Jumat, 28 Agustus 2015

Antara Aku, Dia dan AirAsia

Sumber: Pribadi
Tak pernah terbayangkan olehku akan dipertemukan dengan jodoh yang berasal dari beda provinsi. Tidak hanya itu, aku sama sekali tidak pernah mengenal siapa dirinya. Bahkan ketika dia datang mengetuk pintu rumah pun, semuanya benar-benar tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
16 September 2014, saat itulah sebuah titik yang akan menjadi rangkaian huruf dan cerita dimulai. Dengan menumpang pesawat AirAsia, dia tiba di Bandara Husein Sastranegara sore hari. Tanpa jeda waktu yang lama, ia bersama sahabat dan juga kakak keduaku langsung menuju rumah. Hari itu ialah hari pertama aku dipertemukan dengan dirinya.
Setelah pertemuan pertama itu, kami berdua saling membuka diri untuk mengenal satu sama lain. Tentunya banyak diskusi yang kami lakukan di dunia maya. Ya, kami berdua memang sepakat untuk tidak saling bertemu atau bahkan saling menelpon. Mungkin terasa aneh untuk sebagian orang, tapi inilah jalan yang kami pilih.
Awalnya, ada sedikit ketakutan dan kekhawatiran dalam diriku, apakah perbedaan budaya tidak akan menjadi masalah? Ditambah lagi, jika aku menerimanya, apakah jarak tempat tinggal keluarga kami masing-masing tidak terlalu jauh? Dan masih banyak ketakutan yang menyapaku pada masa perkenalan itu.
Tapi, memang cinta selalu menemukan jalannya sendiri. Hanya berjarak tiga minggu dari pertemuan pertama itu, akhrinya kami memutuskan untuk saling menerima dan bersiap untuk mengikat janji. Kami berdua merasa memiliki visi dan misi hidup yang sama. Dan yang terpenting, dia mau menerimaku dengan segala kekurangan yang aku miliki. Dengan keyakinan yang penuh, kami tetapkan untuk segera menghalalkan hubungan kami.
8 Oktober 2014 ialah hari yang tak akan pernah aku lupakan. Dia bersama Ibu dan pamannya serta ditemani sahabat baiknya, datang untuk menyatakan niat suci itu. Mereka datang dari kota yang berada hampir di paling timur Pulau Jawa untuk meyakinkan niat suci itu. Kali ini pun, AirAsia menjadi saksi perjalanan calon suami beserta Ibu dan pamannya. Meskipun mereka baru tiba di Bandung sore hari dan dilanjut berkunjung ke rumahku malam hari, tapi hanya perasaan bahagia yang mampu terlukiskan. Tidak ada wajah kelelahan dengan jarak yang begitu jauh. Malam itu, pertunangan kami pun berjalan dengan lancar dan khidmat.
Sumber: Pribadi
Dari mulai masa perkenalan, tunangan hingga prosesi ngunduh mantu, keberadaan AirAsia sangat membantu kami. Dengan harga yang tidak membuat rekening tabungan kami menipis, kami bisa melakukan semuanya dengan mudah. Jarak seakan-akan tidak menjadi penghalang bagi kami.
Kami tidak menutup telinga dan mata tentang berita di luar sana. Kami sadar banyak orang yang kurang memercayai maskapai AirAsia. Tapi apa yang sudah kami rasakan benar-benar jauh dari apa yang selama ini diberitakan. Kami percaya dengan kinerja para awak kapal maskapai ini. Jadi, sangat tidak adil kalau kita menghakimi sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja.
Bagi aku dan suamiku, AirAsia merupakan saksi perjalanan cinta kami. Banyak kisah yang sudah dan akan kami torehkan bersama AirAsia. Bukan hanya sebelum kami menikah, bahkan sampai sekarang dan nanti. Kisah yang akan selalu menjadi bagian dari perjalanan panjang kehidupan rumah tangga kami.
AirAsia akan menjadi sahabat kami menatap masa depan. Keberadaan keluarga besar kami yang berada di dua provinsi yang berbeda, mengharuskan kami untuk melakukan perjalanan jauh, setidaknya setahun sekali. Dan kami yakin,  jarak yang begitu jauh terasa dekat dan nyaman dengan adanya AirAsia. AirAsia benar-benar akan menjadi bagian dari hidupku, suami dan juga keluarga besarku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar