Kamis, 10 Juli 2014

An Nisaa, An Nuur dan Ar Ruum

11.26 0 Comments
Kejadian ini aku alami 3 tahun yang lalu. Bagiku ini bisa dibilang aib. Namun, di sisi lain, aku jadikan ini sebagai titik awal untuk berubah. Rasa malu telah membuatku banyak belajar.
Waktu itu, salah seorang tetangga yang juga teman baik Ayah, memintaku dan kakak untuk mengaji di acara syukuran pernikahan. Sebenarnya bagiku tidaklah terlalu sulit, karena hanya membacakan artinya saja.
Meskipun sudah terbiasa di depan banyak orang, entah kenapa malam itu aku merasa agak kurang tenang. Dan aku melihat kakak pun sepertinya merasakan hal yang sama. Namun, aku tidak mau mempermasalahkan ini. Aku berusaha untuk terus berpikiran positif.
Dan ternyata, segala ketidak tenangan ini pun menyebabkan semuanya berantakan. Dimulai dari posisi kami yang berjauhan. Biasanya orang yang menjadi saritilawah akan duduk atau berdiri di samping orang yang membaca Al Quran. Tapi, ini berbeda. Aku harus duduk agak jauh dari kakakku.
Masalahpun datang ketika kakakku mulai membaca al quran. Ada yang aneh dengan yang ia baca. Dari arti yang sudah ia ketik, seharusnya yang pertama kali dibaca itu surat An-Nuur, lalu Ar-Ruum. Tapi, ketika aku perhatikan, kenapa Kakakku membaca Ar-Ruum lebih dulu. Aku mencoba untuk mencocokkan arti sebisaku. Untunglah itu surat yang sangat familiar di telingaku, jadi aku bisa mengetahui artinya.
Setelah selesai membaca surat Ar-Ruum, aku pikir Kakak akan membaca surat An-Nuur. Tapi ternyata tidak sama sekali. Surat yang ia baca tidak sesuai dengan arti yang ada dalam kertas yang aku pegang.
Meskipun aku tahu itu surat An Nisaa, tapi aku tidak tahu artinya. Sedangkan aku tidak membawa Al Quran. Posisi duduk yang jauh dengan Kakak juga membuat aku semakin bimbang. Muncul seribu pertanyaan, apa aku tetap membaca arti dari surat An-Nuur saja.
Ingin rasanya ini hanya sekedar mimpi buruk. Tapi, akhirnya aku putuskan untuk membaca semua arti yang ada dalam kertas itu. Aku pun membalik posisi artinya. Karena aku yakin yang pertama dibaca itu Ar-Ruum bukan An-Nuur. Dengan percaya diri plus percaya malu, aku pun langsung membaca artinya tersebut.
Setelah selesai, kami berdua kembali ke tempat duduk semula. Aku langsung memastikan kalau yang dibaca tadi tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Kakakku pun tersenyum mengiyakan.
Aku langsung mengajak Kakak untuk pulang. Perasaan malu membuatku semakin tidak nyaman. Aku pun mengajak Kakak untuk pamit pulang. Rasanya aku ingin menutup wajah ini. Dengan setengah berlari aku meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di rumah, aku ceritakan kepada Ibu semua keteledoranku. Ibu mencoba menenangkanku. Tapi, tetap saja, rasa bersalah ini masih menghantui. Aku langsung mengurung diri di kamar. Aku takut akan kena marah Ayah.
Tapi ternyata, keesokan harinya, aku mendapat kabar yang sedikit membuatku tertawa dan penuh tanda tanya. Ternyata, ada salah seorang yang tadi malam hadir, meminta kami untuk mengisi di acara pengajian keluarganya. Aku sama sekali tidak percaya mendengarnya.

Tapi sejak kejadian itu, aku bertekad untuk mengenal Al Quran lebih dekat. Tidak hanya membaca tulisan Arabnya saja, tapi aku mencoba memahami artinya. Beruntung sekali karena kakakku memberikan sebuah Syamil Quran yang besar. Aku berharap tidak akan ada An-Nisaa, An-Nuur dan Ar-Ruum Part 2.

Minggu, 06 Juli 2014

Inilah Caraku Mencintai Negeriku

06.17 1 Comments
Di tengah banyak gunjingan dan pandangn sinis kepada negeri sendiri, aku lebih memilih untuk tidak pernah ikut campur. Bukan. Bukan karena aku tidak mau peduli. Tapi, karena aku pikir, bukan caraku  untuk melakukan hal yang seperti itu. Lebih baik aku diam saja dan buktikan lewat perbuatan.
Ya, sudah hampir 3 tahun, aku menjalani profesi sekaligus hobi. Guru Bahasa Indonesia. Apa uniknya? Hmm...Aku mengajarkan Bahasa Indonesia kepada para dokter dari Belanda yang akan praktek di kotaku, Bandung. Sebuah hal baru yang awalnya ingin aku tolak. Namun, dengan niat ingin belajar dan juga memperkenalkan keunikan Bahasa Indonesia, akhirnya aku terima.
Mengajari Bahasa Indonesia kepada orang asing, tentunya tidak semudah mengajarkan Bahasa Indonesia kepada orang Indonesia itu sendiri. Apalagi bahasa pengantar yang aku gunakan pun bukanlah menggunakan bahasa mereka (Bahasa Belanda). Aku menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Hal itu karena aku belum bisa Bahasa Belanda.
Setiap kelompok yang belajar memiliki target untuk belajar selama 4 jam sehari selama 5 hari. Itu Artinya aku harus bisa membantu mereka untuk dapat berbicara Bahasa Indonesa dalam waktu 20 jam. Bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Namun, aku juga berpikir ini pun bukan sebuah pekerjaan yang terlalu sulit.
Bukan hanya itu, untuk mengawali menerima profesi ini, aku menemukan kesulitan untuk mencari buku-buku referensi. Aku cukup kelabakan mencari buku yang akan digunakan untuk mengajar, karena murid-muridku meminta buku panduan juga. Mencari kesana-kemari, bertanya kepada semua teman yang selama ini ada hubungannya dengan pengajaran Bahasa Indonesia. Tapi, ternyata hasilnya nihil. Sebagian mereka mengatakan kalau materi BIPA (Bahasa Indoneia Bagi Penutur Asing) itu ada mata kuliahnya, tapi memang tidak ada buku panduan khusus.
Tapi, hal itu tidak menjadikan rintangan bagiku, aku berpikir semakin keras mencari solusi. Akhirnya aku putuskan untuk menyusun sendiri buku panduan pengajaran BIPA tersebut.Berbekal ilmu mengajar Bahasa Inggris (karena memang background pendidikanku Bahasa Inggris) dan juga sedikit pengetahuanku tentang dunia tulis menulis, maka aku mulai menyusun bahan ajar itu.
Sungguh di luar dugaan, ternyata proses belajar mengajar bisa berjalan dengan lancar. Tidak ada kendala komunikasi diantara kami. Dan yang terpenting mereka bisa memahami apa yang aku ajarkan. Pekerjaan yang awalnya hanya aku bilang coba-coba, ternyata berlanjut hingga saat ini.
Pada bulan ini pun aku kembali akan mengajarkan Bahasa Indonesia kepada orang-orang Belanda lagi. Sebenarnya tidak hanya Bahasa Indonesia saja yang aku ajarkan kepada mereka. Kadang mereka ingin diajarkan Bahasa Sunda dan segala hal yang berhubungan dengan adat istiadat Sunda, termasuk memperkenalkan beberapa objek wisata di kota Bandung.
Senang, sekaligus bersyukur bisa mempergunakan ilmu yang aku miliki untuk berbuat sesuatu bagi negeri ini. Meskipun hanya setitik yang aku perbuat, tapi setidaknya aku masih terus berusaha untuk menjadi warga Indonesia yang bangga akan negerinya.
Bagiku mencaci bangsa sendiri bukanlah sebuah cara yang bijak untuk menjaga negeri ini. Aku malu ketika orang asing berlomba-lomba untuk mengenal budaya negeri ini, tapi kita sendiri malah berlari jauh meninggalkan identitas bangsa.
Inilah caraku untuk mencintai negeriku. Tidak dengan menjadi politikus atau pun pejabat yang akan mengubah negera dalam lingkup yang sangat besar. Aku hanya akan tetap melangkah menjadi pribadi yang senantiasa kagum dengan keluhuran budaya negeri Indonesia.


Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Aku dan Indonesia.
http://abdulcholik.com/2014/07/01/kontes-unggulan-aku-dan-indonesia/