Rabu, 10 Oktober 2012

Pendidikan di Tepi Zaman


Guru, digugu dan ditiru, sebuah slogan yang mungkin semua orang sudah hafal. Tapi, slogan itu kini tinggal sebuah kata yang kehilangan makna. Seakan hambar untuk dirasa dan asing untuk didengar. Kata yang terasa usang ditelan zaman.

Digugu, artinya dipercaya atau diikui. Sedangkan ditiru juga memiliki makna yang sama. Jadi seorang guru itu layaknya menjadi sosok yang patut untuk diikuti. Tapi kenyataanya pada masa sekarang, hal semacam itu, jauh panggang dari api.

Sosok guru yang ramah dan mengajar dengan hati, sangatlah sulit untuk ditemui. Bukan artinya tidak ada. Tentu saja sosok mulia itu masih ada, tapi tersembunyi di tengah zaman yang sudah semakin hedonis ini.
Mengajar, sejatinya harus dari hati. Bukan mengejar simpat atau empati. Bukan pula karena lembaran rupiah. Meskipun kenyataannya sekarang ini, sebagian guru hanya mengejar sertifikasi dan juga kenaikan golongan saja. Makna pahlawan tanpa tanda jasa itu telah luntur terbawa arus modernisasi.

Guru juga manusia. Ya, kita semua tahu, manusiawi sekali jika setiap orang mengharapkan perubahan kualitas dan taraf hidupnya. Tapi, ketika seseorang sudah meniatkan dirinya menjadi seorang guru, maka jangan pernah ia terlalu berharap menjadi kaya.

Bukan artinya seorang guru itu harus miskin. Tapi, tentunya sudah bukan rahasia lagi, jika gaji guru itu tidak lebih besar dari gaji seorang pegawai swasta. Jadi kita semua tahu, jika ingin kaya harta, jangan pernah mengambil guru sebagai pilihan profesi kita.

Namun, tentu saja hidup tidak selamanya hanya membutuhkan materi. Sebagai manusia yang memiliki hati, kadang kebahagiaan tidak selalu diukur dengan materi. Begitupun kebahagiaan bagi seorang guru, ialah ketika melihat anak didiknya menjadi pribadi yang sukses.

Kita semua rindu sosok guru yang mengajar dengan hati. Guru yang kreatif dan inspiratif. Karena guru bukanlah robot pemerintah, yang disiapkan untuk mencetak generasi yang hanya bisa membaca, menulis dan menghitung saja.

Sekarang bukan lagi zaman batu, jika hanya tiga itu saja, tidak perlu ada sekolah. Karena dunia IT sudah memberikan solusi yang jauh lebih baik. Namun, fungsi dan tujuan pendidikan bukan sebatas itu.

Jika kita mengutip kata-kata seorang tokoh terkenal dunia, Plato. Plato sangat menekankan pendidikan untuk mewujudkan negara idealnya. Ia mengatakan bahwa tugas pendidikan adalah membebaskan dan memperbaharui; lepas dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran.

Ada satu hal yang menarik disini, lepas dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Sekarang, coba kita melirik sejenak kepada proses pendidikan di negara ini. Kadang, kita tidak bisa menutup mata ketika Ujian Nasional berlangsung, banyak terjadi ketidakbenaran. Kita semua tahu, tapi pura-pura tidak tahu dengan proses pembodohan dan kebohongan berjamaah.

Padahal, jika kita melihat dan mempelajari tujuan dari pendidikan sesuai dengan UUD 1945, Pasal 31 ayat 1. Disana disebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”.

Sedangkan dalam Pasal 31 ayat 5, menyebutkan, “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia”.

Disana terdapat kata-kata, meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Sudah sangat jelas sekali, jika pendidikan yang baik itu berlandaskan nilai-nilai keimanan. Tapi yang terjadi sekarang, nilai-nilai itu telah bias tak terlihat. Tujuan pendidikan sudah jauh dari yang diharapkan.

Miris rasanya, ketika ujian nasional hanya dijadikan alat untuk menghabiskan uang negara. Kita tidak pernah tahu manfaat pasti dari hal tersebut. Karena memang terlalu banyak kebohongan pendidikan disana.

Guru yang seharusnya menjadi pendamping tumbuhnya pribadi-pribadi yang berakhlaqul karimah, malah menjadi orang pertama yang menyuruh anak didiknya berbuat curang. Mau dibawa kemana dunia pendidikan kita, jika mental gurunya seperti itu.

Guru selayaknya menjadi fasilitator generasi muda yang cerdas hati, pikir dan perilaku. Segores ilmu kehidupan akan jauh lebih bermakna dibanding dengan serentetan rangkuman rumus njelimet. Karena pendidikan di tepi zaman tidak hanya butuh teori tapi juga aplikasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar