Kamis, 15 Oktober 2020

Scarlett Acne Serum dan Brightly Ever After Serum, No Acne No Breakout [Review]

21.23 12 Comments

  

Jujur nih ya, aku suka mikir berpuluh-puluh kali kalau mau pakau produk buat wajah. Punya kulit sensitive memang nggak mudah buat milih produk perawatan wajah.

 

Cerita sedikit ya, pernah aku coba pakai produk face care gitu, eh taunya baru beberapa minggu wajah langsung bemasalah. Akhirnya harus ke dokter kulit deh. Nah, sejak itu, aku jadi lebih hati-hati memilih produk buat perawatan kulit, khususnya wajah.

 

Tapi, pas tahu ada produk Scarlett Acne Serum dan Brightly Ever After Serum, aku jadi penasaran. Setelah sebelumnya aku cukup puas dengan Scarlett Body Care. bacadi sini

 

Di postingan kali ini, aku akan berbagi pengalaman setelah memakai produk Scarlett Acne Serum dan Brightly Ever After Serum. Oya, aku sudah mencoba produk ini kurang lebih 3 minggu.



  • Scarlett Acne Serum





Kemasan:

Ada kemasan box atau dus kecil berwarna ungu pastel sebagai kemasan luar dari produk ini. Sedangkan produknya sendiri dikemas dalam botol kaca kecil yang sangat tebal, jadi nggak khawatir pecah, loh. Terdapat pipet sekaligus tutup botolnya. Botolnya sendiri berukuran 15 ml. Terdapat semua informasi penting, baik itu dalam kemasan box atau botolnya sendiri.



 

 

Ingredients:

Aqua, Melaleuca Alternifolia (Tree Tea) Leaf Water, Annona Cherimola Fruit, Isopentyldiol, Centella Asiastica Extract, PEG-8, Phenoxyethanol, Salicylic Acid, Ascorbyl Glucoside, Aminomethyl Propanol, Hydroxyethylcellulose, 1,3 – Butylene Glycol, Pentane – 1,2- diol, Di Na EDTA, Ethylhexylglycerin, Isostearamidopropyl Ethyldimonium Ethoslfate, Sodium Hydroxide, Sodium Citrate, 1,2 Hexanediol, Tamarindus Indica Seed Gum, Biosaccharide Gum – 1, Phenylpropanol, Sodium Dehydroacetate, Propylene Glycol, Citri Acid 2-Amini-1-Butanol, Glycyrrhiza Uralensis (Licorice) Root Extract, Olea Europaea (Olive) Fruit Oil, Chartamus Tinctorius (Safflower) Seed Oil.

 

BPOM RI NA18200104454

 

Scarlett Acne Serum memiliki 5 active ingredients, diantaranya:

Tea Tree Water è  mencegah jerawat dan menyamarkan luka jerawat

Jeju Centella Asiatica è meningkatkan kadar minyak alami kulit, menjaga kelembaban kulit, mencegah dan mengurangi kerusakan kulit.

Vitamin C è merawat kulit dari kerusakan sinar matahari, mencerahkan kulit, melawan penuaan.

Salicylic Acid è meredakan peradangan pada saat jerawat muncul, mengangkat kotoran penyumbat pori-pori yang menyebabkan komedo.

Liquorice Extract è kaya akan vitamin dan mineral untuk menutrisi kulit, mengatasi jerawat dan kulit kemerahan, mencegah hiperpigmentasi dan menyerap kelebihan minyak di wajah.

 

Tekstur:

Teksturnya tidak terlalu cair, tapi juga tidak terlalu kental. Wanginya biasanya saja, tidak ada kandungan parfum yang sangat kuat.


 

Cara Pemakaian:

Teteskan 2 – 3 tetes serum, usap dan pijat secara perlahan sampai merata pada kulit wajah. Diamkan beberapa saat agar serum meresap ke kulit wajah.

 

Untuk hasil yang maksimal, disarankan untuk menggunakan siang dan malam hari. Kalau aku sendiri biasanya memakai pagi hari setelah cuci muka dan pada saat akan tidur.


  • Brightly Ever After Serum



Kemasan:

Sama seperti Acne Serum, Brigtly Ever After Serum juga dikemas dengan box atau dus sebagai kemasan luar. Untuk kemasan produknya pun dikemas dalam botol kaca yag tebal. Perbedaannya hanya pada warna, Brightly Ever After Serum ini memiliki kemasan warna pink pastel.




 

Ingredients:

Aqua Niacinamide, 1,3 Butylene Glycol, Lavandula Angustifolia (Lavender), Water, Ascorbyl Glucoside, Arisaema Amurense Extract, 2-Phonexyethanol, Hydroxyethylcellulose, GLUTATHIONE, Aminomethyl Propanol, Ethyl Macadamiate, Decyl Glucoside, Pentane- 12- diol Di Na EDTA, Ethylhexylglycerin, Tamarindus Indica Seed Gum, Biosaccharide Gum – 1, 1,2-Hexanediol, 2 – Amini – 1 – Butanol, Tocopherol, Malic Acid, C.I 16255


BPOM RI NA18201900972


Brightly Ever After Serum memiliki 5 active ingredients, diantaranya:

Glutathione è Meningkatkan kelembaban dan elastisitas kulit, memberikan perlindungan dari radikal bebas, membuat kulit lebih kuat, sehat dan lebih glowing.

Phyto Whitening è menghilangkan kusam dan mencerahkan wajah

Niacinamide è Melembabkan dan menghaluskan kulit, mengatasi jerawat dan menyamarkan noda hitam.

Lavender Water è Menyembuhkan jerawat, melawan kuman penyebab jerawat

Vitamin C è merawat kulit dari kerusakan sinar matahari, mencerahkan kulit, melawan penuaan.

 

Tekstur:

Sama seperti Acne Serum, terkstur Brightly Ever After Serum pun tidak cari tapi juga tidak kental. Wanginya memang agak aneh, lebih ke wangi obat herbal. Tapi, kalau sudah terbiasa, bisa tetap nyaman kok, karena kan produk ini memang tidak mengandung parfum.

 


Cara Pemakaian:

Teteskan 2 – 3 tetes serum, usap dan pijat secara perlahan sampai merata pada kulit wajah. Diamkan beberapa saat agar serum meresap ke kulit wajah.

 

Untuk hasil yang maksimal, disarankan untuk menggunakan siang dan malam hari. Kalau aku sendiri biasanya memakai pagi hari setelah cuci muka dan pada saat akan tidur.

 

Oya, aku memakai produk ini secara bergantian. Dan, efeknya benar-benar terasa, loh. Meskipun wajahku tidak pernah yang berjerawat banyak, tapi aku merasakan wajah lebih kenyal dan lembut. Intinya, aku merasa kulit wajah jadi lebih ternutrisi.



Apa produk ini aman?

Menurutku sangat aman, karena sudah terdaftar di BPOM. Dan, aku sendiri sudah membuktikannya. Tidak ada efek negative yang aku rasakan. Meskipun ada beberapa orang yang menyarankan hanya menggunakan sekali saja, karena ada 5 active ingredients. Tapi, kalau aku tetap menggunakan 2 kali sehari dan hasilnya benar-benar membuatku kagum.

 

Harga?

Semua produk Scarlett itu harganya sama, Rp 75.000,00. Menurutku dengan manfaat yang dirasakan, harga segitu sangat sesuai. Oya, untuk mendapatan produk Scarlett ini sangat mudah. Ada banyak cara buat kita bisa order produk Scarlett, diantaranya:

  1. Chat Whatsapp Admin Scarlett : 087700163000
  2. Chat Official LINE : @scarlett_whitenin
  3. Chat DM Instagram : @scarlett_whitenining
  4. Order di Shopee Official Shop : Scarlett_whitening

Gimana, tertarik mencoba produk Scarlett Acne Serum dan Brightly Ever After Serum? Yakin deh, kalian bakalan jatuh cinta sama produk ini. Wajah bebas jerawat dan lebih glowing dengan Scarlett Acne Serum dan Brightly Ever After Serum.

Senin, 12 Oktober 2020

Scarlett Whitening Body Care, Kulit Putih Jadi Nyata [Review]

21.36 9 Comments


“Ah, syukuri aja. Mau kulit putih atau gelap, itu kan takdir.”

“Kita kan udah emak-emak, kalau mau perawatan, aduh nggak ada waktu.”

“Ya, kali kita artis bisa perawatan mau berapa duit aja, gampang. Nah, kita?”

 

Hayo, ada yang pernah komen bin nyinyir kayak di atas?

Hmmm… Tenang… Kalian nggak sendiri, kok. Nih, yang lagi nulis ini juga dulu sempat berpikiran kayak gitu. Tapi, bersyukur aku cepat tersadar hehehe…

 

Kalau sekarang aku berpikir kebalik nih. Ketika kita merawat tubuh, itu salah satu cara aku bersyukur. Kalau kulit kita bersih, segar, dan sehat kita pun akan menjalani hari jauh lebih semangat. Apalagi bagi emak-emak, semangat itu it’s a must, loh.

 

Terus, apa kulit itu harus putih? Nggak juga. Bagi aku, putih itu bonus. Kalau ada produk body care, yang pertama aku lihat tentu saja harus aman dan nyaman di kulit.

 

Nah, aku mau kasih tahu nih. Kurang lebih 3 mingguan ini aku pakai produk Scarlett Whitening Body Care. Di sini aku bakalan bagi deh pengalaman memakai produknya Felicya Angelista ini.




 

Kali ini yang aku akan bahas ialah Body Scrub, Body Shower dan Body Lotion. Ini pengalaman pribadiku loh ya. Hasil yang aku dapat tentu saja bisa sama atau beda dengan yang lainnya.

 

Rangkaian produk Scarlett Whitening ini mengandung Vitamin E dan Glutathione. Seperti kita tahu vitamin E memiliki banyak manfaat bagi kulit, diantaranya: meningkatkan perlindungan kulit, menyamarkan bekas luka, memperpanjang usia sel, perlindungan ekstra, mencegah penuaan dini dan keriput di wajah, serta berpotensi hilangkan bekas jerawat.

 

Sedangkan Glutathione merupakan antioksidan kuat (zat yang berfungsi untuk memerangi radikal penyebab kerusakan sel tubuh) yang memiliki efek antimelanigenesis, yaitu melawan pembentukan pigmen melanin sebagai pemberi warna kulit. Biasanya semakin banyak pigmen melanin seseorang, maka semakin gelap warna kulitnya. Glutathione terdiri dari tiga asam amino, yaitu sistein, glutamate, dan gilisin.

Ok, sekarang kita bahas satu persatu rangkaian produk Scarlett Whitening Body Care ya…


  • Scarlett Whitening Body Scrub

Scarlett Whitening Body Scrub memiliki 2 varian, yaitu: Romansa dan Pomegrante. Kali ini aku nyobain yang varian Romansa.

 

Pertama kali pakai Scarlett Whitening Body Scrub Romansa, aku langsung suka. Kulit menjadi lebih lembut dan lembab setelah mandi. Oya, wanginya juga bikin fresh, loh. Pokoknya setelah memakai Scarlett Whitening Body Scrub, aku lebih pede dan semangat deh.

 

Kemasan:

Kemasan Scarlett Whitening Body Scrub ini seperti umumnya produk body scrub lainnya. Tapi, ada yang membedakan yaitu ada segel plastik yang bertuliskan SCARLETT. Dengan segel ini, kita jadi nggak khawatir body scrub-nya tumpah atau tercecer kemana-mana.  Oya, ada hologram yang menandakan produk ini asli. Ini penting loh, karena di luaran sana ada yang menjual produk tiruan.




 

Tekstur:

Tekstur secara keseluruhan seperti lotion tapi lebih padat. Warnanya putih susuh. Tekstur scrubnya lebih halus dan nggak bikin perih atau iritasi di kulit. Sensasi lembut dan lembab di kulit langsung terasa, loh. Wanginya juga sangat lembut dan tahan lama.



 

Ingredients Scarlett Whitening Body Scrub:

Acrilic polimer, Triisopranol amin, Glycerin, Mineral oil, Cetyl Alcohol, Cetearyl alcohol, Propilen glycol, Glycol distearat, Dmdmhydantoin, Fragrance, Scrub, Glutathione, Water.

 

BPOM: NA 18190705488

 

Cara Pemakaian:

Ada dua cara memakai body scrub agar hasil yang didapat maksimal, yaitu:

Cara 1

Balurkan body scrub secara merata pada tubuh dalam kondisi belum terkena air (kering). Biarkan selama kurang lebih 2 sampai 3 menit. Lalu, gosok perlahan dan bilas hingga bersih.

 

Cara 2

Balurkan body scrub ke seluruh tubuh yang sudah dibasahi sebelumnya. Setelah itu,  gosok perlahan. Lalu, bilas hingga bersih.


  • Scarlett Whitening Body Shower

Nah, selain body scrub, aku juga nyobain produk body showernya, loh. Kali ini aku mencoba 3 varian Scarlett Body Shower, yaitu: Pomegrante, Cucumbar, dan Mango.


 

Saking penasarannya, aku coba ketiga-tiganya secara bergantian. Tapi, kalau aku sendiri jatuh cinta sama Scarlett Body Shower Pomegrante. Wangi parfumnya mewah. Selain itu wanginya tahan lama dan nempel ke baju, jadi kalaupun nggak pakai parfum, badan tuh tetap wangi dan segar sepajang hari, loh.

 

Kemasan:

Kemasannya berbeda sekali dengan produk body shower lainnya. Bentuknya lebih seperti botol minuman. Warnanya transparan jadi kita bisa langsung tahu isinya juga. Tutup kemasannya flip-flop berwarna putih. Ada tulisan emboss SCARLETT  di body kemasannya. Selain itu, ada sticker original yang menjadi penanda keaslian produknya.



Tekstur:

Tekstur body shower ini berbentuk gel dengan warna sesuai dengan variannya. Ada butiran kecil berwarna merah dan biru. Butiran ini berfungsi untuk mengangkat kulit mati. Busa yang dihasilkan cukup banyak. Sabun ini nggak lengket tapi juga nggak bikin kesat di kulit. Tapi, yang terpenting kulit menjadi lebih lembab dan halus. Selain itu, wangi dari body shower ini sangat bertahan lama menempel di kulit. Jadi, kayak pakai parfum gitu.



Ingredients:

Sodium Lauryl Sulfate, Sodium Lauryl Sulfate, Fatty Alcohol Sulfate, Coconut Diethanolmelamine, Coco Amido Propyl Betaine, Lauryl Betaine, Ethyl Diamin Tetra Acetic Acid, Glycol Distearat, Steareth-20 Methacrylate Copolymer, Dmdm Hydantoin, Glycerin, Fragrance, Beads A2 milicapsule, Glutathione, Water.

 

BPOM: NA 18180701928

 

Cara Pemakaian:

Sama seperti pemakaian shower scrub pada umumnya. Basahi tubuh lalu usapkan shower scrub ke seluruh tubuh (bisa langsung menggunakan tangan atau menggunakan shower puff). Setelah itu, bilas hingga bersih.


  • Scarlett Whitening Body Lotion





Produk terakhir yang aku coba dari rangkaian produk Scarlett Whitening Body Care ialah Fragrance Brightening Body Lotion. Untuk Body Lotion ini, aku nyoba varian Charming dan Romansa. Untuk yang charming warnanya ungu, sedangkan Romansa berwarna putih.

 

Sebenarnya dari awal aku penasaran dengan varian Charming yang katanya wanginya hampir sama dengan parfum Baccarat Rouge 540 Eau De yang berharga jutaan itu, loh. Hmmm… Menurutku sih emang wanginya beda dari body lotion kebanyakan.

 

Aku biasanya pakai secara bergantian. Kalau lagi butuh semangat, biasanya aku pakai yang varian charmin. Tapi kalau lagi butuh relaks sambil nulis atau pas mau tidur, aku paka yang varian Romansa. Wanginya lebih soft jadi bisa menghilangkan penat juga.

 

Kemasan:

Kemasan dari Body Lotion ini hampir mirip dengan Body Shower. Tapi yang berbeda ada pada tutup kemasannya yang didesain pumping. Selain itu ada lock-unclok system dan ada penyangga tutup juga yang membuat lotion tidak keluar. Jadi buat emak-emak yang punya krucil yang sangat kreatif seperti diriku J, ini sangat aman banget dari kekreatifan tangan mereka.

Sama seperti kemasan body shower, untuk kemasan body lotion ini pun terdapat emboss tulisan SCARLETT di badan kemasan. Ada sticker original yang menandakan keaslian produk.




 

Tekstur:

Tekstur dari body lotion ini tidak lengket dan tidak licin, tapi cenderung kesat. Cepat meresap di kulit dan wanginya sangat tahan lama. Menurutku, ketika kita memakainya setelah mandi, kulit akan terasa jauh lebih lembab dan lembut.




Ingredients:

Acrylic, polimer, Cetearyl Alcohol, Triisopropanol Amin, Propana 1-2-diol, Propane-1,2,3-triol, Methylchloroisothiazolinone, Methylisothiazolinone, Fragrance, Beads A2-milicapsule, Glutathione, Water

 

BPOM: NA 18190123882

 

Cara Pemakaian:

Usapkan body lotion ke seluruh tubuh setelah mandi. Gunakan 2 sampai 3 kali sehari.

 



Beneran nggak sih Scarlett bisa bikin kulit lebih putih?

Ya. Aku berani bilang Scarlett bisa benar-benar membuat kulit putih. Nggak pake bohong, lho. Aku sudah membuktikan sendiri dengan pemakaian selama kurang lebih 3 minggu. 

 

Apalagi kalau kita memakai rangkaian produk Scarlett semuanya, hasil yang didapat pun akan maksimal. Tidak sekadar putih, tapi juga kita dapat bonus wangi dan kulit jauh lebih lembab serta lembut. Kulit jadi lebih ternutrisi, loh.

 

Tapi, satu hal yang perlu diingat ya, kita harus memakai secara rutin dan tepat. Oleh karena itu, kita harus membaca dan memperhatikan cara penggunaannya terlebig dahulu.

 

Amankah produk Scarlett?

Kalau aku pribadi sebelum memilih produk, pasti yang dilihat apakah sudah terdaftar di BPOM atau belum. Karena ini sangat penting, dan aku yakin semua orang juga pasti akan berpikiran yang sama. Ketika satu produk itu sudah terdaftar di BPOM, artinya produk itu sudah teruji dan aman untuk digunakan.

 

Nah, nggak usah khawatir dengan produk Scarlett, karena semuanya sudah terdaftar di BPOM. Selain itu, produk Scarlett itu not tested on animal, loh.  Jadi, nggak ada alasan lagi deh untuk mencoba produk fenomenal ini J.

 

Harga?

Nggak perlu mahal kok untuk bisa mendapatkan kulit putih, sehat dan wangi. Seluruh produk Scarlett bisa didapatkan dengan harga yang sangat ramah, yaitu Rp 75.000,00 per satuan. Ada juga harga paket hemat yang 5 item, harganya Rp 300.000,00 (dapat box exclusive + free gift). Gimana, murahnya dan bonusnya kebangetan ya?

 

Oya, cara dapatinnya juga gampang banget. Ada banyak cara buat kita bisa order produk Scarlett, diantaranya:

  1. Chat Whatsapp Admin Scarlett : 087700163000
  2. Chat Official LINE : @scarlett_whitening
  3. Chat DM Instagram : @scarlett_whitenining
  4. Order di Shopee Official Shop : Scarlett_whitening

 



Nggak usah khawatir memesan produk Scarlett via online, karena dijamin aman. Boxnya itu rapi banget dan tentunya reusable, dibalut dengan bubble wrap yang tebal juga. So, tunggu apalagi, langsung deh order dan cobain rangkaian produk Scarlett Whitening Body Care. Kulit cerah, putih dan lembut jadi nyata.


Minggu, 20 September 2020

Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Rokok

20.32 23 Comments

 


“Lebih baik tidak makan daripada tidak merokok.”

Pernahkah kita mendengar pernyataan di atas? Rasanya statement itu memang sangat familiar di telinga kita.

 

Pembenaran. Ya, rasanya itu hanya sebuah pembenaran dari para perokok. Mereka merasa kebutuhan rokok itu menjadi sesuatu yang sangat penting, bahkan bisa mengalahkan kebutuhan pokok.

 

Bahkan akhir-akhir ini, muncul statement yang menyatakan kalau rokok bisa menghindari virus corona. Nah, kalau ini jelas-jelas salah. Karena yang sebenarnya ialah perokok jauh lebih berbahaya ketika ia terkena virus corona. Penyakit yang diakibatkan dari rokok bisa menambah parah virus corona tersebut.

 

Kembali lagi, banyak sekali pembenaran dan seribu alasan dari para perokok. Memang tidak mudah bagi perokok untuk sadar kalau apa yang dilakukannya itu sangat berbahaya, tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi orang-orang di sekitarnya.

 

Sebagai orang Indonesia, kita patut bersedih sekaligus berpikir dengan kondisi di negara kita. Berdasarkan laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) yang dirilis pada 2019, yang berjudul The Tobacco Control Atlas Asean Region, Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di ASEAN, yakni 65,19 juta orang.

 

Setali tiga uang, menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dalam kurun waktu setahun terakhir, pengeluaran non-konsumsi per kapita dalam sebulan sebesar lebih dari 50 persen. Dari data tersebut, jumlah uang yang dikeluarkan untuk rokok nilainya cukup besar. Dalam sebulan angkanya mencapai lebih dari 6 persen secara rata-rata nasional. Pengeluaran uang untuk membeli rokok lebih besar dibanding uang yang dipakai untuk membeli beras yakni sekitar 15 persen sebulan.

 

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat bahwa pengeluaran rokok, khususnya rokok kretek filter, menjadi komoditas penyumbang terbesar kedua pada kemiskinan setelah makanan. Dalam catatan BPS angka kontribusi rokok sebesar 11-an persen di perkotaan dan 10-an persen di pedesaan. Tidak hanya itu, masa pandemi ini, Komnas Pengendalian Tembakau merinci terjadi peningkatan jumlah perokok sekitar 13 persen.

 

Tapi, coba perhatikan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Juni dari 87.379 responden, sebanyak 70,53% kelompok pekerja di sector informal yang mengalami penurunan pendapatan terbesar. Pekerja sektor informal ini memiliki pendapatan 1,8 juta.

 

Bisa kita bayangkan sebelum pandemi, mereka mendapatkan gaji sebesar 1,8 juta perbulan. Dengan jumlah tersebut, tentu saja bisa dikatakan tidak besar atau bahkan masih dikatakan kekurangan. Lalu, setelah pandemi pendapatan mereka mengalami penurunan. Namun, kebiasaan merokok masih belum bisa ditinggalkan.

 

Kita coba hitung secara kasar, harga rokok saat ini sekitar Rp. 11.500,00 – Rp. 30.000,00. Kalau seorang kepala rumah tangga yang merokok menghabiskan 1 bungkus rokok per hari, berapa ia harus mengeluarkan uang selama sebulan?

 

Lalu, bandingkan dengan harga beras premium saat ini sekitar Rp. 10.000,00 dan harga telur sekilo sekitar Rp. 20.000,00. Apakah pengeluaran untuk beras jauh lebih tinggi atau sebaliknya? Apakah harga untuk kebutuhan protein masih lebih mahal daripada asap mematikan yang dihisap?

 

Terkadang memang sulit untuk memahami pola pikir ahli hisap ini. Sudah jelas-jelas banyak efek negative, namun masih saja dilakukan. Sebenarnya apa yang didapat dengan merokok? Ketenangan sesaat? Bisa diterima oleh komunitas sesama perokok?

 

Kalau dipikir dengan pikiran yang jernih, memang sangat sulit untuk mencari manfaat merokok. Tapi, memang lingkungan sangat berpengaruh untuk membentu kebiasaan merokok ini. Biasanya karena melihat orang tuanya yang merokok, atau berteman dengan para perokok.

 

Ketika seseorang sudah terbiasa merokok, sangat tidak mudah untuk menghentikannya. Kandungan nikotin yang terdapat pada rokok membuat perokok kecanduan dan sulit menghentikan kebiasaan merokoknya.

 

Bahkan menurut Nurul Nadia Luntungan, peniliti CISDI (Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives) pada Ruang Publik KBR dalam talkshow bertema “Pandemi: Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Rokok", adiksi nikotin pada rokok itu terbesar di dunia, mengalahkan adiksi dari narkotika.

 

Masih menurut Nurul, perokok yang ingin berhenti setidaknya membutuhkan waktu 6 bulan. Namun, hal ini pun harus diikuti oleh keinginan yang kuat dan lingkungan yang mendukung. Para perokok yang ingin menghentikan kebiasaannya harus benar-benar menjauh dari komunitas perokok. Karena biasanya pengaruh teman dan lingkungan jauh lebih kuat.

 

Dikatakan oleh Nurul, perokok yang ingin berhenti tapi masih berkumpul dengan orang-orang yang suka merokok kalau dianalogikan seperti orang yang ingin diet di saat hari raya. Tentu saja akan banyak godaan untuk bisa menghindarinya.

 

Lingkungan itu memang sangat berpengaruh. Maka patut diacungi jempol ketika ada daerah yang berani untuk menjadikan kampung bebas asap rokok dan covid-19, seperti di daerah Cililitan, Jakarta Timur.

 

Seperti yang dijelaskan oleh M. Nur Kasim, Ketua RT 01/RW 03 Kampung Bebas Asap Rokok dan Covid-19 Ciliitan pada talkshow yang sama di Ruang Publik KBR, daerahnya mulai menerapkan aturan bagi para perokok sejak 18 Juli 2020. Terdapat beberapa aturan, salah satunya ialah larangan  merokok di dalam rumah.

 

Dengan adanya aturan seperti ini, sangat bisa memberikan efek positif. Karena para perokok menjadi terbatas ruang geraknya. Setidaknya dengan adanya larangan merokok di dalam rumah, artinya mereka harus mencari tempat lain, dan tentu saja itu bisa mengurangi jumlah rokok yang dikonsumsi. Bahkan ketika dalam satu lingkungan sudah sangat jarang yang merokok, maka mau tidak mau kebiasaan merokok akan berkurang.

 

Budaya. Sebenarnya masalah budaya ini yang harus kita perhatikan juga. Di beberapa daerah, pada setiap acara kenduri, pribumi (yang punya hajat) harus menyediakan rokok dan membagikan kepada para tamu. Kebiasaan seperti ini sudah berlangsung sejak lama. Jadi, secara tidak langsung, para generasi muda akan berpikir, merokok itu sesuatu yang biasa dan bukan menajdi sebuah hal jelek.

 

Selain masalah budaya, harga rokok di Indonesia pun masih sangat murah. Meskipun per awal tahun 2020 ini ada kenaikan harga, namun tetap saja masih bisa terjangkau. Di Australia harga rokok perbungkus sekitar Rp 271.000,00. Di Selandia Baru rokok dihargai sebesar Rp. 240.000,00. Sedangkan di Inggris, harga rokok sekitar Rp. 183.000,00. Sekarang bandingkan dengan di Indonesia?

 

Harga sebungkus rokok masih lebih murah dari harga makanan siap saji. Bahkan anak-anak di bawah umur pun bisa membelinya dari uang jajan yang dia dapat dari orang tuanya.

 

Tidak hanya itu, penjualan rokok pun masih bisa didapatkan dengan mudah. Di Indonesia, kita bisa mendapatkan rokok hampir di setiap kita melangkah. Warung kecil, fasilitas umum, bahkan di area perkantoran atau sekolah, rokok bisa ditemui.

 

Sudah seharusnya semua pihak mulai peduli dengan masalah rokok ini. Kita tentu tidak ingin generasi muda hancur karena rokok ini. Saatnya kita menyadarkan para ahli hisap untuk menghentikan kebiasaan merokoknya. Tentu saja harus ada peraturan yang tegas dari para pemegang kebijakan, dan menaikkan cukai rokok saja tidak cukup untuk membuat perokok jera dan meninggalkan kebiasaan jeleknya tersebut.

 

 

“Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagai dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesia Social Blogpreneur (ISB). Syaratnya bisa Anda lihat di sini.

Selasa, 11 Agustus 2020

Pertanian Di Tangan Generasi Y, Z dan Alpha

21.37 26 Comments

Dok. pribadi
 


Menurut data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dirilis BPS 2018, jumlah petani hanya tinggal 4 juta orang dari jumlah penduduk Indonesia sebanyak 264 juta orang. Jumlah yang sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah penduduk keseluruhan.

Tapi, memang kita pun dapat melihat fenomena yang terjadi saat ini. Para generasi milenial lebih memilih profesi lain daripada harus melanjutkan menggarap sawah orang tuanya. Menjadi petani tidak ada dalam list pekerjaan impian mereka.

Padahal kondisi seperti ini akan berpengaruh kepada produksi pangan. Mau tidak mau, jumlah penduduk yang banyak tentu akan mengakibatkan permintaan atau kebutuhan pangan meningkat. Tapi, hal tersebut tidak sebanding dengan produksi. Jadi, akibatnya akan berpengaruh kepada harga dari komoditas pangan tersebut.

Tidak hanya dari sisi sumber daya manusianya saja, tapi luas lahan pun berpengaruh. Tahun 2019, Indonesia memiliki luas Lahan Baku Sawah (LBS) 7.463.948 hektare. Pulau Jawa mendominasi jumlah luas ini. Provinsi Jawa Timur menduduki urutan pertama yang memiliki luas Lahan Baku Sawah (LBS) tertinggi, yaitu 1,2 juta hectare.

Data tersebut berdasarkan pendataan yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Badan Informasi Geospasial (BIG) serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN).

Luas tersebut jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, mengalami kenaikan. Namun, jika dibandingkan dengan luas Lahan Baku Sawah (LBS) pada 2013, maka mengalami penyusutan sekitar 287.000 hektare.

Salah satu penyebab menyusutnya luas Lahan Baku Sawah (LBS) dikarenakan alih fungsi lahan. Lahan pertanian sudah banyak yang berubah menjadi properti, infrastruktur, atau juga pabrik yang cukup masif. Intinya terjadi ketidakselarasan antara pembangunan dengan pelestarian lahan pertanian. Di satu sisi, ingin meningkatkan pembangunan infrastruktur, tapi di sisi lain melupakan keberadaan lahan pertanian yang juga memberikan kontribusi pada perekonomian negera.

Padahal kita patut bersyukur karena di saat pandemi ini, pertanian masih menjadi salah satu sektor yang mendominasi struktur PDB menurut lapangan usaha. Struktur sektor pertanian ada di urutan ketiga sebesar 12,84%  setelah sector industri pengolahan (19,98%) serta perdagangan besar dan eceran (13,30%).

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor pertanian tetap menunjukkan kinerja yang baik pada April 2020 dengan nilai US$ 28 miliar. Itu artinya, terjadi kenaikan sebesar 12,66 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019.

Dengan kondisi seperti ini, setidaknya kita masih memiliki harapan agar sektor pertanian ini bisa tetap memberikan andil dalam perekonomian Negara. Bagaimanapun juga, Indonesia sebagai Negara agraris, tidak bisa dan bahkan jangan sampai kehilangan sektor pertanian ini.

Berkaca dari masa pandemi ini, lapangan pekerjaan yang tetap ada dan tidak terganggu adalah sektor pertanian. Tidak ada petani yang tidak turun ke sawah karena wabah covid-19 ini. Apalagi di bulan Maret dan April tahun ini, Indonesia mengalami panen raya.

Selain sebagai penyedia lapangan kerja, ada beberapa alasan mempertahankan dan meningkatkan kualitas sektor pertanian, diantaranya: meningkatkan devisa negara, perolehan nilai tambah dan daya saing, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, sebagai bahan baku industry dalam negeri dan optimalisasi pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Tapi, pertanyaannya, apa bisa sektor pertanian bertahan di masa depan? Bukankah generasi saat ini saja sudah berkurang atau bahkan tidak memiliki ketertarikan untuk turun ke sawah?

 

Karakteristik Generasi Y, Z dan Alpha

Generasi Y atau disebut juga Generasi Milenial ialah generasi yang lahir pada tahun 1981-1994. Generasi ini lahir di era perkembangan teknologi yang pesat. Generasi ini sudah mengenal handphone sebagai alat komunikasi.

Dikutip dari Forbes, generasi ini memiliki passion yang besar dan sangat kreatif menjadikan passion mereka sebagai sumber penghasilan. Karena generasi ini lahir di era perkembangan teknologi, maka mereka bisa mendapatkan informasi yang jauh lebih cepat. Mereka tumbuh menjadi generasi yang lebih inovatif dan memunculkan ide visioner terkait perkembangan teknologi dan sains.

Generasi Z ialah generasi yang lahir pada tahun 1995-2010. Mereka lahir pada saat transisi perkembangan teknologi. Mereka sudah mengenal inovasi teknologi seperti smartphone dan social media.

Saat ini mereka memasuki usia dewasa muda. Generasi ini jauh lebih terbuka terhadap perubahan dan juga inovatif dalam mengembangan hal baru. Generasi inipun tumbuh lebih individualis.

Generasi Alpha ialah generasi yang lahir pada tahun 2010 ke bawah. Ini adalah generasi termuda. Mereka sudah mengenal teknologi dari sejak lahir. Mereka pun sudah sangat familiar dengan smartphone dan interner. Generasi ini sangat terpengaruh dengan teknologi.

 

Inovasi Sektor Pertanian

Saat ini dan beberapa tahun ke depan, pembangunan dan roda perekonomian Indonesia berada di tangan ketiga generasi ini. Sebenarnya Pemerintah sudah menyadari kondisi ini. Jangankan Generasi Z dan Generasi Alpha, Generasi Milenial pun sudah banyak yang tidak tertarik dengan sektor pertanian.

Tentu saja, keadaan seperti ini tidak bisa dielakkan. Kita tidak bisa memaksa para generasi digital untuk turun ke sawah. Tapi, kita bisa mencari cara cerdas agar mereka mau mengenal dan bersentuhan dengan sektor pertanian.

Sebagai generasi yang lahir dan dibesarkan di dunia digital, mereka pastinya akan sangat familiar dengan yang berbau teknologi. Oleh karena itu modernisasi dan digitalisasi pertanian merupakan jawabannya.

Tak bisa dipungkiri, untuk tetap bertahan di era revolusi industri 4.0, pemanfaatan teknologi dan digitalisasi menjadi hal yang sangat penting. Pergeseran tenaga manusia menjadi tenaga mesin serta terintegrasi internet sudah menjadi sebuah keharusan saat ini.

Karena itu, tidak salah untuk saat ini dan di masa depan, kita sudah harus menerapkan konsep pertanian presisi (precision agriculture). Pertanian presisi ialah bertani dengan input dan teknik yang tepat sehingga tidak terjadi pemoborosan sumber daya.

Pertanian presisi merupakan konsep manajemen pertanian berdasarkan pengamatan, pengukuran dan repons terhadap variabilitas dalam dan antar bidang pada tanaman. Dengan cara ini, produktivitas dan kualitas produk bisa lebih optimal.

Tidak hanya itu, dalam pertanian presisi, pemanfaatan teknologi dapat meminimalisir dampak negative lingkungan dan juga risiko pertanian. Artinya, pertanian presisi jauh lebih bisa diaplikasikan di era sekarang dan masa depan.

Kita pun patut bersyukur, karena inovasi pertanian presisi ini sudah mulai dilakukan oleh para pelaku start up dan beberapa perusahaan. Tentu saja, perusahaan  yang mengembangkan pertanian dengan memanfaatkan teknologi big data analytic yang berbasiskan analisis cuaca, informasi sensor tanah, serta pencitraan satelit dan drone yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian.

Tidak hanya berinovasi pada proses produksinya saja, sektor pertanian saat ini dan di masa depan juga harus memiliki manajemen yang baik dalam hal distribusi atau pemasaran. Kembali lagi, pemanfaatan teknologi harus menjadi poin penting. Bahkan dengan digitalisasi, akan jauh lebih cepat, tepat dan efisien.