Kamis, 28 November 2013

Polusi dan Korupsi

05.25 0 Comments

Adakah hubungan antara polusi dan korupsi?

Polusi, masalah yang sudah mendarah daging di kota-kota besar. Seakan-akan kedua hal itu tidak bisa dipisahkan. Banyaknya kendaraan dan juga pabrik merupakan penyebab terbesar terjadinya polusi, baik itu polusi udara, air dan juga tanah.

Kebulan asap dari knalpor atau cerobong asap pabrik merupakan pemandangan yang sudah biasa. Aneh memang, dulu, ketika pemahaman orang masih terbatas, alam bisa terjaga begitu baiknya. Keseimbangan alam pun bisa kita rasakan.

Tapi, sekarang, ketika orang sudah semakin cerdas mengenal apa itu teknologi, alam pun menjadi terlupakan. Dengan segala keegoisan dan kesombongan, sebagian dari kita sudah melupakan alam. Kita berbuat seakan-akan kaki ini tidak berpijak di tanah, udara tak pernah kita hirup dan tidak pernah mengkonsumsi sesuatu dari alam.

Nah sekarang, apa sih hubungan antara polusi dan korupsi?

Sebenarnya inti dari masalah polusi itu ada dalam satu kata KORUPSI. Kenapa Korupsi? Jika kita cermati arti kata korupsi itu ialah menyelewengkan atau menyalahgunakan sesuatu untuk kepentingan sendiri atau golongan saja. Nah, bukankah selama ini yang ada dalam pikiran kita ialah bagaimana membuat kita mendapat keuntungan tanpa berpikir baik buruknya untuk orang lain?

Tak perlu menunjuk siapa. Tapi tunjuklah diri kita sendiri. Jika memang selama ini kita telah berbuat sesuatu yang membuat orang lain dirugikan, saatnya kita perbaiki diri. Tidak perlu teriak-teriak hapuskan korupsi, tangkap para pelaku korupsi, dan sejumlah kata-kata hujatan yang dikeluarkan saat demo berlangsung. Namun, yang terbaik ialah melihat diri, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas diri untuk tetap menyayangi alam ini. Kita tak akan pernah hidup tanpa alam ciptaanNya ini.


POLUSI dan KORUPSI, 2 kata negative yang mulai saat ini harus kita hapuskan dalam file otak kita. Mulailah memasukkan 1 kata positive penggantinya, BERSIH. Ya, satu kata bermakna luar biasa. Ketika kita membiasakan diri kita bersih, baik itu bersih fisik, pikir dan perilaku, maka ketenangan akan kita dapatkan. 

Rabu, 27 November 2013

Berapa Harga Kita?

05.53 0 Comments


Ambillah 2 lembar uang, yang satu Rp, 1.000,00 dan Rp, 100.000,00. Lalu, remas-remaslah kedua uang kertas tersebut. Setelah itu injak-injak keduanya sampai terlihat kumal dan jelek.

Nah, sekarang pertanyaan saya, apakah kita masih mau menerima uang itu? Mana yang akan tetap kita ambil? Seribukah atau yang seratus ribu?

Menurut saya, pastilah kita lebih memilih uang seratus ribu. Meskipun kotor dan kumal, masih ada ketertarikan kita untuk tetap memilikinya. Kita akan berusaha untuk membersihkannya karena nilai yang tidak sedikit.

Begitupun diri kita. Ketika kita memiliki sesuatu yang luar biasa, maka tak peduli apa yang orang perlakukan kepada kita, kita akan tetap berharga. Orang lain tetap akan mencari dan membutuhkan kita, karena memang kita memiliki ‘something’ yang tidak dimiliki orang lain.

Jadi, teruslah belajar untuk memperbaiki diri agar kita menjadi pribadi yang berharga. Pribadi yang selalu memberi manfaat bagi sesama. Pribadi yang senantiasa dicari dan dibutuhkan. Jadilah seperti berlian yang tetap berharga dimanapun ia berada.

“A valuable diamond can’t be changed into silver or bronze, but it can be changed into precious jewel.”

#terinspirasi dari materi Mbak Niek @the power of life :)

Selasa, 26 November 2013

Mengajar dengan Hati

04.03 0 Comments

25 Nopember 2013, hari yang spesial bagi para pejuang pendidikan. Ya, karena merupakan peringatan Hari Guru Nasional. Sebenarnya bukan peringatan yang menjadi esensi dari hari ini, tapi lebih dari itu.

Tentunya bagi seorang guru, bukan peringatan yang meriah yang diwajibkan, tapi memahami dan merenungi sudah sejauh mana mereka berbuat untuk dunia pendidikan. Apakah kita sudah menjadi guru yang luar biasa bagi murid-murid kita? Apakah kita sudah menjadi guru yang dinanti dan dipuji? Atau kita hanya menjadi guru yang dicaci dan dimaki?

Semuanya kembali lagi kepada setiap individu. Jika kita sejak dulu sudah mengenal istilah bahwa guru itu ialah pahlawan tanpa tanda jasa, maka ungkapan itu perlu kita renungkan kembali. Apakah pantas kita disebut pahlawan tanpa tanda jasa, ketika kita masih saja terus menuntut kenaikan gaji dan sibuk mengurusi sertifikasi hanya karena lembaran rupiah?

Guru juga manusia. Ya, semua orang juga tahu, kalau guru juga manusia yang punya rasa dan hati. Tapi, ketika kita memilih guru sebagai profesi kita, maka kita harus sudah mau dan mampu untuk menjadi pribadi yang lain dari yang lain. Guru memang bukan malaikat yang tak pernah melakukan kesalahan. Tapi, setidaknya guru juga bukan syetan yang  hobi melakukan kesalahan.

Kita semua harus terus belajar memperbaiki diri. Sebelum kita mengajarkan sesuatu, ajarkanlah itu kepada diri kita. Sebelum kita menuntut murid kita untuk menjadi baik, perbaikilah diri kita dulu. Jangan pernah bermimpi memiliki murid yang jujur, kalau kita sendiri hobi berbohong.

Mengajar itu bukan masalah menyampaikan sekumpulan teori. Mengajar yang berkualiatas itu lebih dari itu. Belajarlah untuk mengajar karena cinta. Cinta kepada Allah agar anak didik kita pun menjadi pribadi yang lebih mengenal Allah SWT, lebih bersyukur, dan lebih dekat dengan Sang Pencipta. Mengajarlah dengan hati, agar apa yang kita sampaikan pun akan terpatri dalam hati setiap anak didik kita sampai kapan pun.


Senin, 25 November 2013

Index of Happiness

06.23 0 Comments

Sebuah foto di akun instagram walikota Bandung, Pak Ridwan Kamil membuatku merinding. Tampak beliau sedang makan bersama dengan sebuah keluarga. Tapi, yang membuatku lebih tertegun lagi ketika membaca tulisan di bawah foto tersebut, “Setiap minggu walikota dan wakil masing2 makan malam bersama dgn warga miskin kota. Bersilaturrahmi sambil mencoba memahami dan cari solusi problem mereka sekalian bagian menaikkan index of happiness.”

Merinding plus ingin menangis ketika melihat foto tersebut. Jadi teringat kisah Khalifah Umar bin Khattab yang berkeliling kampung mencari rakyatnya yang kelaparan. Kita seperti dibawa ke masa itu.

Merasa bangga memiliki pemimpin seperti beliau. Pembawaannya yang santai dan tenang. Komunikasi yang terjalin dengan warganya pun begitu erat. Lewat social media beliau selalu menyapa dan mau mendengarkan segala keluhan warganya.

Tidak terlalu banyak janji, tapi banyak bukti. Bandung seperti mendapat atmosfer kedamaian kembali setelah sekian lama terasa gersang. Semoga apa yang beliau lakukan benar-benar bisa menaikkan index happiness kota tercinta ini.

Orang-orang dulu mengatakan, “Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan kota Bandung”. Dan sekarang, kita bisa mengucapkan senyuman itu akan kembali terlihat dan terasa di tanah pasundan ini. Semua orang akan merasakan ketenangan dan ketenteraman ketika berpijak di tatar sunda ini. Semua itu bisa terwujud ketika kita mau berbimbing tangan menciptakannya. Bukankah kebahagiaan itu dicipta bukan diberi? Dan tentunya saja, kita semuanya pasti merindukan kebahagiaan yang hakiki bukan kebahagiaan semu. 

Minggu, 24 November 2013

More Than Words

03.43 0 Comments

Tahukah kita kenapa orang yang marah-marah harus berteriak pada saat berbicara? Ya, karena meskipun jarak fisik mereka berdekatan, tapi jarak hati mereka begitu jauh. Sehingga mereka berpikir harus berbicara dengan nada keras agar lawannya bisa memahami apa yang diinginkan.


Tapi, coba kita perhatikan bagaiama dua orang yang saling mencintai berkomunikasi. Mereka tak perlu berteriak, cukup berbicara dengan nada yang normal. Dan bahkan tanpa mengeluarkan kata-kata pun, hanya dengan pandangan mata saja, apa yang mereka inginkan sudah dipahami.

Kenapa bisa terjadi? Itu semua terjadi karena ketika orang saling mencintai, jarak hati mereka begitu dekat, sehingga mereka yakin tanpa mengeluarkan suara pun, pesan komunikasi sudah bisa dimengerti. Bahkan ketika jarak fisik begitu jauh, mereka akan merasa dekat. Tak akan ada jarak pemisah yang menghalangi keduanya untuk saling menyapa dan berbagi rasa.

Kita tak perlu memaksakan orang untuk memahami apa yang kita bicarakan. Karena yang terpenting, darimana kata-kata itu berasal. Jika kata itu berasal dari hati, maka hatilah lagi yang akan menerimanya.


Dan kita mesti ingat kalau kata-kata yang keluar dari mulut ini bukanlah segala-galanya. Ada saatnya kita menyampaikan pesan lewat mata dan perilaku kita. Bukankah mata itu jendela hati? Dan perilaku itu cerminan hati?

Sabtu, 23 November 2013

Semua Karena Cinta

14.55 0 Comments

"Jika kau tak menemukan cinta, biarkan cinta yang akan menemukanmu."


Sebuah ungkapan yang sudah sangat sering kita dengar. Klise, hanya sebuah ungkapan pujangga, atau mungkin kita menganggap itu hanyalah kalimat penutup sebuah cerita fiksi dari negeri dongeng.

Tapi, ternyata itu terjadi di alam nyata. Jika kita mau mendengar dan melihat kenyataan yang ada, kekuatan cinta itu ada. Ketika niat sudah tepatri dengan kuat, doa sudah terpanjat dan usaha telah maksimal, maka apa yang diimpikan akan terwujud.

Tidak ada yang tidak mungkin, jika semuanya dilandasi atas dasar cinta. Tapi ingat, bukan cinta berselimut nafsu. Namun cinta yang ikhlas yang datang dari Allah SWT. Cinta yang tidak dicipta oleh reka manusia, tapi cinta tulus karena Sang Maha Mencintai.

Satu hal yang perlu kita sadari, cinta itu tak pernah salah. Apa yang kita dapatkan itulah yang kita butuhkan. Mendapatkan cinta dari seseorang bukan berarti kita telah memenangkan sebuah pertarungan. Tapi, kita telah diberikan kepercayaan oleh Allah SWT untuk tetap menjaga kualitas cinta kita kepadaNya. Jika kita bisa lebih mengenal dan mencintai Allah setelah kita mendapat cinta dari makhlukNya, maka kita patut bersyukur. Tapi, ketika cinta hamba membuat kita jauh dan terlena dengan semua kesenangan duniawi saja, maka kita telah keluar dari makna cinta yang ikhlas.


Mencintai itu sebuah perjuangan, maka perjuangkanlah cinta karena Allah SWT. Mencintai itu sebuah keikhlasan, maka cintailah karena Allah bukan karena yang lain. Mencintai itu amanah tak terhingga dari Allah Yang Maha Mencintai, maka jagalah anugerah terindah itu. Mencintai itu ibadah, maka setiap tarikan napas, kata-kata yang terucap, dan perilaku, semuanya karena cinta kita kepada Allah SWT. 

Senin, 11 November 2013

Aku Rindu Dirimu yang Dulu

10.52 0 Comments

Entah sebuah kerinduan ataukah kekecewaan. Tapi, kata itu terucap begitu saja ketika melihatnya. Ada semacam kerinduan ke masa lalu. Saat aku belum mengenal banyak hal, saat aku belum mempelajari banyak hal.
Aku ingin dirinya yang dulu, bukan yang sekarang. Tapi, ini semua bukan karena kejahatan layaknya seorang penjahat. Tapi, ada banyak hal yang tidak sesuai denganku. Bukan artinya aku lebih baik. Namun, karena aku pernah belajar tentang semua ini darimu.
Mungkin keinginanku terlalu tinggi. Meskipun, aku sendiri berpikir kau masih bisa berubah seperti dulu. Sulit? Bukankah di dunia ini tidak ada yang sulit? Bukankah aku juga dulu sulit untuk berubah? Tapi karena pemahaman yang kau berikan, aku menjadi tahu apa itu hidup.
Aku ingin dirimu yang dulu, yang melihat sesuatu dengan hati. Aku selalu berdoa agar kau bisa lebih baik dari sekarang. Tak perlu kembali ke masa lalumu, tapi berubahlah menjadi lebih baik dari sekarang. Semua orang menunggumu berubah.
#nomention J

Senin, 04 November 2013

Tahun Baru = Move On

21.30 0 Comments

Tak terasa tahun 1435 H sudah menyambut kita. Di sebagian daerah ramai dengan berbagai acara 1 Muharram. Ada yang pawai obor, acara tausyiah dan sederet acara lainnya.

Tapi, tentunya esensi dari 1 Muharram bukanlah hanya sekedar seremonial tersebut diatas. Jauh lebih penting adalah memaknainya dengan mendalam. Mulai menghisab diri, sudah seberapa jauh kita melangkah? Apa yang sudah kita lakukan selama melangkah di dunia ini?

Sejatinya ketika kita memasuki masa yang baru, kita pun sudah siap untuk menyapanya. Hati, ucap dan perilaku kita sudah yakin untuk terus melangkah dan menemukan sesuatu yang luar biasa.

Kita pun harus dengan sepenuh hati meninggalkan sesuatu yang bersifat negatif dan mengubahnya menjadi lebih baik. Bukankah hijrah itu berubah? Jika di tahun baru ini, kita masih sama saja dengan tahun kemarin, sungguh merugilah kita.

Bukan artinya kita harus melupakan masa lalu. Karena masa lalu adalah pembentuk masa sekarang. Berdamailah dengan masa lalu. Ajaklah hal positif di masa lalu untuk menyapa masa depan. Dan ucapkan selamat tinggal kepada hal yang jelek. Biarkan ia terkubur dalam kenangan berbalut pembelajaran.

Tahun baru itu semangat baru. Tahun baru itu perubahan ke arah yang lebih baik. Tahun baru itu MOVE ON.