Jumat, 17 April 2020

4 Tips Membersamai Suami dan Buah Hati di Tengah Pandemi

21.52 13 Comments






Covid 19. Siapa yang tidak mengenal penyakit yang sedang mewabah ini. Dunia seakan dihantui ketakutan dan kekhawatiran sejak adanya Corona Virus. Sekolah dan perkantoran menerapkan sistem belajar atau bekerja dari rumah. Tempat usaha satu persatu mulai mengurangi karyawannya. Transportasi umum pun mulai merasakan kelesuan.

Wabah Covid 19 ini memang tidak bisa dianggap remeh. Kita menengok sedikit ke belakang, ketika awalnya kita begitu yakin tidak akan terpapar. Tapi, saat ini,  Corona Virus telah memakan banyak korban di negeri kita. Per 15 April 2020, korban meninggal sebanyak 459 orang. Tentu bukan jumlah yang sedikit.

Perempuan, yang mengemban tugas sebagai seorang istri dan juga ibu, tentu saja merasakan efek dari wabah Covid 19 ini. Sikap kita dalam menghadapi kondisi sekarang sangat berpengaruh pada pasangan dan buah hati. Selain para tenaga medis, kita pun sebagai istri dan ibu menjadi garda terdepan di keluarga kita.

Seorang istri sekaligus ibu bagi buah hati haruslah bersikap tenang dan bahagia. Ketika kita bersikap panik, khawatir berlebihan, ataupun sebaliknya kita abai, maka itu akan berdampak pada keluarga kita. Cara kita berpikir dan bersikap akan menentukan kondisi suami dan anak-anak. Bukankah ibu yang bahagia akan menjadikan anak-anak tumbuh dengan bahagia juga? Dan, bukankah kondisi pikiran yang bahagia merupakan imun terbaik untuk menangkal Covid 19 ini?  

Meskipun bukan hal yang mudah untuk tetap bahagia di tengah pandemi ini. Apalagi secara psikologis, perempuan itu rentan sekali terkena stress. Salah satu pemicunya adalah kondisi hormon. Menurut Dr. Paul J. Rosch, Chairman of The Board of The American Institute of Stress, perempuan lebih sering mengalami perubahan level hormon.

Tapi, tentu saja kita tidak bisa terus menerus mempermasalahkan keadaan. Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah. Krisis ekonomi yang mungkin dirasakan oleh sebagian orang karena pandemi Covid 19 ini, seharusnya dicarikan solusi.

Tidak perlu menyangkal ketika kita merasa terhenyak dengan naiknya harga-harga dan kelangkaan bahan pokok. Belum lagi kondisi yang mengharuskan kita kembali mengambil alih tugas utama seorang ibu, menjadi pendidik bagi buah hati kita.

Sejak pandemi covid 19 ini, tugas seorang ibu benar-benar bertambah. Kalau sebelumnya, kita bisa berbagi tugas dengan guru di sekolah. Saat ini, 24 jam kita harus membersamai anak-anak. Seakan tidak ada waktu rehat atau sekadar mengambil jeda sejenak.

Lalu pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan dalam membersamai suami dan buah hati di tengah pandemic Covid 19 ini? Nah, ada 4 management yang bisa dilakukan agar bisa tetap waras dan juga mewaraskan.

4 M
  • Thinking Management

Sumber: www.kompasiana.com



Kita bisa mengeluh mawar memiliki duri, atau bersukacita karena duri memiliki mawar.
(Abraham Lincoln)


Semuanya memang tergantung pikiran. You are what you think. Jangan pernah menyepelekan pikiran kita. Ketika kita berpikir sesuatu yang positif maka alam bawah sadar kita akan menggiring perilaku kita ke hal-hal yang positif pula.

Pandemi Covid 19 ini pun bisa menjadikan kita tambah terpuruk dan dihantui rasa takut serta kekhawatiran ketika kita berpikir sesuatu yang negatif. Mulailah mengkonsumsi berita tentang Covid 19 ini seperlunya saja. Ketika kita terlalu berlebihan melihat atau mendengar berita tentang Covid 19, maka secara tidak langsung kita sedang memasukkan data-data ke alam bawah sadar kita. Mencari tahu tentang berita ter-update boleh saja, malah harus, tapi kita pun harus mulai bisa memilah dan memilih agar tidak menjadi buah simalakama bagi pikiran kita.

  • Feeling Management


Sumber: www.trainerspiritual.wordpress.com


A change of feeling is a change of destiny.
(Neville Goddard)

Jika kita pernah membaca buku “Quantum Ikhlas” karya Erbe Sentanu, dijelaskan tentang “The Law of Attraction”. Ternyata positif thinking saja tidak cukup, kita butuh positif feeling. Karena kekuatan pikiran saja hanya 12%. Intinya ketika kita gabungkan antara kekuatan pikiran positif dan perasaan positif, maka hasilnya akan luar biasa.

Di saat krisis sekarang ini, menjaga perasaan kita agar tetap senang, bahagia dan ikhlas, jauh lebih penting dan akan memberikan efek yang luar biasa. Apalagi bagi kita perempuan, efeknya akan merambat pada pasangan dan anak-anak. Belajarlah terus untuk tetap bahagia, berdamai dengan diri serta keadaan.

  • Time Management

Sumber: www.topcareer.id



Don't wait till tomorrow what you can do today.


Nah, tidak sedikit yang kelimpungan saat adanya WFH atau SFH. Para istri dan juga ibu harus lebih cerdas mengatur waktu. Kondisi saat ini mengaharuskan kita benar-benar berperan ganda. 24 jam membersamai suami dan anak-anak. Mulai pagi hingga pagi lagi.

Baik bagi ibu pekerja maupun ibu rumah tangga, sama-sama memiliki tugas yang harus dilakukan dalam waktu bersamaan. Sebagai contoh, bagi ibu pekerja, ia harus melakukan WFH sekaligus menemani anak-anaknya yang sedang SFH. Tidak menutup kemungkinan ketika anak-anak mengalami kesulitan, maka ia akan bertanya kepada ibunya.

Hal yang hampir sama dialami oleh para ibu rumah tangga. Ketika sebelumnya kita bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan tenang ketika anak-anak sekolah. Saat ini, kita pun harus multi-tasking dengan membersamai anak-anak belajar di rumah.

Lalu, solusinya tentu saja managemen waktu. Memang mungkin kita akan jauh lebih lelah. Tapi, kembali ke poin 1 dan 2, semuanya kembali kepada pikiran dan perasaan kita. Cobalah untuk bangun lebih awal. Buat jadwal harian agar lebih tertata dan tentu saja jalani dengan hati yang senang.

  • Money Management

Foto Pribadi


Bukan seberapa banyak orang menghasilkan uang, melainkan untuk tujuan apa uang itu digunakan.
(John Ruskin)

Uang. Ah, ini nih yang sering bikin benteng pertahanan kesabaran dan keikhlasan tergoyahkan. Mau diakui atau tidak, kondisi saat ini membuat para istri sekaligus ibu harus memutar otak untuk mengatur keuangan keluarga.

Saat ini, disadari atau tidak, ternyata pengeluaran tidak berbanding lurus dengan pendapatan. Apalagi bagi teman-teman yang profesinya terkena dampak Covid 19. Untuk itu, kita harus hidup lebih cerdas dan hemat. Uang yang tadinya diperuntukkan untuk transportasi anak ke sekolah bisa dialihkan untuk membuat camilan sehat yang murah meriah.

Dalam hal pengaturan uang, kita pun sudah saatnya menggunakan kalkulator Allah. Artinya, sisihkan sebisa kita untuk saudara-saudara yang mungkin sama sekali tidak bisa mendapatkan penghasilan selama pandemic covid 19 ini. Jangan berpikiran nunggu kaya dulu. Ingat, kalkulator Allah itu berbeda, loh.

Satu hal lagi, mendekati puasa dan hari raya. Sudah saatnya bagi yang masih mampu membeli segala perlengkapan hari raya, dari mulai baju hingga makanan, rehatlah sejenak. Saat ini, masih banyak orang yang harus berpikir keras hanya untuk makan hari ini dan esok hari. Simpanlah dulu ego kesenangan kita. Berempatilah kepada mereka yang membutuhkan. Belilah apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.


4M ini jika kita terapkan saat ini, tentu saja bisa menjadi solusi agar kita bisa tetap waras dan bahagia. Apa mudah menerapkannya? Kembali lagi ke pikiran dan perasaan kita. Kalau kita berpikir mudah dan mau, maka kita bisa menjalankannya. Sekali lagi, kita sebagai istri dan juga ibu merupakan garda terdepan dalam keluarga kecil kita. Kita wajib untuk bahagia dan tetap waras agar suami dan buah hati juga bisa tetap sehat dan bahagia.

Kehadiran Corona Virus ini seharusnya memberikan kita banyak pelajaran. Belajar untuk lebih peduli. Ya, peduli akan kebersihan, kesehatan, dan juga peduli akan sesama. Dengan terus memupuk rasa peduli ini, semoga saja pandemi Covid 19 segera berakhir.


Tulisan ini diikutsertakan dalam #TantanganBlogging Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis.