau habis makan nggak minum? Atau bagi para iriters (manusia-manusia irit bin hemat), ngafe cuman numpang minum cari yang paling murah lagi, yang penting bisa wifi sepuasnya. Upss…

Nah, berbicara tentang minuman nih, warunk upnormal punya banyak pilihan minuman yang rasanya endess bin nyess di tenggorokan deh. Ada coffee special Gayo Aceh, minuman biasa, susu upnormal, special drinks upnormal, healthy juice, frappe upnormal, dessert. Oya ada extra topping dessert juga lho.

Harganya gimana nih?
Wah, ngafe di sini sih nikmat di mulut ramah di kantong. Serius… Harganya bersahabat banget. Ehm… harga mahasiswa lah… heheh… Jadi nongkrong manis nunggu buka puasa bareng pasangan, keluarga atau sohib nggak bikin cemas, kan.

Oya, di bulan Ramadhan ini, Warunk Upnormal Jember buka dari pukul 9 pagi sampai tengah malam lho. Lokasinya yang strategis memang bikin nyaman, khususnya anak-anak muda untuk sekadar ngobrol atau mungkin numpang wifi gratis hehehe…


So, menurut saya, Warunk Upnormal merupakan tempat yang menyenangkan buat buka bareng orang-orang terdekat. Intinya tempat dan menu makanan serta minumannya nggak ngebosenin. Pokoknya tempat dan konsepnya zaman now banget.






Senin, 06 Mei 2019

Ngabuburit, Apakah Tradisi Ini Harus Ditinggalkan?

20.27 0 Comments



Ngabuburit. Mendengar kata itu, pikiran saya selalu kembali ke masa kecil dulu. Bagi saya kenangan ngabuburit saat masih kecil dulu sulit sekali terhapus.

Saat itu usia saya masih sangat kecil, 4 atau 5 tahun. Ya, saya memang sudah diajarkan puasa sejak usia 4 tahun. Tidak ada aiming-iming hadiah yang mahal. Tapi, ajakan untuk ngabuburit selalu membuat saya bersemangat untuk berpuasa sampai maghrib.

Bukan ke tempat rekreasi atau pusat perbelanjaan. Saat itu, Bapak selalu mengajak saya untuk berkeliling menggunakan motor vespa sambil menunggu adzan maghrib. Sebuah aktivitas sederhana namun tersimpan rapih dalam folder kenangan saya.

Ya, bagi anak-anak tentu saja menahan makan dan minum itu tidak mudah, apalagi di waktu rawan sore hari. Saat mulut dan perut menagih untuk diisi apalagi aroma masakan mulai tercium dari dapur, ah sebuah perjuangan untuk menamatkan puasa.

Berjalan-jalan atau sekadar berkelilig, memang setidaknya bisa melupakan rasa lapar dan haus. Bagi saya, itu sangat bisa diandalkan.

Kebiasaan ngabuburit seakan-akan menjadi sebuah tradisi yang tidak bisa dipisahkan dengan bulan puasa. Bahkan tradisi ini pun akhirnya memberi ide kepada orang-orang untuk menjadikannya lahan bisnis baru. Kita bisa lihat banyak sekali penjual makanan dan minuman untuk berbuka. Mereka memanfaatkan orang-orang yang sedang ngabuburit. Menurut saya, itu sebuah ide yang cerdas.

Lalu, apakah ngabuburit itu sebuah pekerjaan yang sia-sia? Hmmm… Kalau menurut saya, ngabuburit tidak bisa sepenuhnya dikatakan perbuatan yang sia-sia. Kita bisa melihat dari berbagai sisi. Maksudnya?

Ya, ketika momen ngabuburit itu diisi dengan kegiatan positif, why not? Ngabuburit kan sekadar istilah, yang terpenting adalah esensi dari momen tersebut. Misalkan di waktu ngabuburit, kita menghadiri kajian, atau mengajak si kecil melihat keindahan alam sambil menghubungkannya dengan nilai-nilai Islami atau mungkin bagi yang senang berbisnis, kita memanfaatkan momen untuk menjual penganan berbuka. Itu semua hal positif yang bisa dilakukan dan membuat puasa kita jauh lebih bermakna.

Tapi, ngabuburit juga bisa bernilai negatif dan sia-sia ketika hanya diisi dengan jalan-jalan, nongkrong atau bahkan bergosip ria sambil menunggu adzan maghrib. Naudzubillah… Tanpa sadar, puasa kita hanya sebatas menahan lapar dan haus.

Intinya, bukan ngabuburitnya yang harus dipermasalahkan, tapi aktivitas apa yang kita lakukan pada saat ngabuburit tersebut. Karena kembali lagi, ngabuburit hanya sebuah istilah dan tradisi. Sebuah tradisi, jika itu baik dan memberikan nilai positif maka tak perlu kita tentang. Namun, jika tradisi itu sudah merusak nilai-nilai keimanan dan keislaman kita, maka tinggalkanlah.

Kamis, 25 April 2019

Backpackeran Bareng Balita dan Baduta (Part 2) "Edisi Jakarta & Bandung"

18.11 0 Comments



Welcome to Jakarta…
Alhamdulillah… Akhirnya tiba juga di ibu kota. Rencana awal kita mau bersih-bersih (mandi) di Stasiun Gambir. Alasannya selain memang ada fasilitas penitipan barang dan sekaligus tempat mandi yang nyaman, lokasinya pun dekat dengan destinasi pertama kami. Kenapa nggak di penginapan? Kami baru bisa check ini jam 12 siang. Tapi, memang traveller itu kudu punya muka tebal, suami pun melobi pihak guest house. Awalnya sih bilangnya mau nitip barang, tapi pas minta sekalian ikut mandi, eh dibolehin. Dan, pas kita nyampe sana, kita diberikan fasilitas kamar. Tadinya kita pikir mau dikasih pinjam kamar mandinya aja, tapi malah kita bisa pakai salah satu kamar, jadi bisa lebih leluasa mandiin plus dandanin 2 bocah hehehe…

Oya, FYI nih… Kami menginap di Kantos Guest House. Tempatnya di tengah kota lho, dekat kemana-mana. Mau ke Stasiun Gambir atau Monas cuman 10 -15 menitan. Mau ke Masjid Istiqlal juga paling cuman 15 menitan. Guest House ini juga dekat dengan minimarket terkenal. Di depannya banyak penjual makanan, minuman dan buah-buahan.

Terus, nyamannya nggak tempatnya? Menurut kami sih nyaman-nyaman aja. Ukurannya kamarnya pas, nggak terlalu luas tapi juga nggak kekecilan. Airnya bagus dan kamar mandinya bersih. Ada fasilitas wifi juga. Dan yang terpenting pelayanannya ramah lho. Tempat ini pokoknya recommended banget deh buah para backpacker.

Nah, kembali ke rencana jalan-jalan kami. Awalnya sih pengen banget ngubek-ngubek ibu kota. Secara kami kan jarang-jarang bisa menginjakkan kaki di kota ondel-ondel ini. Kalau mau ke sini aja, mesti cari waktu yang longgar banget (terutama buat pak suami sih hehehe…) dan juga rupiah yang nggak sedikit (maklum ongkos pesawat mahal masbro sekarang :D). Tapi, backpackeran sama baduta dan balita itu memang beda. Beda banget.

Ya, meskipun stamina kami cukup kuat, tapi kita berdua nggak bisa egois dong. Bagaimana pun juga kondisi tubuh anak-anak perlu dijaga. Bagi kami yang terpenting, icon Jakartanya udah kami kunjungi. Selain itu, anak-anak juga, terutama kakaknya terlihat puas dan senang.



Di Jakarta kami menghabiskan waktu 2 malam. Kami mengunjungi Monas, Bundaran HI, Masjid Istiqlal dan juga Kota Tua. Kalau masalah transportasi mah aman, namanya juga kota besar. Dengan adanya KRL dan juga taksi online nyaris nggak ada masalah mau pergi kemana pun juga.

Terus, gimana masalah makannya? Ada kejadian sedikit ngeselin tapi disenyumin aja. Jadi ceritanya pas turun dari kereta di Stasiun Senen, keadannya crowded banget. Jadi Pak Suami langsung aja nih pesan taksi online. Nah, si kakak karena jam biologis dia tuh jam 7 udah 2 kali sarapan hehehe… Jadi dia agak sedikit cranky gitu minta makan. Apalagi dia lihat tuh ada tempat makan ayam crispy yang namanya hampir sama dengan yang punya Kakek berkacamata itu.

Awalnya di dalam mobil, dia nangis minta makan. Tapi, untunglah supirnya pintar juga ngambil hati anak kecil. Selain itu, dia kan paling excited kalau lihat bangunan tinggi. Ya, namanya di Jakarta, di sepanjang jalan banyak banget kan bangunan pencakar langit. Sempat teralihkan sampai tiba di guest house untuk nitip barang dan mandi. Tapi, setelah mandi mungking perutnya udah nge-misscal minta diisi. Jadi, tanpa pikir panjang kita putuskan untuk nyari makan di Stasiun Gambir. Karena pastilah banyak pilihannya.

Nah, karena dari awal sudah kepengen ayam crispy, jadilah mau nggak mau kita masuk tuh ke warung ayam crispy yang ramainya luar biasa. Karena agak sedikt riweuh dengan kakaknya yang nggak sabar minta makan, Pak Suami nggak focus tuh pesan makanan. Alhasil, kita pesan makanan yang lagi dipromoin hadiah payung tapi harganya juga sebanding dengan beli payung itu. Awalnya kesal juga sih, tapi semuanya terobati dengan senyum sumringah seorang ibu tua penjual kopi ketika mendapatkannya. Ya, kami juga nggak bakalan bikin auto riweuh dengan backpackeran bawa payung segede itu.

Ok, kita lanjutin petualangan di ibu kota… Setelah makan, kami pun langsung menuju Monas. Kakaknya senang banget tuh pas nyampe sana. Lari kesana-kemari nggak bisa direm deh. Meskipun kita nggak bisa masuk, karena antrinya ruarrrr biasahhh, tapi kami puas kok bisa ngenalin ikon ibu kota yang satu ini.

Setelah lelah bermain-main di sekitaran Monas, kami pun meluncur menuju Masjid Istiqlal. Ini dia salah satu alasan saya dan suami pingin banget ngajak kakaknya ke Jakarta. Ia memang ngebet banget pengen ke Masjid Istiqlal. Banyak pertanyaan yang ia lontarkan ketika kami sampai di Masjid Istiqlal.

Kami pun melaksanakan sholat dzuhur dan juga ashar di Masjid Istiqlal. Karena kedua anak kami sudah sangat lelah, bahkan kakaknya sempat tertidur di masjid, jadi kami putuskan untuk kembali ke penginapan. Oya, sebelumnya kami mampir ke Rumah Makan Padang untuk makan siang. Posisi rumah makannya dekat penginapan, pas di depannya loh. Masakannya enak, dan yang terpenting harganya bersahabat banget di kantong hehehe…

Setelah perut terisi, kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan. Mata kayaknya udah nggak bisa diajak kompromi. Maklum namanya juga tidur di kereta, pasti nggak bisa senyaman tidur di atas kasur hehehe…

Sangking kelelahannya, kami pun terbangun satu jam sebelum adzan maghrib. Setelah mandi dan sholat, kami pun memutuskan untuk jalan-jalan ke Bundaran HI. Pingin aja merasakan suasana malam di kawasan ini. Oya, kami pun sempat mampir ke Plaza Indonesia, tapi bukan untuk belanja, hanya numpang ke toilet (Maklum bawa batita hehehe…). Setelah itu kami kembali ke penginapan.



Hari kedua… Taraaa… Setelah sarapan nasi uduk yang murah meriah, kami pun siap-siap meluncur ke Jakarta Utara. Yap, Kota Tua. Di hari kedua ini kami memang memutuskan untuk mengunjungi Kota Tua.

Dengan menggunakan KRL, kami pun sampai di Kota Tua sekitar pukul 9 pagi. Kakaknya awalnya sangat menikmati. Ia mau naik sepeda, foto-foto dan lari-lari. Tapi, mood-nya berubah seketika dan langsung cranky.

Masalahnya? Sepele sih, hanya karena kita mengajaknya duduk beristirahat di atas tikar dari plastic yang kami sewa seharga 10ribu rupiah. Anak pertama kami ini memang bersihan tingkat dewa. Ia paling nggak terbiasa dengan sesuatu yang menurutnya tidak bersih. Tapi, ketimbang kebawa emosi, mending didiamin aja alias dicuekin, terus dia capek sendiri, akhirnya memilih berhenti menangis dan kembali bermain dengan adiknya.



Setelah dirasa cukup, akhirnya kami pun memutuskan untuk pulang. Kami harus menjada kondisi anak-anak karena akan melakukan perjalanan ke Bandung esok harinya. Kalau keinginannya mah sih pengen sekalian ke Ancol, tapi kembali lagi jalan-jalan dengan krucil itu nggak boleh egois, dan harus tetap perhatikan kondisi fisik mereka.

Welcome to Bandung

Sebenarnya inti dari perjalanan ini sih pulang kampung ke Bandung. Tapi, kami ingin merasakan sensasi yang berbeda aja. Oya, kami juga sama sekali nggak memberi kabar kalau kami berempat akan silaturahim ke Bandung. Ya, sekali-kali bikin surprise, meskipun saya pribadi agak merasa bersalah karena harus berbohong ketika ditanya kapan pulang.

Kami menggunakan Kereta Api Argo Parahyangan pagi dari Stasiun Gambir. Meskipun kami pakai yang ekonomi, tapi nyaman juga lho. Karena kami berangkat pukul 4 dari penginapan, jadi kakaknya kelaparan. Kami pun membeli makan di kereta. Kami beli satu dan dimakan bertiga. Irit banget? Karena aku dan suami memang berniat makan pas nyampe Bandung saja.

Perjalanan dari pukul 5 pagi, akhirnya kami sampai di Stasiun Bandung pukul 9. Sebenarnya pengen banget ngabarin Kakak buat jemput, tapi niat ngasih kejutan harus tetap terjaga nih. Ya sudah, kami pun memesan taksi online. 

Hanya memakan waktu setengah jam, kami pun sampai di depan rumah. Taraaa... kejutan pun berhasil. Mamah dan Bapak sampai menangis karena tidak menyangka akan kedatangan cucu-cucunya. 

5 hari di kota Bandung pun dimanfaatkan buat kangen-kangenan plus jalan-jalan. Awalnya sih pengen ngajak Kakak Azka ke Masjid Agung Bandung, tapi atas saran kakak, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Balai Kota, Masjid Al-Ukhuwah, dan Gedung Sate. 



Puasss banget rasanya bisa menginjakkan di puncak Gedung Sate. Ah, nggak rugi punya kakak yang kemampuan lobinya sudah level tinggi. Saya pun merasa jadi orang Bandung asli kalau sudah menginjakkan kaki di bagian paling atas gedung tempat kerjanya Pak Ridwan Kamil ini.

Oya, kalau kalian penasaran berapa sih budget yang kami investasikan untuk backpackeran kali ini. Kami menginvestasikan sekitar 7 juta. Itu sudah terhitung semuanya, mulai dari tiket pesawat, tiket kereta api, penginapan, taksi online, dan makan. 

Menurut kami sih, itu sangat normal. Tiket pesawat untuk 3 orang aja sudah cukup lumayan. Apalagi bagi kami yang bawa 2 krucil, yang kadang maunya ada aja, unpredictable gitu. Itulah alasannya kami masih mengatakan pengeluaran ini termasuk normal dari mulai perjalanan Jember - Surabaya - Jakarta - Bandung dan kembali ke Jember. 

Intinya bagi saya dan suami, sebuah perjalanan itu bukan masalah jauh dan seberapa kami menghabiskan uang. Tapi, pelajaran dan kenangan. Ya, dengan melakukan perjalanan bareng pasangan dan juga anak-anak, kami merasakan banyak pelajaran, baik itu yang berhubungan dengan parenting maupun hal lain. Tidak hanya itu, kami merasa kelekatan diantara kami semakin erat. So, travelling is not only about going to somewhere, but with whom and the reason itself. 

Sabtu, 20 April 2019

Berbagi, Tak Akan Membuat Rezeki Kita Terbagi

01.36 1 Comments



“Ibu, Kakak mau sedekah.”

Itulah kalimat yang selalu diucapkan anak pertama saya ketika melihat uang. Tidak jarang ia sedang anteng memasukkan uang belanja yang sengaja saya simpan di rak ke dalam kaleng sedekah shubuh. Atau, dengan tanpa beban, ia masukkan uang pemberian dari siapapun yang ia terima.

Ya, di rumah kami memang sengaja disediakan kaleng sedekah yang biasa kami isi di waktu shubuh. Biasanya setiap sebulan sekali, kami berikan kepada badan amil zakat.

Mendonasikan sebagian rezeki kepada amil ini sudah menjadi kebiasaan sejak awal menikah. Dulu sebelum kami pindah ke kota Jember, kami mempercayakan kepada Dompet Dhuafa.  

Apa yang kami lakukan mungkin tidak seberapa. Apa yang kami sedekahkan juga masih jauh dikatakan banyakbanya. Tapi, semua ini atas dasar tanda syukur dan sebuah pembiasaan. Ya, itulah alasan mengapa saya dan suami melakukan hal ini. Setelah kami menikah, kami baru tahu ternyata salah satu jalan Allah membukakan pintu jodoh adalah sedekah. Ada hal sama yang kami lakukan sebelum kami menikah. Meskipun kami sebelumnya belum pernah saling bertemu. Bahkan kami ngobrol berdua pun ada saat setelah akad.

Tapi, ternyata cara kami untuk minta disegerakan bertemu dengan jodoh hampir sama. Sedekah. Ya, kami sama-sama merayu Allah agar dipertemukan dengan orang yang tepat. Alhamdulillah wa syukurilah… Allah pertemukan kami berdua di saat yang tepat.


Karena asalan itulah, maka sejak awal menikah, kami sepakat untuk merawat kebiasaan sedekah ini. Diawali dari kami menyedekahkan sebagian mas kawin. Bukan karena tidak menghormati pemberian suami, namun saya pribadi memang sudah berniat untuk menitipkan ikatan cinta ini kepada Sang Khalik. Saya ingin lewat doa-doa anak yatim, pernikahan kami senantiasa dilindungi dan diberkahi oleh Allah SWT.

Sharing is caring. Sharing is loving. Rezeki itu seperti air, ketika kita mau mengalirkan air itu, maka manfaatnya akan jauh lebih banyak. Tapi sebaliknya, ketika kita hanya mengendapkannya, maka akan banyak penyakit yang datang. Yap, itulah yang selalu tertanam dalam benak saya dan suami. Ketika kita memberi, maka secara otomatis kita pun akan menerima. Tak perlu menunggu waktu lama, pasti balasannya akan segera kita rasakan.

Saya berbicara tidak sedang mengkhayal ataupun menceramahi siapapun. Tapi, saya sedang berbagi apa yang saya dan suami saya rasakan. Keajaiban atau efek positif dari memberi itu sangat luar biasa.

Sebenarnya kalau dituliskan, banyak sekali yang sudah kami rasakan dari efek berbagi. Tapi, izinkan saya untuk berbagi kisah yang menurut saya benar-benar di luar nalar manusia. Namun, satu hal yang saya tanamkan dalam hati, tulisan ini bukan untuk kecongkakan kami berdua. Saya dan suami hanya ingin berbagi kisah dan semoga bisa menjadi jalan kebaikan bagi semuanya.

  • Disegerakan diberi momongan

Tidak pernah terbayangkan saya dan suami langsung diberi amanah buah hati. Sebuah pernikahan tanpa saling mengenal sebelumnya tentu bukan hal yang mudah untuk saling melebur. Tapi, dengan izin Allah, tanpa harus menunggu lama, Allah menitip janin dalam rahim saya.

  • Ketika Nyawa Dipertaruhkan

Masih berhubungan dengan buah hati. Saat usia kandungan masih 8 bulan, saya mengalami pecah ketuban. Dokter sudah berusaha memberikan suntikan penguat paru janin agar bertahan sampai usia yang pas untuk dilahirkan. Selain itu, ketika di USG, berat badan bayi pun masih belum cukup. Namun, Allah berkehendak lain, 3 jam setelah disuntik, saya mengalami kontraksi yang luar biasa tapi belum ada pembukaan satu pun. Dan, tepat pada pukul 21.55, saya langsung mengalami pembukaan sepuluh dan bayi pun lahir. Alhamdulillah… Ternyata prediksi dokter semuanya meleset. Awalnya saya diperkirakan tidak selamat karena biasanya dengan terjadinya pembukaan sepuluh langsung, maka si ibu akan mengalami pendarahan hebat. Tapi, Alhamdulillah, saya tidak mengalaminya.

Yang kedua, anak yang terlahir di usia kandungan 8 bulan, ia dikatakan premature dengan berat badan rendah dan biasanya harus masuk incubator. Saya kembali bersyukur, ia terlahir dengan kondisi normal dan sehat. Bahkan kami bisa pulang ke rumah keesokan harinya.

  • Nyawa Ketiga

Tepat seminggu setelah lahir, anak pertama saya divonis kadar bilirubinnya tinggi. Pertanyaan dokter saat itu, apa mau dirawat di Rumah Sakit (disinar) atau mau diberikan treatment di rumah saja. Saya dan suami memilih opsi kedua. Kami kembali merayu Allah, agar diberikan yang terbaik. Alhamdulillah, dua minggu kemudian, buah hati kami dinyatakan sehat.

  • Nyawa Keempat

Inilah ujian yang luar biasa berta bagi saya dan suami. Ketika kesehatan buah hati kami kembali diuji. Ia divonis aspirasi ASI. Saat itu, usianya baru 1 bulan. Rasanya tak tega melihat ia masuk ruang NICU dan kami hanya diberi kesempatan mengunjunginya 2 kali sehari. Keyakinan dan kesabaran kami kembali diuji. Saya dan suami tak pernah lelah merayu Allah setiap saat. Kembali lagi, Allah begitu baik kepada kami, buah hati kami hanya 5 hari dirawat. Itu semua bahkan diluar prediksi dokter dan perawat. Proses penyembuhan sangat signifikan dan membuat semua dokter dan perawat kagum dan merasa aneh. Tidah hanya itu, tiga hari setelah keluar dari Rumah Sakit, ia kami bawa perjalanan jauh Cimahi – Lumajang – Jember menggunakan kereta api dan dilanjutkan dengan mobil, karena memang kami harus pindah ke kota tersebut. Alhamdulillah ia tetap sehat.

Itu hanyalah sedikit kejadian dari banyak kejadian yang kami alami. Terkadang efek bersedekah membuat kami sendiri tidak percaya. Apa yang awalnya kami nilai tidak mungkin, ternyata bisa kami dapatkan dengan mudah.

Nggak perlu takut miskin atau hidup kekurangan dengan kita berbagi. Tapi, yakinlah akan janji Allah. Kami berdua merasakan rezeki itu seperti diantar, baik itu rezeki materi maupun rezeki berupa kesehatan dan lain-lain.

Saya dan suami selalu mengatakan ketika kita bersedekah, itu sama saja dengan kita berasuransi kepada Allah. Nggak perlu hitung-hitungan, karena pasti Allah pun akan membalasnya, bahkan tanpa kita minta. Kalkulator Allah jauh lebih paham akan kebutuhan makhluk-nya.


Intinya, yang jauh lebih penting itu apa yang kita berikan itu harus benar-benar diikhlaskan. Kita hanya tinggal berdoa dan menjaga ucap serta perilaku setelah melakukan sedekah, setelah itu biarkan semesta mendukung melangitkan apa ingin kita. Saya dan suami percaya, dengan berbagi, rezeki kita tak akan terbagi. 


"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa."