Rabu, 20 Januari 2021

ASUS VivoBook 14 A416, The Best Partner in The New Normal Era

17.15 0 Comments

 

Daring lagi?

Itulah kalimat yang terlontar ketika mendapat surat pemberitahuan dari sekolah anak pertama saya yang di-share di WAG kelas. Tidak hanya itu, sekolah juga mengeluarkan kebijakan baru, pembelajaran melalui Aplikasi Zoom dilakukan setiap hari (sebelumnya hanya di hari Jumat saja), baru setelah itu dilanjutkan dengan Video Call, dan diselingi menjawab pertanyaan di Quizziz.

 

Jujur, antara senang, bersyukur dan bingung. Senang karena nggak harus repot mengantarkan anak ke sekolah. Bersyukur karena setidaknya meminimalisir anak bertemu dengan banyak orang. Tapi, bingung karena harus siap berbagi laptop dengan Si Kakak.

 

Ya, the new normal era telah menarik paksa kita ke dunia serba digital. Tak pernah terbayangkan anak usia TK harus sudah sangat dekat dengan teknologi. Istilah-istilah digital pun sudah sangat familiar di telinganya. Mereka pun sudah sangat mahir mengoperasikan perangkat teknologi.

 

 

Pernah terbayang nggak sih sebelumnya, kita harus menjalani kehidupan seperti saat ini? Semuanya serba digital, serba online dan mengurangi kontak fisik dan tatap muka. Selain karena Pandemi, perkembangan zaman pun telah menggiring kita untuk bersahabat erat dengan teknologi.

 

Kita tidak bisa lari dan mengindar dari perkembangan teknologi. Kita juga tidak bisa menyalahkan teknologi ketika hal jelek terjadi pada diri kita atau anak kita. Teknologi hanyalah alat, tetaplah kita yang memegang kemudi, mau diapakan alat tersebut.

 

“Technology is just a tool. In terms of getting the kids working together and motivating them, the teacher is the most important.” (Bill Gates)

 

Berbicara tentang pemanfaatan teknologi, khususnya bagi anak-anak, Belajar Dari Rumah (BDR) sudah menjadi bukti dan fakta kalau saat ini mereka dipaksa untuk berkenalan dan bahkan familiar dengan teknologi.

 

Untuk menunjang itu semua, tentu saja kita membutuhkan perangkat yang compatible. Mereka memerlukan laptop yang bisa nyaman digunakan untuk melaksanakan sekolah daring. Apalagi bagi anak-anak sekolah, mereka butuh laptop yang bisa mendukung proses pembelajaran. Mereka membutuhkan laptop yang efisien, performa bagus dan secara fisik pun kuat.

 


ASUS VivoBook 14 A416



Nah, ini dia laptop yang paling pas untuk School From Home (SFH) ataupun Work From Home (WFH). ASUS VivoBook 14 A416 merupakan laptop level entri yang memberikan kinerja bertenaga dan visual yang imersif. Laptop ini sangat cocok untuk kebutuhan pekerjaan dan juga bermain.

 

Apa saja keunggulan dari ASUS VivoBook 14 A416?

  • Efficiency

Dengan prosessor Intel® CoreTM i5 generasi ke-10 dan grafis diskrit NVIDIA® MX330, ASUS VivoBook 14 A416 membantu kita menyelesaikan berbagai hal dengan cepat dan efisien.

 

  • Dual Storage



ASUS VivoBook 14 A416 memiiki ruang penyimpanan yang dapat memberi kita keunggulan data super cepat dan kapasitas penyimpanan yang besar.

Kita bisa install aplikasi di SSD untuk respon dan load yang lebih cepat.

Selain itu, kita pun bisa menyimpan file besar seperti film, koleksi music dan album foto dalam HDD.

 

  • NanoEdge Display


ASUS VivoBook 14 A416 memiliki layar NanoEdge sehingga menjadikan layar yang luas untuk pengalaman yang imersif dalam bekerja dan bermain.

Pilihan panel hingga resolusi Full HD dengan sudut pandang lebar memiliki lapisan anti-silau untuk mengurangi gangguan yang tidak diinginkan dari pantulan dan silau yang mengganggu, sehingga kita bisa benar-benar fokus pada apa yang ada di depan kita.

 

  • Stylish & Portable




ASUS VivoBook 14 A416 memiliki bobot keseluruhan hanya 1,6 kg. Laptop ini sangat ringan dan portable. Selain itu, terlihat bagus karena memiliki lapisan transparent silver atau Slate Grey.

 

  • Fingerprint Sensor




ASUS VivoBook 14 A416 bisa diakses dengan mudah dan aman karena memiliki sensorsidik jari bawaan di Touchpad dan Windows Hello.

 

  • NumberPad




ASUS VivoBook 14 A416 memiliki NumberPad baru yang membuat semuanya menjadi lebih mudah ketika kita akan menggunakan angka. Kita hanya mengetuk ikon panel sentuh untuk mengubah panel sentuh menjadi panel angka yang diterangi LED.

 

  • Keyboard




ASUS VivoBook 14 A416 memiliki keyboard full-size dengan backlit dapat membantu kita bekerja dalam pencahayaan minim. Selain itu, desainnya ergonomis, konstruksi satu bagian yang kokoh dan key travel 1,4 mm memberikan kita pengalaman mengetik yang nyaman.

 

  • Connectivity




ASUS VivoBook 14 A416 dilengkapi dengan port USB-C® 3.2, yang didesain dapat diputarbalik, sehingga menghubungkan perangkat menjadi jauh lebih mudah. Selain itu, memberikan kecepatan transfer data hingga 10x lebih cepat dari koneksi USB 2.0 yang lebih lama. Ini juga mencakup port USB 3.2 Tipe –A dan USB 2.0, output HDMI dan MicroSD reader. Sehingga kita dapat dengan mudah menghubungkan semua perferal, layar dan proyektor dengan mudah.

 

  • Enhanced Protection




ASUS VivoBook 14 A416 dilengkapi dengan fitur peredam getaran HDD E-A-R® untuk melindungi data kita dari setiap benturan. Sementara sasis yang diperkuat meningkatkan pengalaman mengetik dan memungkinkan cover dapat dibuka tutup dengan satu gerakan yang mulus.

 

Seperti kita tahu, HDD laptop umumnya lebih rentan terhadap kerusakan fisik dibandingkan dengan SSD. HDD yang digunakan pada ASUS VivoBook 14 A416 memiliki fitur peredam guncangan HDD E-A-R® untuk melindungi data kita dari benturan fisik. Perlindungan hard drive aktif secara otomatis mendeteksi guncangan dan getaran di ketiga sumbu untuk secara efektif mengurangi kemungkinan kerusakan HDD, sehingga kita dapat bekerja tanpa khawatir, bahkan dalam kendaraan yang bergerak.

 

  • MyASUS




MyASUS adalah cara mudah untuk mengakses serangkaian aplikasi ASUS yang membantu kita memaksimalkan laptop atau PC desktop. Multitask menggunakan iOS atau ponsel Android atau PC kita. Kita dapat mengoptimalkan kinerja PC atau hubungi layanan dan dukungan purna jual. Kita juga dapat mengunduh banyak sekali aplikasi popular dan penawaran eksklusif.

 

 

Itu dia kelebihan ASUS VivoBook 14 A416. Gimana? Mupeng banget kan? Oya, kalau ada yang bertanya, harganya berapa?

 


 So, tunggu apalagi? Nggak usah pakai mikir panjang lagi deh. Kayaknya laptop ASUS VivoBook 14 A416 ini memang harus dan kudu kita punya, apalagi buat yang punya anak masih sekolah atau kita yang harus bekerja dari rumah. Dengan ASUS VivoBook 14 A416, kita akan jauh lebih produktif di masa pandemi ini. Percaya deh, ASUS VivoBook 14 A416 is the best partner in the new normal era.

Minggu, 10 Januari 2021

Let's Read, Jadikan Momen Membaca dan Bercerita Lebih Ceria

22.50 10 Comments

 


 

Menurut Jim Trelease dalam bukunya The Read-Aloud Handbook menyebutkan bahwa membaca nyaring adalah katalis bagi anak agar ingin membaca sendiri, dan juga memberi dasar untuk memupuk pemahaman pendengaran si anak.

 

Kedua anak saya memiliki gaya belajar yang berbeda. Anak pertama memiliki gaya belajar Audio dan Kinestetik. Sedangkan anak kedua memiliki gaya belajar Visual dan Kinestetik. Dengan gaya belajar yang berbeda ini, sebagai ibu saya pun harus bisa memfasilitasi mereka untuk mendapatkan wawasan dan pengetahuan baru.

 

Apalagi usia keduanya masih berada di momen Golden-Age. Jadi, rasanya sangat sayang ketika melewatkannya begitu saja. Dan, membacakan buku adalah jembatan untuk bisa menanamkan nilai-nilai kebaikan.

 

Dengan membacakan buku, anak-anak saya yang luar biasa aktif, bisa diajak duduk manis mendengarkan cerita. Mereka juga akan dengan mudah diajarkan life skill. Dengan cerita yang dilengkapi dengan gambar-gambar membuat mereka betah berlama-lama mendengarkan dan memperhatikan buku yang dibacakan.

 

Membacakan buku juga bisa membantu saya mengajarkan banyak bahasa, termasuk Bahasa Ibu. Mereka juga saya ajarkan bahasa daerah melalui buku. Saya juga memperkenalkan bahasa asing kepada kedua anak saya dengan membacakan buku nyaring.

 

Membacakan buku nyaring menjadi kegiatan paling ditunggu oleh kedua anak saya. Dalam sehari, mereka bisa meminta 3 sampai 10 buku. Hufft… Melelahkan tapi sangat menyenangkan dan membuat saya sangat bersyukur.

 

Oya, saya ingin berbagi tips agar anak menikmati membaca dan bahkan ketagihan untuk membaca. Ini dia 7 tips agar anak suka membaca:

  • Ajak mereka membaca sejak dalam kandungan

Pengaruh membacakan buku sejak dalam kandungan ini luar biasa. Saya meyakini kalau pendengaran anak itu sudah berfungsi sejak ia masih dalam rahim. Apalagi ketika si ibu dan ayah bergantian membacakan buku, anak akan menjadi lebih mengenal suara kita. Dan, itu bisa membuat mempererat kelekatan kita dengan anak.


  • Bacakan buku setiap hari

Seperti halnya menanam tanaman, ketika kita siram setiap hari, lalu diberi pupuk, maka ia akan tumbuh dengan baik. Begitu pun dengan membacakan buku. Kita sedang menanamkan kebiasaan baik untuk mencintai buku dan juga menanamkan nilai-nilai kebaikan.

 

  • Menggunakan alat bantu

Dunia anak adalah dunia penuh imajinasi. Cobalah bereksplorasi dengan menggunakan bantuan alat lain, misalnya saja gadget, boneka tangan dan boneka jari. Kita bisa sesekali membacakan buku dalam bentuk e-book, misalnya saja membacakan buku yang ada di aplikasi Let’s Read. Anak-anak akan jauh lebih menikmati, loh.

 

  • Ajak anak untuk menjawab dan juga bertanya tentang isi buku

Membacakan buku itu haru menarik. Nah, kita sebagai orang tua bisa ‘menantang’ anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang kita lontarkan. Percaya atau tidak ketika membacakan buku sudah menjadi kebiasaan, mereka akan sering bertanya lebih dulu. Itu artinya, kita telah menanamkan nilai-nilai kritis kepada anak. Anak akan terlatih untuk berpikir kritis.

 

  • Bacakan buku secara bergantian antara Ayah dan Ibu




Membacakan buku nyaring itu bukan hanya tugas ibu atau ayah saja. Tapi, menjadi tugas keduanya. Efek yang didapat, kelekatan antara orang tua dan anak menjadi lebih erat.

 

  • Sediakan pojok baca di rumah

Nah, ini juga penting. Ketika sebuah rumah memiliki tempat nyaman untuk membaca, maka anak pun akan terbiasa dengan atmosfer buku. Mereka juga akan terbiasa melihat orang tuanya membaca. Artinya mereka juga akan meniru apa yang kita lakukan. Nggak usah berpikir memiliki ruang luas untuk pojok baca, mengambil sedikit sudut di ruang tamu atau ruang keluarga juga, bisa menjadi solusi untuk memiliki pojok baca.

 

  • Ajak anak ke toko buku atau perpustakaan

Berikan pengaruh positif kepada anak-anak untuk terbiasa melihat dan bercengkerama dengan buku. Saat ini, bisa juga mengajak anak untuk berselancar di toko buku atau perpustakaan digital.

 

Membacakan buku nyaring itu memberikan banyak manfaat. Tapi, apakah anak-anak yang lahir di era digital ini, masih bisa diajak membaca buku? Sangat bisa.

 

Sebagai ibu dari 2 anak Generasi Alpha, saya pun harus mau bertransformasi. Saya harus jauh lebih cerdas untuk menanamkan kecintaan mereka terhadap buku.




Let’s Read is the answer. Yap, sejak ada Aplikasi Let’s Read, membacakan buku nyaring menjadi lebih menyenangkan. Apalagi bagi Generasi Alpha, dunia digital jauh lebih menarik dan menyenangkan. Kedua anak saya pun, menjadi sangat menikmati dibacakan buku nyaring karena mereka bisa melihat gambar-gambar yang jauh lebih menarik.

 




Jadi, buat para orang tua, tidak ada salahnya loh kita mengunduh aplikasi Let’s Read. Kita akan merasakan manfaat yang luar biasa. Anak-anak akan jauh lebih tertarik dan juga aktivitas membacakan buku pun jadi lebih menyenangkan. Pokoknya, momen membaca dan bercerita akan jauh lebih ceria dengan Aplikasi Let’s Read.

Senin, 28 Desember 2020

Tukoni, Gerakan Dari Hati Di Masa Pandemi

20.57 15 Comments

 

“Orang pesimistis melihat kesulitan dalam setiap kesempatan. Orang Optimistis melihat peluang dalam setiap kesulitan.” (Winston Churcill)

 

Pandemi Covid-19 membuat semuanya berubah. Siapa yang mengira kita harus menjalani kehidupan yang benar-benar baru. Gerak langkah di dunia nyata mulai terganti ke dunia digital. Mulai dari menuntut ilmu sampai menjemput rezeki semua bertumpu pada jalur virtual. Mereka yang tidak bisa berdamai dengan kondisi saat ini, tentu akan terhenti dan tergantikan langkahnya.

 

Belajar dari rumah, bekerja dari rumah serta pemutusan hubungan kerja menjadi fenomena yang harus diterima. Dampak lain tentu saja adanya penurunan daya beli. Kebanyakan masyarakat mulai berpikir seribu kali untuk membeli makanan di luar. Situasi pandemi membuat para penjual harus menutup usaha mereka. Di sisi lain, para konsumen pun melakukan penghematan dengan memasak makanan di rumah agar lebih hemat dan higienis.

 

Tapi, tentu saja kondisi seperti ini bukan untuk dikeluhkan. Seperti halnya yang dilakukan oleh pria asal Jawa Barat yang hijrah ke Yogya, Revo Al Imran Sulaeman. Pria peraih Satu Indonesia Awards ini melahirkan sebuah gerakan yang sangat memberikan manfaat kepada pelaku UMKM. Bersama sahabatnya Eri Kuncoro, berusaha untuk merangkul pelaku UMKM yang terdampak  oleh pandemi Covid-19. 


Dua sosok kreatif ini mampu menjadi solusi di tengah kondisi yang tak pasti. Eri Kuncoro dan Revo Al Imran Sulaeman, hadir memberikan pintu keluar dari masalah yang ada saat ini.  Mereka tidak menebar ikan, namun memberi kail untuk bisa tetap bertahan di masa pandemi. Keduanya berpikir, situasi memaksa untuk terus begerak meski harus tetap berjarak.

 

#YukTukoni

 

Apa itu #YukTukoni

#YukTukoni merupakan sebuah gerakan pembelian dengan mengumpulkan produk dari para penggiat usaha makanan dan minuman, UMKM dan F&B Creator, ke dalam satu tempat yang bisa diakses dengan mudah. Sehingga akan terjadi transaksi dan bisa meningkatkan penjualan produk di situasi pandemi saat ini.

 

Perbedaan TUKONI

Apa bedanya dengan platform atau aplikasi yang sejenis yang sudah ada?

Tentu ada beda dan kelebihannya. Ada beberapa PERBEDAAN yang dimiliki TUKONI:

  • Tampilan produk dan harga lebih jelas
  • Promosi yang tepat sasaran
  • Ada pilihan produk kuliner hits
  • Lebih hemat dan banyak pilihan
  • Berbagai pilihan produk berkualitas dalam 1 tempat
  • Melakuakn QC produk mulai konsultasi, re-design dan pemotretan ulang
  • Belanja di satu tempat di banyak mitra dengan pengiriman cukup 1x


Alur kerja TUKONI

Program Unggulan

Selain itu, Yuk Tukoni juga memiliki Program Unggulan, yaitu:


Beli Dagangan Langganan


Program "Beli Dagangan Langganan" (BFL) merupakan sebuah inisiatif dari TUKONI untuk meningkatkan penjualan usaha yang terdampak Covid-19.


Pihak TUKONI akan menyeleksi satu produk setiap bulannya dan akan dibeli oleh pihak TUKONI, lalu dibagikan kepada kolega dan juga digunakan sebagai bonus pembelian.

 

Dan pada saatnya, pihak TUKONI akan membuka pemasanan pembelian produk tersebut untuk dapat meningkatkan penjualan dari para usaha langganan.

 

Kolaborasi Makanan Hits

Program unggulan ini digagas karena situasi pandemic yang membuat kita tidak bisa kemana-mana, termasuk berwisata dan menikmati kuliner khas. Karena itulah, TUKONI membuat program kolaborasi bersama Kuliner Hits di Yogyakarta dengan membuat versi Makanan Beku (Frozen Food) sehingga produk ini bisa kita nikmati di rumah.

 

Tidak hanya itu saja, TUKONI pun melakukan Re-packing produk. Alasannya sebagai solusi agar makanan bisa dinikmati oleh konsumen di rumah.

 

Mitra TUKONI

Awalnya, gerakan #YukTukoni ini hanya pada kelompok kecil lingkup pertemanan kedua foundernya. Namun hingga awal November, Tukoni telah bermitra dengan 120 penggiat usaha makanan minuman, UMKM dan F&B Creator.


 

Profil Founder TUKONI


Pencapaian dan Pemberitaan TUKONI

Pada bulan Agustus, terjadi lonjakan orderan. Ada 19,1 juta orang mengakses aplikasi Yuk Tukoni dengan volume penjualan mencapai Rp 1,08 miliar.



Dengan platform sederhana tapi bisa menggerakkan penjualan. TUKONI memilih instagram untuk display produk. Sedangkan untuk pembelian, kita bisa memesan via DM Instagram atau melalui Whatsapp Channel. 


Bagi teman-teman pelaku UMKM, inilah kesempatan kalian untuk bergabung. Berada di era tatanan baru ini, tentu saja kita tidak bisa memakai cara-cara lama. Melebur ke dunia digital adalah cara paling cerdas untuk bisa bertahan. 


Bagi teman-teman penikmat kuliner, platform #YukTukoni ini bisa menjadi solusi untuk tetap bisa menikmati makanan khas. Tidak hanya Yogya, karena #YukTukoni juga merangkul UMKM di wilayah Solo, Madiun dan Semarang. Saat ini layanan pesan kirim Tukoni sudah bisa melayani pengiriman ke luar kota Daerah Istimewa Yogyakarta. Coverage area Tukoni saat ini meliputi: Yogyakarta, Sleman, Bantul, Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi, Bandung, Solo, Semarang, Surabaya dan Denpasar.  Setidaknya rasa rindu akan kuliner hits bisa terobati dengan segera hanya dengan menggerakkan jari kita. 



Referensi Tulisan dan Gambar:

www.tukoni.id

https://www.instagram.com/yuktukoni

https://republika.co.id/berita/qjx9iq370/bergerak-untuk-umkm-yogyakarta-selama-pandemi

https://kumparan.com/teman-kumparan/atyuktukoni-gerakan-bantu-umkm-di-yogyakarta-agar-tak-padam-semasa-pandemi


Senin, 21 Desember 2020

Anak TK dan Aplikasi Mobile Di Masa Pandemi

22.21 20 Comments


“Ibu, Kakak hari ini Video Call atau Zoom Meeting?”

“Bu, ustadzah udah ngirim link youtube-nya?”

“Bu, Kakak hari ini jawab pertanyaan di Quizizz ya?”

“Ibu, beli ayam crispy-nya pakai aplikasi Go Food aja.”

 

Itulah contoh celoteh anak pertama saya yang masih duduk di bangku TK. Benar-benar tidak terbayang sebelumnya anak usia TK sudah sangat familiar dengan berbagai aplikasi mobile. Karena hampir setiap hari ia mendengar kata aplikasi, sampai-sampai semua hal selalu dihubungkan dengan aplikasi.

 

Pernah suatu hari, ia minta makan. Dan, saya pun mengatakan harus ke dapur untuk menyiapkan makanan kesukaannya itu. Ia pun mengatakan, “Aduh Ibu ini gimana sih, nggak usah masak, pakai aplikasi aja. Jadi Ibu tinggal main-main sama Kakak.” Terus saya tanya aplikasi itu apa. Dan, ia menjawab, “Aplikasi itu yang ada di handphone terus kita tinggal klik aja, nanti bayarnya juga tinggal klik, jadi nggak usah pakai uang.” Hmmm… Ada benarnya juga sih. Itulah Generasi Alpha, yang dari lahir saja sudah sangat dekat dengan yang berbau digital.




 

Selain karena perkembangan zaman, kondisi pandemi pun telah menggiring kita untuk lebih intim dengan dunia digital. Hampir setiap hari kita bersinggungan dengan beberapa aplikasi mobile. Mulai dari membuka mata di pagi hari, sampai tidur lagi pun, kita tidak bisa jauh dari aplikasi mobile.

 

Bisa dicek di setiap ponsel, pasti semua orang memiliki lebih dari 5 aplikasi mobile. Karena mungkin kita akan menjadi kaum minoritas ketika tidak mengenal dan menggunakan berbagai aplikasi mobile. Apalagi di saat wabah Covid-19 ini, semua hal serba di ujung jari dan genggaman. Tinggal sentuh dan klik, semua sudah didapat dan terselesaikan.

 

Menurut data dari perusahaan analisa pasar aplikasi mobile App Annie, di Quartal ketiga tahun ini, orang-orang di seluruh dunia menghabiskan 180+ miliar jam kumulatif menggunakan aplikasi mobile. Ini artinya terjadi peningkatan 25% dari tahun ke tahun. Aplikasi yang paling banyak digunakan ialah Facebook (termasuk Whatsapp, Messenger dan Instagram), Amazon, Twitter, Netflix, Spotify dan TikTok.

 

Masih menurut laporan yang dirilis oleh App Annie, pasar aplikasi mobile Indonesia mengalami pertumbuhan yang positif. Indonesia beserta empat Negara berkembang lainnya (Brazil, Mexico, Turki dan Indian) dinilai memegang peranan kunci dalam mempengaruhi pertumbuhan grafik yang signifikan dalam pertumbuhan pasar aplikasi mobile di dunia.

 

Hal ini tentu saja memberikan angin segar kepada para pengembang aplikasi mobile. Karena di era sekarang, aplikasi mobile sudah menjadi kebutuhan semua orang. Adanya perubahan pola pikir dan juga gaya hidup menjadikan manusia ingin sesuatu yang lebih praktis dan cepat.

 

Sudah bukan zamannya lagi hal-hal yang berbau konvensional. Dari mulai dunia usaha, pedidikan, bahkan yang berhubungan dengan sosial pun, membutuhkan aplikasi mobile.

 

Jika dilihat dari segmentasi usia, sejak muncul wabah Covid-19 ini, semua generasi membutuhkan dan menggunaka aplikasi mobile untuk menunjang aktivitas mereka. Aplikasi mobile tidak lagi menjadi hak orang dewasa, anak usia TK pun membutuhkannya. Mulai dari belajar, mencari hiburan hingga memenuhi kebutahan hidup, semuanya menggunakan aplikasi mobile. Bahkan saat ini, cari jodoh aja menggunakan aplikasi mobile.

 

Oleh karena itulah, ini merupakan sebuah kesempatan emas yang tidak bisa didiamkan begitu saja. Saat ini memang bukan hal yang sulit untuk mempelajari dunia digital. Ada banyak cara untuk bisa mengembangkan kemampuan di bidang ini.

 

Tidak harus kita mengambil kuliah dengan waktu belajar yang sangat panjang. Saat ini ada banyak lembaga kursus yang memberikan pelatihan membuat aplikasi mobile. Tentu saja, kita harus lebih cermat dan cerdas dalam memilih lembaga kursus. Pilihlah lembaga kursus yang bisa membuat kita tidak hanya sekadar tahu, tapi paham dan bisa menjadi ahli dalam membuat aplikasi mobile.

Minggu, 13 Desember 2020

Inilah Caraku Membersamai Buah Hati

22.29 14 Comments

 




“Kasihan dong, masih kecil udah dimandiin pagi-pagi.”

“Loh, kok jam 7 malam udah tidur?”

“Anak masih bayi kok udah dikasih buku?”

“Masih 2 tahun kok udah diajak ke masjid?”

“Baru 4 tahun kok udah diajarin puasa dan menghafal Al Quran?”

 

Parenting bukan sekadar kumpulan teori dari para ahli untuk mendidik dan mengasuh anak. Lebih dari itu, parenting ialah ilmu memahami diri kita sebagai sosok dewasa yang harus cerdas dan bijak dalam membersamai titipan Ilahi.

 

Karena saya alami sendri, menjadi orang tua itu membutuhkan ilmu. Apalagi ketika kita mau menanggalkan kebiasaan-kebiasaan warisan yang menurut kita kurang tepat untuk diterapkan.


Komentar-komentar mulai dari yang renyah sampai pedas level dewa pun sudah menjadi santapan sehari-hari saya dan suami sejak anak pertama kami hadir. Bagi sebagian orang di sekitar kami, cara kami mendidik itu berbeda, aneh dan tidak sesuai dengan kebiasaan pada umumnya. Mulai dari bertanya sampai nyinyir, sudah pernah kami rasakan.




Kebiasaan-kebiasaan yang kami terapkan sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Saya dan suami pun belajar dari orang-orang yang sudah berhasil mendidik anak-anaknya. Kami mencoba mencari formula yang pas, meracik dan menerapkan sesuai dengan kemampuan kami. Sesuatu yang baik darimana pun itu datangnya, akan kami ATM. Tapi, ketika sesuatu itu kurang baik, meskipun itu datang dari orang terdekat, maka kami berusaha untuk tidak melakukannya.

 

Bagi kami, mendidik anak itu bukan sebuah warisan atau kebiasaan turun temurun. Tapi, mendidik anak itu adalah proses belajar tanpa henti. Cara kami mendidik dan membersamai anak-anak, tentu saja akan berbeda dari cara orang tua kami dulu mendidik.

 

Mengapa? Karena kami sadar bahwa zaman telah berubah, maka kebiasaan dan pola pikir serta kondisi pun sudah berubah. Membersamai Generasi Alpha tentu saja akan jauh berbeda dengan mendidik anak Generasi Y.

 

Karena alasan itulah, kami terus belajar untuk menjadi orang tua. Banyak cara kami lakukan untuk meng-upgrade ilmu parenting. Mulai dari ikut seminar, membaca buku parenting, bergabung dengan komunitas, atau membaca artikel-artikel parenting di website seperti theAsianparent Indonesia.


Trial and error masih selalu kami lakukan sejak anak pertama lahir hingga saat ini. Ketika satu cara atau kebiasaan kurang berefek baik, maka kami pun akan mengganti dengan pola yang lain.

 

Saya ingin berbagi sedikit, mengapa hingga saat ini anak-anak saya terbiasa bangun pagi (sebelum shubuh atau telat-telatnya ketika adzan shubuh). Oya, anak pertama berusia 5 tahun dan yang kedua berusia 2 tahun. Apa saya membangunkan keduanya? Sama sekali tidak. Mereka bangun sendiri dan langsung minta mandi. Sebelum pandemi, biasanya suami mengajak anak pertama untuk ke masjid.

 

Kenapa mereka bisa seperti itu? Karena sejak bayi, ketika mereka terbangun jam 3 atau setengah 4, saya tidak kelonin lagi, tapi saya ajak bangun. Dan, kebiasaan itu, terus tertanam sampai saat ini.

 

Awalnya orang-orang terdekat sempat mempengaruhi agar anak-anak tidak dibiasakan bangun terlalu pagi, apalagi mandi sebelum shubuh. Tapi, saya dan suami yakin dengan apa yang kami lakukan. Kami tidak melakukannya dengan suruhan apalagi paksaan. Mereka melakukan itu karena terbiasa. Bahkan ketika sesekali mereka bangun kesiangan (pukul 5 pagi) karena mungkin terlalu lelah, mereka akan bertanya mengapa tidak dibangunkan.

 

Kebiasaan berikutnya yang katanya aneh adalah memberikan buku di saat mereka masih bayi, memperkenalkan Al Quran sejak mereka baru lahir dan mengajarkan berpuasa. Komentar pertama yang kami terima yaitu, “kasihan dong, masih kecil”.

 

Kami hanya mengiyakan setelah itu menutup telinga. Mengapa? Kami tahu dan yakin apa yang kami lakukan ini tidak melanggar dan memberatkan anak.

 

Untuk kebiasaan membaca, saya sudah mengajaknya membacanya sejak dalam kandungan. Saya dan suami pun memiliki hobi membaca, jadi anak-anak selalu melihat apa yang biasa kami lakukan, dan mereka pun meniru apa yang mereka lihat.

 

Memperkenalkan Al Quran. Inipun tidak jauh berbeda dengan membaca buku. Kami lakukan sebelum mereka terlahir ke dunia. Ini hanyalah ikhtiar kami agar mereka mencintai Al Quran dan juga bisa memahami serta mengamalkannya.

 

Mengajarkan berpuasa. Tentu saja ini bertahap, awalnya ketika usia 3 tahun, kami berikan buku yang bertema puasa. Saya coba ajak bercerita tentang keutamaan puasa. Ketika usianya menginjak 4 tahun, saya dan suami bertanya apakaha ia mau belajar berpuasa. Dengan mantap, ia menjawab iya. Kami pun mengajarkannya untuk berpuasa setengah hari hingga dzuhur, setelah itu boleh berbuka.

 

Bagi saya dan suami, menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik itu tidak bisa instan. Semuanya membutuhkan proses. Karena itu, kami yakin di usia emas inilah, saat paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan tersebut. Tentu saja tidak dengan paksaan. Ada reward dan punishment yang sesuai dengan usianya yang akan mereka dapatkan.

 

Apa mereka mengenal gadget?

Saya dan suami sepakat untuk tetap mengenalkan gadget tapi tentu saja dengan aturan. Alasan kami tetap mengenalkan gadget, karena mereka lahir dan besar di era digital. Jangankan untuk bermain, saat ini, anak pertama saya yang masih di usia TK pun setiap hari harus mengikuti pembelajaran via Zoom Meeting lalu dilanjut Video Call bersama Ustadzahnya. Selain itu, setiap hari ada materi yang harus ditonton di Channel Youtube sekolahnya. Lalu, sebulan sekali harus menjawab pertanyaan di Quiziz. Kebayang dong, kalau mereka tidak mengenal gawai? J



 

Jadi, menurut saya, gadget itu bukan sesuatu yang harus dihindari. Namun, penggunaannya harus proporsional. Tentu saja dengan pengawasan orang tua. Anak saya mendapat jatah 2 jam Screen Time dengan pembagian waktu: setengah jam pagi setelah mengaji (menggunakan Smartphone), setengah jam setelah sekolah online (menggunakan TV), setengah jam setelah tidur siang (menggunakan TV) dan setengah jam sore hari setelah membaca buku (menggunakan Smartphone). Itu semua dilakukan dengan ditemani saya atau suami. Selain waktu-waktu itu, mereka tidak diperkenankan memegang gadget.

 

Bagi saya, menjadi ibu itu anugerah terindah dalam hidup. Bukan sekadar status, tapi sebuah proses belajar mendidik diri menjadi seorang teladan bagi titipan Ilahi. Berani melepas aktivitas yang sudah saya jalani sejak bangku SMA, demi membersamai buah hati, tentu saja tidak mudah.

 

Sejak bertukar Curriculum Vitae pada saat proses ta’aruf, saya dan suami saling bertanya tentang bagaimana cara pandang tentang mendidik anak. Setelah menikah, akhirnya kami sepakat dengan pola asuh yang sekarang sedang kami jalani.

 

Sebuah konsekuensi harus kami jalani dari komitmen yang telah disepakati. Saya  harus berhenti sejenak menjalani profesi pengajar bahasa. Saat ini, saya fokus mendidik dan membersamai dua buah hati. Saya sadar, masa anak-anak itu terbatas, mereka akan segera beranjak dewasa. Karena alasan itulah, saya tidak ingin kehilangan momen luar biasa ini.

 

Anak adalah titipan. Suatu saat kelak, pasti saya akan ditanya tentang titipan ini. Saya ingin Yang Maha Memiliki merasa senang karena saya telah menjaga dan merawat titipan dari-Nya dengan baik.



Saya adalah seorang Ibu yang masih harus terus belajar menjadi lebih baik. Karena bukankah seorang ibu itu madrasah pertama bagi anak-anaknya? Apa jadinya kalau saya berhenti belajar? Apa yang akan anak-anak teladani dari saya? Sejatinya, menjadi ibu itu merupakan profesi terberat sekaligus terindah.  I am very happy for being a mother of two children or maybe more. J