Selasa, 30 Juni 2015

Muhammadiyah, Wadah Terbaik Generasi Muda

16.37 0 Comments
Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, tentunya memiliki pengaruh yang luar biasa dalam perkembangan negeri. Para pengikut organisasi ini tidak bisa dibilang sedikit. Organisasi berlambang matahari ini memang sudah memberikan warna tersendiri dalam perkembangan bangsa.
Muhammadiyah memiliki visi, gerakan Islam yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan watak tajdid yang dimilikinya senantiasa istiqamah dan aktif dalam melaksanakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar di segala bidang, sehingga menjadi rahmatan li al-‘alamin bagi umat, bangsa dan dunia kemanusiaan menuju terciptanya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang diridhai Allah swt dalam kehidupan di dunia ini. Berdasarkan visi tersebut, maka sudah sepantasnya organisasi Islam ini mampu merangkul semua generasi bangsa ini. Dan ini sudah terbukti dengan adanya berbagai macam organisasi otonom di bawah naungan Muhammadiyah. Setiap organisasi tersebut sudah menjalankan perannya masing-masing.
Keberadaan organisasi yang sudah difokuskan pada segementasi masing-masing tersebut memberikan kontribusi yang luar biasa. Sebagai contoh, organisasi Pemuda Muhammadiyah sebagai wadah terbaik penampung aspirasi generasi muda. Pemuda Muhammadiyah memiliki lima pondasi yang luar biasa, yaitu:
1.      Tauhid
2.      Sistem moral yang benar berdasarkan wahyu Ilahi
3.      Faith and action atau Action base on faith
4.      Keadilan
5.      Memiliki kecenderungan yang kuat dan tidak putus-putusnya mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi

Dengan lima pondasi luar biasa tersebut, diharapkan bisa menjadikan organisasi ini bertumbuh dan berkembang serta memberi pengaruh positif bagi bangsa ini.

Pemuda Muhammadiyah haruslah menjadi tempat terbaik pengembangan potensi generasi muda bangsa. Organisasi ini diharapan mampu merangkul generasi sering dilihat sebelah mata dalam urusan agama. Padahal, kalau kita perhatikan generasi muda ialah generasi yang sangat berpotensi. Maksudnya, ketika generasi muda kita sentuh, maka kita bagaikan menyiapkan aset yang luar biasa. Ketika mereka disiapkan dari segi pemahaman yang baik tentang agama, maka kelak mereka akan tumbuh menjadi pemimpin yang bisa membesarkan bangsa ini dengan sangat amanah.

Selasa, 16 Juni 2015

Salah Pilih

16.39 0 Comments
Don’t judge the book by its cover.

Ya, sepertinya ungkapan ini cocok diberikan untuk suamiku. Saat itu, kami berniat menonton sebuah film di salah satu mall di kota Bandung. Karena waktunya masih lama, akhirnya kami putuskan untuk makan terlebih dulu.
Kami pun masuk ke sebuah restoran yang sangat ramai. Kami yakin, pastialh menu yang disajikannya pun enak. Waktu itu suamiku dengan yakin memesan semangkuk sup dan nasi putih. “Kayaknya enah nih, hujan-hujan gini makan sup ayam panas,” ujarnya dengan senyum lebar.
Aku tidak memesan pesanan yang sama. Aku lebih memilih memesan bakso. Maklum makanan yang satu ini memang selalu bikin ngiler. Apalagi waktu itu, aku memang sedang tidak ingin makan nasi, bawaan dedek bayi kali.
Kami menunggu pesanan agak lama. Malah aku sempat berpikir, apa pelayannya salah meja. Tapi, untunglah setelah menunggu setengah jam, akhirnya makanan dan minuman yang kami pesan pun tiba.
“Wah, dari tampilannya kayaknya enak nih sup,” ucap suamiku.
Aku hanya tersenyum sambil memandang bakso pesananku yang dari tampilan tidak sesuai dengan dibayangkan. Tapi, mau apa lagi, toh makanan sudah di depan mata, ditambah perut juga sudah menagih minta diisi. Dan untunglah setelah dicoba, rasanya cukup membuatku puas.
“Enak juga lho Mas baksonya,” pujiku sambil melirik ke arah suamiku.
Tapi, aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Wajahnya berubah total. Ia mengerutkan keningnya, lalu menyuruhku mencoba supnya.  
Oh ternyata, memang rasa supnya aneh bin ajaib. Aku tertawa melihat ekspresi suamiku yang kecewa. Mau pesan makanan lagi, tapi nggak mungkin karena waktunya sudah mepet. “Kalau tahu rasanya aneh, mending tadi pesan menu yang sama aja ya,” ucap suamiku sambil tertawa.
Sejak saat itu, kami selalu tertawa ketika lewat di depan mall tersebut. Aku juga sering guyonin suami kalau sedang makan sup. Ah, memang tidak selamanya nama dan tampilan mencerminkan rasa dan isi.