Rabu, 21 Mei 2014

Telaga Inspirasi

10.33 0 Comments

Aku tidak akan pernah menjelaskan tentang cinta kepadanya. Ia sudah lebih paham dariku. Jika ada ujian tentang cinta, ia akan lulus dengan predikat cumlaude. Bahkan baginya, cinta bukan sekedar teori tapi sebuah pembuktian lewat perilaku.
Jika pujangga begitu hebat bermain kata mengungkap cinta, ia tak perlau banyak berkata. Diamnya saja sudah membahasakan apa itu cinta. Cinta bukanlah sekedar kata yang diumbar dengan mudahnya. Cinta itu sebuah pengaplikasian dari rasa syukur dalam hati, begitu katanya.
Baginya, tidak ada cinta tanpa pengorbanan. Mencintai itu tidak sederhana. Mencintai membutuhkan semangat berbagi. Tidak ada cinta tanpa memberi. Bukan hanya urusan materi, tapi memberi apa yang dimiliki. Ya, meski mungkin hanya embusan napas yang tersisa.
Tak peduli raganya lelah, jiwanya  letih, tapi senyum itu tak pernah lupa untuk menyapa. Doanya tak pernah berhenti terucap. Meski kadang hanya terdengar oleh telinga batin.
Cintanya juga bagaikan mentari. Terus memberi tanpa mengharapkan kita membalasnya. Inilah cinta, aku sering berucap dalam hati. Cinta tanpa koma. Tapi cinta dengan titik. Tidak ada tanda tanya atau bahkan tanda seru. Semuanya ia akhiri dengan titik. Biarlah semua tanya dan kelanjutan cerita ia kembalikan kepada Sang Pencipta.
 “Memangnya nggak capek ya?” tanyaku.
“Ah, cuman segini sih nggak capek,” jawabnya ringan.
Aku menatap wajahnya yang sudah tidak muda lagi. Ada gerat kelelahan. Tapi, tak pernah aku dengar keluhan darinya. Ketika tubuhnya sakit pun, sulit baginya untuk tidur berlama-lama di tempat tidur. Bahkan ketika kami paksa untuk berobat pun, selalu ada alasan untuk menolak.
“Bagaimana Bapak sama kalian nggak ada yang ngurus?” itulah pertanyaan yang sering aku dengar.
Ah, kadang aku malu jika melihat diri sendiri. Baru sakit sedikit saja, manjanya sudah tingkat dewa. Baru tertekan sedikit saja, tangisnya sudah seperti yang terkena bencana.
“Tubuh sama hati Mamah terbuat dari apa sih?”
Pertanyaan itu selalu muncul dalam benakku. Aku jarang melihatnya menangis, meski beban hidup begitu berat. Meski aku juga pernah memergokinya mengeluarkan air mata. Ya, mungkin baginya waktu yang terbaik itu saat ia berserah diri kepada Sang Pencipta. Di saat itulah tangisnya membuncah. Tangisan penuh cinta, aku menyebutnya.   
Aku benar-benar banyak belajar darinya. Ketegaran, ketangguhan, dan kesabaran. Ya, sepertinya aku tidak pernah menemukan wanita sehebat dirinya. Ketika orang lain bangga dengan ibunya yang berprofesi sebagai wanita karier, tapi aku sangat bangga dengan sosok bersahaja penuh cinta.
Ia selalu bilang kalau dirinya tidak sepintar diriku karena tidak bisa sekolah tinggi-tinggi. Ah, rasanya aku tidak butuh ibu yang lulusan universitas terkenal dengan IPK tinggi. Bagiku, ia lebih cerdas dari siapapun.
Caranya merawatku ketika aku sakit keras melebihi seorang dokter ahli. Begitu pun ketika aku harus sering berisitirahat di rumah, ialah sosok yang membuatku memahami semua mata pelajaran sekolah. Dan hasilnya aku selalu mendapat ranking 3 besar di sekolah.
Hal lain yang membuatku kagum ialah bagaimana ia menghormati suaminya. Satu kata pun tidak pernah aku dengar ada penolakan dari mulutnya. Sepertinya mengabdi ialah sebuah kebutuhan dalam hidupnya.
Aku pernah dengar katanya, cinta itu bisa tumbuh dari mulut dan perut. Ternyata itu aku rasakan sendiri. Ia adalah ibu yang hebat. Aku sanggup menahan lapar seharian karena aku tidak ingin absen satu kali pun untuk mencicipi semua masakannya. Mungkin bukan makanan yang mewah, tapi ia memasaknya dengan cinta dan hati yang tulus. Itu semua menjadikan semua makanan yang ia buat selalu membuat ketagihan. Bukan aku saja yang mengatakan itu. Hampir semua teman-teman yang datang ke rumah selalu mengatakan itu. Bahagianya memiliki ibu seorang chef yang luar biasa.

Bagiku ia adalah motivator dan inspirator terhebat dalam hidupku. Aku bahagia bisa terlahir dari rahimnya. Aku bersyukur bisa belajar banyak darinya. Belajar tentang makna hidup dan kehidupan. Setiap niat, ucap dan langkahku terinsipirasi dari ketulusan cintanya. Tidak akan lelah tangan ini menggores setiap kesan cinta bersamanya. Terima kasih Tuhan, karena aku masih bisa merasakan telaga kasih sayang dan cinta darinya.