Minggu, 19 April 2015

An-Nisaa, An-Nuur, dan Ar-Ruum

Sumber: iffahamaliakushidayati.wordpress.com 

Kejadian ini aku alami 5 tahun yang lalu. Bagiku ini bisa dibilang aib. Namun, di sisi lain, aku jadikan ini sebagai titik awal untuk berubah. Rasa malu telah membuatku banyak belajar.
Waktu itu, salah seorang tetangga yang juga teman baik Ayah, memintaku dan kakak untuk mengaji di acara syukuran pernikahan. Sebenarnya bagiku tidaklah terlalu sulit, karena hanya membacakan artinya saja.
Meskipun sudah terbiasa di depan banyak orang, entah kenapa malam itu aku merasa agak kurang tenang. Dan aku melihat kakak pun sepertinya merasakan hal yang sama. Namun, aku tidak mau mempermasalahkan ini. Aku berusaha untuk terus berpikiran positif.
Dan ternyata, segala ketidak tenangan ini pun menyebabkan semuanya berantakan. Dimulai dari posisi kami yang berjauhan. Biasanya orang yang menjadi saritilawah akan duduk atau berdiri di samping orang yang membaca Al Quran. Tapi, ini berbeda. Aku harus duduk agak jauh dari kakakku.
Masalahpun datang ketika kakakku mulai membaca Al Quran. Ada yang aneh dengan yang ia baca. Dari arti yang sudah ia ketik, seharusnya yang pertama kali dibaca itu surat An-Nuur, lalu Ar-Ruum. Tapi, ketika aku perhatikan, kenapa Kakakku membaca Ar-Ruum lebih dulu. Aku mencoba untuk mencocokkan arti sebisaku. Untunglah itu surat yang sangat familiar di telingaku, jadi aku bisa mengetahui artinya.
Setelah selesai membaca surat Ar-Ruum, aku pikir Kakak akan membaca surat An-Nuur. Tapi ternyata tidak sama sekali. Surat yang ia baca tidak sesuai dengan arti yang ada dalam kertas yang aku pegang.
Meskipun aku tahu itu surat An Nisaa, tapi aku tidak tahu artinya. Sedangkan aku tidak membawa Al Quran. Posisi duduk yang jauh dengan Kakak juga membuat aku semakin bimbang. Muncul seribu pertanyaan, apa aku tetap membaca arti dari surat An-Nuur saja.
Ingin rasanya ini hanya sekedar mimpi buruk. Tapi, akhirnya aku putuskan untuk membaca semua arti yang ada dalam kertas itu. Aku pun membalik posisi artinya. Karena aku yakin yang pertama dibaca itu Ar-Ruum bukan An-Nuur. Dengan percaya diri plus percaya malu, aku pun langsung membaca artinya tersebut.
Setelah selesai, kami berdua kembali ke tempat duduk semula. Aku langsung memastikan kalau yang dibaca tadi tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Kakakku pun tersenyum mengiyakan.
Aku langsung mengajak Kakak untuk pulang. Perasaan malu membuatku semakin tidak nyaman. Aku pun mengajak Kakak untuk pamit pulang. Rasanya aku ingin menutup wajah ini. Dengan setengah berlari aku meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di rumah, aku ceritakan kepada Ibu semua keteledoranku. Ibu mencoba menenangkanku. Tapi, tetap saja, rasa bersalah ini masih menghantui. Aku langsung mengurung diri di kamar. Aku takut akan kena marah Ayah.
Tapi ternyata, keesokan harinya, aku mendapat kabar yang sedikit membuatku tertawa dan penuh tanda tanya. Ternyata, ada salah seorang yang tadi malam hadir, meminta kami untuk mengisi di acara pengajian keluarganya. Aku sama sekali tidak percaya mendengarnya.
Tapi sejak kejadian itu, aku bertekad untuk mengenal Al Quran lebih dekat. Tidak hanya membaca tulisan Arabnya saja, tapi aku mencoba memahami artinya. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi.
Bahkan sekarang aku bergabung dengan komunitas yang membantuku untuk tetap istiqomah membaca satu juz sehari. Selain itu, aku juga bergabung dengan satu komunitas membaca Al Quran satu hari satu halaman beserta artinya. Segala usaha aku aku lakukan agar aku bisa lebih dekat dengan Al Quran. Aku berharap tidak akan ada An-Nisaa, An-Nuur dan Ar-Ruum Part 2.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar