Minggu, 14 April 2019

Backpackeran Bareng Balita dan Baduta (Part 1)




Backpackeran? Siapa takut. Itu yang terlintas ketika paksu menawarkan untuk mencoba backpackeran. Ada dua pilihan, Batu – Jogjakarta atau Jakarta – Bandung. Ah, malaikat juga tahu saya bakalan pilih mana hehehe… Secara sudah hampir setahun nggak pulang kampung, pastilah saya pilih Jakarta – Bandung.

Seminggu sebelum berangkat, kami berdua mulai mempersiapkan semuanya. Tapi, jujur saja, persiapan itu lebih ke obrolan, karena kita berdua mah gitu orangnya. Seminggu sebelumnya itu kita lebih ke searching tiket sih. Ya, nyari-nyari tiket murah, banding-bandingin antara pesawat atau kereta. Maklum kita berdua lihat dari berbagai sisi juga.

Setelah diskusi, kami pun memutuskan untuk berangkat menggunakan kereta api dan pulangnya menggunakan pesawat. Sebenarnya ada plus minus sih menggunakan kereta api, apa aja? Nanti deh kita berdua bakalan bahas satu persatu ya…

The D-Day is coming. Sabtu, 22 Desember pukul 8.30, kami berempat berangkat menuju stasiun Jember. Rencananya sih mau berangkat pukul 8.00, tapi maklum kita harus menyesuaikan dengan psikologis dua krucil yang tidak bisa dipaksa dan diburu-buru. Untunglah, kami bisa tiba di stasiun 15 menit sebelum kereta api datang.



09.00, kereta api mulai melaju menuju Surabaya. Perjalanan 4 jam di kereta. It’s the first time untuk anak kedua kami. Sempat khawatir dia bakalan rewel di kereta, tapi Alhamdulillah dia malah menikmati dan tersenyum terus karena banyak yang godain hehehe… (hadeuhhh…nih anak memang suka tebar pesona…). Kalau kakaknya sih sudah teruji dibawa jalan jauh, di usia 1 bulan saja sudah naik kereta, dan di usia tepat 2 tahun, semua moda transportasi sudah ia coba. Pokoknya dia mah traveller sejati.

  
Ok, kembali ke cerita travelling kami. Perjalanan menuju Surabaya tidak menemukan kendala apapun. Dua anak hebat masih bisa kendalikan. Tepat pukul 13.30 kami sampai di Stasiun Gubeng.

Nah, di sini nih yang bikin kami harus muter otak. Kami mulai atur waktu dengan kondisi stasiun dan juga anak-anak. Karena mushola berada di dalam, jadi kami putuskan untuk makan terlebih dahulu. Setelah makan, kami langsung masuk kembali ke stasiun dan bergantian ke mushola. Karena anak-anak tidak terbiasa panas, jadi dengan gerak cepat, kakaknya dimandikan ayahnya dan adiknya saya seka.

Menurut kami, ini penting banget, menjaga kenyamanan anak-anak. Karena kalau sampai mereka kepanasan dan nggak nyaman, otomatis bawaannya rewel. Jadi, kita harus ngalah riweuh sedikit yang penting nggak bikin mereka bad mood.

Oya, seandainya di Stasiun Gubeng itu seperti di Bandara, ada ruang lakatasi dan juga ada kamar mandinya, jadi kita bisa jauh lebih nyaman melakukan perjalanan. Dua fasilitas ini seperti sederhana, tapi bagi para traveller penting banget lho. Bahkan kemarin itu, saya menyeka anak saya yang masih bayi di mushola. Meskipun saya sadar itu kurang sopan, tapi tidak ada lagi tempat yang lebih nyaman untuk bayi. Dan, cara saya ini ternyata diikuti dua orang ibu yang sama-sama kebingungan untuk mengganti popok anaknya.

Satu lagi yang seharusnya menjadi perhatian pihak Stasiun Gubeng, mushola. Kalau boleh nih saya kasih saran, siapa tahu ada yang baca dari pihak terkait, agar musholanya bisa lebih nyaman. Saya tidak menuntut untuk diperbesar, tapi mungkin lebih terawat lagi.

Ok, kembali ke cerita saya ya… Tepat pukul 3 sore, kami berempat check in. Dan, tidak berapa lama, kereta pun tiba. Taraaa… Wah, ternyata keretanya nyaman banget. Tempat duduknya enak, nggak sumpek, dan AC-nya nggak abal-abal. Dan, keuntungan kami saat itu, perjalanan dari Surabaya hingga Jawa Tengah, penumpang masih sepi, jadi leluasa deh bisa tidur-tiduran.



Sebenarnya jujur saja, saya dan suami agak sedikit khawatir untuk perjalanan panjang dari Surabaya ke Jakarta. Kami takut kakaknya bakalan cranky dan adiknya tidak terbiasa tidur di kereta. Tapi, Alhamdulillah… perjalanan pun bisa terlewati dengan menyenangkan. Si kakak dan adiknya bisa tidur pulas. Kakaknya bangun pas di daerah Jawa Tengah karena ada penumpang yang mau duduk di sebelahnya. Sempat bad mood sih, tapi bisa teralihkan dengan disuapin makan dan akhirnya tidur lagi sampai kereta mau berhenti di Stasiun Pasar Senen.

bersambung ke postingan berikutnya ya... :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar