Jumat, 28 Juni 2019

Menantang Diri

10.40 0 Comments



Pernah nggak sih merasa ada yang berubah setelah menikah? Hmmm… Kalau saya sih merasa banget banyak perubahan setelah menikah. Dari mulai kegiatan harian sampai mungkin perubahan kebiasaan, karakter, atau bahkan fisik ya? Ups… Nggak usah baper ah buibu…

Eh, tapi serius nih, saya pingin cerita, ada banyak yang awalnya saya pikir nggak mungkin saya lakukan, tapi ternyata sekarang malah biasa saya lakukan. Tentu saja bukan urusan pekerjaan rumah, karena dari sejak kecil saya tuh termasuk morning person yang based on schedule banget. Semuanya harus beres sesuai dengan SOP, kalau nggak sesuai rasanya nggak enak dan terasa ada yang kurang.

Tapi, ini juga kadang bisa jadi masalah juga sih, karena berbeda dengan paksu. Kalau saya punya moto, “Don’t wait till tomorrow what you can do today.” Nah, kalau paksu motonya, “Apa kata besok aja. Dikipir sambil jalan saja.”

Itu juga sebenarnya tantangan banget bagi si melankolis plegmatis bergolongan darah A. Mau ngomong nggak enak, tapi kalau didiemin juga jadi nggak tenang karena pekerjaan tidak sesuai dengan jadwal. Sedangkan paksu yang koleris sanguinis bergolongan darah O, terkadang nggak ambil pusing dengan semua itu. Awalnya sih sempat salah paham. Tapi, sekarang-sekarang, sudah saling paham dengan karakter masing-masing. Kuncinya komunikasikan satu sama lain, dan mencoba memahami bahwa kita memiliki karakter dan juga lingkungan pembentuk sebelumnya yang berbeda.

Tantangan yang mungkin receh banget bagi sebagian orang, tapi bagi saya butuh effort yang luar biasa. It’s the first challenge when I got married, minum teh manis. Ah, rasanya gimana gitu harus minum teh manis dan setelah makan juga. Jangankan setelah makan, kalau disuguhin di tempat private aja, harus meng-hipno diri sendiri biar bisa masuk ke mulut. Nah, apa kabar kalau diminum abis makan? Aduh jangan tanya deh, awalnya perut langsung nolak dan semua yang dimakan pingin keluar lagi. Tapi, seiring berjalannya waktu, lidah sudah mulai mengkonfirmasi permintaan pertemanan dari si teh manis ini.

Tantangan berikutnya dari paksu, makan durian. Adeeuuh… durian itu merupakan buah satu-satunya yang nggak ada di kamus kehidupan seorang Neng Intan. Jangankan makan, lewat di depan orang jualannya atau nyium baunya aja, langsung deh perut kontraksi tuh. Sampai-sampai orang rumah menahan nafsu untuk makan durian gara-gara nggak mau kena marah di adik bungsunya ini hehehe… Eits, tapi setelah menikah, paksu menantang untuk makan buah yang katanya buah terenak ini. Agak ragu, tapi maklum paksu kan alumni MLM, jadi urusan memengaruhi orang mah, nggak ada duanya. Akhirnya setelah mencoba satu gigitan, saya minta nambah, dan sekarang durian is one of my favourite fruits. J

Tantangan ketiga, makanan jajanan tradisional yang manis. Aduh, mungkin karena saya USA (Urang Sunda Asli) jadi lidahnya tuh suka sama yang asin atau gurih-gurih gitu. Terus, mungkin saya sadar diri, kalau udah manis jadi nggak usah terlalu banyak manis-manis nanti khawatir diabetes hehehe… #DiIyainAJa J Nah, setelah menikah, saya dibujuk setengah dipaksa atau bahasa halus dan bijaknya ditantang untuk mencoba jajanan pasar yang berasa manis. Kembali lagi, awalnya tutup mulut, nyoba sedikit. Tapi, jangan tanya sekarang, semuanya bisa jadi sahabat tuh di mulut si Neng ini.

Ok, ini dia tantangan yang menurut saya bukan receh. Ini pertaruhan harga diri, Bung! Nyobain Roller Coaster. Wow… sejak tahu ada arena bermain yang ada roller coaster-nya di Jember, paksu beberapa kali nantangin buat naik. Tapi, saya selalu berhasil mengelak dengan alasan, anak-anak nggak ada yang jagain. Kembali lagi, orang lulusan MLM mah kalau belum ‘closing’ rasanya belum puas. Kesempatan pun datang, anak-anak bisa dititipin sebentar ke ibu mertua sama kakak ipar. Akhirnya, saya harus pasrah menerima tantangan itu. Daaan… berhasil! Rasanya? Biasa aja #Jaim J

Satu hal yang saya belajar dari tantangan-tantangan yang diberikan dari paksu, nothing is impossible, everything is possible. Selama ini saya sendiri yang membuat banteng pikiran dan menjadikan saya tidak suka atau menghindar. Aduh, kok saya jadi bijak ya? Apa karena efek diputar-putar roller coaster, jadi otak lebih jernih? Atau efek di’prospek’ terus sama alumni MLM? Hehehe…

Tapi, saya pribadi sih suka kalau diberi tantangan, dan pantang untuk mengalah. Ingat ya, golongan darah A itu selalu ingin terlihat sempurna di depan orang. Mau ditantangin apa aja, insya Allah saya siap. Mau backpackeran ke Jogja atau sekalian luar negeri juga, hayu… Percaya deh, saya nggak akan nolak. #KodeKeras

Bagi saya sih tantangan-tantangan seperti itu mah belum seberapa dibanding tantangan hidup saya. Eh… Curcol, Bu… J Tapi, satu hal yang paling penting, jangan pernah kasih Neng tantangan perasaan dan pikiran ya, itu berat, Neng nggak akan kuat, biar orang lain saja hehehe…