Minggu, 06 Juli 2014

Inilah Caraku Mencintai Negeriku

Di tengah banyak gunjingan dan pandangn sinis kepada negeri sendiri, aku lebih memilih untuk tidak pernah ikut campur. Bukan. Bukan karena aku tidak mau peduli. Tapi, karena aku pikir, bukan caraku  untuk melakukan hal yang seperti itu. Lebih baik aku diam saja dan buktikan lewat perbuatan.
Ya, sudah hampir 3 tahun, aku menjalani profesi sekaligus hobi. Guru Bahasa Indonesia. Apa uniknya? Hmm...Aku mengajarkan Bahasa Indonesia kepada para dokter dari Belanda yang akan praktek di kotaku, Bandung. Sebuah hal baru yang awalnya ingin aku tolak. Namun, dengan niat ingin belajar dan juga memperkenalkan keunikan Bahasa Indonesia, akhirnya aku terima.
Mengajari Bahasa Indonesia kepada orang asing, tentunya tidak semudah mengajarkan Bahasa Indonesia kepada orang Indonesia itu sendiri. Apalagi bahasa pengantar yang aku gunakan pun bukanlah menggunakan bahasa mereka (Bahasa Belanda). Aku menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Hal itu karena aku belum bisa Bahasa Belanda.
Setiap kelompok yang belajar memiliki target untuk belajar selama 4 jam sehari selama 5 hari. Itu Artinya aku harus bisa membantu mereka untuk dapat berbicara Bahasa Indonesa dalam waktu 20 jam. Bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Namun, aku juga berpikir ini pun bukan sebuah pekerjaan yang terlalu sulit.
Bukan hanya itu, untuk mengawali menerima profesi ini, aku menemukan kesulitan untuk mencari buku-buku referensi. Aku cukup kelabakan mencari buku yang akan digunakan untuk mengajar, karena murid-muridku meminta buku panduan juga. Mencari kesana-kemari, bertanya kepada semua teman yang selama ini ada hubungannya dengan pengajaran Bahasa Indonesia. Tapi, ternyata hasilnya nihil. Sebagian mereka mengatakan kalau materi BIPA (Bahasa Indoneia Bagi Penutur Asing) itu ada mata kuliahnya, tapi memang tidak ada buku panduan khusus.
Tapi, hal itu tidak menjadikan rintangan bagiku, aku berpikir semakin keras mencari solusi. Akhirnya aku putuskan untuk menyusun sendiri buku panduan pengajaran BIPA tersebut.Berbekal ilmu mengajar Bahasa Inggris (karena memang background pendidikanku Bahasa Inggris) dan juga sedikit pengetahuanku tentang dunia tulis menulis, maka aku mulai menyusun bahan ajar itu.
Sungguh di luar dugaan, ternyata proses belajar mengajar bisa berjalan dengan lancar. Tidak ada kendala komunikasi diantara kami. Dan yang terpenting mereka bisa memahami apa yang aku ajarkan. Pekerjaan yang awalnya hanya aku bilang coba-coba, ternyata berlanjut hingga saat ini.
Pada bulan ini pun aku kembali akan mengajarkan Bahasa Indonesia kepada orang-orang Belanda lagi. Sebenarnya tidak hanya Bahasa Indonesia saja yang aku ajarkan kepada mereka. Kadang mereka ingin diajarkan Bahasa Sunda dan segala hal yang berhubungan dengan adat istiadat Sunda, termasuk memperkenalkan beberapa objek wisata di kota Bandung.
Senang, sekaligus bersyukur bisa mempergunakan ilmu yang aku miliki untuk berbuat sesuatu bagi negeri ini. Meskipun hanya setitik yang aku perbuat, tapi setidaknya aku masih terus berusaha untuk menjadi warga Indonesia yang bangga akan negerinya.
Bagiku mencaci bangsa sendiri bukanlah sebuah cara yang bijak untuk menjaga negeri ini. Aku malu ketika orang asing berlomba-lomba untuk mengenal budaya negeri ini, tapi kita sendiri malah berlari jauh meninggalkan identitas bangsa.
Inilah caraku untuk mencintai negeriku. Tidak dengan menjadi politikus atau pun pejabat yang akan mengubah negera dalam lingkup yang sangat besar. Aku hanya akan tetap melangkah menjadi pribadi yang senantiasa kagum dengan keluhuran budaya negeri Indonesia.


Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Aku dan Indonesia.
http://abdulcholik.com/2014/07/01/kontes-unggulan-aku-dan-indonesia/

1 komentar:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan :Aku Dan Indonesia di BlogCamp
    Dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus