Sabtu, 20 April 2019

Berbagi, Tak Akan Membuat Rezeki Kita Terbagi




“Ibu, Kakak mau sedekah.”

Itulah kalimat yang selalu diucapkan anak pertama saya ketika melihat uang. Tidak jarang ia sedang anteng memasukkan uang belanja yang sengaja saya simpan di rak ke dalam kaleng sedekah shubuh. Atau, dengan tanpa beban, ia masukkan uang pemberian dari siapapun yang ia terima.

Ya, di rumah kami memang sengaja disediakan kaleng sedekah yang biasa kami isi di waktu shubuh. Biasanya setiap sebulan sekali, kami berikan kepada badan amil zakat.

Mendonasikan sebagian rezeki kepada amil ini sudah menjadi kebiasaan sejak awal menikah. Dulu sebelum kami pindah ke kota Jember, kami mempercayakan kepada Dompet Dhuafa.  

Apa yang kami lakukan mungkin tidak seberapa. Apa yang kami sedekahkan juga masih jauh dikatakan banyakbanya. Tapi, semua ini atas dasar tanda syukur dan sebuah pembiasaan. Ya, itulah alasan mengapa saya dan suami melakukan hal ini. Setelah kami menikah, kami baru tahu ternyata salah satu jalan Allah membukakan pintu jodoh adalah sedekah. Ada hal sama yang kami lakukan sebelum kami menikah. Meskipun kami sebelumnya belum pernah saling bertemu. Bahkan kami ngobrol berdua pun ada saat setelah akad.

Tapi, ternyata cara kami untuk minta disegerakan bertemu dengan jodoh hampir sama. Sedekah. Ya, kami sama-sama merayu Allah agar dipertemukan dengan orang yang tepat. Alhamdulillah wa syukurilah… Allah pertemukan kami berdua di saat yang tepat.


Karena asalan itulah, maka sejak awal menikah, kami sepakat untuk merawat kebiasaan sedekah ini. Diawali dari kami menyedekahkan sebagian mas kawin. Bukan karena tidak menghormati pemberian suami, namun saya pribadi memang sudah berniat untuk menitipkan ikatan cinta ini kepada Sang Khalik. Saya ingin lewat doa-doa anak yatim, pernikahan kami senantiasa dilindungi dan diberkahi oleh Allah SWT.

Sharing is caring. Sharing is loving. Rezeki itu seperti air, ketika kita mau mengalirkan air itu, maka manfaatnya akan jauh lebih banyak. Tapi sebaliknya, ketika kita hanya mengendapkannya, maka akan banyak penyakit yang datang. Yap, itulah yang selalu tertanam dalam benak saya dan suami. Ketika kita memberi, maka secara otomatis kita pun akan menerima. Tak perlu menunggu waktu lama, pasti balasannya akan segera kita rasakan.

Saya berbicara tidak sedang mengkhayal ataupun menceramahi siapapun. Tapi, saya sedang berbagi apa yang saya dan suami saya rasakan. Keajaiban atau efek positif dari memberi itu sangat luar biasa.

Sebenarnya kalau dituliskan, banyak sekali yang sudah kami rasakan dari efek berbagi. Tapi, izinkan saya untuk berbagi kisah yang menurut saya benar-benar di luar nalar manusia. Namun, satu hal yang saya tanamkan dalam hati, tulisan ini bukan untuk kecongkakan kami berdua. Saya dan suami hanya ingin berbagi kisah dan semoga bisa menjadi jalan kebaikan bagi semuanya.

  • Disegerakan diberi momongan

Tidak pernah terbayangkan saya dan suami langsung diberi amanah buah hati. Sebuah pernikahan tanpa saling mengenal sebelumnya tentu bukan hal yang mudah untuk saling melebur. Tapi, dengan izin Allah, tanpa harus menunggu lama, Allah menitip janin dalam rahim saya.

  • Ketika Nyawa Dipertaruhkan

Masih berhubungan dengan buah hati. Saat usia kandungan masih 8 bulan, saya mengalami pecah ketuban. Dokter sudah berusaha memberikan suntikan penguat paru janin agar bertahan sampai usia yang pas untuk dilahirkan. Selain itu, ketika di USG, berat badan bayi pun masih belum cukup. Namun, Allah berkehendak lain, 3 jam setelah disuntik, saya mengalami kontraksi yang luar biasa tapi belum ada pembukaan satu pun. Dan, tepat pada pukul 21.55, saya langsung mengalami pembukaan sepuluh dan bayi pun lahir. Alhamdulillah… Ternyata prediksi dokter semuanya meleset. Awalnya saya diperkirakan tidak selamat karena biasanya dengan terjadinya pembukaan sepuluh langsung, maka si ibu akan mengalami pendarahan hebat. Tapi, Alhamdulillah, saya tidak mengalaminya.

Yang kedua, anak yang terlahir di usia kandungan 8 bulan, ia dikatakan premature dengan berat badan rendah dan biasanya harus masuk incubator. Saya kembali bersyukur, ia terlahir dengan kondisi normal dan sehat. Bahkan kami bisa pulang ke rumah keesokan harinya.

  • Nyawa Ketiga

Tepat seminggu setelah lahir, anak pertama saya divonis kadar bilirubinnya tinggi. Pertanyaan dokter saat itu, apa mau dirawat di Rumah Sakit (disinar) atau mau diberikan treatment di rumah saja. Saya dan suami memilih opsi kedua. Kami kembali merayu Allah, agar diberikan yang terbaik. Alhamdulillah, dua minggu kemudian, buah hati kami dinyatakan sehat.

  • Nyawa Keempat

Inilah ujian yang luar biasa berta bagi saya dan suami. Ketika kesehatan buah hati kami kembali diuji. Ia divonis aspirasi ASI. Saat itu, usianya baru 1 bulan. Rasanya tak tega melihat ia masuk ruang NICU dan kami hanya diberi kesempatan mengunjunginya 2 kali sehari. Keyakinan dan kesabaran kami kembali diuji. Saya dan suami tak pernah lelah merayu Allah setiap saat. Kembali lagi, Allah begitu baik kepada kami, buah hati kami hanya 5 hari dirawat. Itu semua bahkan diluar prediksi dokter dan perawat. Proses penyembuhan sangat signifikan dan membuat semua dokter dan perawat kagum dan merasa aneh. Tidah hanya itu, tiga hari setelah keluar dari Rumah Sakit, ia kami bawa perjalanan jauh Cimahi – Lumajang – Jember menggunakan kereta api dan dilanjutkan dengan mobil, karena memang kami harus pindah ke kota tersebut. Alhamdulillah ia tetap sehat.

Itu hanyalah sedikit kejadian dari banyak kejadian yang kami alami. Terkadang efek bersedekah membuat kami sendiri tidak percaya. Apa yang awalnya kami nilai tidak mungkin, ternyata bisa kami dapatkan dengan mudah.

Nggak perlu takut miskin atau hidup kekurangan dengan kita berbagi. Tapi, yakinlah akan janji Allah. Kami berdua merasakan rezeki itu seperti diantar, baik itu rezeki materi maupun rezeki berupa kesehatan dan lain-lain.

Saya dan suami selalu mengatakan ketika kita bersedekah, itu sama saja dengan kita berasuransi kepada Allah. Nggak perlu hitung-hitungan, karena pasti Allah pun akan membalasnya, bahkan tanpa kita minta. Kalkulator Allah jauh lebih paham akan kebutuhan makhluk-nya.


Intinya, yang jauh lebih penting itu apa yang kita berikan itu harus benar-benar diikhlaskan. Kita hanya tinggal berdoa dan menjaga ucap serta perilaku setelah melakukan sedekah, setelah itu biarkan semesta mendukung melangitkan apa ingin kita. Saya dan suami percaya, dengan berbagi, rezeki kita tak akan terbagi. 


"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar