Jumat, 21 September 2018

5 Bahasa Cinta

21.10 0 Comments




“Kenapa ya anak saya tuh masih saja bilang kalau saya nggak sayang sama dia, padahal saya kurang apa, semua kebutuhan dia sudah saya penuhi?”
“Kadang bingung menghadapi istri/suami, rasanya yang saya lakukan selalu saja nggak buat dia senang.”

Pernah nggak mendengar keluhan seperti di atas? Atau jangan-jangan kita sendiri yang sering mengucapkannya?

Hmmm… sebenarnya hal ini merupakan permasalahan klasik yang dialami kebanyakan orang. Tidak jarang masalah ini merembet ke masalah-masalah lain. Ya, dimulai dari merasa tidak dianggap, tidak dihargai dan tidak diperhatikan hingga akhirnya mengikis rasa cinta sedikit demi sedikit. Oleh karena itu, hal ini tidak bisa dianggap remeh. Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Pahami Bahasa Cinta

Yap, setiap orang punya bahasa cinta yang berbeda. Boleh jadi niat kita baik, tapi cara kita menyampaikan rasa cinta kepada anak atau pasangan tidak sesuai dengan bahasa cinta yang mereka miliki. Menurut Dr. Gray Chapman dengan teorinya Five Love Languages, menyebutkan ada lima bahasa cinta yang biasa dilakukan oleh seseorang, yaitu:

1.    Words of Affirmation (pujian)
Orang seperti ini tercermin dari kesukaannya pada pujian dan kata-kata membangun. Ia akan sangat nyaman dengan sapaan manis penuh dengan kata-kata indah.

2.    Quality Time (Waktu yang berkualitas)
Orang yang memiliki bahasa cinta ini sangat suka bila diajak melakukan kegiatan bersama-sama. Ia akan merasa sangat dicintai dan diperhatikan ketika kita memberikan banyak waktu kepadanya.

3.    Receiving Gift (Penerimaan hadiah)
Orang dengan karakter ini sangat suka sekali ketika ia menerima hadiah dari seseorang. Tidak peduli besar atau kecil maupun mahal atau murah. Karena yang terpenting ialah sebuah bingkisan sebagai tanda perhatian dan cinta untuknya.

4.    Acts of Service (dilayani)
Orang ini sangat suka sekali ketika ia bisa dilayani. Ia akan merasa diperhatikan dan disayangi jika orang-orang membantunya melakukan sesuatu. Bukan karena ia tidak mampu, namun ia akan merasa sangat dicintai dengan diperlakukan seperti itu.

5.    Physical Touch (Sentuhan Fisik)
Orang dengan bahasa cinta seperti ini sangat suka dan nyaman ketika ada sentuhan fisik dengannya. Pelukan, tepukan di punggung dan usapan kehangatan akan membuatnya semakin bangkit dan mampu bertahan hidup.

Sekali lagi, setiap orang memiliki bahasa cinta yang berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk memiliki bahasa cinta yang sama dengan kita. Untuk itu, sebagai orang tua, belajarlah memahami bahasa cinta anak-anak kita. Jangan sampai apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Perlakukanlah anak-anak kita sesuai dengan bahasa cintanya, agar mereka tak akan pernah merasa dahaga akan rasa cinta dan kasih sayang.  


Senin, 17 September 2018

Semakin Produktif dengan ASUS X555

21.48 0 Comments




Sebagai seorang yang hobi banget dengan dunia tulis menulis, laptop menjadi barang wajib bin kudu dimiliki. Rasanya seperti ada yang hilang kalau nggak punya laptop. Jangankan sampai nggak punya, laptop ngadat dikit aja, stress bisa berhari-hari tuh. Ya, meskipun aku tuh bukan penulis terkenal, tapi kalau sudah nuangin tulisan itu rasanya ada kebahagiaan tersendiri, apalagi kalau sampai buku terbit atau menang lomba, pokoknya bahagia dunia akhirat dah... #Lebay.com

Sejak kecil memang aku tuh hobi banget sama yang namanya nuangin cerita. Ya, ngayal-ngayal gitu, pokoknya bisa ngerasain jadi anak pintar, cantik, tajir dan miskin. Meskipun kalau yang terakhir sih bukan ngayal, tapi emang pengalaman pribadi gitu heheh…  Tapi, serius deh bukan hanya kata motivator lho yang bilang kalau menulis itu terapi, menulis itu emang obat paling ampuh untuk mengobati luka hati. Ceileeh….bahasanya hahah… Eh, tapi bener, aku akui dengan menulis, saya bisa merasa jauh lebih plong gitu. Ketika ada kata atau perasaan yang tak dapat terucapkan lewat mulut, jemari menjadi alat penyampai paling tepat.



Ngomong-ngomong tentang menulis, belakangan ini aku lagi senang banget ngeblog. Hmm… Sebenarnya sih kalau mulai ngeblog itu sejak tahun 2011. Pokoknya bikin akun di beberapa blog gratisan, mulai dari multiply, blopspot, wordpress, kompasiana sampai indonesiana. Tapi saat itu aku nggak istiqomah alias ngeblog pas lagi datang ilham aja. Nah, sejak orang-orang udah semakain beralih ke dunia digital, kok ngeblog semakin seru dan menyenangkan gitu, komunitas ngeblog ada dimana-mana. Akhirnya mulai deh tuh belajar fokus plus pindah dari yang gratisan ke blog berbayar. Lebih tepatnya dibayarin oleh suami saking mendukung banget sama passion istrinya.

Dan, tentu saja saat ini yang namanya ngeblog bukan sekadar menuangkan tulisan saja. Tapi, seorang blogger harus mampu menyajikan konten yang menarik dengan segala tambahannya. Karena alasan itulah, aku membutuhkan laptop yang mumpuni. Tentunya bukan laptop yang hanya bisa digunakan untuk mengetik saja.


Aku dan ASUS



ASUS. Kalau boleh jujur nih, merk yang satu ini sudah jadi pilihan sejak pertama kali punya laptop. Dulu, pertama kali mau beli laptop pastinya nanya sana-sini, muter-muter di pusat barang-barang eletronik terbesar di kota kembang. Dan, ternyata kebanyakan penjual menyarankan untuk membeli produk ASUS.

Ya, kalau yang bilang cuman satu orang, pastinya nggak akan aku dengar. Tapi, karena yang nyaranin banyak, jadi pilihan pada produk ASUS pun aku ambil. Saat itu, aku beli yang sesuai dengan budget tentunya. Dalam pikiranku yang penting bisa menunjang aktivitasku sehari-hari sebagai guru dan juga nemenin me time menuangkan ide-ide ke dalam tulisan.

Aku dan ASUS itu punya kedekatan tersendiri lho. Laptop pertama yang aku punya ASUS, terus dari laptop itulah aku mulai merasa nyaman untuk terus berkarya. Dan, akhirnya aku bisa memenangkan beberapa lomba menulis. Dari salah satu lomba yang aku ikuti, aku mendapatkan sebuah laptop ASUS lagi. Udah sehati kali ya dengan merk laptop yang satu ini hehehe…


ASUS X555



Bagiku, laptop itu udah seperti nyawa kedua. Mau kemana pun, pastilah harus bin wajib dibawa. Apalagi kalau pergi ke tempat jauh dan harus menginap, laptop itu barang yang ada di list pertama yang wajib dibawa. Meskipun sekarang sudah ada smartphone, tapi kalau menurutku untuk mengetik itu jauh lebih nyaman menggunakan laptop. Bukan karena mata minusku atau gaptek dengan smartphone. Tapi, lebih enak aja menuangkan idenya kalau menggunakan laptop. Dan, rasanya seperti ada yang kurang atau hilang kalau nggak bawa laptop.

Tapi, kalau laptop kondisinya udah nggak bikin nyaman, udah pasti jadi kepikiran. Sepertinya harus mulai mencari pengganti supaya ide-ide nggak hilang dibawa angin. Sebenarnya udah mulai ngincer-ngincer sih nyari laptop yang bisa sehati.

Eh, pas searching ternyata sekarang ada ASUS X555. Wuih, kalau produk ASUS mah udah nggak bisa diragukan lagi. Pas baca-baca, ada banyak kelebihan dari laptop ASUS X555 ini lho. Ada 3 kelebihan dari ASUS X555 ini yang bikin hati kepincut, diantaranya:

  • Daya tahan baterai seharian

Pernah bête nggak sih, lagi ngetik atau edit video sebentar saja, eh udah low-baterai aja? Atau, pernah nggak sih lagi enak-enak ngetik di café atau taman, bingung nyari colokan karena baterai udah mau habis aja?
Hmmm… Sepertinya kita nggak bakalan ngalamin itu deh kalau pake ASUS X555. Serius… Pas tahu ASUS X555 menggunakan jenis baterai Li-Polimer, udah langsung mupeng aja. Baterai jenis Li-Polimer memiliki ketahanan 2.5 kali lebih kuat dibandingkan dengan jenis Li-Ion silinder. Selain itu baterai ini pun tetap akan menyimpan sampai 80% dari original kapasitasnya meskipun sudah diisi ulang hingga ratusan kali.

  • Teknologi IceCool

Laptop panas? Ah, itu sih masalah klasik bagi para pengguna laptop, iya kan?
Eits, tapi nggak akan terjadi di laptop ASUS X555. Notebook ASUS dirancang secara unik agar terhindar dari masalah panas. Dengan teknologi ASUS IceCool, temperature akan tetap terjaga diantara 28 derajat sampai 35 derajat. Itu artinya panas yang dihasilkan masih dibawah suhu normal tubuh manusia. Jadi, kita akan tetap merasa nyaman meskipun menggunakan dalam waktu lama.

  • Home entertainment pribadi ASUS X Series didukung oleh Prosesor

Untuk kelebihan yang satu ini cocok banget buat yang hobi banget main game atau nonton film dan video gitu. Meskipun dengan kelebihan ini pun, aktivitas mengetik menjadi jauh lebih nyaman.
Yap, Notebook ASUS X555 didukung oleh Prosesor AMD®Quadcore A10 untuk performa yang halus dan responsif. Selain itu didukung oleh grafis yang bagus dan memory controller di bagian dalam yang canggih, membuat ASUS X555 ideal digunakan untuk kebutuhan komputerisasi sehari-hari atau untuk menonton film dan video. ASUS X555 memudahkan kita untuk menyelesaikan semua pekerjaan. ASUS X555 memberikan kita performa multifungsi yang kita butuhkan untuk bekerja atau bermain dengan satu perangkat. So, ASUS X555 nggak hanya asyik diajak untuk seriusan ngurusin pekerjaan, tapi bisa juga diajak untuk enjoy our life gitu.



Dengan kelebihan yang dimiliki ASUS X555, yakin banget deh akan semakin membantuku untuk menulis dan juga ngeblog. Mengembangkan ide menjadi sebuah karya yang bermanfaat akan dengan mudah tersalurkan. Tidak akan ada lagi kendala untuk menyelesaikan tulisan. Karena biasanya kan terkendala laptop panas, cepat low-bat, atau tampilan laptop yang nggak bikin semangat. ASUS X555 emang laptop yang super keren pake banget deh.

Terus, kalau harganya? Tenang, harganya masih masuk akal, kok. Pokoknya sesuai dengan kelebihan yang dimiliki. Oya, ternyata laptop ASUS X555 juga dijual di Tokopedia lho. Jadi, nggak perlu ribet juga buat dapatin laptop ASUS X555 yang bisa bikin kita semakin produktif.


Jumat, 07 September 2018

Antara ASUS dan Asaku

20.17 2 Comments




ASUS, merek satu ini sudah jadi pilihan sejak pertama punya laptop dulu. Ya, bagiku laptop itu bagaikan jiwa kedua. Juju aja nih, pas zaman kuliah dulu aku tuh belum punya laptop. Kalau mau ngetik tugas kuliah, komputer jadul di rumah menjadi pilihan. Kalau pas komputer lagi ngadat, ya numpang ke rumah teman atau pergi ke warnet. Untung saat itu masih banyak warnet di dekat daerah kampus. 

Tapi, aku memang bertekad untuk punya notebook. Dan, entah karena idealis atau karena paham dengan kondisi keuangan orang tua, aku hanya ingin memiliki laptop dari hasil keringatku sendiri. Berbulan-bulan menyisihkan uang hasil mengajar les Bahasa Inggris, akhirnya aku bisa membeli sebuah notebook ASUS Eee PC. Dengan ukuran yang kecil, pas banget sama tubuh mungil dan mobilitasku yang udah kaya bola bekel.

Ya, menjadi seorang guru private Bahasa Inggris memang mengharuskanku untuk meng-upgrade cara mengajar. Notebook ASUS yang aku punya sangat membantu sekali untuk membuat proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan. Aku suka dengan kualitas suara ASUS yang sangat jernih meskipun tidak menggunakan speaker active.



Sebenarnya notebook atau laptop bagiku tidak hanya sebagai alat bantu untuk mengajar. Aku juga membutuhkan laptop untuk mengisi acara motivasi bagi remaja atau para guru. Oya, nggak hanya untuk ngajar dan ngisi movitasi, bagiku laptop atau notebook adalah soulmate untuk me time sekaligus menjemput impian yang lain. Ya, hobi menulisku sangat tersalurkan dengan adanya notebook yang aku punya.



Dan, entah karena sudah jodoh atau dapat banget chemistry-nya, selang setahun aku menggunakan notebook ASUS Eee PC, aku memenangkan sebuah lomba menulis dan sebagai hadiahnya aku memperoleh sebuah notebook ASUS lagi. Ah, pokoknya itu tuh hadiah yang tidak bisa terlupakan. Karena aku sudah memiliki notebook ASUS, jadi notebook baru itu aku hadiahkan untuk Bapak.

Perlu aku akui, laptop dan notebook ASUS memang recommended banget deh. Dari tampilan sampai dalem-dalemannya itu bikin puas. Intinya nggak malu-maluin deh produk ASUS tuh.

Tapi, sayang mungkin karena udah lama juga dan sekarang sering di-explore sama anak hebatku, notebook ASUS yang aku miliki tidak bisa bekerja maksimal. Ada beberapa tombol keyboard yang tidak berfungsi.




Di satu senang juga sih dengan si kecil yang sering ngelihat ibunya ngetik, dia jadi pengen ikut-ikutan ngetik juga. Tapi, di sisi lain, sedih juga karena butuh kesabaran kalau harus menyelesaikan tulisan. Terkadang aku juga membutuhkan bantuan keyboard on screen agar bisa mengetik maksimal.

The show must go on. Yap, aku sama sekali nggak pernah menyerah dan berhenti untuk menjemput impian sebagai penulis. Dan, tentunya sekarang aku juga punya hobi baru nge-blog. Sebagai wanita yang beralih profesi dari guru Bahasa Inggris menjadi ibu rumah tangga dengan dua putra yang masih batita, tentunya hobi menulis menjadi sebuah usaha keras untuk bisa tetap dijalankan.

Dengan kondisi sekarang yang mengaharuskan 24 jam menemani dua anak hebat, tentunya aku harus punya cara cerdas agar bisa tetap menulis. Sering terbersit impian pengen punya laptop baru yang lebih membantu untuk mobile. Ya, notebook ASUS lamaku saat ini harus terus di charge karena faktor usia juga hehehe...



Aku pun mulai mencari-cari informasi tentang latptop atau notebook yang bisa memfasilitasi hobi menulisku tapi aku juga masih dapat mengawasi dan menemani anak-anak. Dan, ketika searching, ternyata aku jatuh cinta sama ASUS Vivobook Flip TP410. Ah, ini tuh benar-benar laptop keren pokoknya.

Coba deh perhatiin kelebihan yang dimiliki oleh ASUS Vivobook Flip TP410 ini:
  1. Tipis dan ringan

ASUS Vivobook Flip TP410 dengan ukuran 14 inci, beratnya hanya 1,6 kg dan tebalnya hanya 1.92 cm.

    2. NanoEdge Display


ASUS Vivobook TP410 dengan layar 14 inci memiliki tampilan ultra tipis berfitur “Nanoedge” yang memaksimalkan ukuran layar plus dan meminimalkan ukuran body-nya.

    3. Fingerprint Sensor


ASUS Vivobook Flip TP410 dengan fingerprint Sensor mendukung fitur Windows Hello yang umumnya hanya hadir di laptop kelas atas. Dengan Windows Hello, kita bisa sign in ke Windows 10 yang terinstalkan di dalam laptop hanya dengan sentuhan jari. Dengan fitur ini, keamanan akan semakin meningkat. ASUS Vivobook Flip TP410 juga sudah preinstall Windows 10.

   4. Bisa jadi 4 mode

ASUS Vivobook Flip TP410 bisa didisplay 4 mode yaitu: media stand, powerfull laptop, responsive tablet, dan share viewer.




Dengan empat kelebihan tersebut, pastinya ASUS Vivobook Flip 410TP bakalan jadi sahabat yang ngertiin banget. Dan, tentunya pas banget buat emak-emak yang butuh mikir tujuh keliling buat menyalurkan ide. Ya, dengan keaktifan anak pertama dan ke-keukeuh-an anak kedua aku memang butuh banget laptop yang bisa digunakan dengan fleksibel. Nggak harus duduk manis untuk menyelesaikan sebuah tulisan. Apalagi dengan ukuran yang tipis dan tentunya ringan, jadi nggak bakalan ribet pastinya.

Tidak hanya itu, sebagai emak-emak yang baru belajar ngeblog, tentunya laptop yang mumpuni sangat dibutuhkan. Karena mau nggak mau, blogger juga harus semakin cerdas dan kreatif dalam mengahadirkan konten yang menarik. Nah, menurutku sih ASUS Vivobook Flip TP410 merupakan jawabannya.



Ngeblog bakalan jadi lebih mengasyikkan dengan ASUS Vivobook Flip TP410. Terus, tidak hanya untuk hobi ngeblog juga sih, draft tulisan yang selama ini hanya mengeram karena tak tersentuh, sepertinya akan segera tertuntaskan dengan adanya ASUS Vivobook Flip TP410. Gimana nggak cepat selesai, kan ASUS Vivobook Flip TP410 bisa digunakan dengan 4 mode. Jadinya nggak ada alasan untuk menunda pekerjaan. Aku bisa menyelesaikan tulisan sambil menemani 2 anak hebatku bemain.



Pokoknya mupeng banget sama ASUS Vivobook Flip TP410. Laptop keren ini harus bin wajib bin kudu dimiliki deh. Bakalan nggak bisa tidur nih mikirin laptop yang bisa bikin diri ini lebih upgrade. #2018GantiLaptopASUS


ASUS Laptopku Blogging Competition by uniekkaswarganti.com 

ASUS Laptopku Blogging Competition

Kamis, 30 Agustus 2018

RESENSI NOVEL PERGI (TERE LIYE)

18.34 0 Comments




Judul                     : Pergi
Penulis                  : Tere Liye
Penerbit                : Republika Penerbit
Cetakan                : IV
Bulan/Tahun          : Juni / 2018
Tebal Halaman       : 455 halaman

Bujang yang memiliki nama asli Agam dan dikenal dengan sebutan Si Babi Hutan. Anak seorang tukang pukul dan dididik serta dibesarkan oleh Keluarga Tong. Meski ia terlahir dari rahim seorang ibu dari keluarga yang religius, tapi ia tumbuh dalam atmosfer yang kental dengan kekerasan. Namun, pesan dan didikan dari ibunya pun melekat kuat. Meski ia terkenal sebagai seorang tukang pukul yang tiada tanding, tapi ia tak pernah sedikit pun menyentuh minuman keras.

Bujang, yang saat ini menjadi seorang Tauke Besar dan memiliki kewenangan untuk menentukan mau dibawa kemana Keluarga Tong. Keluarga Tong adalah bagian dari keluarga penguasa shadow economy di Asia Pasifik. Shadow economy itu ekonomi yang berjalan di ruang hitam, seperti black market, underground economy. Tanpa diketahui oleh orang banyak ada delapan keluarga penguasa shadow economy. Kedelapan penguasa tersebut ialah Keluarga Tong, Keluarga Lin di Makau, El Pacho di Meksiko, satu di Miami Florida, satu di Tokyo, satu di Beijing, satu di Moskow, dan satu lagi kepala dari seluruh keluarga, Master Dragon di Hong Kong.  

Perjalanannya kali ini ke Meksiko karena alasan satu misi. Ia mendapat kabar dari Parwez. Parwez dalam susunan Keluarga Tong tepat berada di bawah Bujang sebagai Tauke Besar. Ya, hanya ada Parwez dan Togar yang bisa kapanpun untuk menghubungi Bujang. Parwez mengurusi bisnis legal, sedangkan Togar adalah kepala tukang pukul, mengurusi kekerasan – posisi yang dulu ditempati oleh Samad, bapaknya Bujang, kemudian digantikan Kopong, lantas digantikan oleh Basyir.

Parwez memberinya kabar bahwa salah satu riset teknologi yang didanai oleh Keluarga Tong telah dicuri oleh kelompok lain. Teknologi tersebut sangat penting karena bisa mendeteksi serangan siber. Bujang tidak rela prototype benda yang siap diuji coba itu jatuh kepada kelompok lain. Menurut intelejen Keluarga Tong, tekonologi tersebut dicuri oleh El Pacho, sindikat penyelundup narkoba terbesar di Amerika Selatan. Benda tersebut akan segera dibawa ke Los Angeles, Amerika Serikat, pusat kerajaan narkoba mereka. El Pacho membutuhkan teknologi itu untuk melindungi rekening uang haram mereka.

Bujang berangkat ditemani oleh Salonga yang merupakan ahli pistol terbaik se-Asia Pasifik, dan tentu saja bagian dari Keluarga Tong. Ada juga White beserta Si Kembar (Yuki dan Kiko) yang ikut serta dalam misi tersebut.

Setibanya di markas El Pacho, mereka langsung mendekat ke kontainer kereta api yang dikabarkan teknologi tersebut ada di dalamnya. Mereka harus berhadapan dengan sicario (tukang pukul bayaran) El Pacho. Tapi mereka berhasil mendekat ke arah kontainer. Namun, ketika mereka sudah dekat dengan kontainer tujuan, tiba-tiba ada sosok bertopeng yang menembaki sisa sicario.

Sosok itu mengenal Bujang, bahkan nama aslinya. Ia pun menantang Bujang untuk bertarung untuk memperebutkan teknologi tersebut. Tapi sayang, Bujang kalah dan tekonologi itu berhasil dibawa oleh sosok yang tidak ada satu orang pun dari mereka yang mengenalnya. Namun, ada satu kata yang menjadi kata kunci yang terdengar oleh Salonga, Hermanito.

Bujang terus mencari cara agar tekonologi tersebut bisa kembali ke tangan Keluarga Tong. Tidak hanya itu, ia pun penasaran siapa sosok yang tiba-tiba muncul dan mengenal dirinya itu. Ia mulai mencari tahu cerita masa lalu tentang dirinya.

Setelah pertemuannya dengan sosok bertopeng tersebut, Bujang mulai mencari tahu masa lalu tentang dirinya, bapak dan ibunya. Ia pun merelakan waktu dan pikirannya terbagi untuk merebut kembali tekonolgi yang dicuri dan juga membuka teka-teki siapa sosok bertopeng itu. Meskipun tetaplah menemukan dan merebut kembali tekonologi itu ialah prioritas utama bagi Bujang.

Bujang memang tidak bisa lengah dari tugasnya sebagai Tauke Besar, karena pastilah penguasa lain akan mencari celah untuk merebut dan memperluas daerah kekuasaannya. Bahkan perjalanan menuju Hong Kong harus dibatalkan dan kembali ke Ibu Kota Provinsi karena Togar memberi kabar bahwa orang suruhan Master Dragon menaruh bom di pusat perbankan Keluarga Tong. Tapi, semua itu berhasil ditangani dengan cerdas oleh Bujang.

Ditengah pikiran yang masih dipenuhi strategi agar teknologi itu bisa cepat kembali, Bujang memutuskan untu menemuni Tuanku Imam, adik dari ibunya, Midah. Ia mencari tahu kisah masa lalu bapaknya. Ia pun mengunjungi rumah yang dulu diceritakan sempat ditinggali bapak beserta istri pertamanya.

Dengan kecerdasan dari Rambang, anak dari Lubai, seorang tukang pukul kepercayaan Tauke Besar dulu, akhirnya Bujang menemukan titik cerah dari sosok bertopeng tersebut. Ada beberapa surat yang tertimbun namun dengan bantuan seorang professor, akhirnya bisa terbaca, dan dapat memberikan banyak informasi bagi Bujang.

Sebagai ucapan terima kasih dan juga kagum dengan kecerdasan Rambang, Bujang pun meminta izin kepada Lubai untuk mendidik anaknya itu. Lubai dan Bibi Kim merasa tersanjung dengan permintaan Bujang tersebut. Tapi, niat Bujang harus terhenti ketika Rambang harus tewas tertembak karena ia mencoba melindunginya dari serapan sniper suruhan Master Dragon. Namun, tepat sebelum Rambang dikebumikan, sniper itu bisa tertangkap dan dijatuhkan langsung dari ketinggian. Video kematian tragis si sniper sengaja disebar agar menjadi pelajaran bagi siapapun.

Setelah prosesi pemakaman Rambang, Bujang mengumpulkan semua orang-orangnya. Mereka mulai menyusun strategi untuk membalas Master Dragon. Bujang memiliki ide agar dua penguasa shadow economy bisa bergabung dengan Keluarga Tong. Bujang berharap agar Yamaguchi di Jepang dan Krestniy Otets, pimpinan Bratva di Rusia bisa bersekutu dengan Keluarga Tong.

Undangan dari Yamaguchi untuk menghadiri pernikahan putri bungsunya dijadikan waktu paling tepat untuk menyatakan ide ini. Gayung bersambut, Yamaguchi mau bergabung dengan Keluarga Tong untuk menghancurkan Master Dragon. Selain itu, peristiwa yang tidak akan dilupakan pada pesta pernikahan putri bungsu Yamaguchi pun menjadi alasan kuat untuk membalas dendam kepada Master Dragon.

Bujang pun mulai mendatangi Otets di Moskow, Rusia. Otets mau bergabung dengan Keluarga Tong dan Keluarga Yamaguchi tapi dengan satu syarat. Awalnya Bujang merasa keberatan dengan syarat tersebut, tapi ia tidak memiliki pilihan lain. Dan, akhirnya karena syaratnya terpenuhi, Otets pun mau bersekutu dengan dua penguasa shadow economy tersebut.

Ketiga penguasa shadow economy itu berkumpul dan merencanakan sebuah strategi. Bujang memiliki ide untuk meruntuhkan Grand Lisabon, tempat bernaung Master Dragon. Dengan persiapan yang matang mereka pun menyerbu Hong Kong. Bujang merasa idenya ini sangat brilian untuk menjatuhkan Master Dragon. Ia pun merasa tidak ada kesulitan yang berarti untuk memasuki daerah kekuasaan Master Dragon.

Tapi, Bujang keliru. Master Dragon memang tidak bisa dianggap enteng. Ia sudah mencium akan kedatangan tiga penguasa shadow economy. Master Dragon sudah menyusun rencana yang jauh lebih cerdik. Ia pun sudah meminta Yurii, si pembuat bom untuk merakit bom penghancur yang canggih.

Tanpa disadari oleh Bujang dan juga sekutunya, ketika mereka mulai memasuki Hong Kong, ternyata ada kabar kalau anak buah Master Dragon berhasil memasuki daerah kekuasaan Keluarga Tong, Keluarga Yamaguchi dan juga Keluarga Bratva. Bujang merasa idenya gagal dan berpikir inilah akhir dari semuanya.

Tapi, di saat kondisi yang sudah sangat terhimpit, tiba-tiba malaikat penolong datang. Dan, sosok bertopeng itu kembali muncul. Namun, kali ini Bujang sudah sangat mengenalnya dari surat-surat yang telah baca.

Diego Samad, Bujang kini tahu namanya. Tidak hanya mengetahui namanya, namun ia tahu siapa Diego Samad itu. Semua teka-teki tentangnya sudah terpecahkan dari surat-surat yang ia baca.

Diego datang di saat yang tepat. Diego membantu Bujang untuk mengalahkan Master Dragon. Dan, di tempat yang berbeda Basyir, yang dulu sempat disebut sebagai pengkhianat, datang bersama Brigade Tong untuk menyelamatkan markas mereka. Mereka berhasil memukul mundur lawan.

Setelah kehancuran Master Dragon, Bujang menemui Diego. Ia ingin berterima kasih kepada Diego. Tapi, ternyata Diego melakukan itu semua bukan untuk membantu Bujang. Ia hanya ingin menghancurkan semua penguasa shadow economy. Ia mengajak Bujang. Namun, Bujang menolak untuk bergabung. Bujang memilih untuk pergi. Dan, ia tahu kemana ia akan pergi.

Novel Pergi ini banyak sekali mengajarkan filosofi kehidupan. Dengan gaya bahasa khas Tere Liye membuat kita sebagai pembaca benar-benar dibawa ke dalam alur cerita. Dari mulai alur hingga akhir cerita tidak bisa ditebak. Memang karya-karya Tere Liye sudah tidak bisa diragukan lagi, termasuk novel “Pergi” ini. Pokoknya, novel ini harus dibaca oleh siapapun yang ingin belajar tentang bagaimana memaknai kehidupan.



Selasa, 14 Agustus 2018

Menjadi Orang Tua Zaman Now

19.07 2 Comments



“Aduh, anak zaman sekarang tuh beda banget dengan anak zaman dulu ya.”
“Anak zaman sekarang tuh ya mainannya HP, laptop. Pokoknya gadget aja terus.”
“Anak sekarang tuh lebih percaya sama google daripada sama orang tua atau guru.”

Pernah nggak sih kita mendengar curhatan atau mungkin boleh dikatakan ocehan seperti di atas? Atau jangan-jangan kita sendiri yang sering mengucapkannya?

Hmmm… Kalau saya boleh berpendapat sih, rasanya kasihan sekali kalau anak zaman sekarang tuh selalu saja dibandingkan dengan anak zaman dulu. Menurut saya sih nggak apple to apple. Please dong, kita itu hidup di tahun sekarang, di zaman ini, bukan zaman nenek moyang.

Terkadang kita tidak sadar sudah melukai perasaan anak-anak kita dengan mengatakan kalau anak zaman sekarang itu susah diatur. Kita juga seringkali membandingkan kalau dulu saat kita masih anak-anak, jauh lebih nurut sama orang tua dan guru. Tidak jarang kita katakan kalau zaman kita, orang tua dan guru itu bagaikan raja yang tidak boleh ditentang.

Kalau saya biasanya tanya balik ke diri sendiri, mau nggak sih kita dibandingkan dengan orang lain. Nih, contohnya saja suami atau istri membandingkan kita dengan pasangan orang lain atau dengan saudaranya. Enak nggak? Mau nggak kita digitukan?

Pastinya dan yakin seratus persen, nggak mau. Nah, begitu juga anak-anak. Mereka juga manusia, punya rasa, punya hati (ini bukan mau ngajak nyanyi lho hehe…). Okelah mungkin untuk sebagian anak-anak akan memilih diam ketika membandingkannya dengan orang lain. Tapi, mereka akan tetap merekam apa yang telah kita lakukan.

Lantas, apa yang seharusnya kita lakukan? Apa kita bisa lari dari perkembangan zaman? Apa kita mau tetap bertahan dengan parenting zaman old dalam mendidik putra-putri kita? Apa kita hanya akan memberikan tanggungjawab penuh kepada pihak sekolah dan guru karena merasa sudah membayar mahal?

Mari kita berhenti sejenak dari segala rutinitas obsesi karir dan keegoaan kita. Cobalah berpikir dan mendengarkan apa kata hati kecil kita masing-masing. Ingatlah kembali ketika pertama kali kita berdoa meminta keturunan. Renungkan, siapa sebenarnya yang lebih berhak untuk bertanggung jawab membersamai anak-anak? Siapa kelak yang akan ditanya ketika Yang Maha Memiliki mengambil kembali makhluk titipan-Nya dari kita?

Yap. Ayah dan Ibu. Kitalah yang punya peran paling besar dalam membentuk dan mendidik anak-anak. Bukankah seorang ibu itu madrasah pertama bagi anak-anaknya dan ayah juga memiliki tugas sebagai kepala sekolahnya?


Ibu Sebagai Madrasah Pertama





Menjadi ibu zaman sekarang itu memang butuh banyak belajar. Perubahan dan perkembangan zaman membuat pola pikir anak pun sangat jauh berbeda dengan zaman kita dulu. Anak-anak sekarang jauh lebih kritis dengan apa yang mereka lihat. Disinilah ibu punya tugas yang luar biasa untuk membersamai anak-anak zaman now yang semakin cerdas.

Sejatinya memang seorang ibu adalah madrasah pertama. Sebuah ungkapan yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tapi, memang amanah dan tugas mulia itu sudah diemban bahkan ketika anak belum terlahir ke dunia ini.

Ya, menjadi seorang ibu itu tidak dimulai ketika anak lahir ke dunia. Sejatinya persiapan menjadi seorang ibu itu dimulai jauh saat masih sendiri (single). Kejauhan? Kelamaan?

Tidak sama sekali. Memang untuk membentuk generasi yang luar biasa, maka ibunya pun harus jauh luar biasa. Seorang ibu yang cerdas. Tidak hanya cerdas pikir, tapi juga cerdas hati dan perilaku.

Seorang ibu yang cerdas hati, pikir dan perilaku akan mampu mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang cerdas pula. Ibu yang bisa menjadi guru sekaligus sahabat bagi anak-anak. Ibu yang mampu menjadi motivator, fasilitator, dan juga supporter bagi anak-anaknya.

Anak-anak yang terlahir dari ibu yang cerdas akan jauh lebih bahagia. Mereka akan menemukan apa yang mereka inginkan di rumah. Mereka akan menemukan sosok ibu yang bisa mengantarkan mereka menjadi pribadi yang sukses.

Kita tidak bisa menutup mata dari fenomena yang terjadi sekarang. Banyak anak yang kehilangan sosok ibu. Secara fisik mungkin ibunya masih ada, tapi secara emosional mereka tidak merasakan keberadaan ibu sepenuhnya.

Mau diakui atau tidak, ada beberapa ibu yang hanya punya sisa waktu untuk anak-anaknya. Kesibukan, baik itu wanita karier maupun yang hanya berada di rumah, menjadikan anak-anak hanya mendapat waktu sisa untuk ditemani. Ya, pernahkah kita bertanya kepada anak-anak kita, apa sebenarnya yang mereka inginkan?

Kita tidak sedang membandingkan antara ibu rumah tangga dan juga ibu bekerja. Karena pastilah ada alasan kuat seseorang mengambil keputusan untuk memilih salah satu darinya. Namun, yang perlu digarisbawahi di sini, tugas utama seorang ibu adalah sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Seorang anak akan belajar banyak hal untuk pertama kalinya kepada ibu. Nah, pertanyaannya, apakah kita sebagai seorang ibu sudah bisa menjadi madrasah ternyaman bagi anak-anak?



Jangan Lupakan Vitamin A(yah)




Ibu memang madrasah pertama bagi anak-anaknya. Terus mungkin ada yang bertanya, kalau peran seorang ayah apa? Apa ayah itu hanya bertugas mencari nafkah saja? Artinya seorang ayah hanya perlu memiliki kemampuan untuk mencari rezeki saja?

Kalau kita masih berpikiran seorang ayah itu hanya memiliki peran untuk menjemput rezeki, maka ada pemahaman yang salah selama ini. Ada konsep keluarga yang keliru ketika ada pembagian seoarang ayah hanya fokus bekerja, dan anak-anak sepenuhnya tanggung jawab seorang ibu. Padahal, harus disadari dan dipahami seorang ayah, mendidik anak itu harus ada sentuhan seorang ayah juga.  

Jika seorang ibu itu madrasah pertama bagi anak-anak, maka ayahlah yang berperan sebagai kepala sekolahnya. Sejatinya seorang kepala sekolah memiliki wewenang dan tugas untuk membuat pola serta visi dan misi sebuah madrasah atau sekolah. Ketika seorang kepala sekolah mampu menyajikan pola yang menarik, maka sebuah madrasah pun akan tempat yang nyaman untuk mendapatkan ilmu.

Ketika seorang kepala bisa mendesain madrasah agar selalu terlihat nyaman, maka anak-anak akan merasa betah berlama-lama di madrasah tersebut. Artinya apa? Seorang ayah memiliki tugas untuk selalu menjaga psikologis istrinya. Karena seorang ibu yang psikologisnya terjaga, ia akan jauh lebih bahagia. Kembali lagi, ibu yang bahagia akan membersamai anak-anaknya dengan senang, maka anak-anak pun akan merasa bahagia pula.

Tapi, sebaliknya, ketika seorang ibu merasa tertekan. Ia tidak mendapatkan perhatian penuh dari pasangannya. Maka, kita sudah sering mendengar banyak kasus yang akhirnya anak menjadi korban kekerasan seorang ibu. Anak menjadi pelampiasan dari ketidakpuasannya akan sikap suami.

Itu mungkin kasus yang sangat ekstrim. Kasus yang mungkin sering kita temui bahkan kita sendiri rasakan, sikap kita yang sering keluar dari pola pengasuhan. Kita tak jarang membentak, memarahi dan bahkan memukul anak. Padahal sebenarnya kita marah dan kesal kepada pasangan bukan anak. Tapi, karena kita tidak bisa melampiaskannya langsung, maka anaklah yang menjadi korban.

Kehadiran ayah yang benar-benar hadir memang sangat memberikan efek yang luar biasa. Seperti yang telah dikatakan di awal, peran ayah bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi. Ada peran yang luar lebih penting, membersamai dan menemani tumbuh kembang anak-anak.

Ya, keberadaan ayah di samping anak tidak kalah penting dalam tumbuh kembang mereka. Kehadiran ayah ditengah-tengah keluarga yang benar-benar hadir jauh lebih penting daripada materi yang diberikan. Pengaruh dari kedekatakan ayah dan anak begitu luar biasa. Tidak hanya secara emosional, namun ada pengaruh positif bagi kecerdasan intelektualnya juga.

Pernahkah kita mendengar kalau Negara Indonesia itu termasuk kedalam fatherless country? Bahkan berada di urutan ketiga. Ya, kita tinggal di negeri tanpa ayah.

Sebuah kondisi yang seharusnya menjadi perenungan bagi kita semua. Jangan pernah menganggap enteng keadaan ini. Kita bahan patut berpikir, kondisi negeri yang semakin carut marut ini pastilah ada kaitan erat dengan pola pendidikan, khususnya di dalam keluarga.

Jika kita melihat fenomena yang ada, terutama di kota-kota besar, secara status anak-anak itu memiliki ayah. Bahkan memiliki keluarga inti yang lengkap. Tapi, apa yang terjadi? Mereka haus akan kasih sayang seorang ayah.

Ayah mereka sudah tidak memiliki waktu untu bermain dengan anak-anaknya, bahkan hanya sekadar untuk bercengkerama saja tidak ada. Para ayah beranggapan mereka sudah menjadi ayah yang baik ketika semua kebutuhan materi anaknya terpenuhi. Padahal mereka lupa anak-anak pun membutuhkan waktu sejenak bersama ayahnya.

Miris memang ketika kondisi seperti ini sudah dianggap biasa dan lumrah. Atas nama perkembangan zaman, kita merasa ini bukan sebah kesalahan. Komunikasi antara anak dan orang tua merasa sudah sangat cukup ketika bisa menyapa lewat media sosial.

Padahal ketika kita ada di dekat anak, bermain, bercerita dan bahkan memeluk serta mencium dengan penuh kasih sayang, aka nada efek positif yang bisa kita dapatkan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Office on Child Abuse and Neglect, anak yang dekat dengan sosok ayah dan sering menghabiskan waktu bersama dengan durasi cukup cenderung memiliki tingkat kecerdasan IQ di atas rata-rata.

Tidak hanya itu, menurut penelitian dari Father Involvement Research Alliance, anak yang dekat dengan ayahnya sejak dini akan memiliki tingkat emosi yang stabil. Sehingga ia dapat tumbuh menjadi pribadi yang memiliki rasa percaya diri tinggi, mudah bersosialisasi, dan terbuka pada lingkungan sosial di sekitarnya.


Menjadi Orang Tua Zaman Now



Menjadi orang tua bukanlah sebuah warisan. Jangan pernah berpikiran kalau mendidik anak itu sama dari dulu sampai sekarang. Manusia itu berkembang sesuai dengan perubahan zaman.

Karena alasan inilah mengapa menjadi orang tua itu butuh belajar. Meskipun tidak ada sekolahnya untuk menjadi ayah dan ibu, tapi setidaknya ada banyak cara untuk menjadi orang tua zaman now. Perkembangan zaman sekaligus juga perkembangan teknologi sejatinya bisa menjadi jalan agar kita bisa memahami dan selaras dengan anak-anak.

Satu hal yang perlu digarisbawahi di sini, anak-anak zaman sekarang itu sangat jauh berbeda dengan zaman kita. Mereka tumbuh di zaman serba digital. Karena itulah kita pun harus mau mengikuti dan melebur dengan pola pikir mereka. Parenting yang diterapkan pun harus benar-benar sesuai dengan cara berpikir mereka.

Mendidik anak di zaman digital itu memanglah tidak mudah. Tapi, bukan artinya juga sulit, karena pasti selalu ada pola atau cara yang sesuai. Kembali lagi, mendidik anak bukanlah tugas guru atau sekolah semata. Ada peran yang jauh lebih penting dari ayah dan ibu. Pertanyaannya, bagaimana agar kita bisa menjadi orang tua yang cerdas dalam mendidik anak-anak zaman now?

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar dapat menjadi orang tua zaman now yang cerdas, diantaranya:
- Tanamkan pendidikan agama sejak dini.

-  Hadirkan fisik dan juga pikiran serta hati ketika membersamai anak.

- Mengenal dan memahami dunia digital agar nyambung ketika berkomunikasi dengan anak.

- Memberi teladan bukan suruhan.

- Jangan pernah membandingkan anak.

- Posisikan sebagai sahabat yang bisa diajak curhat.

- Aturan yang ditentukan harus dari hasil kesepakatan bersama antara orang tua dan anak.

- Adanya reward dan juga punishment dari aturan yang telah dibuat, tidak hanya untuk anak tapi juga untuk orang tuanya.

Itulah beberapa poin yang harus kita perhatikan. Terasa sederhana tapi memang ketika diterapkan tentunya tidak bisa dianggap enteng. Pastilah akan ada banyak tantangan. Namun, disitulah seni dalam dunia parenting, apalagi di zaman now. Dan, ketika kita mampu untuk menerapkannya, lihatlah apa yang terjadi dengan anak-anak kita di kemudian hari.

Intinya, keluarga haruslah menjadi pondasi yang kuat bagi anak-anak. Ibu harus tetap menjadi madrasah ternyaman bagi anak-anak, dan ayah bisa menjadi kepala sekolah yang hebat. Jadi, keluarga bukan sekadar status semata. Keluarga adalah muara cinta yang tak pernah ada jeda mengalirkan rasa dan asa.

#sahabatkeluarga