Jumat, 06 November 2020

Daya Beli Diungkit, UKM Bangkit, Ekonomi Terungkit

 


 

Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan salah satu penggerak utama perekonomian. Di Indonesia, hampir setiap saat kita bersinggungan dengan para pelaku usaha kecil menengah. Meskipun namanya usaha kecil, tapi memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap perekonomian secara makro.

 

Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM), pada tahun 2018, jumlah pelaku UMKM sebanyak 64,2 juta atau 99,99% dari jumlah pelaku usaha. Daya serap tenaga kerja UMKM sebanyak 117 juta pekerja atau 97% dari daya serap tenaga kerja dunia usaha. Sedangkan kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional sebesar 61.1% dan sisanya 38,9% disumbangkan oleh pelaku usaha besar.

 

Namun, kehadiran pandemi covid-19 ini membuat semuanya berubah. Menurut sejumlah ekonom, UMKM tidak bisa lagi menjadi penyangga perekonomian seperti saat krisis 1998 dan 2008.

 

Sejak pemberlakuan PSBB, work from home dan school from home, tentu saja sangat memberikan dampak yang luar biasa terhadap para pelaku usaha kecil dan menengah. Kondisi pandemi telah membuat daya beli masyarakat menurun.

 

Tidak hanya itu, daya beli masyarakat pun menurun karena pandemi ini. Banyaknya perusahaan yang gulung tikar dan harus merumahkan para karyawannya, mau tidak mau akan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Saat ini, banyak orang yang benar-benar harus mengencangkan ikat pinggang. Mereka akan memilih mana yang paling penting untuk dibeli dan bertahan hidup.

 

Lalu, apa yang harus dilakukan agar para pelaku UKM ini bisa bangkit?

 

#Daya Beli Diungkit

Kembali lagi, kuncinya di peningkatan daya beli masyarakat. Untuk itu, yang harus menjadi perhatian ialah bagaimana meningkatkan daya beli masyarakat di tengah pandemi ini.

 

Sebenarnya pemerintah telah melakukan beberapa cara agar daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan. Mulai dari menaikkan gaji ASN, memberikan bantuan sosial dan insentif. Hal tersebut dilakukan agar daya beli dan konsumsi masyarakat bisa tetap terjaga.

Sumber Foto: tirto.id


Namun, tentu saja, yang paling penting ialah bagaimana penanganan Covid-19 itu sendiri. Ketika kondisi sudah kondusif, maka roda perekonomian pun akan kembali normal. Para pelaku UKM pun akan kembali menggeliat dan bangkit dari keterpurukan akibat pandemi ini.

 



#Inovasi





Selain faktor luar tadi, tentu saja ada factor lain yang juga tidak kalah penting. Pelaku UKM saat ini tidak bisa hanya menyalahkah kondisi pandemi yang sedang melanda. Karena di tengah pandemi saat ini pun, masih ada UKM yang tetap bertahan bahkan meraup keuntungan yang jauh lebih besar.

 

Menurut data kementerian koperasi dan UKM, ada dua macam usaha yang tetap bertahan di tengah pandemi. Pertama sudah terhubung dengan e-commerce, sedangkan yang kedua ialah yang melakukan inovasi produk.

 

Kalau kita garisbawahi, mereka yang tidak terdisrupsi dengan kondisi sekarang ialah yang sudah terdigitalisasi dan berinovasi. Artinya apa? Ketika para pelaku UKM itu masih saja melihat dari sisi masalah, maka mereka akan tetap terpuruk. Tapi, ketika melihat dari sisi solusi, maka mereka akan bangkit.

 

Menurut Clayton M. Christensen yang dikutip dari buku Disruption yang ditulis oleh Rhenald Kasali, “Kalau kalian menggempur imcumbent dengan membuat produk yang berimbang, di pasar yang sama, dengan harga yang sama, kalian sebagai pendatang baru akan kalah. Gempurlah kakinya. Sederhanakan produk, lakukan revolusi, bergeraklah ke segmen yang lebih rendah dengan strategi harga yang terjangkau dan dapat diakses.”

 

Berani beda. Ketika kita ingin produk kita dilirik dan tetap bertahan di hati konsumen, maka kita harus menghadirkan produk yang memiliki ciri khas. Selain produk itu merupakan barang yang pasti dibutuhkan banyak orang, kita pun harus menyuguhkan produk yang memiliki value berbeda.

 

Hadirkan produk yang anti mainstream. Produk yang dari namanya saja sudah nempel erat di pikiran konsumen. Carilah nama yang memiliki makna, dan hadirkan juga produk yang berkualitas dan tidak asal-asalan.

 


 


Selain itu, bidiklah pasar dengan tepat. Cermati produk apa yang sedang dicari konsumen. Kondisi pandemi ini tentu saja telah merubah pola konsumsi kebanyakan orang. Pengeluaran untuk produk kesehatan, bahan makanan dan pulsa meningkat lebih dari 50%. Sedangkan, biaya transportasi umum dan bahan bakar minyak menurun di kisaran 42%.

 

Dari data tersebut, kita bisa tahu kebutuhan pasar seperti apa. Dengan tahu apa yang dibutuhkan konsumen, kita bisa menentukan produk apa yang tepat untuk dijual saat ini. Tentu saja dengan inovasi agar produk kita bisa memiliki value yang berbeda.

 

Menurut Tung Desem Waringin dalam bukunya Financial Revolution, ada 7 cara mengenali tren, yaitu:

  1. Melakukan analisis umur dan jumlah penduduk, jumlah penghasilan dan jumlah pengeluaran.
  2. Mengamati kecepatan penetrasi sebuah usaha ke dalam masyarakat.
  3. Melihat tren yang terjadi di luar negeri.
  4. Menjawab permasalahan yang ada.
  5. Mengkombinasikan dua hal atau lebih, yang baik.
  6. Perbaikan dari sesuatu hal yang sudah baik.
  7. Mengubah atau menambah sesuatu yang ada.

Itulah ketujuh cara agar bisnis yang kita jalani bisa tetap bertahan. Karena kita sudah paham akan dibawa kemana bisnis ini. Terus berinovasi dengan melihat kebutuhan pasar, merupakan sesuatu yang wajib dalam menjalankan sebuah usaha. 


#Digitalitasasi

Selain berinovasi, produk yang tetap bertahan di masa pandemi ini ialah yang sudah terdigitalisasi. Menurut Klaus Schwab, salah satu perintis revolusi industri 4.0 menyatakan bahwa revolusi industri 4.0 merupakan sebuah teknologi baru yang menggabungkan dunia fisik, biologis dan digital.

 

Menurut data dari Kementerian Kominfo, pertumbuhan nilai perdagangan elektronik (e-commerce) di Indonesia mencapai 78 persen, tertinggi di dunia. Hal tersebut memang berbanding lurus dengan jumlah pengguna internet di Indonesia, hingga saat ini mencapai 82 juta orang, dan menduduki urutan ke-8 di dunia.


Jadi, dengan adanya fenomena ini, para pelaku UKM bisa memanfaatkannya. Jangan memaksakan diri untuk bertahan dengan cara-cara konvensional. Saatnya para pelaku UKM untu Go Online.

 



 

Memasuki era kebiasaan baru ini, tentu saja sebagai pelaku UKM harus lebih cerdas. Menyalahkah dan mengeluh dengan keadaan yang ada, tentu bukan solusi untuk tetap bertahan. Peran pemerintah sangat dibutuhkan agar daya beli masyarakat kembali naik. Tapi, pelaku UKM pun harus memiliki mental juara.  Ketika keduanya bisa seimbang, maka perekonomian pun akan terus terungkit menjadi lebih baik.

 

 

Referensi:

Anas, Abdullah Azwar. (2019). Anti Mainstream Marketing. Jakarta: Gramedia

Kasali, R. (2018). Disruption. Jakarta: Gramedia

Kasali, R. (2014). Let’s Change. Jakarta: Kompas Gramedia

Waringin, Tung Desem. (2007). Financial Revolution. Jakarta: Gramedia

https://kominfo.go.id/content/detail/16770/kemkominfo-pertumbuhan-e-commerce-indonesia-capai-78-persen/0/sorotan_media

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/09/21/peta-persaingan-e-commerce-indonesia-pada-kuartal-ii-2020



Tulisan ini diikutsertakan dalam Masterweb Blog Competition. Bagi teman-teman yang ingin infonya, silakan klik di sini!






19 komentar:

  1. Terus nafkahi kita dengan tulisan-tulisan yang berguna seperti ini mas.

    BalasHapus
  2. Digitalisasi berkembang dan ini juga ngebantu banget buat UMKM. Kondisi seperti ini memang tak mudah tapi satu sisi kita harus bangkit bekerjasama juga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget, Mbak. Kalau kita nggak mengikuti perubahan yang ada, maka kita akan tertinggal jauh.

      Hapus
  3. Zaman sekarang pihak UMKM mesti udah melek teknologi dan pastinya tergabung dalam e-commerce. Digitalisasi mau ga mau mesti diterima dan dikuasai dengan baik. Online Marketing dan pengetahuan tentang produk yang dijual perlu banget tentunya supaya produk laris manis berkesinambungan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget. Semuanya harus berkesinambungan, Mbak.

      Hapus
  4. UMKM harus sering didukung karena jadi tulang punggung ekonomi, ya, mbak. Yukkk belanja barang UMKM :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yukkk... mulai dari sekarang dan mulai dari diri kita sendiri aja dulu :)

      Hapus
  5. pada saat kayak gini emang yang paling tepat tuh belanja produk lokal, mbak, membiarkan perputaran uang yang sehat terjadi di lingkungan. semangat semuanya, semoga selalu bertahan dan segera pulih kondisi ekonomi kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget. Tinggal kitanya mau apa enggak tuh belanja produk lokal.

      Hapus
  6. benar sekali mbak...
    saya selama ini lebih sering belanja produk lokal, terutama produk ukm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siippp... Semoga bisa dicontoh dan diikuti oleh orang lain ya, Mbak.

      Hapus
  7. Ayo semangat bikin usaha yang mudah di ingat sama seseorang yang akan membuat kita laris manis dagangan dan dengan daya beli bangkit maka ekonomi keluarga akan mengikuti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siippp... Setuju, Mpok. Semangat buat para pelaku UKM.

      Hapus
  8. Inovasi penting banget apalagi bagi mereka yang terus ingin berkembang tanpa inovasi pasti orang-orang juga akan bosan

    BalasHapus
  9. Aku setuju banget sih mba, UMKM itu perlu banget didukung, krn secara ga langsung membantu untuk orang sekitar krn daya beli masih menjangkau segala elemen masyarakat belum lagi lapangan pekerjaan jadi terbuka luas krn adanya UMKM ini ya mba.

    BalasHapus
  10. Pastinya UMkM perlu didukung dan mestinya kita dukung bersama, tentunya dengan membeli produk lokal, bila perlu kita bantu promosiin produk lokal tsb agar makin banyak yang tahu dan ikut serta membeli.produk lokal, krn produk lokal juga kualitasnya oke2 banget

    BalasHapus
  11. Wah, tips membuka usahanya mantul sekali mbak. Memang selama pandemi ini teman-teman banyak yang banting setir buka usaha apa saja yang penting halal dan menghasilkan. Semoga kita semua bisa bertahan ya mbak

    BalasHapus
  12. Saat pandemi ditetapkan , saya dan paksu putar otak gmna supaya usaha bsa tetap berjalan, dan emang kecanggihan teknologi sangat membantu untuk jualan di sosmed

    BalasHapus