Selasa, 03 September 2019

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini Di Era Digital



Anak Usia Dini
Berbicara tentang anak usia dini, tentu muncul pertanyaan, usia berapa sih dikatakan anak usia dini itu?
Pemerintah melalui UU Sisdiknas mendefinisikan anak usia dini adalah anak dengan rentang usia 0-6 tahun. Tapi, tentu saja ada beberapa perbedaan tentang definisi ini menurut ahli. Ada yang menyebutkan anak usia dini itu dimulai sejak 3-6 tahun. Ada juga yang menyebutkan rentang usia dari lahi sampai 8 tahun.

Meskipun ada sedikit perbedaa tentang rentang usia, tapi intinya, anak usia dini itu berarti anak yan berada pada masa emas (golden age). Pada masa tersebut, orang tua jangan sampai kehilangan momen untuk memasukkan file-file positif ke  alam bawah sadar anak. Masa dimana otak akan mudah menerima informasi apapun.


Karakter Anak Usia Dini



Setiap manusia itu unik. Setiap dari kita terlahir dengan sifat dan pembawaan yang berbeda-beda. Begitu pun anak-anak. Mereka bukanlah orang dewasa bertubuh kecil. Anak-anak ya anak-anak, jangan samakan mereka dengan kita orang dewasa.

Setiap jenjang usia memiliki karakter atau ciri yang berbeda-beda. Dengan mengenalinya, kita akan bisa memberikan perlakuan yang sesuai dengan usianya. Nah, untuk anak usia dini ini memiliki beberapa karakter yag harus kita kenali dan pahami sebagaimana dikutip dari www.dosenpsikologi.com, diantaranya:
  • Memiliki rasa keingintahuan yang besar
  • Memiliki pribadi yang unik
  • Berpikir konkrit
  • Egosentris
  • Senang berfantasi dan berimajinasi
  • Aktif dan Energik
  • Berjiwa petualang
  • Belajar banyak hal menggunakan tubuh
  • Memiliki daya konsentrasi yang pendek
  • Bagian dari makhluk sosial
  • Spontan
  • Mempunyai semangat belajar tinggi
  • Kurangnya pertimbangan
  • Masa belajar yang paling potensial
  • Mudah sekali frustasi


Itulah 15 karakter yang dimiliki anak usia dini. Dari kelima belas karakter tersebut, sudah sangat jelas kalau mereka itu sama sekali tidak sama dengan orang dewasa. Dengan karakter yang berbeda tersebut, tentu saja kita paun harus memperlakukannya dengan cara yang berbeda, termasuk pada pola pendidikan dan pengasuhan.


Pendidikan Anak Usia Dini



Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmanidan rohani agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.


Seberapa penting pendidikan anak usia dini?



Sangat penting. Ya, kalau ditanya seberapa penting, pastinya sangat penting. Bahkan pendidikan anak itu bukan hanya dimulai sejak anak itu lahir, idealnya pendidikan itu dimulai dari dalam perut ibu. Banyak penelitian yang menyebutkan, ada efek yang luar biasa ketika calon jabang bayi sudah ‘dididik’ sejak dalam kandungan.

Berbicara tentang pendidikan anak, memang tidak bisa dilakukan dengan instan. Ada proses yang dijalani untuk membangun karakter positif dan kecerdasan anak. Mendidiknya sejak dini, tentu saja akan memberikan dampak positif yang luar biasa.

Ada satu hal yang perlu digarisbawahi di sini, mendidika anak bukan hanya harus di bangku sekolah. Kembali lagi peran orang tua terutama ibu sangat penting untuk pendidikan anak usia dini. Perlu kita akui bersama, sekolah pertama seorang anak adalah rumahnya dan guru pertamanya adalah ibu dan ayahnya.

Haruskah memasukkan Anak ke Sekolah di Usia Dini?



Sebuah pertanyaan yang pastinya sering kita dengar. Sebagian orang tua merasa anaknya harus dan wajib masuk PAUD sebelum dilanjut ke TK. Tapi, sebagian yang lain memilih untuk memulai memasukkan anaknya di usia TK. Lalu, mana yang lebih baik?

Jawabannya tergantung kondisi dan pemahaman masing-masing. Bagi orang tua yang dua-duanya bekerja, menyekolahkan anak mungkin menjadi solusi terbaik. Tapi, tentu saja harus benar-benar cermat dalam memilih sekolah untuk anak usia dini.

Kita lihat kembali karakter anak usia dini itu seperti apa. Bagi anak usia dini, yang terpenting adalah pembentukan karakter. Satu hal lagi yang perlu diingat, dunia mereka adalah bemain. Jangan pernah memaksakan anak usia dini untuk belajar dengan cara orang dewasa. Dan, jangan menuntut pencapaian hanya untuk mengejar prestasi dan prestise.


Setiap Anak Itu Cerdas



“Wah, anakmu cerdas ya, nilai matematikanya bagus.”
“Aduh, anakku ini kalau di kelas sukanya ngobrol aja, kalau di suruh menghafal aja susahnya minta ampun.”

Pernah nggak kita mendengar curhatan plus ocehan emak-emak seperti di atas? Atau, jangan-jangan, kita sendiri yang mengucapkan kata-kata itu?

Stop! Ya, mulai sekarang berhentilah menghakimi anak dengan pengertian kecerdasan yang masih kolot. Berhenti juga membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lain. Setiap anak itu unik. Setiap anak itu cerdas.

Menurut Howad Gardner, psikolog kognitif dan ko-direktur Project Zero di Universitas Harvard, menyebutkan ada 8 jenis kecerdasan, diantaranya:
  • Spasial-Visual

Berpikir dalam citra dan gambar. Kata kunci yang berhubungan dengan kecerdasan ini: menggambar, mensketsa, mencorat-coret, visualisasi, citra, grafik, desain, tabel, seni, video, film, ilustrasi.  

  • Linguistik-Verbal

Berpikir dalam kata-kata. Kata kunci yang berhubungan dengan kecerdasan ini: kata-kata, berbicara, menulis, bercerita, mendengarkan, buku, kaset, dialog, diskusi, puisi, lirik, mengeja, bahasa asing, surat, e-mail, pidato, makalah, esai.

  • Interpersonal

Berpikir lewat berkomunikasi dengan orang lain. Kata kunci yang berhubungan dengan kecerdasan ini: Memimpin, mengorganisasi, berinteraksi, berbagi, menyayangi, berbicara, sosialisasi, manupulasi, menjadi pendamai, permainan kelompok, klub, teman-tema, kelompok kerja sama.

  • Musikal-Ritmik

Berpikir dalam irama dan melodi. Kata kunci yang berhubungan dengan kecerdasan ini: Menyanyi, bersenandung, mengetuk-ngetuk, irama, melodi, kecepatan, warna nada, alat musik, irama.

  • Naturalis

Berpikir dalam acuan alam. Kata kunci yang berhubungan dengan kecerdasan ini: Jalan-jalan di alam terbuka, berinteraksi dengan binatang, pengategorian, menatap bintang, meramal cuaca, simulasi, penemuan.

  • Badan-Kinestetik

Berpikir melalui sensasi dan gerakan fisik. Kata kunci yang berhubungan dengan kecerdasan ini: Menari, berlari, melompat, menyentuh, menciptakan, mencoba, mensimulasikan, merakit/membongkar, bermain drama, permainan, indra peraba.

  • Intrapersonal

Berpikir secara reflektif. Kata kunci yang berhubungan dengan kecerdasan ini: berpikir, meditasi, bermimpi, berdiam diri, mengcanangkan tujuan, refleksi, merenung, membuat jurnal, menilai diri, waktu menyendiri, proyek yang dirintis sendiri, menulis, introspeksi.

  • Logis-Matematis

Berpikir dengan penalaran. Kata kunci yang berhubungan dengan kecerdasan ini: bereksperimen, bertanya, menghitung, logika deduktif dan induktif, mengorganisasikan, fakta, teka-teki, skenario.

Kedelapan kecerdasan yang bisa disingkat menjadi SLIM-n-BIL ini harus dipahami oleh para orang tua dan guru. Jangan sampai anak mendapat label anak yang tidak cerdas atau lebih kasar dikatakan bodoh, hanya karena kita menganggap anak yang cerdas itu hanyalah yang nilai matematikanya bagus.

Perlu kita akui dan sadari, di luaran sana masih banyak yang belum memahami ini. Seringkali anak menjadi korban karena pemberian label tersebut. Dan, ini bukanlah hal yang sepele dalam tumbuh kembang anak-anak kita.

Karena alasan itulah, memilih dan menentukan sekolah menjadi salah satu cara untuk memanusiakan anak. Mendidik anak sesuai dengan usia dan dengan cara yang benar. Memperlakukan mereka selayaknya manusia yang diberikan kelebihan dan kecerdasan yang berbeda-beda oleh Sang Pencipta.


Mendidik Anak Usia Dini Di Era Digital



Anak-anak yang terlahir di rentang tahun 2010-sekarang disebut juga dengan Generasi Alpha. Menurut lembaga penelitian sosial di Australia McCridle, kelahiran Generasi Alpha sudah mencapai laju 2,5 juta kelahiran per minggu. Generasi Alpha ini merupakan anak dari Generasi Y dan adik dari Generasi Z.

Generasi Alpha disebut sebagai generasi yang super cepat. Mereka juga sudah sangat familiar dengan teknologi. Kelekatan mereka dengan gadget pun sudah tidak bisa terpisahkan lagi.

Ada beberapa karakter Generasi Alpha yang harus dipahami oleh para orang tua. Menurut psikolog pendidikan, Binky paramitha seperti yang dikutip dari www.kumparan.com, ada 5 karakter dari Generasi Alpha, diantaranya:
  • Terbiasa dengan teknologi
  • Memiliki kecerdasan tinggi
  • Perilaku bermain yang berubah
  • Jauh dari buku dan majalah
  • Menciptakan teknologi sendiri


Nah, dari kelima karakter tersebut, kita bisa mulai memahami bagaimana seharusnya mendidik Generasi Alpha. Ada beberapa hal penting yang harus ditanamkan sejak dini, yaitu:
  • Penanaman nilai agama
  • Penanaman norma-norma yang baik dalam kehidupan
  • Tumbuhkan simpati dan empati
  • Perkenalkan mereka dengan alam
  • Ajak anak untuk bersosialisasi


Intinya, di era digital sekarang ini, kita para orang tua dituntut untuk melek teknologi. Teknologi tidak hanya dipergunakan untuk kepentingan entertainment saja, tapi juga harus ada sisi edukatifnya. Anak-anak tidak harus dijauhkan dari gadget, tapi kita sebagai orang tua harus memberikan aturan dan batasan.

Selain itu, pendampingan dan pemberian pemahaman akan baik buruk pun harus sudah diberikan sejak dini. Ingat, perlu digarisbawahi, bahwa anak-anak generasi Alpha itu lahir dan hidup di era digital, jadi pendekatannya pun harus lebih cerdas.






Pernah mendengar nama ini? Hmmm… rasanya inilah sekolah yang benar-benar memahami bagaimana seharusnya mendidik dan memperlakukan anak sesuai dengan usianya.

Apple TreePre-School BSD didirikan pada tahun 2000 dengan visi menjadi sekolah yang mendorong kepercayaan diri dan kemandirian setiap siswa. Dengan suasana lingkungan belajar yang positif dan dukungan dari orang tua murid dan guru-guru yang berdedikasi, Apple Tree Pre-School bertujuan membentuk dasar yang solid untuk perkembangan fisik, intelektual, sosial dan emosional anak.

Apple Tree Pre-School BSD menggunakan Adopted Singapore Curriculum, jadi bahasa pengantar dalam proses belaja mengajar menggunakan Bahasa Inggris dan Mandarin.


Apa Saja Yang Bisa Anak Pelajari di Apple Tree Pre-School BSD?





Apple Tree Pre-School BSD menggunakan Adopted Singapore Curriculum. Selain itu mereka pun mengembangkan potensi Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk). Oleh karena itu ada beberapa area belajar yang bisa menumbuhkan kecerdasan setiap anak, yaitu:
  • English
  • Mathematics
  • Chinese
  • Creativity
  • Social Studies
  • Science
  • Bahasa
  • Moral
  • Music
  • Physical Education
  • Phonics


Kenapa Memilih Apple Tree Pre-School BSD?



Apple Tree Pre-School memiliki visi menjadi sekolah yang terpercaya untuk mendidik pelajar muda untuk menjadi pribadi yang baik secara akademis melalui metode pembelajaran Experiential Learning (Belajar dengan Mengalami).

Dari visinya saja sudah sangat jelas, kalau Apple Tree Pre-School sangat memfasilitasi anak-anak untuk belajar dengan cara yang berbeda. Mereka tidak terfokus pada text-book, tapi merasakan dan mengalaminya langsung. Tentu saja ini akan jauh memberika efek positif bagi anak-anak.

Selain itu, Apple Tree Pre-School juga sangat paham akan kecerdasan anak yang bermacam-macam. Oleh karena itu, metode dan pola belajar mengajarnya pun mendukung setiap anak untuk menggali potensi kecerdasan yang mereka miliki.

Tidak hanya itu, Apple Tree Pre-School BSD memiliki 4 nilai plus yang membuat anak menjadi lebih nyaman. Keempat poin itu diantaranya:
  • Learning & Fun

Proses pembelajaran yang menyenangkan. Anak diajak untuk belajar melalui permainan yang menyenangkan.

  • Healthy Meals

Makanan dan anak merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Apple Tree Pre-School menyediakan makanan yang menjadi favorit anak-anak tapi tetap memperhatikan nutrisi dan rasa.

  • Friendly Place

Apple Tree Pre-School mendesain sekolah yang ramah bagi anak-anak.

  • Children Safety

Keamanan anak menjadi perhatian penting bagi Apple Tree Pre-School.

Dari kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh Apple Tree Pre-School BSD, sepertinya sekolah ini bisa menjadi pilihan terbaik bagi para orang tua. Dengan visi dan misi yang sangat jelas, sebagai orang tua kita tidak akan ragu lagi untuk menyekolahkan anak-anak kita di Apple Tree Pre-School. Apple Tree Pre-School, welcoming place for every child.




 Oya, Apple Tree Pre-School mau mengadakan open house, lho. Yuk, datang dan dapatkan banyak manfaatnya! Cek infonya di poster ya…
#appletreebsd




30 komentar:

  1. Mbak, lengkap banget penjelasannya. Ini anak saya umur 4 tahun kurang beberapa bulan sudah saya masukkan PAUD mbak. Karena saya merasa (sebagai ibu) anak saya sudah mampu. Walaupun begitu saya tetap mengajaknya bermain karena fitrahnya masih bermain...yah belajar sambil bermain biar dia enjoy. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua tergantung keyakinan kita masing-masing. Tapi, benar banget yang terpenting itu mereka tetap tidak kehilangan dunianya.

      Hapus
  2. berikan mainan yang dapat meng-edukasi agar si kecil bisa berinteraksi terhadap lingkungan, jangan lupa selalu ditemani ya ... bila bermain untuk bisa berkomuniaksi dalam permainan tersebut

    BalasHapus
  3. Pendidikan anak usia dini di era digital itu memang penting banget ya, Mbak. Jadi teringat dengan keponakan saya yang sudah lulus dari PAUD sekitar tiga tahun yang lalu. Btw, salam kenal ya, Kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, berarti sekarang keponakannya udah masuk SD dong. Salam kenal juga, Mbak :)

      Hapus
  4. Seringkali orangtua mengkotak-kotakkan kecerdasan.
    Semoga anak-anak bisa bertumbuh sesuai dengan kelebihannya dan dengan dukungan orangtua tentu saja...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Sebagai orang tua kita memang kudu terus belajar nih, Mbak.

      Hapus
  5. Ada tetanggaku yang memasukkan anaknya ke sekolah usia dini. menurutku ya sah-sah saja dan semua juga balik pada kepentingan orangtua dan anak. Semangat untuk memberikan yang terbaik ya mb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, Mbak. Semua tergantung keyakinan orang tuanya.

      Sama-sama tetap semangat, Mbak :)

      Hapus
  6. Aku tipe orang tua yang santai alias aku masukan sekolah anak kalau anaknya sudah minta. Untungnya ketiga anakku sudah minta masuk sekolah diusia 3 tahun jadi aku masukan PAUD dengan syarat 80% kegiatannya adalah bermain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kita samaan dong, Mbak. Tetap dunia anak itu bermain, jangan sampai mereka kehilanga itu semua.

      Hapus
  7. Setuju, Makanya saya gak pernah mau debat tentang penting atau tidak menyekolahkan anak di usia dini. Anak-anak saya semuanya sekolah sejak dini. Tentu saja saya punya pertimbangan dan alasan tentang hal ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sippp... Setuju banget, yang terpenting niat kita memang memberikan yang terbaik tanpa merampas dunianya.

      Hapus
  8. Ternyata anakku masuk tipe kinestetik dan interpersonal Mba. Terimakasih sharingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, seru tuh kalau udah tahu, jadi kita bisa menajamkan kecerdasannya :)

      Hapus
  9. Berbagai kecerdasan yang dimiliki anak dan mampu kita stimulasi dengan berbagai permainan menarik.

    BalasHapus
  10. Wah mainan funthinker juga ya, sama kayak anakku

    Aku setuju, sbg ortu kita wajib menstimulasi setiap potensi anak

    BalasHapus
  11. Anakku semuanya masuk PAUD. Selain belajar ya supaya punya teman main karena di rumah terus juga bosan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah mah anak-anaknya Mbak Leyla cowok semua ya? :)

      Hapus
  12. Banyak macam untuk kategori kecerdasan anak ini ya moms. Dan aku habis baca blog nya mom, jd terbayang dengan kegalauan saat nanti apakah memasukkan anak d usia dini atau engga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua tergantung kita, Bun. Kalau saya sih kalaupun dimasukkan, ya pilih sekolah yang paham bagaimana memperlakukan anak usia dini :)

      Hapus
  13. Setiap anak memiliki semua kecerdasan itu, setelah besar baru kelihatan mana yang menonjol, nah itu dimaksimalkan. Btw anak pertama saya dulu masuk sekolah sejak usia 2,5 tahun, alasannya karena di rumah tidak ada yang jaga, sementara ayah ibunya bekerja. Ini yang anak kedua udah berumur 23 bulan, belum ada keputusan apakah akan cepat sekolah seperti kakaknya atau tidak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya,Mbak untuk orang tua bekerja memang menyekolahkan anak menjadi solusi cerdas daripada dititipkan kakek nenek atau baby sitter. Semangat, Mbak :))

      Hapus
  14. Banyak bgt mainannya mba, pasti anaknya happy deh & yg paling penting bisa mengelola emosinya

    BalasHapus
  15. dengan sekolah PAUD anak dilatih mandiri kak, beneran deh anak yang diasah dari kecil jauh lebih mandiri dan pinter secara emosi juga

    BalasHapus
  16. Aq senang belajar tentang jenis-jenis kecerdasan manusia

    BalasHapus
  17. Sekolah PAUD melatih anak dari kecil jadi pas masuk sekolah udah bisa sendiri

    BalasHapus