Jumat, 14 Desember 2018

Saat Saya Kecil




Masa kecil itu, masa yang paling sulit dilupakan. Sesulit atau sesedih apapun masa kecil, pastilah akan tetap terpatri dalam perjalanan hidup kita. Meskipun kita berusaha untuk melupakannya, tapi alam bawah sadar akan tetap menyimpan memori yang sudah tersimpan itu.

Begitu pun saya. Terlahir dan dibesarkan dari keluarga yang biasa-biasa saja. Saya bukan anak kyai dan tidak ada darah priyayi. Saya juga bukan berasal dari keluarga konglomerat dan tidak ada garis keturunan pejabat.

Saya hanyalah seseorang yang terlahir dari ibu yang luar biasa. Beliau sosok wanita idola saya. Darinya saya belajar tentang arti cinta, ketulusan dan pengorbanan. Wanita terhebat yang pernah saya kenal. Bagi saya, beliau adalah guru kehidupan yang telah mengajarkan anak-anaknya tentang makna hidup yang sebenarnya.

Saya juga dibesarkan dalam bimbingan dan pendidikan dari seorang ayah yang tidak kalah luar biasanya. Darinya saya belajar kedisiplinan, perjuangan hidup dan kerja keras. Beliaulah yang pertama mengajarkan saya tentang ilmu agama dan ilmu bahasa. Tidak hanya itu, beliau juga yang pertama kali memperkenalkan saya dengan dunia literasi.



Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, tentu saja menjadi hal yang sangat lumrah bagi saya menjadi anak manja. Sebutan anak mamah melekat kuat, bahkan sampai sekarang pun. Sering mendapat privilege sudah bukan hal yang aneh.



Apalagi saya memang terlahir berbeda. Ya, dari sejak bayi sampai remaja, label anak penyakitan melekat kuat. Karena sering sakit-sakitan itulah, saya pun diperlakukan berbeda oleh kedua orang tua dan keempat kakak. Mereka mem-protect saya, bahkan mungkin boleh dibilang berlebihan.

Masa kecil saya memang tidak seindah yang lain. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Obat-obatan, jarum suntik, dokter dan rumah sakit menjadi sahabat setia saya setiap saat. Terkadang saya lelah dengan ritme hidup yang sudah bisa ditebak. Dalam satu bulan saya bisa dua kali periksa ke dokter. Minum obat tidak boleh telat. Dan, satu hal lagi, saya tidak boleh terlalu capek dan banyak aktivitas. How pitty I am!

Jujur, saat itu, saya sering merasa iri dengan teman-teman sebaya. Melihat mereka bisa tertawa riang bermain bebas setiap saat. Sedangkan saya, keluar rumah hanya untuk sekolah, setelah itu aktivitas kebanyakan di rumah. Alasan satu, kedua orang tua saya khawatir kalau sakit yang saya derita bisa kambuh.

Lelah dan bosan dengan rutinitas yang terlihat sangat tidak menarik. Seringkali saya mengeluh karena kondisi tubuh yang ringkih. Tapi, saya beruntung memiliki dua orang hebat. Ya, kedua orang tua saya selalu memotivasi setiap hari. Mereka selalu mengatakan kalau saya bisa lebih baik dari teman-teman.



Dengan caranya, kedua orang tua menemani saya menjemput impian. Dan, itu terbukti, meskipun saya sering izin karena sakit, tapi selalu mendapatkan peringkat 3 besar di sekolah. Selain, saya juga sering ditunjuk untuk mewakili sekolah mengikuti lomba mengarang dan membaca cepat.

Kondisi tubuh saya memang lemah, tapi saya masih bisa meraih apa yang saya impikan. Mungkin kalau dilihat secara kasat mata, masa kecil saya tidak semenarik yang lain. Namun, setidaknya masa kecil saya sangat berarti dalam membentuk saya sehingga bisa seperti sekarang. Kejadian demi kejadian yang saya alami ketika masih kecil, menjadikan saya bisa lebih menghargai dan memaknai hidup dan kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar