Inilah Caraku Membersamai Buah Hati

 




“Kasihan dong, masih kecil udah dimandiin pagi-pagi.”

“Loh, kok jam 7 malam udah tidur?”

“Anak masih bayi kok udah dikasih buku?”

“Masih 2 tahun kok udah diajak ke masjid?”

“Baru 4 tahun kok udah diajarin puasa dan menghafal Al Quran?”

 

Parenting bukan sekadar kumpulan teori dari para ahli untuk mendidik dan mengasuh anak. Lebih dari itu, parenting ialah ilmu memahami diri kita sebagai sosok dewasa yang harus cerdas dan bijak dalam membersamai titipan Ilahi.

 

Karena saya alami sendri, menjadi orang tua itu membutuhkan ilmu. Apalagi ketika kita mau menanggalkan kebiasaan-kebiasaan warisan yang menurut kita kurang tepat untuk diterapkan.


Komentar-komentar mulai dari yang renyah sampai pedas level dewa pun sudah menjadi santapan sehari-hari saya dan suami sejak anak pertama kami hadir. Bagi sebagian orang di sekitar kami, cara kami mendidik itu berbeda, aneh dan tidak sesuai dengan kebiasaan pada umumnya. Mulai dari bertanya sampai nyinyir, sudah pernah kami rasakan.




Kebiasaan-kebiasaan yang kami terapkan sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Saya dan suami pun belajar dari orang-orang yang sudah berhasil mendidik anak-anaknya. Kami mencoba mencari formula yang pas, meracik dan menerapkan sesuai dengan kemampuan kami. Sesuatu yang baik darimana pun itu datangnya, akan kami ATM. Tapi, ketika sesuatu itu kurang baik, meskipun itu datang dari orang terdekat, maka kami berusaha untuk tidak melakukannya.

 

Bagi kami, mendidik anak itu bukan sebuah warisan atau kebiasaan turun temurun. Tapi, mendidik anak itu adalah proses belajar tanpa henti. Cara kami mendidik dan membersamai anak-anak, tentu saja akan berbeda dari cara orang tua kami dulu mendidik.

 

Mengapa? Karena kami sadar bahwa zaman telah berubah, maka kebiasaan dan pola pikir serta kondisi pun sudah berubah. Membersamai Generasi Alpha tentu saja akan jauh berbeda dengan mendidik anak Generasi Y.

 

Karena alasan itulah, kami terus belajar untuk menjadi orang tua. Banyak cara kami lakukan untuk meng-upgrade ilmu parenting. Mulai dari ikut seminar, membaca buku parenting, bergabung dengan komunitas, atau membaca artikel-artikel parenting di website seperti theAsianparent Indonesia.


Trial and error masih selalu kami lakukan sejak anak pertama lahir hingga saat ini. Ketika satu cara atau kebiasaan kurang berefek baik, maka kami pun akan mengganti dengan pola yang lain.

 

Saya ingin berbagi sedikit, mengapa hingga saat ini anak-anak saya terbiasa bangun pagi (sebelum shubuh atau telat-telatnya ketika adzan shubuh). Oya, anak pertama berusia 5 tahun dan yang kedua berusia 2 tahun. Apa saya membangunkan keduanya? Sama sekali tidak. Mereka bangun sendiri dan langsung minta mandi. Sebelum pandemi, biasanya suami mengajak anak pertama untuk ke masjid.

 

Kenapa mereka bisa seperti itu? Karena sejak bayi, ketika mereka terbangun jam 3 atau setengah 4, saya tidak kelonin lagi, tapi saya ajak bangun. Dan, kebiasaan itu, terus tertanam sampai saat ini.

 

Awalnya orang-orang terdekat sempat mempengaruhi agar anak-anak tidak dibiasakan bangun terlalu pagi, apalagi mandi sebelum shubuh. Tapi, saya dan suami yakin dengan apa yang kami lakukan. Kami tidak melakukannya dengan suruhan apalagi paksaan. Mereka melakukan itu karena terbiasa. Bahkan ketika sesekali mereka bangun kesiangan (pukul 5 pagi) karena mungkin terlalu lelah, mereka akan bertanya mengapa tidak dibangunkan.

 

Kebiasaan berikutnya yang katanya aneh adalah memberikan buku di saat mereka masih bayi, memperkenalkan Al Quran sejak mereka baru lahir dan mengajarkan berpuasa. Komentar pertama yang kami terima yaitu, “kasihan dong, masih kecil”.

 

Kami hanya mengiyakan setelah itu menutup telinga. Mengapa? Kami tahu dan yakin apa yang kami lakukan ini tidak melanggar dan memberatkan anak.

 

Untuk kebiasaan membaca, saya sudah mengajaknya membacanya sejak dalam kandungan. Saya dan suami pun memiliki hobi membaca, jadi anak-anak selalu melihat apa yang biasa kami lakukan, dan mereka pun meniru apa yang mereka lihat.

 

Memperkenalkan Al Quran. Inipun tidak jauh berbeda dengan membaca buku. Kami lakukan sebelum mereka terlahir ke dunia. Ini hanyalah ikhtiar kami agar mereka mencintai Al Quran dan juga bisa memahami serta mengamalkannya.

 

Mengajarkan berpuasa. Tentu saja ini bertahap, awalnya ketika usia 3 tahun, kami berikan buku yang bertema puasa. Saya coba ajak bercerita tentang keutamaan puasa. Ketika usianya menginjak 4 tahun, saya dan suami bertanya apakaha ia mau belajar berpuasa. Dengan mantap, ia menjawab iya. Kami pun mengajarkannya untuk berpuasa setengah hari hingga dzuhur, setelah itu boleh berbuka.

 

Bagi saya dan suami, menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik itu tidak bisa instan. Semuanya membutuhkan proses. Karena itu, kami yakin di usia emas inilah, saat paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan tersebut. Tentu saja tidak dengan paksaan. Ada reward dan punishment yang sesuai dengan usianya yang akan mereka dapatkan.

 

Apa mereka mengenal gadget?

Saya dan suami sepakat untuk tetap mengenalkan gadget tapi tentu saja dengan aturan. Alasan kami tetap mengenalkan gadget, karena mereka lahir dan besar di era digital. Jangankan untuk bermain, saat ini, anak pertama saya yang masih di usia TK pun setiap hari harus mengikuti pembelajaran via Zoom Meeting lalu dilanjut Video Call bersama Ustadzahnya. Selain itu, setiap hari ada materi yang harus ditonton di Channel Youtube sekolahnya. Lalu, sebulan sekali harus menjawab pertanyaan di Quiziz. Kebayang dong, kalau mereka tidak mengenal gawai? J



 

Jadi, menurut saya, gadget itu bukan sesuatu yang harus dihindari. Namun, penggunaannya harus proporsional. Tentu saja dengan pengawasan orang tua. Anak saya mendapat jatah 2 jam Screen Time dengan pembagian waktu: setengah jam pagi setelah mengaji (menggunakan Smartphone), setengah jam setelah sekolah online (menggunakan TV), setengah jam setelah tidur siang (menggunakan TV) dan setengah jam sore hari setelah membaca buku (menggunakan Smartphone). Itu semua dilakukan dengan ditemani saya atau suami. Selain waktu-waktu itu, mereka tidak diperkenankan memegang gadget.

 

Bagi saya, menjadi ibu itu anugerah terindah dalam hidup. Bukan sekadar status, tapi sebuah proses belajar mendidik diri menjadi seorang teladan bagi titipan Ilahi. Berani melepas aktivitas yang sudah saya jalani sejak bangku SMA, demi membersamai buah hati, tentu saja tidak mudah.

 

Sejak bertukar Curriculum Vitae pada saat proses ta’aruf, saya dan suami saling bertanya tentang bagaimana cara pandang tentang mendidik anak. Setelah menikah, akhirnya kami sepakat dengan pola asuh yang sekarang sedang kami jalani.

 

Sebuah konsekuensi harus kami jalani dari komitmen yang telah disepakati. Saya  harus berhenti sejenak menjalani profesi pengajar bahasa. Saat ini, saya fokus mendidik dan membersamai dua buah hati. Saya sadar, masa anak-anak itu terbatas, mereka akan segera beranjak dewasa. Karena alasan itulah, saya tidak ingin kehilangan momen luar biasa ini.

 

Anak adalah titipan. Suatu saat kelak, pasti saya akan ditanya tentang titipan ini. Saya ingin Yang Maha Memiliki merasa senang karena saya telah menjaga dan merawat titipan dari-Nya dengan baik.



Saya adalah seorang Ibu yang masih harus terus belajar menjadi lebih baik. Karena bukankah seorang ibu itu madrasah pertama bagi anak-anaknya? Apa jadinya kalau saya berhenti belajar? Apa yang akan anak-anak teladani dari saya? Sejatinya, menjadi ibu itu merupakan profesi terberat sekaligus terindah.  I am very happy for being a mother of two children or maybe more. J

 

Posting Komentar

15 Komentar

  1. sampai anak udah empat gini, aku selalu gagal menidurkan semua anak2 jam 7 malam 😂 apa lg pandemi gini, sekolah daring, mandi pagi juga jatohnya udah siang..

    BalasHapus
  2. Sama mba. Aku juga banyak dapet nyinyiran. Masih bayi kok udah dikasih buku. Emang anaknya ngerti. Atau dari bayi kok udah pk jilbab. Pdahal aku cuma ngenalin dan mbiasakan aja bukan mewajibkan. Tapi lama-lama ya sudah biarkan saja. Toh ini anak kami. Urusan kami. EGP ama pendapat orang yang penting kita udah berusaha dengan ilmu yang kami tahu. Semangat untuk kita mba

    BalasHapus
  3. hehe urusan pengasuhan memang pilihan masing masing ya mbak
    klo kita dengerin apa kata orang ya nggak ada habisnya
    yg penting kita asuh anak sesuai visi misi keluarga masing masing

    BalasHapus
  4. Tiap orang tua memang punya parenting style yang berbeda ya, yg penting saling support dan terus upgrade ilmu aja, terus semangat ya mom aku jadi banyak belajar baca parenting experience kamu, terus sharing ya

    BalasHapus
  5. Pandemi memang bikin kacau semua rutinitas, soalnya anakku juga kalau sekolah seperti biasa tidurnya juga cepat mungkib faktor capek dan memang pagi sekali harus bangun, tapi dinikmati aja sambil banyak baca referensi ilmu parenting.

    BalasHapus
  6. Maaya Allah. Senang sekali bisa mampir ke tulisan Mba. Apa apa memang berawal dari keluarga, termasuk kebiasaan baik dari anak anak ya dimulai dari didikan di rumah.

    BalasHapus
  7. rutinitas tidur malam dan bangun pagi anakku alhamdulillah sih teratur ya mungkin masih kebawa jaman ke sekolah walau sekarang online di rumah tetap seperti biasa bangunnya. Kalau anak-anak itu apalagi sedang masa pertumbuhan pasti akan meniru anggota keluarganya.

    BalasHapus
  8. Seneng banget ya Mbak bisa maksimal membersamai buah hati, insyaallah model parenting yang kita terapkan ke anak2 akan membawa hasil yang positif bagi masa depannya. Sehat selalu sekeluarga ya

    BalasHapus
  9. Cara membersamai dengan anak memang berbeda dan lebih baik diikuti sesuai zamannya agar lebih masuk ya. Noted banget nih buat daku saat esok menjadi orangtua

    BalasHapus
  10. Super mom banget sih menurutku pribadi kalau kita bisa membangun kebiasaan-kebiasaan baik pada si kecil sejak bayi dan itu yg ku lakukan juga mom

    BalasHapus
  11. Saya termasuk seorang ibu yang tidak selalu ikut-ikutan atau terpengaruh apa kata orang. Tapi berusaha mencari formula yang tepat untuk anak-anak saya. Karena saya percaya bahwa tiap anak itu berbeda cara asih-asah-asuhnya.

    BalasHapus
  12. apa cuma aku yang anak2nya tidur malem?karena siangnya sudah kenyang tidur :D
    tapi tetep anak bisa shalat subuh :D

    BalasHapus
  13. Setuju banget, jadi ibu itu harus selalu belajar. Aku deh, udah punya anak 4, tetep aja berasa gak bisa apa2 saat nemuin hal baru. Soalnya ada aja deh masalah baru yang dihadapi. Banyak baca, banyak denger cerita temen, Alhamdulillah bikin nambah wawasan dan pengetahuan ya.

    BalasHapus
  14. sejak jadi ibu, saya belajar banget untuk tutup kuping ama komentar2 rese. yang penting saya terus belajar dan memperbaiki diri untuk anak, diri dan keluarga saya :D

    BalasHapus
  15. menjadi seorang ibu harus selau belajar setiap hari, tiada hari tanpa belajar. Karena banyak hal yang sebenarnya masih belum kita pahami. Tapi melalui anak2 kita bisa belajar banyak hal ya, mbak. Semangat selalu super mom!

    BalasHapus