Senin, 06 Mei 2019

Ngabuburit, Apakah Tradisi Ini Harus Ditinggalkan?




Ngabuburit. Mendengar kata itu, pikiran saya selalu kembali ke masa kecil dulu. Bagi saya kenangan ngabuburit saat masih kecil dulu sulit sekali terhapus.

Saat itu usia saya masih sangat kecil, 4 atau 5 tahun. Ya, saya memang sudah diajarkan puasa sejak usia 4 tahun. Tidak ada aiming-iming hadiah yang mahal. Tapi, ajakan untuk ngabuburit selalu membuat saya bersemangat untuk berpuasa sampai maghrib.

Bukan ke tempat rekreasi atau pusat perbelanjaan. Saat itu, Bapak selalu mengajak saya untuk berkeliling menggunakan motor vespa sambil menunggu adzan maghrib. Sebuah aktivitas sederhana namun tersimpan rapih dalam folder kenangan saya.

Ya, bagi anak-anak tentu saja menahan makan dan minum itu tidak mudah, apalagi di waktu rawan sore hari. Saat mulut dan perut menagih untuk diisi apalagi aroma masakan mulai tercium dari dapur, ah sebuah perjuangan untuk menamatkan puasa.

Berjalan-jalan atau sekadar berkelilig, memang setidaknya bisa melupakan rasa lapar dan haus. Bagi saya, itu sangat bisa diandalkan.

Kebiasaan ngabuburit seakan-akan menjadi sebuah tradisi yang tidak bisa dipisahkan dengan bulan puasa. Bahkan tradisi ini pun akhirnya memberi ide kepada orang-orang untuk menjadikannya lahan bisnis baru. Kita bisa lihat banyak sekali penjual makanan dan minuman untuk berbuka. Mereka memanfaatkan orang-orang yang sedang ngabuburit. Menurut saya, itu sebuah ide yang cerdas.

Lalu, apakah ngabuburit itu sebuah pekerjaan yang sia-sia? Hmmm… Kalau menurut saya, ngabuburit tidak bisa sepenuhnya dikatakan perbuatan yang sia-sia. Kita bisa melihat dari berbagai sisi. Maksudnya?

Ya, ketika momen ngabuburit itu diisi dengan kegiatan positif, why not? Ngabuburit kan sekadar istilah, yang terpenting adalah esensi dari momen tersebut. Misalkan di waktu ngabuburit, kita menghadiri kajian, atau mengajak si kecil melihat keindahan alam sambil menghubungkannya dengan nilai-nilai Islami atau mungkin bagi yang senang berbisnis, kita memanfaatkan momen untuk menjual penganan berbuka. Itu semua hal positif yang bisa dilakukan dan membuat puasa kita jauh lebih bermakna.

Tapi, ngabuburit juga bisa bernilai negatif dan sia-sia ketika hanya diisi dengan jalan-jalan, nongkrong atau bahkan bergosip ria sambil menunggu adzan maghrib. Naudzubillah… Tanpa sadar, puasa kita hanya sebatas menahan lapar dan haus.

Intinya, bukan ngabuburitnya yang harus dipermasalahkan, tapi aktivitas apa yang kita lakukan pada saat ngabuburit tersebut. Karena kembali lagi, ngabuburit hanya sebuah istilah dan tradisi. Sebuah tradisi, jika itu baik dan memberikan nilai positif maka tak perlu kita tentang. Namun, jika tradisi itu sudah merusak nilai-nilai keimanan dan keislaman kita, maka tinggalkanlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar