Sabtu, 02 Maret 2019

Kepincut Lagi Nasi Pecel Pincuk




“Neng, besok mau ikut pengawasan ke Silo?” tanya Pak Suami.

Ah, sebenarnya Pak Suami nggak perlu nanya sih. Ya iyalah pasti istrinya ini nggak bakalan nolak. Sebagai aktivis kuliner, mendengar kata Silo pastilah yang terbayang pemandangan yang asyik dan tentu saja pecel pincuknya juga hehehe…

Akhirnya Sabtu pagi, 101 team berangkat deh. Ini bukan kali pertama sih kami berempat bermotor ria dengan jarak yang agak lumayan jauh dari rumah. Alhamdulillah 2 anak hebat nggak riweuh diajak motor-motoran, malah mereka sangat enjoy di jalan.

Kalau saya sendiri selalu suka dengan pemandangan menuju Silo. Udara yang dingin, sawah yang membentang diselingi hutan pinus, dan sesekali melihat aliran air sungai, membuat perjalanan tidak terasa jauh. Bahkan perut keroncongan karena belum sarapan pun tidak menjadi masalah.

Kurang lebih 1 jam, akhirnya kami bertemu dengan dua petugas Pak Suami. Meskipun tujuan utamanya melakukan pengawasan survey. Tapi, sepertinya nggak komplit kalau ke Silo nggak mencicipi Pecel Pincuknya. Jadi, sebelum melakukan tugas utama, kami pun meluncur ke tempat makan terlebih dulu.


Pecel Pincuk Garahan. Ini kali kedua saya mencicipi salah satu makanan khas Bumi Pendhalungan. Dulu, saya juga sempat mencoba makanan yang membuat saya langsung jatuh cinta. Rasanya yang langsung bersahabat membuat lidah selalu menagih untuk menikmatinya lagi.

Oya, Nasi Pecel Pincuk Garahan ini bisa ditemui di jalan perbatasan Jember – Banyuwangi, tepatnya di sepanjang jalan Gunung Gumitir, Garahan, Silo. Kalau kita mau melakukan perjalanan ke Banyuwangi lewat jalur darat, pasti kita bakalan melihat warung-warung nasi pecel pincuk Garahan yang berjejer di sepanjang jalan.

Mungkin ada yang nanya, kenapa sih namanya Nasi Pecel Pincuk? Yap, karena memang nasi dan pecelnya disajikan dalam pincuk (daun pisang yang dilipat seperti kerucut). Tapi, jangan khawatir tumpah lho, karena dikasih alas piring juga, kok.

Oya, isi dari pecelnya sih sama saja dengan pecel kebanyakan, ada tauge, genjer, dan pepaya muda, lalu disiram dengan bumbu kacang. Kalau soal rasa pedas, itu sih sesuai dengan selera. Kita pun bisa menambahkan lauk pauk yang lainnya sesuai dengan selera, seperti telur, daging ayam, rampelo ati, dan dendeng daging sapi atau dikenal dengan sebutan dendeng ragi. Tapi kalau tempe dan tahu dan kerupuk sih sudah include di menu pecelnya. 

Oya, ada yang unik di warung-warung Nasi Pecel Pincuk Garahan ini, lho. Kita bakalan menemukan nomor terpampang di dinding setiap warung. Jadi, kita tinggal menentukan mau makan di warung nomor berapa.

Nah, seperti yang saya ceritakan di awal, kami dating bersama dua orang petugas yang memang asli orang Silo. Pak Suami meminta mereka memberikan merekomendasikan tempat makan yang enak. Mereka pun menunjukkan warung nomor 27. Oya, kalau dulu, saya dan suami pernah mencicipi Pecel Pincuk di warung nomor 23.

Kalau kalian penasaran dengan rasanya? Hmmm… Rasanya enak banget lho. Bumbunya khas dan berbeda dengan bumbu pecel pada umumnya. Tapi, kalau boleh membandingkan, lidah saya lebih bersahabat dengan racikan bumbu di warung nomor 23. But, that’s my opinion. Tentu saja setiap orang punya pilihan masing-masing. Jadi, kamu tinggal pilih juga mau nyoba makan di warung nomor berapa.

Oya, porsinya gimana? Kembali lagi saya kasih perbandingan ya. Kalau di warung nomor 23 tuh porsing lumayan banyak, saat itu saya dan suami hanya memesan satu dan sudah membuat kami cukup kenyang. Kalau di warung nmor 27 ini, porsinya masih normal, kok.

Terus harganya? Tenang...tenang... jangan khawatir dengan harga. Harganya hampir sama di setiap warung, kok. Mau makan di nomor berapa aja, harganya masih ramah di kantong. Pokoknya perut kenyang, hati tenang hehe...

Oya, warung nasi pecel pincuk ini rata-rata buka mulai dari pukul 04.30 – 22.00. Pokoknya bisa jadi pilihan buat sarapan, makan siang maupun makan malam. Tempatnya juga nyaman kok, lesehan gitu, jadi bisa sambil meluruskan kaki setelah perjalanan panjang, lho.

Pokoknya, kalau kamu-kamu melewati jalan perbatasan Jember – Banyuwangi, jangan lupa singgah di warung pecel pincuk. Kita bisa memilih dimana saja untuk menikmati sepiring nasi pecel atau sekadar ngopi dan makan cemilan. Rasakan sensasi pecel pincuk yang dinikmati di pinggiran jalan dengan suasana hutan pinus dan udara yang dingin. Yakin deh, kamu- kamu bakalan kepincut nasi pencel pincuk khas Garahan ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar