Follow Us @soratemplates

Tuesday, March 5, 2024

Hamil Di Usia 35+?

hamil anak ketiga

 

Sebelumnya aku ingin membuat disclaimer dulu, kalau apa yang aku tulis ini berdasarkan pengalaman pribadi. Tidak ada niat menyalahkan pihak manapun atau menyamaratakan kondisi setiap orang.

 

Di saat tahu kalau aku positif hamil di usia 37 tahun, jujur perasaan ini nano-nano. Ada rasa syukur karena diberi amanah kembali, tapi terbersit juga khawatir karena masalah usia. Ya, banyak artikel, keterangan dari dokter atau bidan secara langsung maupun komentar orang-orang, kalau hamil di usia lebih dari 35 tahun itu beresiko.

 

Sebagai orang yang memiliki karakter detail plus overthinking, dari awal kehamilan, aku semakin sering searching tentang risiko apa saja yang akan terjadi ketika hamil di usia lebih dari 35 tahun. Cukup membuat semakin overthinking karena ada beberapa kasus berakhir dengan kematian.

 

Tapi, bersyukur karena masih terbersit rasa yakin akan Ke-MahaKuasaan Allah. Ada keyakinan yang kuat kalau semua yang terjadi pasti atas kehendak Allah. Dengan keyakinan tersebut, aku pun menjalani masa kehamilan dengan penuh rasa syukur.

 

Berharap Boleh, Tapi Semua Hak Prerogatif Allah

Tidak dipungkiri kalau aku dan suami memang menginginkan anak perempuan. Dari awal kehamilan, kami berharap Allah memercayakan janin berjenis kelamin perempuan. Dan, kami pun sudah berikhtiar untuk itu.

 

Di saat pemeriksaan USG di bulan keempat, dengan perasaan harap-harap cemas, aku terus berdoa agar anak ketiga ini perempuan. Man proposes God disposes. Yap, tanpa ragu, dokter mengatakan kalau anak ketiga ini laki-laki.

 

Mencoba tersenyum, dan mengatakan alhamdulillah. Namun, dalam hati kecil masih tetap berharap dokter keliru memeriksa dan masih yakin kalau janin ini berjenis kelamin perempuan. Ada rasa kecewa? Ya, ada sedikit.

 

Karena alasan itulah, aku pun mencoba mencari second opinion. Dan, ternyata ketika kami memeriksakan ke dokter yang lain, janin yang aku kandung adalah perempuan. Ah, betapa senangnya mendengar kabar itu.

 

Namun, di pemeriksaan bulan berikutnya, ternyata jelas terlihat kalau janin itu laki-laki. Kembali aku harus belajar untuk memahami makna ikhlas dan ridho. Meskipun di sisi sebagai manusia biasa, keinginan untuk memiliki anak perempuan itu sangat kuat.

 

Tapi, Allah itu Maha Baik. Allah nggak pengen aku menjadi manusia yang tak pandai bersyukur. Di usia kandungan 7 bulan, tanpa kuduga, dokter mengatakan kalau kepala bayi terlihat besar, sudah diulang 4 kali, masih saja terlihat ukurannya yang besar. Dokter menyarankan untuk diobservasi 2 minggu ke depan.

 

Sepulang dari dokter, aku istighfar di sepanjang jalan. Air mata terus membasahi pipi. Aku melangitkan doa, memohon ampun atas semua keegoaan diri yang tak pandai bersyukur ini. Terurai doa apapun jenis kelamin janin yang ada di rahim ini, izinkan ia terlahir dalam kondisi yang sehat dan sempurna.

 

Sejak saat itu, tidak ada lagi beban dengan jenis kelamin anak ketigaku. Aku jauh lebih tenang dan menerima semuanya. Bahkan dengan yakin aku jawab ketika orang-orang langsung menerka kalau anak ketigaku pasti laki-laki lagi.

 

(Lanjut di postingan berikutnya ya… Aku bakalan cerita ‘serunya’ melahirkan anak ketiga.)

 

 

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment