Selasa, 30 September 2014

Lali Ka Purwadaksina

Merasa tidak ada campur tangan orang lain dalam meraih kesuksesan. Berusaha untuk melupakan asal mula dari mana ia berasal. Melangkah dengan wajah congkak seakan dirinya bisa berubah karena usahanya sendiri seratus persen. Tidak pernah menengok ke belakang. Jangankan memiliki niat merangkul orang-orang untuk ikut merasakan kesuksesan bersama dirinya, mengakui mereka sebagai bagian kisah hidupnya saja, tidak mau.
Lali ka purwadaksina, peribahasa Bahasa Sunda ini, bermakna lupa akan tempat asal. Mungkin kalau boleh menyamakan dengan peribahasa Bahasa Indonesia seperti, kacang lupa pada kulitnya. Seseorang yang tidak pernah tahu berterima kasih. Ia tidak sadar kalau suatu akibat pasti ada penyebabnya.
Keegoannya menyebabkan ia malu mengakui asal-usul dirinya. Masa lalu baginya aib. Dalam kamus kehidupannya, ia tidak hidup di masa lampau. Memang tidak ada salahnya kita berprinsip kalau kita hidup di masa sekarang, bukan masa lalu. Tapi, bukankah masa lalu itu pembentuk masa sekarang? Masa sekarang adalah gabungan kepingan puzzle masa lalu.
Katakanlah kita sukses sekarang, apakah kesuksesan itu datang secara tiba-tiba dari langit? Tentu hidup ini bukan magic, meski tidak ada yang tidak mungkin bagi Sang Pencipta untuk melakukan itu semua. Namun, kita juga jangan pernah lupa, kalau dalam kehidupan ini berlaku hukum sebab akibat. Ada banyak penyebab untuk kesuksesan kita. Kita mungkin tidak pernah tahu, kalau orangtua, keluarga, tetangga atau orang yang baru bertemu dengan kita, menuturkan doa yang tak pernah terucap dan terdengar untuk kita. Dan tidak menutup kemungkinan doa merekalah yang menjadikan kita sukses.
Setiap hal itu ada tempat asalnya. Ingatlah, sejauh-jauhnya burung terbang, ia akan kembali ke sarangnya. Kita mungkin akan tersu melangkah, bahkan berlari jauh menjemput masa depan. Tapi, yakinlah suatu saat, kita akan merasa butuh untuk kembali ke tempat kita berasal. Jiwa dan hati kita akan terpanggil untuk menyapa kembali setiap lembaran kisah masa lalu. Ada satu titik kerinduan yang tidak pernah bisa digantikan oleh indahnya masa lalu.
Lali ka purwadaksina, bisa berarti kita melupakan keluarga. Inilah yang paling menyedihkan. Bagaimana tidak, kita yang lahir dan tumbuh di tempat itu, dengan langkah tanpa dosa, melupakannya begitu saja.
Fenomena lali ka purwadaksina, sepertinya sudah sangat sering kita lihat di masyarakat. Mulai dari para pejabat, entertainer, sampai mungkin tetangga dekat kita. Entah karena pengaruh zaman atau memang manusia terlalu sombong dengan segala kenikmatan yang diberikan oleh Yang Maha Memberi.
Tidak sedikit, para pejabat yang melupakan keluarganya ketika tampuk kekuasaan sudah menyelimuti dirinya. Doa, dukungan dan pengorbanan keluarga dibalas dengan pengkhianatan cinta. Mereka masih bisa tersenyum dan berkata sok bijak dengan berbagai retorika tentang kemajuan negara. Padahal, jangankan mengurus negara, mengurus keluarga saja tidak bisa. Pasangan dan anak-anak menjadi korban.
Tidak jauh dengan para pejabat, sosok sebagian entertainer pun demikan. Ketika masih belum terkenal, sikapnya masih ramah. Tapi, setelah menjadi terkenal, mereka abaikan sapaan. Lupakah mereka, kalau mereka pun sama-sama manusia? Apakah mereka juga tidak sadar, kalau yang menggemari mereka juga manusia?
Hidup ini bagaikan sebuah roda, kadang di atas dan kadang juga di bawah. Saat ini, ketika kesuksesan sedang menyapa kita, syukuri. Apa bentuk dari syukur itu? Terus semangat memperbaiki kualitas diri agar kesuksesan itu terus bersama kita. Dan jangan pernah melupakan dari mana kita berasal. Janganlah kita tinggalkan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari langkah kita untuk menjemput kesuksesan. Ingatlah, ketika kita melupakan sesuatu, ada saatnya kita pun akan merasakan sakit hatinya dilupakan.
"Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati - Bahasa Daerah Harus Diminati"


2 komentar: