FoMO dan Pengaruhnya Bagi Keluarga

Sumber: freepik.com


FoMO, sebuah istilah yang akhir-akhir ini semakin familiar di telinga kita. FoMO (Fear of Missing Out) merupakan rasa ketakutan ketinggalan berita ter-update dari media sosial. Rasanya merasa ada yang kurang ketika sehari saja, bahkan satu jam, belum melihat media sosial. Mungkin hanya sekedar stalking, atau melakukan obrolan ngalor ngidul sampai berjam-jam.

Keberadaan gadget memang bagaikan dua mata pisau. Di satu sisi bisa memberikan banyak manfaat, tapi di sisi lain juga memberi efek yang tidak baik. Kita tidak bisa memungkiri, jika kita sangat terbantu dengan adanya ponsel pintar. Apapun yang kita butuhkan bisa kita dapatkan hanya dengan sentuhan jari dan dalam hitungan detik saja. Tapi, kita juga tidak bisa menutup mata, banyak sekali kejadian-kejadian yang tidak diinginkan disebabkan pengaruh penggunaan internet yang tidak semestinya.

Penggunaan internet saat ini memang sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Menurut data Kementrian Komunikasi dan Informatika, pengguna internet di Indonesia telah  mencapai 82 juta orang. Negara kita menduduki urutan ke-8 di dunia. Dan, pengguna terbanyak ialah usia 15-19 atau usia remaja. Tidak hanya itu, Indonesia pun ada di peringkat ke-4 di dunia sebagai pengguna facebook terbanyak.

Sebuah data yang bisa dijadikan bahan pemikiran bersama. Memang sebagai negara berkembang, sesuatu yang baru dan datang dari negara maju, cepat sekali diterimanya. Budaya meniru dan juga konsumtif menjadikan sesuatu yang datang dari luar bisa dengan mudah menjadi bagian dari gaya hidup.  

Kita bisa perhatikan, bagaimana  penyebaran ponsel pintar saat ini sudah seperti kacang goreng saja. Bahkan anak usia balita, sudah sangat mahir menjalankan smartphone. Barang yang beberapa tahun lalu masih menjadi barang mewah, sekarang seakan-akan sudah menjadi kebutuhan primer saja.

Tidak jarang kita lihat orang-orang begitu addict dengan yang namanya smartphone. Semua aktifitas selalu saja ditemani si ponsel pintar ini. Banyak orang yang merasa ponselnya itu bagaikan nyawa kedua. Tiada hari tanpa membawa ponsel, dan tiada detik tanpa melihat layar ponselnya.

Jika apa yang dilakukan dengan ponselnya merupakan cara untuk meng-upgrade diri dan lingkungan, itu tidak bermasalah. Karena bagaimanapun juga kita hidup di zaman serba canggih. Tapi, ketika gadget sudah menjadi ‘Tuhan’ dalam kehidupan seseorang dan menomorduakan yang seharusnya menjadi prioritas, itu yang sangat menjadi masalah.

Sebagai makhluk sosial, tentunya kita membutuhkan dan dibutuhkan orang lain. Kita memiliki pasangan, anak, orangtua dan juga keluarga. Ada saatnya kita investasikan waktu untuk mereka. Jangan sampai fenomena ‘yang dekat terasa jauh, yang jauh terasa dekat’ akan menjadi sebuah pembiasaan.

Ya, tidak bisa kita pungkiri, keberadaan gadget telah mendekatkan yang jauh, tapi tidak jarang juga menjauhkan yang dekat. Kita bisa perhatikan akhir-akhir ini, ketika sebuah keluarga berkumpul, tapi masing-masing dari mereka asyik dengan ponsel masing-masing. Bahkan ketika mengobrol pun, tangannya tidak lepas dari gadgetnya.

Quality time tanpa gangguan, kini menjadi barang yang mahal bagi sebuah keluarga. Sebagian dari kita lebih asyik saling ber-say hello di sosial media, tapi lupa menyapa pasangan dan anak-anak. Jangan heran, sekarang ini, banyak sekali pasangan dan juga anak-anak yang merasa kurang diperhatikan. Dan, pada akhirnya mereka mencari ‘sesuatu yang hilang’ itu dari dunia luar. Sebuah keluarga yang seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk berbagi cerita, kini mulai tergeserkan perannya.

Tidak sedikit suami ataupun istri yang haus akan kasih sayang. Tidak hanya itu, anak-anak pun tumbuh menjadi ‘yatim piatu’ karena kondisi. Ya, boleh jadi orangtua mereka masih komplit, tapi mereka tidak pernah merasakan keberadaannya. Mereka tidak pernah merasakan pelukan hangat seorang ayah dan juga belaian seorang ibu.

Menurut para peneliti dari Universitas Carnegie Melon di Amerikat Serikat telah melakukan penelitian pada 400 orang, ternyata ditemukan sebuah hasil yang positif dari manfaat berpelukan. Salah satunya ialah dapat mengurangi tingkat stress seseorang. Tidak hanya itu, menurut Virginia Satir, seorang penulis dan juga psikoterapis dari Amerika, kita membutuhkan 12 pelukan setiap harinya, dengan pembagian 4 pelukan untuk kebahagiaan dan 8 pelukan untuk kesehatan.

Dari hasil penelitian di atas, kita bisa menyimpulkan, ternyata hanya dengan menyediakan waktu beberapa menit, bahkan beberapa detik saja, hasilnya sangat luar biasa. Yang perlu diingat, jangan pernah memberikan waktu sisa untuk pasangan dan anak-anak kita. Investasi waktu yang kita berikan akan berpengaruh positif, baik itu bagi diri kita, maupun untuk mereka.

Ketika hubungan antar anggota terjalin dengan harmonis, maka akan ada efek ke berbagai sisi. Dan sebaliknya, ketika sebuah keluarga rapuh, maka akan ada pengaruh kepada sisi kehidupan lainnya, termasuk akan berpengaruh kepada negara. Karena keluarga merupakan pondasi negara. Bisa kita cermati akhir-akhir ini, kejadian-kejadian kriminalitas dan juga hal-hal negatif lainnya, pastilah bersumber dari kondisi keluarga. Berawal dari ketidakefektifan komunikasi hingga berujung pada perceraian.

Menurut data dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehidupan Keagamaan Kemenag, angka perceraian di Indonesia dalam lima tahun terakhir ini meningkat. Disebutkan bahwa jumlah kasus perceraian yang diputus Pengadilan Tinggi Agama seluruh Indonesia pada 2014 mencapai 382.231 kasus, sedangkan pada tahun 2010 hanya 251.208 kasus. Itu artinya ada kenaikan kasus perceraian sebesar 52,16 persen.

Ketika berbicara tentang perceraian, maka akan ada mata rantai masalah lain yang bertumpang tindih dan tidak mudah untuk dilepaskan. Efek yang ditimbulkan akan mendatangkan efek negatif lainnya. Dan, yang paling dirugikan dan menjadi korban ialah anak-anak. Anak-anak akan menjadi ‘tumbal’ dari keegoisan orangtua.

Mungkin ada baiknya, di tengah kesibukan kita, kita galakkan “Program 18-20”. Ya, setiap hari mulai pukul 18.00 hingga 20.00, kita jauhkan gadget dari sisi kita. Tidak ada smartphone, TV dan juga laptop menjadi bagian berkumpulnya keluarga. Kita benar-benar investasikan waktu untuk pasangan dan anak-anak. Jangan sampai kita menyesal dengan waktu yang terus berjalan.

Posting Komentar

17 Komentar

  1. Sebenarnya program 18-20 ini sudah kami lakukan sejak dulu, jauh sebelum ada internet masuk desa. Iya, soalnya di rumah kami kan ada pondok mengaji anak kampung. Mulai magrib sampai isya.
    Kalau anak yang besar sampai jam delapan malam. Jadi otomatis saya dan keluarga, juga mereka para santri, dari 18 (bahkan sebelum jam enam sekalipun) sampai 20 lepas gadget. Mereka yg tahu itu gak pernah hubungi saya lewat wa atau tlp. Soalnya tahu saat bersama santri saya ga bawa ponsel

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Menghindari dunia digital memang agak sulit. Apalagi di saat pandemi begini. Tetapi, memang dari kitanya yang tau batasan. Jangan sampai kebablasan. Akhirnya malah merugikan diri sendiri dan keluarga

    BalasHapus
  4. benar banget kita memang harus ada waktu khusus untuk keluarga.saya biasanya itu sabtu dan minggu benar2 quality time. entah sekedar jalan2 keliling mobil dan saat itu kita ngobrol santai dan tertawa bersama. klu di rumah memang krn pada kerja balik sore, anak juga balik dari rumah neneknya sore jd terbatas untuk ngobrol di hari kerja

    BalasHapus
  5. ah setuju ini dengan program 18-20. waktu prime time untuk keluarga agar bisa lebih tahu satu sama lain, terutama untuk pasutri yang sama-sama bekerja jadi ada benar2 waktu khusus untuk anak dan pasangan. jangan kita FOMO dengan dunia luar tapi dalam keluarga malah gak tahu sama sekali

    BalasHapus
  6. Sentilan banget ini mba, kadang iya sih saya terlalu lama pegang hp walau bukan buat happy tp buat kerja. Tp iya juga yaa waktu untuk keluarga jadi berkurang, harus lebih bisa lagi nih bagi waktunya

    BalasHapus
  7. Iya sih, di rumahku nerapkan mulai Maghrib jangan ada yang pake gawai lagi. Laptop mati, hp juga jangan dibuat yutupan :)

    BalasHapus
  8. Di dalam keluarga saya jam 18-20 full fokus untuk bermain dan belajar bersama anak. Karena selain weekend, saya ada waktu maksimal untuk anak yang hanya di jam-jam tersebut. Setelah jam 20, udah pada mulai ngantuk. Insyaallah sampai saat ini saya masih aman dari gangguan FOMO :D

    BalasHapus
  9. klo di rumah, ada waktu no gadget
    jam 18.00-21 .00
    biar rehat sejenak dari aktivitas online

    BalasHapus
  10. Aku sempat menjalankan 18-20 ini mbak dan juga Free Gadget on Sunday, tapi setelah pandemi rasanya agak sulit..kudu dimulai lagi nih..thanks sharing nya..

    BalasHapus
  11. Memang ada yang cuma stalking aja. Kalau karena pekerjaannya di bidang medsos masih gak apa sih, yang penting bisa bagi waktu ya

    BalasHapus
  12. Aku kudet nih baru tau istilah FoMo. Tapi dalam kehidupan sehari2 memang yah banyak yang sudah kecanduan sama smartphone, jangankan sejam, bberala menit aja gk bisa. Sy jg nyaris sih, tp membiasakan diri ntik tdk bergantung sama smartphone

    BalasHapus
  13. Aku inget banget waktu masih di parenting Abah Ihsan. Bahwa setiap hari kudu ada waktu tanpa gadget di rumah, agar anak dan orangtua bisa melakukan hal bersama.
    Walau hanya beberapa jam, tapi efeknya luar biasa untuk anak.

    BalasHapus
  14. Iya nih, aku sering kena FOMO akibat scrolling media sosial. Tapi memang harus bisa kasih batasan pada diri sendiri ya biar dampaknya tidak merugikan diri sendiri atau kelaurga

    BalasHapus
  15. Setuju banget dengan gerakan 18-20 ini, dan kebetulan di jam-jam segitu emang waktu yang paling tepat buat fokus ke keluarga ya mbak. Atau bisa juga gerakan weekend, jadi pas weekend emang bener-bener waktu buat keluarga.

    BalasHapus
  16. aku tipikal yang JOMO sih mba haha tapi ya beberapa kali ikut FOMO juga kalau memang tertarik. selebihnya, aku enjoy menghabiskan waktu sendiri dan tidak terlalu ngikutin tren :D

    BalasHapus
  17. Oh aku baru tau istilah Fomo ini, ya ampun kudet bgt yah.. Sepertinya aku tidak termasuk, semoga ga deh 😁

    BalasHapus